Young Mama

Young Mama
Bab 80: ~Hati yang Mendingin~



Aiko bergelayut manja di lengan Kenji. Dia senang sekali bisa menyingkirkan Shilla dengan mudah. Meskipun muka yang ada kini bukan muka miliknya, setidaknya dengan ada di samping Kenji Aiko rela menukar apapun.


Dia sudah ada di rumah Kenji. Dengan tak tau malu menawarkan diri ingin bermalam disini. Padahal awalnya dia pura-pura tak mengenal Kenji. Sungguh acting yang mudah sekali di tebak.


Namun Kenji membiarkannya saja. Dia pura-pura percaya bahwa yang ada di hadapannya kini adalah V kekasihnya. Dia ingin tahu sebenarnya permainan apa yang ingin dimainkan perempuan ular ini.


Bahkan dia harus rela dibenci oleh Shilla untuk sementara. Kenji sengaja tak memberitahu Shilla, dia tak ingin Shilla terlibat dengan masalah.


"K, kamu minum dulu ya." Aiko memberikan segelas anggur pada K. Di dalam minuman itu tak ada apapun. Dia harus menarik kepercayaan Kenji kalau ingin mendapatkan semua informasi, jadi dia akan bersabar hingga waktunya tiba.


"Oke." Kanji menerima gelas berisi anggur tersebut. Dia tak langsung meminumnya, dia memainkan gelasnya terlebih dahulu.


Keano risih. V yang dia kenal bukan lah seorang gadis yang rela menempel pada pria dengan manja. Tapi kini perempuan yang sedang menyamar sebagai kekasihnya dengan lengket menempel padanya. Bahkan tak segan duduk di pangkuannya.


"Meskipun kau hilang ingatan, namun kebiasaan mu tak pernah berubah V." Keano tersenyum palsu. V bukanlah gadis murahan seperti yang kini ada di hadapannya. Bahkan untuk mendapatkannya saja dia harus bertaruh nyawa.


"Tentu saja. Meskipun ingatanku hilang, namun hati ini tak pernah lupa siapa pemiliknya." Aiko menempel pada Keano manja. Tak lupa dia memainkan kancing baju Keano menggoda. Aiko bangga dengan dirinya sendiri. Ternyata memainkan peran V bukan hal yang susah. Begitulah pikir Aiko.


Kenji menahan segala godaan yang di lancarkan Aiko. Dia bukan tergoda, melainkan sungguh risih. Dia bukan lelaki yang dapat dengan mudah menyentuh wanita manapun. Meskipun banyak wanita yang ingin mendekatinya, namun dia tak bisa dekat dengan sembarangan.


"Bagaimana kalau kamu tidur V? Ini sudah malam." Dengan lembut Keano menepis tangan Aiko yang bergelayar di bawah kemeja tipisnya.


"Apa kita akan tidur bareng?" Aiko memeluk leher Keano manja. Dia tak lagi berakting menjadi V. Melainkan membuka kedoknya sendiri sebagai orang lain. Bagaimanapun dia bersandiwara lupa ingatan, namun dengan sekejap langsung bermanja. Siapapun akan langsung mengetahui jika dia sedang melancarkan tipu muslihatnya.


"Tidak. Aku hari ini letih sekali." Keano berusaha keras melepaskan pelukan Aiko yang seolah seperti di lem.


"Baiklah. Kalau begitu aku tidur dulu." Aiko berjalan centil meninggalkan Keano menuju kamar yang tadi sudah disedikan oleh pelayan.


Keano menghela napas lega atas kepergian Aiko. Dia juga langsung menuju kamarnya untuk mandi. Membersihkan bau parfum Aiko yang sangat Keano benci.


Keano menenangkan pikirannya di bawah guyuran air shower. Baru beberapa jam tak bertemu Shilla, namun rasanya sudah rindu sekali. Dia ingin segera menyelesaikan urusannya. Agar bisa segera menjemput cintanya.


Dia menyelesaikan mandinya dengan sedikit lebih lama. Selesai mandi, bahkan di belum sepat berpakaian, dia segera menyambar telepon genggamnya untuk menghubungi sang mata andalannya.


"Yes bos, tumben sekali menghubungi."


Di seberang sana Eyes tertawa terbahak.


"Bisa kau cari tahu siapa wanita yang saat ini berada di rumahku? lebih detail lebih baik."


"Oke bos, kirim file yang ada di CCTV mu agar aku bisa analisa dan mencari tahu."


"Oke nanti aku kirimkan."


***


Pagi yang murung. Suasana yang canggung. Kenzo yang biasanya bercanda ria menjadi ogah-ogahan. Bahkan dia hanya sedikit menyentuh sarapannya. Susu juga dia minum hanya setengah gelas. Ternyata pengaruh Keano sangat besar dalam diri bocah itu.


"Anak mama kenapa kok sarapannya tak tersentuh?" Shilla dengan sabar mencoba membujuk anaknya.


Kenzo hanya menggeleng tanda sudah tak ingin lagi makan. Dia menutup mulutnya rapat-rapat.


Shilla murung. Dia cemberut dan menampilkan muka sedih.


Kenzo langsung menyadari perubahan yang ada di raut mamanya.


"Mama sedih." Shilla merajuk pada Kenzo.


" Mama sedih kenapa? Bilang sama Kenzo biar Kenzo tegur yang membuat mama sedih." Kenzo sudah menampilkan muka galak imutnya.


"Mama sedih karena Kenzo tak mau makan. Mama sedih kalau tak makan nanti Kenzo sakit. Kalau Kenzo sakit mama juga sakit." Shilla memangku dan memberi penuturan singkat pada Kenzo. "Makanya Kenzo makan ya biar mama ngga sedih."


Berhasil.


Kenzo kembali melanjutkan makannya meskipun dia paksakan. Dia tak ingin mamanya sedih. Cukup Papa pengkhianat yang membuat mamanya sedih. Dia tak mau ikut membuat mamanya bersedih.


"Pintar sekali anak mama. Jadi gemesss." Shilla mencubit pipi Kenzo gemas. "Kalau begitu Kenzo berangkat sekolah dengan Kak Harumi ya seperti biasa. Mama belum bisa mengantarkan lagi." Dengan menyesal Shilla harus membiarkan Kenzo bersekolah sendiri.


"Tak apa ma, Mama juga semangat kuliah ya, biar kita bisa segera kembali ke rumah." Maksud rumah yang di maksud Kenzo adalah Indonesia. Di sanalah rumah mereka. Meski sederhana, namun penuh dengan kedamaian.


"Iya sayang. Kenzo juga benar-benar sekolahnya, jadilah kebanggaan mama selalu." Shilla memeluk Kenzo dan mengecup pucuk kepalanya.


***


"Hai girls..." Ryota tiba-tiba mendatangi ketiga gadis yang sedang asik makan. "Aku mau menangis.. hiks.."


Ketiga gadis hanya menatap Ryota malas. Mood anak ini sangat angin-anginan. Tiba-tiba saja nangis tak jelas. Bahkan nangisnya pun berlebihan sekali. Tak ada sisi lelakinya sama sekali.


"Kenapa?" Akira menanggapi Ryota malas. Kalau tak ditanggapi, bisa tambah berisik nanti tuh cowo.


"Pangeran ku ... hiks... pangeran ku..." Ryota membuat gestur mengelap air matanya. Padahal tak ada air mata sama sekali.


"Ngga jelas banget. Yuk pergi saja." Mei mulai bosan dengan tingkah Ryota.


"Jangan dulu. Kalau aku kasih tahu kalian, kalian juga pasti akan marah." Ryota tak terima berita yang kngin dia sampaikan di anggap angin lalu.


"Oke, Ryota langsung bilang saja ya. Kita malas bertele-tele." Shilla turut ikut bicara. Nadanya dingin, bahkan tatapan matanya sangat mengerikan. Apalagi dia sedang menusuk-nusuk daging yang ada di hadapannya dengan pisau makannya. Daging itu sudah tercerai berai akibat tusukan dari Shilla. Namun Shilla enggan memakan daging. Di hanya melampiaskan kekesalannya. Entah kekesalan terhadap siapa.


"Aduh Shilla, jangan seperti itu, kamu sangat menakutkan." Ryota benar-benar ketakutan dengan tatapan tajam Shilla. Dia gak menyangka bahwa gadis yang selalu tersenyum lemah lembut nyatanya bisa memiliki tatapan sedingin ini.


"Bilang langsung jangan bertele-tele." Ujar Shilla masih setia dengan menusuk-nusuk steak yang sudah hancur.


Ryota menelan ludah kaku. Seolah dia kini sedang berhadapan dengan seorang pembunuh berdarah dingin.


Bahkan Akira dan juga Mei juga baru menyadari bagaimana dinginnya Shilla saat ini. Mereka bertanya-tanya, sebenarnya apa yang mengubah gadis ceria dan selembut Shilla menjadi dingin. Namun mereka tak berani mengusik kehidupan pribadi dari sahabatnya itu. Mereka akan tetap menjadi sahabatnya, siapapun Shilla.


"Oke aku bilang, tapi letakan pisau itu dulu."


Shilla menuruti. Dia letakan pisau yang dari tadi ia gunakan untuk melampiaskan kekesalannya.


"Aku melihat tuan Kenji mengantar cewe baru. Hatiku menangis." Mulai lagi Ryota.


Mei dan Akira langsung menjerit tak terima. Mereka masih ingin mendapatkan kesempatan dekat, kenapa malah anak baru duluan yang menjadi dekat.


Shilla hanya diam tanpa ekspresi. Semakin dingin saja hati gadis itu.


Bagaimana jika kedua temannya tahu kalau sebenarnya Shilla dekat dengan Kenji. Mungkin mereka akan syok. Namun percuma juga, sekarang Kenji bukan lah miliknya.


Bersambung...