
Keano masih memikirkan seorang bocah yang tiba-tiba memanggilnya papa. Meskipun dia belum pernah memiliki anak, namun entah kenapa panggilan itu begitu akrab di telinganya. Ia sedikit berkhayal kalau saja ia memiliki anak, pasti dia akan sangat lucu. Namun dia selalu mengingat nasehat ayah angkatnya, bahwa perempuan dan anak akan menjadi kelemahannya di hadapan musuh. Kalau belum sanggup melindungi keduanya, lebih baik tak memilikinya dahulu.
Omongan ayahnya memang benar, dulu dia tak mendengarkan ayahnya hingga kekasihnya harus kehilangan nyawanya. Kalau saja dia dulu tak menjalin kasih dengan V, musuh tak akan menggunakannya untuk sekedar memancing seorang Kenji keluar dari sarang. Kini dia paham yang di maksud ayahnya, ketika kita kehilangan orang yang kita sayangi karena ulah kita sendiri, kita akan menyesal seumur hidup. Namun yang jadi pertanyaan di benaknya, ayahnya sudah begitu kuat tapi kenapa tak memilih seorang perempuan untuk mendampinginnya. Entah lah, itu urusan ayahnya.
Hari ini Keano berencana pulang ke Mansion utama. Kalau bukan karena panggilan ibunya, ia pasti akan menunda lagi. Ia begitu menyayangi ibunya, sebisa mungkin ia akan mengurangi frekuensi untuk mereka bertemu, ia tak ingin kehilangan orang yang ia sayangi lagi. Meskipun kini dia sudah berbeda dengan yang dulu, namun ia tak ingin ibunya terlibat dengan dunianya.
Keano pulang sendiri, Leon tak di biarkan mengikutinya. Ia masuk dan pelayan menyambutnya. Meskipun dia sudah di buang ke Jepang bertahun-tahun yang lalu, namun Keano tetaplah tuan muda keluarga ini.
Ibunya yang mendengar tentang kepulangan anak kesayangannya begitu bahagia. Dari dalam dia langsung berlari kecil tak sabar untuk memeluk buah hati yang lama tak dijumpainya. Melihat anaknya yang sudah tumbuh begitu tampan dan gagah, tak kuasa air matanya pun terjatuh. Ia peluk tubuh kekar yang dulu selalu di gendongnya. Ia tuangkan rasa rindu yang sudah bertahun-tahun ia pendam. Ia menangis sesenggukan di dada bidang sang anak. Pelukannya semakin erat seakan tak ingin lagi membiarkan putra kecilnya merasakan kekejaman dunia luar. Kalau bisa, ia ingin selalu bersama putranya untuk melewati hari tua. Ia tak habis pikir, bagaimana suaminya bisa menelantarkan darah dagingnya sendiri, kalau bukan karena ia ingin mengembalikan hak anaknya, ia sudah keluar dari penjara emas ini.
Keano membalas pelukan ibunya. Tangan kekarnya mengelus dengan lembut punggung orang yang sudah melahirkannya ke dunia. Ia salurkan kasih sayangnya untuk menenangkan hati yang pilu seorang ibu yang telah terpisah lama dengan buah hatinya. Bagaimanapun keras dan dinginnya dia sekarang, tak akan pernah melupakan perjuangan ibunya yang selalu berkorban demi dirinya mengabaikan perasaannya sendiri.
"Putramu sudah disini ma, sampai kapan mama akan menangis, nanti cantiknya hilang lho." Keano mengusap air mata ibunya dengan lembut. Senyumnya yang menawan mampu menguapkan kecemasan yang selama ini ibunya miliki.
"Kau masih saja suka menggoda ibumu yang sudah tua ini."
"Meski kau sudah tua, kau tetap mama ku yang paling cantik." Keano semakin menggoda ibunya.
"Kamu sama sekali tak pernah berubah." Evelyn, ibu dari Keano menuntun sang putra untuk segera makan.
Keano hanya mengikuti ibunya dengan patuh. Ia akan sesekali bersikap manja agar ibunya tak menaruh curiga. Untung saja ia meninggalkan Leon dengan segudang tugas yang harus ia selesaikan. Kalau sampai Leon tau bagaimana dia bersikap di depan ibunya, ia akan meledek habis-habisan.
Keano makan makanan yang telah di siapkan Evelyn. Ibu satu anak itu begitu antusias mengambilkan makanan untuk Keano hingga di piringnya begitu banyak lauk. Sang anak yang di perlakukan seperti ini hanya bisa memaklumi, karena bagaimanapun mereka tak bertemu sudah bertahun-tahun. Sejak ia di buang ke negeri orang, Keano tak berniat kembali sebelum dia memiliki kekuatan. Dan kini ucapannya telah terwujud.
Sambil makan Keano menoleh kanan dan kiri seperti mencari keberadaan seseorang selain mereka. Siapa lagi kalau bukan ayah dan anak yang selalu membuat darahnya mendidih.
Evelyn yang tau gelagat Keano hanya bisa menjelaskan secara garis besarnya saja.
"Ayah dan kakakmu belum kembali. Kamu bisa tenang menikmati makananmu."
Keano mengangguk dan segera melanjutkan kembali menikmati masakan ibunya yang sudah lama tak ia rasakan.
Keduanya melepas rindu dengan saling menceritakan pengalaman masing-masing selama mereka jauh. Banyak sekali yang harus Keano ceritakan agar memuaskan keingintahuan sang bunda. Padahal selama ini mereka sudah sering mengobrol lewat telephon, namun ibunya ternyata belum puas hingga dia banyak menanyakan ini dan itu.
"Sayang, temanmu yang sekolah bersamamu tak ikut kembali? siapa namanya?" ibunya mengingat kembali seseorang yang telah menemani putranya selama di negeri orang. "Ah iya, Hiroshi. Dimana dia. Mama kan juga ingin melihat anak mama yang satunya lagi." Evelyn memang sudah menganggap Leon sebagai anaknya. Semenjak dia di sekolahkan bersama Keano, ia sudah menganggap bahwa Hiroshi ini adalah adik Keano meskipun mereka belum pernah bertemu.
"Akan Keano bawa lain waktu. Kini dia sedang sibuk menggantikan ku di perusahaan." Keano menjawab dengan santai. Seakan ia tak peduli seberapa sibuknya Leon.
"Dasar anak bandel, Mama kan juga ingin melihat anak mama yang satunya." Evelyn sedikit merajuk di hadapan putranya berharap dia membawa Hiroshi datang sekarang juga.
"Mama jangan bertingkah, kalau dia tau kelakuan mama, dia akan sangat kegirangan." Keano hanya membatin ucapannya. Dia membayangkan keduanya bertemu merasa ngeri sendiri. Dia yang sudah tau kalau Leon sangat berterima kasih pada ibunya pasti akan melakukan apa saja untuk menyenangkan seseorang yang dulu telah membiayai sekolahnya. Apalagi selama ini Leon sudah terlalu sering memanggilnya kakak, Keano menggelengkan kepala keras guna menghilangkan pikiran horornya.
"Jangan seperti anak kecil ma, anakmu baru pulang dan mama malah menanyakan anak lain?" Keano menggoda ibunya dengan pura-pura merajuk juga. Tebakan Keano sangat efektif, sang ibu langsung memeluknya dan meminta maaf. Meskipun kasihan menggoda ibunya sampai seperti ini, Keano sangat menikmati momen ini karena ia tak tahu lagi kapan hal indah ini akan terjadi lagi.
*
*
*
Setelah memberikan tip kepada sang supir, Xena segara turun. Di hadapannya kini, berdiri rumah megah yang sangat besar. Mereka sering menyebutnya dengan sebutan Mansion. Mansion dengan gaya Eropa klasik membuatnya terlihat begitu Elegan. Dan Xena menyukai suasana ini.
Ia berjalan menuju pintu utama. Butuh beberapa waktu perjalanan dari pintu gerbang ke pintu utamanya. Halaman yang sangat luas membuat kakinya sedikit terasa pegal. Untung saja rasa pegal itu tergantikan karena kini ia telah sampai. Para pelayan sudah mengenalnya, mereka memberi hormat dan mempersilahkan sang putri untuk masuk.
Salah satu pelayan memberitahukan kedatangan putri Xena kepada sang pemilik rumah. Evelyn langsung bangkit dan segera menemui putri dari teman kuliahnya itu.
"Keano, lihat siapa yang datang. Dia adalah Kalya Xena Hadiningrat. Dia anak teman kuliah mama." Evelyn begitu antusias memperkenalkan anaknya dengan Xena.
Keano menoleh ke arah ibunya. Di sampingnya berdiri sosok gadis yang cantik dengan tatapan yang begitu teduh. Dengan percaya diri dia memberi salam kepada Keano.
Tak sedikit yang begitu melihat Keano langsung jatuh hati. Pun Xena yang begitu melihat putra dari teman ibundanya juga langsung menaruh minat. Tak banyak lelaki yang bisa meluluhkan hati sang putri. Xena yang begitu pemilih tentu akan memilih lelaki dengan tipe sempurna.
Lihatlah tatapan Keano yang berubah menjadi dingin. Sepertinya dia langsung tak menyukai Xena dari pandangan pertama. Atau mungkin ia tak suka cara ibunya yang memperkenalkan gadis padanya, seakan Keano sudah tak laku lagi.
"Ma? apa mama meminta ku pulang karena gadis ini?" Keano bangkit dan mendekati kedua perempuan yang terkejut dengan sikap dingin Keano. "Kalau begitu lebih baik aku pergi sekarang."
"Tunggu nak. Kamu baru kembali, dan kamu tega meninggalkan mama begitu saja?" Evelyn merasa sangat sedih. Ia seperti asing dengan anak yang kini ada di hadapannya. Keano tak pernah memberinya tatapan yang dingin seperti itu, hati ibu mana yang tak sakit melihat anaknya memberikan sikap yang begitu dingin.
Evelyn hanya ingin membantu anaknya. Dengan mengenalkannya dengan Xena, ia berharap Keano bisa memperoleh kedudukan di perusahaan suaminya yang memang seharusnya adalah miliknya. Xena yang merupakan anak dari pengusaha ternama selain dari keluarga Alterio, pasti bisa membantu Keano mendapatkan kembali apa yang harusnya menjadi miliknya.
"Mama hanya ingin membantu." Evelyn sudah berlinang air mata.
"Dengan mama sehat saja itu sudah sangat membantuku."
"Kamu keterlaluan Keano, bibi Evelyn sangat menyayangimu, dia hanya ingin kamu bahagia." Xena ikut berbicara membela Evelyn.
Tatapan mata Keano menajam ketika menatap Xena. Mata yang terlihat seperti hewan buas pemangsa membuat Xena begitu ketakutan.
"Kamu hanyalah orang luar. Tak perlu ikut campur." Keano pergi meninggalkan luka pada ibunya. Sungguh Evelyn tak pernah melihat Keano yang seperti ini. Kalau dulu pasti anaknya akan berbasa-basi kalau tak menyukai pilihan ibunya, namun sekarang, dengan tegas ia langsung menolak. Evelyn tersenyum dalam pedih, anaknya sudah tumbuh dewasa dan akan mampu menempuh jalannya sendiri. Sebagai ibu ia hanya perlu mendukungnya.
"Maaf Xena, sepetinya anak bibi sudah bukan Keano kecil dulu yang akan menuruti permintaan bibi." Evelyn tersenyum kecut merasa bersalah.
"Tak usah khawatir bibi. Aku akan menakhlukannya." Ucap Xena penuh percaya diri.
"Kamu menyukai anak bibi?" Evelyn gak mengira bahwa Xena akan langsung menyukai Keano begitu bertemu. Padahal ini adalah kali pertama mereka bertemu, dan suasananya pun tak baik
"Siapa yang tak menyukai lelaki berkharisma seperti anak bibi?" Xena menggoda Evelyn. "Lihat saja Keano, suatu saat nanti kamu akan memohon pada ku." Ucap batin Xena yang akan terus mengejar Keano kedepannya.
Bersambung...
****
Hallo bertemu lagi dengan Author yang tak banyak omong. Selamat membaca jangan lupa like komen share young mama ya. jangan lupa juga buat vote, masa harus authornya sendiri yang vote. hihihi
sampai jumpa...