Young Mama

Young Mama
Bab 20: ~Semakin Dekat~



Sebuah helikopter mendarat di depan bangunan megah yang terdapat di salah satu pulau dikepulauan seribu. Pulau kecil itu hanya ada satu bangunan yang menempati. Sebuah pulau pribadi idaman setiap orang. Siapa yang tak menginginkan pulau yang begitu eksotis dengan pemandangan laut yang begitu biru. Airnya yang jernih memperlihatkan ikan kecil yang berenang di dalamnya.


Mata kagum seorang anak manusia tak bisa berbohong. Mata siapa yang tak termanjakan oleh pemandangan yang begitu hijau di depannya. Udaranya yang segar membuat siapapun betah disini.


Binar mata Kenzo membuat siapapun yang melihat ikut bahagia. Ia begitu menikmati pemandangan yang baru pertama kali di lihatnya. Shilla tak bisa membohongi diri sendiri bahwa dia berterimakasih pada Keano yang telah menculiknya. Melihat Kenzo begitu bahagia, ia rela meskipun harus menjadi pelayan dari keano dalam sehari ini.


Mereka semua turun dengan perasaan berbeda. Ada yang begitu bahagia, ada yang masih merasa canggung, bahkan ada yang merasa kalau dirinya hanyalah pelengkap saja.


Shilla menatap sekeliling. Tak pernah ia jumpai pemandangan yang seindah ini.


Kenzo sudah berlarian kegirangan. Sesekali dia jatuh namun segera bangkit tak merasakan sakit pada lututnya. Dia memang bukan anak kecil yang mudah mengeluh, hanya ketika suatu hal yang tak sesuai keinginan baru dia akan menangis layaknya anak kecil pada umumnya.


"Selamat datang tuan." Seorang wanita cantik menyambut mereka.


Sepertinya wanita ini sudah datang lebih dulu. Dari sikapnya pun begitu menghormati Keano, namun tatapannya begitu dingin membuat Kenzo tak berani mendekatinya.


"Ajaklah Shilla dan Kenzo melihat kamarnya, biarkan mereka beristirahat dulu." Perintah Keano.


"Silahkan ikuti saya nona." wanita yang tak lain adalah Rose, asisten Keano selain Leon membimbing Shilla di depan.


Kenzo yang berada di belakang Shilla begitu ketakutan dengan tatapan dari Rose. Sepertinya wanita ini harus merasakan jatuh cinta dahulu biar hatinya mencair.


Shilla mengikuti Rose tanpa bertanya apapun. Dia hanya menenangkan Kenzo agar tak terintimidasi oleh tatapan wanita di depannya.


Mereka sampai pada sebuah ruangan dengan pintu besar berukiran klasik. Selera yang unik mengingat Keano yang begitu dingin. Rose membuka pintu dan mempersilahkan Shilla untuk masuk.


"Baju untuk nona dan tuan kecil sudah ada di dalam lemari. Tidak perlu sungkan karena tuan Keano memang menyiapkannya untuk anda."


"Tuan Keano sudah menyiapkan semuannya?"


"Ya. meskipun sedikit membuat repot karena perintahnya begitu mendadak." Rose sedikit menyindir Shilla.


"Maaf." Shilla merasa bersalah. Meskipun itu adalah perintah Keano, namun perintah itu melibatkan dirinya.


"Tidak masalah nona. Asalkan tuan Senang kami para bawahan ikut senang juga." Rose mohon untuk undur diri.


"Tunggu, siapa namamu?"


"Panggil saja Rose seperti yang lainnya."


Sepeninggalan Rose, Shilla melihat-lihat kamar yang akan menjadi tempat istirahatnya. Kenzo yang sudah kembali ke mode cerianya langsung loncat-loncat di ranjang yang besar nan empuk itu.


Shilla berjalan ke arah jendela, terlihat laut yang begitu biru jauh di depan sana. Namun dia seperti merasa ada yang salah. Ia ambil ponsel yang dari tadi ia abaikan. Ada belasan panggilan tak terjawab dari atasannya Samuel. Dengan cepat ia memanggil balik tak ingin membuat paman Sam khawatir.


"Hallo Shilla, kenapa dari tadi di telepon tak di angkat. Tadi aku melihatmu di bawa tuan Keano, apa kamu tak apa-apa? kamu terluka?" Samuel langsung membombardir pertanyaan kepada Shilla.


"Kalau saya kenapa-napa tak mungkin bisa menghubungi paman." Shila tersenyum kecil mendengar kepanikan dari pak Samuel.


"Syukurlah kalau begitu. Tapi bagaimana ceritanya kamu bisa di bawa oleh tuan Keano, apa kamu menyinggungnya?"


"Tak perlu ada yang di khawatirkan. Cuma masalah kecil paman. Untuk saat ini aku izin libur bekerja ya paman." Meskipun dia di bawa oleh Keano, namun Shilla merasa bersalah karena meninggalkan tanggung jawabnya.


"Tenang saja. Kamu nggak perlu mikirin masalah pekerjaan. Cukup kamu pikirkan keselamatanmu saja, karena yang aku tau, setelah tuan Keano pulang dari Jepang, dia jadi berdarah dingin." Samuel memperingatkan Shilla agar lebih berhati-hati.


"Baik paman. Terima kasih nasihatnya." Shilla memutus sambungan teleponnya dengan Samuel. Ia segera menyiapkan air untuk mandi karena merasakan badannya yang begitu lengket.


Shilla menggendong Kenzo ke kamar mandi. Kamar mandi yang begitu mewah membuat Shilla sedikit iri. Bahkan interior yang ada di dalam kamar mandi inipun lebih mahal dari kontrakannya.


Shilla dan Kenzo menikmati mandi mewah mereka. Kenzo begitu asik memainkan busa yang ada di bak mandinya. Shilla sendiri begitu menikmati sensasi guyuran air yang turun dari shower membasahi tubuhnya. Karena saking asiknya, tak mendengar suara pintu kamar di buka oleh seseorang.


Keano masuk begitu saja tanpa permisi. Ia mendengar celotehan Kenzo yang berada di kamar mandi. Dia duduk di salah satu sofa mendengarkan ibu dan anak itu bercanda di dalam sana. Tanpa dia sadari, senyum Keano mengembang.


"Ayo berhenti sayang, lihat tangan mungilmu sudah keriput." Shilla sedang membujuk anaknya untuk berhenti bermain.


Keano masih mendengarkan percakapan mereka dengan asik.


Pintu kamar mandi terbuka. Kenzo berlari keluar hanya dengan handuk kecilnya. Melihat di luar sudah ada Keano, ia begitu bahagia.


"Papa...!" Kaki kecilnya berlari ke arah Keano.


Mendengar teriakan anaknya membuat Shilla kaget. Ia melihat senyum iblis di depannya. Pandangannya menjelajah seluruh tubuhnya yang hanya berbalut handuk selutut.


"Ternyata tubuhmu lumayan juga." Keano menyeringai. Dengan Kenzo yang berada di pangkuannya, Shilla tak dapat melakukan perlawanan.


Dengan hati-hati Shilla mengambil Kenzo dari pangkuan Keano. Melihat senyum yang begitu mengerikan membuat insting pertahanan dirinya meningkat.


"DASAR MESUM!!!" Teriak Shilla sambil melemparkan sandal ruangan yang di pakainya.


Melihat raut ketakutan yang tak pernah diperlihatkan oleh Shilla, membuat Keano sedikit bersalah kepadanya. Ia menghela napas dan berbalik keluar meninggalkan Shilla yang masih menahan malu.


"Lekas berpakaian. Kita akan segera makan."


.


.


.


Semua orang sudah menunggu di meja makan. Makanan yang tersaji pun tak bisa di bilang sederhana. Dari makanan yang berkuah hingga makanan yang di bakar semua tersaji di meja itu. Entah dari mana makanan ini berasal, namun semua terlihat seperti masakan koki profesional. Bahkan makanan untuk anak balita pun tersaji dengan apik berdampingan dengan makanan lain.


Melihat pemandangan di depannya Shilla merasa terharu. Sejak ibunya meninggal, dia tak pernah lagi merasakan kehangatan sebuah keluarga. Namun kini di hadapannya sekarang, seseorang sudah menunggunya untuk makan bersama. Bahkan para asisten dari bosnya juga ikut makan di meja yang sama. Melihat itu, pandangan Shilla mengenai Keano sedikit berubah. Dia tak hanya menganggap asistennya pekerjanya, namun juga keluarganya.


Shilla menuruni tangga dengan menuntun Kenzo. Bocah cilik itu begitu tak sabar untuk makan makanan yang sudah tersaji di meja. Dengan tergesa Kenzo menuruni tangga membuat Shilla kuwalahan.


Di sisi lain, ada sepasang mata yang begitu terpesona dengan penampilan Shilla. Siapa lagi kalau bukan Keano yang sudah tertambat hatinya pada gadis itu. Dress selutut berwarna merah muda begitu apik membalut tubuh indahnya. Memang bukan dress yang mewah, hanya dress santai untuk di pakai di rumah, namun sepertinya tubuh Shilla sangat cocok memakai baju apapun.


Shilla memberi salam kepada semua orang. Hanya Keano yang masih tak merespon salamnya. Ia masih terpesona dengan kecantikan yang di pancarkan oleh Shilla. Lihatlah matanya yang tak berkedip, membuat Leon dan Rose senyum-senyum sendiri.


Shilla tak pernah melihat Rose tersenyum, begitu melihatnya dia merasa Rose lebih cantik jika banyak tersenyum.


"Papa...!" Kenzo berlari memeluk Keano.


Keano akhirnya terbangun dari lamunannya akibat ulah Kenzo. Ia melihat sekelilingnya malu sendiri. Para asistennya sudah menertawakannya.


"Sini duduk di pangkuan papa hummm." Entah ada angin dari mana, Keano menyebut dirinya sendiri papa. Hal itu membuat semua orang melongo tak percaya.


Mereka semua saling pandang. Leon dan Rose masih tak percaya dengan pendengarannya. Keano yang biasanya dingin tak suka dengan anak kecil, begitu saja mau menyebut dirinya papa, sepertinya dunia ini akan segera berakhir.


"Siapa kamu, papa! papa!" Shilla tak terima dengan hal tersebut. Keano seenaknya mendeklarasikan dirinya sebagai papa dari anaknya. Ia menghampiri Kenzo dan mengambilnya dari pangkuan Keano.


"Sayang, dia om Keano, bukan papa! oke?" Shilla memberi pengertian secara halus pada Kenzo.


"Oke. Papa." Kenzo tetap memanggil Keano papa. Ia tertawa kecil mempermainkan perasaan ibunya. "Ayam... ayam..."


Melihat tawa Kenzo sepertinya Shilla jadi tak tega. Biarlah dia memanggil Keano papa, yang di panggil pun sepertinya tak keberatan. Dalam hati Shilla merasa lebih tenang.


"Anak mama mau ayam hummm?" Shilla mengambilkan ayam goreng untuk Kenzo. Kenzo begitu senang memegang paha ayam dan dengan lahap memakannya.


"Apa kamu gila, dia masih kecil, sudah di sediakan bubur kenapa malah di kasih ayam!" Keano memarahi Shilla karena menurutnya Kenzo masih belum boleh makan ayam. Kalaupun makan ayam harus di haluskan terlebih dahulu.


"Bubur itu untuk sarapan. Usia Kenzo sudah boleh makan layaknya orang dewasa. Biarkan pencernaannya latihan, kalau pagi siang malam hanya makan bubur, pencernaannya tak terbiasa, nantinya malah tak bisa makan makanan yang berat. Aku ini mamanya Kenzo, tak mungkin aku membahayakan anakku sendiri." Shilla menceramahi Keano membuat kedua orang yang sedari tadi mendengarkan tambah menertawai bosnya.


Mendengar perkataan Shilla yang panjang, Keano hanya bisa diam tak berkutik. Dia hanya menghela napas karena tak bisa menyanggah perkataan dari Shilla. Lebih baik dia mengalihkannya dengan berbincang dengan Kenzo.


Kenzo mengambilkan ayam untuk Kenzo lagi berharap bisa lebih dekat dengan anak itu.


"Jangan memberinya lagi, kalau terlalu banyak tidak baik, bisa-bisa dia tidak bisa buang air besar." Cegah Shilla kembali.


"Lalu apa yang harus aku lakukan, ini salah itu salah." Keano sedikit merajuk pada Shilla.


"Apa karena kamu terlalu kaya jadi terlalu bodoh? Makanan yang sehat harus di imbangi dengan sayur, harusnya kamu mengambilkan sayur bukannya memperbanyak ayam." Sinis Shilla. Dia merasa puas bisa memarahi bosnya. Jarang-jarang dia bisa bersikap seperti ini.


Keano menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Akhirnya dia mengambilkan brokoli untuk Kenzo. Melihat brokoli di depannya, Kenzo langsung menutup mulutnya. Dia tak suka dengan benda hijau tersebut. Bahkan ketika Keano menyuapi pun, gelengan kepala Kenzo semakin kencang.


"Dia tak mau sayur, brokoli memang menjijikan kau tau." Keano yang juga tak suka brokoli seperti membela Kenzo.


"Jangan ajari pilih-pilih makanan!"


Shilla mengambil alih menyuapi Kenzo. Ia makan terlebih dahulu brokolinya agar Kenzo juga menirunya.


"Lihat nak? brokoli tak semengerikan itu, mama juga makan brokoli." Shilla membujuk Kenzo dengan sabar. Ia menyuapi lagi brokoli yang sempat di tolaknya. Dengan enggan Kenzo membuka mulutnya memakan brokoli seperti mamanya.


Melihat interaksi ibu dan anak itu hati Keano menghangat. Dalam hati ia sangat berharap bisa bergabung di tengah-tengah mereka.


"Saya sudah selesai makan. Saya permisi dulu tuan." Leon pamit undur diri. Tak biasanya dia undur diri terlebih dahulu sebelum tuannya selesai, menurutnya itu tak sopan. Namun melihat bosnya begitu menikmati makan siang kali ini, ia ingin memberi waktu kepada Keano lebih banyak dengan Shilla.


"Saya juga tuan." Rose juga pergi meninggalkan meja makan dengan senyum yang terpatri di bibirnya.


Kini hanya ada dua orang yang saling bertengkar dengan anak kecil di tengahnya. Entah akan berapa lama lagi pertengkaran itu berlangsung, namun hal itu membuat keduanya semakin dekat.


Bersambung...