Young Mama

Young Mama
Bab 85: ~Mengenalmu (2)~



Shilla sudah mengenakan seragam yang di berikan oleh Earl. Dia nampak berbeda ketika mengenakan seragam yang sudah lama tak ia kenakan itu. Ada rasa bangga tersendiri ketika memakai seragam Karate itu. Shilla seolah kembali ke masa lalu. Masa kejayaannya ketika dia bebas kemanapun dan bertanding di mana pun.


"Kamu bisa melakukan pemanasan sendiri dulu?" Earl berkata gugup melihat Shilla yang tampak berbeda.


Shilla mengangguk bahwa dia bisa melakukan pemanasan sendiri.


"Kalau begitu lakukan pemanasan sebisamu dulu, nanti bisa bergabung dengan yang di sana." Earl menunjuk kelompok sabuk putih. Sabuk terendah sebagai pemula. Earl tak tahu saja sebenarnya Shilla sudah menapaki olimpiade-olimpiade dunia.


Namun Shilla hanya tersenyum mengangguk. Tak ada rasa tersinggung. Dia tak mempermasalahkan bahwa dia dianggap masih pemula.


Earl kembali ke melatih adik tingkatnya yang mengenakan sabuk cokelat. Latihan dibagi sesuai tingkat sabuk. Jadi materi yang di berikan juga bisa lebih mendetail.


Shilla melakukan pemanasan dengan lari-lari kecil. Tak lupa dia melenturkan seluruh otot tubuhnya. Dia juga melakukan beberapa tendangan juga pukulan.


Semua yang Shilla lakukan tak lepas dari pantauan Earl. "Jadi dia sebenarnya sudah pernah mengikuti kegiatan ini." Batin Earl kurang fokus dalam memberikan materi.


Setelah beberapa menit saat Shilla sudah selesai, dia berjalan untuk masuk ke sesi latihan bersama sabuk putih atas arahan Earl.


Earl yang tak enak langsung menghampiri Shilla. Dia sudah salah menilai. Dia tak ingin Shilla menjadi salah paham dan membencinya.


"Tunggu Shilla," Earl menahan pergelangan tangan Shilla. "maafkan aku."


"Maaf kenapa?" Shilla bingung kenapa Earl meminta maaf kepadanya.


"Maafkan aku karena mengira kamu masih pemula, melihat mu pemanasan, aku tahu kalau kau sebenarnya sudah malang melintang di dunia bela diri ini."


"Ah itu, ya sebenarnya pernah ikut, namun karena adanya Kenzo aku tak bisa lagi membagi waktuku. Ya sudah anggap saja pemula, karena aku sudah lama tak berlatih." Shilla tersenyum menenangkan Earl.


"Ini sudah mau selesai season satu latihan. Bisa kita latihan bersama saja?" Entah angin apa yang membuat Earl berani berkata seperti itu.


"Tapi aku tak enak dengan yang lain." Shilla merasa dirinya kurang pantas menerima latihan langsung dari Earl. Apalagi di sabuk hitamnya terdapat tanda bahwa Earl sudah berada di sabuk hitam tingkat enam. Rasanya Shilla merasa kecil di hadapannya yang tinggal cuma berada di sabuk hitam tingkat pertama.


"Tak apa, aku akan menutup latihan mereka dulu. Baru kita latihan berdua."


Shilla hanya bertanya-tanya maksud Earl yang sebenarnya. Dia tak mengerti apa yang sedang Earl lakukan. Dia tak ingin terlalu kepedean. Apalagi Earl pemuda yang tampan, kaya berkharisma, sopan pula, siapa yang tak ingin mendapat kesempatan dekat dengannya.


"Ayo kita mulai."


Earl dan Shilla langsung latihan tanding. Saat Earl melihat Shilla pemanasan, dia langsung menyadari bahwa Shilla bukan lagi pemula ataupaun baru ikut sebentar. Dia langsung tahu bahwa Shilla sudah lama bahkan sudah menekuni bidang ini.


Awalnya mereka saking pukul dan tangkis. Perlahan karena Shilla yang sudah lama tak bertanding butuh penyesuaian lagi. Tak butuh sebenarnya, tapi Shilla tak ingin terlihat sombong.


Shilla memukul ulu hati Earl yang langsung bisa di tangkis. Earl memukul balas dan Shilla juga bisa menangkisnya. Semakin lama latihan mereka semakin serius. Pukulan dan tendangan saling mereka lancarkan.


Mereka saling tendang, pukul, dan tangkis. Banyak yang mengabadikan momen itu untuk bahan latihan mereka. Namun ada satu orang yang khawatir. Fujihara, dia sangat khawatir nonanya terkena tendangan ataupun pukulan. Memang benar dalam latihan bela diri pasti risikonya terkena tendang atau pukul, tapi kasus disini, jika Shilla lecet sedikit saja Fujihara yang harus mempertanggungjawabkan di hadapan Mamoru.


Fujihara harap-harap cemas melihat nonanya latihan. Apalagi mereka semakin intens dalam memukul dan menendang.


Shilla kembali melancarkan tendangan ke arah kepala Earl, dan dengan cekatan Earl menangkis tendangan Shilla. Namun karena tumpuan kaki Shilla yang kurang kuat, ketika tendangan ditangkis Shilla menjadi oleng. Dengan tidak elitnya Shilla terjatuh, namun ada sesuatu yang janggal, Shilla tidak jatuh di matras tempat latihan, namun jatuh tepat di dada bidang Earl. Mata mereka saling terkunci satu sama lain. Beberapa detik seolah waktu berhenti.


"Ughum..."


"Cieeee."


"Sensei keasikan."


"M*mpus lah aku." Fujihara menepuk kening melihat nonanya yang terjatuh di pelukan lelaki lain. Dia hanya bisa berdoa di dalam hati, semoga tuan mudanya tidak melihat kejadian ini.


Muka keduanya bersemu malu. Shilla langsung bangkit dan membenahi pakaiannya canggung. Dia juga seolah membersihkan keringat yang ada di dahinya. Dia celingukan mencari entah apa karena posisinya yang semakin canggung. Apalagi melihat sekitarnya yang saling seolah memojokkan mereka.


Begitu pula dengan Earl yang menjadi salah tingkah. Dia bahkan sampai bingung sendiri dengan arah dan tujuannya. Dia ingin ke kanan, namun balik lagi ke kiri dan balik lagi hingga beberapa saat.


"Dasar bocah." Hideki menghampiri mereka. Dia tertawa dengan tingkah kedua orang dewasa yang seperti anak baru mengenal lawan jenis itu.


"Siapa kau panggil bocah." Earl sedikit malu. Dia memang di kagumi oleh banyak wanita. Namun dia tak pernah ingin menjalin hubungan serius dengan mereka. Belum pernah ada yang benar-benar menggetarkan hatinya.


"Kalau begitu saya permisi dulu." Shilla terlalu malu untuk berada disini terlalu lama. Dia memilih untuk segera pergi dari sana. Dia berganti pakaian dan segera pulang untuk menenangkan gejolak sejenak dalam hatinya.


"Ini untuk uang seragamnya. Terima kasih sensei." Shilla menyerahkan beberapa lembar ratusan Yen pada Hideki.


"Tak perlu. Cukup kamu bisa kembali berlatih lagi disini. Sepertinya kamu punya potensi untuk menjadi juara." Hideki berharap pada Shilla untuk kembali datang.


"Aku akan datang. Tapi tolong terimalah. Aku tidak mau berhutang."


"Baik lah kalau itu mau mu." Hideki mengalah. Dia tak ingin jika Shilla tak jadi ikut berlatih disini.


Akhirnya Shilla pergi dengan Fujihara. Kembali ke rumah dimana sang putra sudah menantinya. Kembali dengan hati yang sedikit terobati.


Apa dia sudah jatuh cinta? Bukan. Cinta tak semudah itu datangnya. Karena Cinta datang ketika hati sudah nyaman satu dengan yang lainnya.


Bersambung...


Maaf kan Author yang PHP pada kalian semua. Sebenarnya Author sudah menyiapkan beberapa episode untuk kalian, tapi karena suatu insiden semua drafnya hilang, dan Author harus kembali menulis ulang. Maaf sekali kalau episodenya singkat. Karena biar cepat up dan kalian tidak lama menunggu.