Young Mama

Young Mama
Bab 47: ~Perburuan~



Pesawat masih mengudara. Mereka terus berbincang mencoba meyakinkan Kenji untuk berpihak kepada mereka. Bahkan seorang kaki tangan bos yang masih belum diketahui identitasnya mencoba menawarkan banyak uang pada Kenji. Tapi Kenji tetap masih pada pendiriannya.


Mereka tak menyadari kalau ada seorang perempuan yang ikut menyusup ke dalam pesawat mereka. Dia meringkuk di salah satu bilik agar tak ketahuan. Bahkan suara sekecil apapun bisa membuat para penjaga menangkap basah dirinya.


"Bagaimana tuan K? Apa anda tertarik bergabung dengan kami? Tuan ku sudah lama memperhatikan anda." Charles, seorang kaki tangan bosnya Saburo masih mencoba membujuk Kenji.


"Sebenarnya bergabung dipihak kalian itu perkara yang mudah. Tapi aku lebih penasaran sebenarnya siapa orang di belakang kalian." Kenji tersenyum kecil. "Mungkin kalau dia sendiri yang menemui ku, aku bisa memikirkannya kembali." Kenji membenahi posisi duduknya dengan angkuh.


"LANCANG KAMU, ORANG KECIL SEPERTIMU TAK LAYAK MENEMUI TUAN BESAR." Charles bangkit dengan marah.


"Tenanglah Charles, jangan gegabah, dia adalah orang yang diperhatikan oleh tuan mu, kalau dia mati di tangan mu, kau juga bisa berakhir." Saburo mencoba menenangkan Charles yang sudah naik pitam. Dia memang orang kepercayaan dari bosnya. Kesetiannya tak perlu untuk dipertanyakan kembali.


"Kamu mau meyakinkaku, tapi sikapmu tak hormat padaku, kalau bos mu tahu mungkin kamu sudah dihukum." Kenji menyeringai.


Kedua orang itu tak tahu lagi apa yang harus di lakukan untuk meyakinkan Kenji. Mereka tak tahu saja, kalau orang yang kini di hadapan mereka, adalah calon bos besar masa depan dari musuhnya.


Karena negosiasi masih belum berhasil, mereka memutuskan untuk membawa Kenji ke hadapan bos besar sesuai permintaan Kenji.


*


*


*


Oxford-Inggris


Seorang laki-laki yang umurnya di perkirakan setengah abad sedang berdiri di balkon. Dia sedang menikmati musik klasik yang keluar dari Gramofon. Dia sedang menunggu seseorang membawa kabar gembira untuknya.


"Apa Charles sudah memberi kabar." Lelaki yang diketahui bernama Alison itu menanyakan pada seseorang yang sejak tadi setia menunggu di belakang.


"Charles mengatakan kalau K menginginkan bertemu langsung dengan anda tuan."


"Menarik." Alison mengetuk-ngetukan telunjuknya pada pagar di hadapannya. Dia semakin tertarik dengan orang yang akan di rekrutnya ini.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sudah tiga hari Kenzo keluar dari Rumah sakit. Dia sudah sehat bahkan sudah bisa berlarian dengan teman-temannya.


Shilla tersenyum melihat anaknya sudah kembali ceria. Rencananya hari ini dia dan Keano akan pergi ke Surakarta untuk mencari Xena. Entah kemana perempuan itu bersembunyi, hingga kini masih belum di temukan.


Keano datang menjemput Shilla. Dengan setelan rapi dia terlihat semakin tampan. Apalagi banyak sekali ibu-ibu sedang berkumpul untuk bergosip. Langsung saja Keano menjadi topik hangat saat itu.


Keano turun dari mobil mewahnya. Dia menyembunyikan setangkai bunga mawar untuk di berikan pada kekasihnya. Baru kali ini Keano bersikap romantis seperti ini, mungkin kalau dulu, Keano akan memberikan sebuah pistol atau sebilah pisau.


Dengan percaya diri dia melangkah ke rumah Shilla. Kenzo yang ada di halaman sedang bermain langsung lari menerjangnya.


"Papa!!!"


"Anak papa sedang bermain?" Keano berjongkok memeluk Kenzo.


"Iya. Papa mencari mama?" Kenzo melirik bunga yang di bawa oleh Keano.


Keano mengangguk canggung. Ia merasa malu kepada anak kecil di hadapannya.


"Mama ada?"


"Ada, mama sedang memarahi tante Feli."


Mereka mengobrol sambil berjalan masuk. Tak lupa Kenzo meminta dituntun oleh sang papa.


"Kenapa mama memarahi tante Feli?"


"Kenzo ngga tahu. Tapi kayaknya karena tante Feli membalas pesan om Devan untuk mama dengan mesra." Kenzo berbicara dengan polos. Dia tak tahu kalau kepolosannya bisa membuat pria disampingnya mengeluarkan aura pekat yang mencekam. Bahkan bunga yang di bawanya tadi menjadi sasaran remasan marah Keano.


Keano tak mengerti, kenapa teman-teman Shilla ini usilnya minta ampun. Bukan hanya Rayna, sekarang Feli. Mungkin Keano harus membinasakan mereka dan memonopoli Shilla seorang diri.


"APA KAKAK PERNAH MEMIKIRKAN APA YANG AKAN TERJADI. KENAPA KAK FELI MALAH MEMBALAS SEPERTI ITU."


"Ya ampun Shill, jangan marah-marah...."


"BAGAIMANA AKU NGGA MARAH KALAU KAK FELI SANGAT USIL" Belum sempat Feli membela diri dia sudah dihantam oleh perkataan lain oleh Shilla. Siapa yang tak marah, kalau Feli dengan lancangnya membalas pesan Devan dengan sangat mesra. Bahkan Feli juga memanggil Devan dengan sebutan Pak Dosen sayang. Tentu saja Shilla langsung marah besar. Dia tak ingin memberi Devan harapan, karena ia tak dapat memenuhi harapan tersebut.


"Tapi apa salahnya, kan kau juga belum jadian sama tuan dingin itu." Feli memperlihatkan muka memelasnya.


"Siapa yang tuan dingin?" Keano berdiri di ambang pintu dengan muka membunuh.


Feli merasa ngeri. Nyawanya terancam. Dia berlari ke balakang Shilla mencari perlindungan. Namun tatapan tajam dari Shilla membuatnya tambah ketakutan. Tanpa aba-aba dia langsung meringkuk menyembunyikan raut mukanya yang ingin menangis. Dia benar-benar menyesal telah mencandai Shilla.


"Tante, tante kenapa?" Kenzo mendekat menoel-noel bahu Feli.


Feli langsung memeluk anak itu. Dia yakin dia akan selamat kalau ada Kenzo di pelukannya. Dasar Feli tak tahu malu, bisa-bisanya dia berlindung pada anak kecil.


"Kenzo sayang, bilangin dong sama papa-nya, jangan galak-galak." Geli mencoba merayu Kenzo.


Feli hanya mengangguk mendengar pertanyaan polos Kenzo.


"Makanya tante jangan suka ngusilin mama, nanti papa Kenzo marah." Kenzo menasehati Feli dengan muka polos.


Tentu saja Feli speechless mendengar perkataan Kenzo. Sebenarnya anak ini belajar dari siapa bisa mengatakan hal seperti ini.


Keano dan Shilla yang semula marah pun langsung menahan tawa mendengar kalimat Kenzo. Apalagi melihat tampang Feli yang seperti orang bodoh. Mereka langsung tak ada mood untuk marah. Mereka langsung mengajak Kenzo untuk pergi meninggalkan Feli yang masih terdiam membeku di sana.


.


.


.


Helikopter yang membawa mereka terbang rendah di halaman keraton Surakarta. Seperti biasa Leon yang mengemudikan Helikopter tersebut. Para pelayan langsung menyambut Keano dengan baik. Karena sebelumnya mereka telah mengabarkan kedatangan mereka.


"Selamat datang tuan, silahkan masuk, tuan Gasendra sudah menunggu di dalam." Pelayan perempuan membimbing mereka masuk.


Mereka semua mengikuti pelayan itu untuk menemui sang tuan rumah. Kenzo melihat-lihat sekeliling. Dia selalu antusias dengan sesuatu yang baru dilihatnya. Namun dia tetap mendengarkan nasihat Shilla untuk berlaku sopan.


"Selamat datang tuan Keano. Ada sesuatu seperti apa yang membuat orang terkaya di negeri ini datang kemari." Gasendra, yang merupakan ayah Xena menyambut baik Keano.


"Papa ini bagaimana. Ada tamu belum disuruh duduk malah langsung tanya maksud kedatangannya, ngga sopan." Zora, istri dari Gasendra menegur suaminya.


"Hahaha, maaf sekali tuan Keano, saya terlalu senang dengan kedatangan anda."


Mereka duduk dan berbincang sebentar. Zora sangat gemas dengan Kenzo. Dia mengajak Kenzo bermain agar para orang dewasa lebih leluasa berbicara. Dasarnya Kenzo sudah tak takut lagi dengan orang asing, dia senang-senang saja di ajak main oleh Zora. Apalagi dia juga bebas memakan Ice cream kesukaannya, tambah giranglah ia.


"Jadi ada apa tuan Keano. Sepertinya sangat serius." Gasendra memulai pembicaraan serius.


"Karena tuan Gasendra mengerti maksud saya, saya tak ingin berbasa-basi lagi. Saya mohon tuan menyerahkan Xena, putri tuan. Saya mau dia bertanggung jawab atas sesuatu yang di perbuatnya. " Keano langsung mengubah nada bicaranya dengan tegas. Kata-katanya penuh intimidasi.


"Xena? Xena menyinggung anda?"


"Tidak perlu panjang lebar lagi, atau bisnis taman hiburan yang ada ibu kota akan saya hancurkan."


Menilik dari raut wajah Keano, Gasendra bisa menebak bahwa Xena melakukan sesuatu yang besar.


"Maaf sebelumnya tuan Keano. Saya tak tahu apa yang di perbuat oleh Xena. Tapi saya benar-benar tidak tahu keberadaan anak itu."


"Jangan berbohong tuan. Saya menghormati anda karena anda masih ada keturunan darah bangsawan di tanah Jawa ini. Tapi kalau sesuatu menyangkut Kenzo, meskipun anda adalah seorang presiden sekalipun, tetap akan saya hancurkan."


Keano mulai tak sabar. Dia mengira bahwa Gasendra sengaja menyembunyikan Xena. Dia sudah kehilangan kontrolnya hingga menghilangkan sikap sopannya.


"Meskipun anda menghancurkan keluarga ini untuk mencari Xena, kami tetap tak tahu di mana anak itu. Kami sudah mencoret nama dia dari keluarga Hadiningrat." Zora muncul dengan perkataan yang membuat Keano maupun Shilla bingung. "Dia telah mempermalukan keluarga ini, saya juga malu telah mengenalkannya padamu hingga saya tak punya muka lagi untuk bertemu dengan Evelyn ibumu. Saya menyesal telah mencoba menjodohkan kalian."


"Jadi kami tak dapat menemui Xena?" Shilla ikut angkat bicara.


"Kalau saja kami bisa membantu, pasti akan kami bantu. Tapi sekali lagi kami sudah tak berhubungan dengan anak itu." Zora sangat menyesal karena perbuatan anaknya. Meskipun Xena telah dicoret dari silsilah keluarga, namun dia adalah ibunya. Bagaimanapun dia yang telah mengandung Xena selama sembilan bulan. Tetap ada rasa tak rela bila anaknya pergi meninggalkannya di jalan yang salah.


Ternyata datang ke sini juga sia-sia. Mereka tetap tak bisa menemukan Xena di manapun. Pada akhirnya mereka pulang dengan tangan kosong.


.


.


.


"Mungkin kita bisa berbicara dengan Ichiro?" Perkataan Shilla sontak membuat Keano tak suka. Dia tak ingin berhubungan dengan orang itu. "Jangan salah paham, bukankah kamu bilang ada kemungkinan mereka bekerjasama? Kalau benar tentu Ichiro tahu dimana Xena."


Masuk akal juga perkataan Shilla. Namun Ichiro tak ingin menemui mereka. Bahkan ketika Leon menghubunginya karena Shilla ingin mengucapkan terima kasih, Ichiro juga menolak pertemuan itu.


"Nona, tuan Ichiro tak ingin menemui kita." Leon yang sedang mengendalikan Helikopter mencoba memberi pendapat.


"Itu kemarin, bisa saja sekarang dia mau menemui."


"Tapi kabarnya malam ini dia akan meninggalkan negara ini. Dia sudah mengirim pesan peringatan pada saya, untuk saat ini dendamnya dia tunda dulu, namun dia juga mengancam agar kita selalu bersiap."


"Jadi dia akan meninggalkan negara ini nanti malam?" Keano menanyakan perihal Ichiro akan pulang.


"Benar tuan. Saya baru akan melaporkannya nanti setelah sampai. Tapi mungkin sekalian saja saya laporkan."


"Kalau begitu Blacklist Xena. Jangan sampai dia ikut keluar dari negara ini bersama Ichiro. Terlalu mencurigakan Ichiro pulang begitu saja sebelum membuat kekacauan. Apalagi kejadiannya setelah Xena menculik Kenzo."


"Baik tuan."


Selanjutnya tak ada lagi yang berbicara. Hanya suara baling-baling dari Helikopter yang terdengar sangat keras. Apalagi Kenzo, dia sudah tertidur dengan nyaman di pangkuan Shilla. Membuat seseorang juga ingin merasakan lembutnya berada di atas dada Shilla.


Bersambung....