Young Mama

Young Mama
Bab 35: ~Berduka~



"Selamat pagi pemirsa. Sekilas berita bagi kali ini, telah terjadi kecelakaan yang dialami oleh pengusaha kaya Ivano Grigori Alterio dan juga putra pertamanya Adrian Alexi Alterio. Kecelakaan terjadi pada dini hari tadi. Penyebab kecelakaan masih belum diketahui. Mobil yang ditumpangi mereka masuk ke jurang, dan yang lebih parah mobilnya meledak dan terbakar. Ivano Grigori tak mampu menyelamatkan diri dari kejadian naas tersebut, namun beruntung untuk putranya yang berhasil keluar sebelum terjadi ledakan. ..." Berita yang ada di televisi terus mengalun memenuhi indra pendengaran Shilla yang sedang berkutat di dapur.


Pagi yang heboh karena kematian pengusaha kaya raya dan juga merupakan bosnya sendiri. Ia belum sempat berjumpa dengan ayah dari kekasihnya dan sekarang malah mengalami kecelakaan. Shilla berencana untuk pergi ke rumah duka untuk ikut mengucapkan bela sungkawa.


"Bukankah dia bos besar di perusahaan tempatmu bekerja ya?" Feli yang habis mandi benar-benar terlihat segar. Tak seperti biasanya dengan wajah kusut tak terawat.


"Iya." Jawab Shilla. Tangannya masih sibuk menggoreng nasi untuk sarapan mereka.


"Kasihan sekali. Orang kaya tak berumur panjang. Hati-hati lho sama anaknya."


Feli mendapat lemparan tomat dan langsung lari tertawa. Tak semua orang kaya berumur pendek. Mulut Feli benar-benar harus di sekolahkan, agar tidak asal ucap.


Shilla menata meja sedemikian rupa. Bubur untuk Kenzo juga sudah tersaji di sana. Tinggal ia memandikan anaknya yang sudah asik bermain di halaman depan. Muka imutnya sudah kotor dengan tanah. Bahkan baju yang dikenakannya juga sudah belepotan dengan lumpur.


Shilla memang membiarkan Kenzo bermain tanah. Selagi bermain dia juga berjemur di bawah sinar matahari pagi yang bagus untuk kesehatan. Kalau di suruh berjemur begitu saja, Kenzo pasti tidak mau. Alhasil Kenzo harus bermain hingga fokusnya teralihkan.


Saat mereka hendak sarapan, mereka mendengar seorang mengetuk pintu. Shilla langsung bangkit dan melihat siapa gerangan yang sudah bertamu pagi-pagi.


"Loh. Bu Farida. Mari masuk. Ikut sarapan sekalian yuk Bu." Shilla senang dengan kedatangan Bu Farida. Sudah lama sekali Ia tidak melihat beliau karena kesibukannya kuliah dan bekerja.


"Silahkan di nikmati nak. Ibu kesini kangen cucu ibu. Halo Kenzo kecil." Bu Farida langsung menghampiri Kenzo.


"Nenek... nenek..." Kenzo sepertinya juga rindu dengan neneknya. Semenjak saat itu Ia selalu ikut Shilla bekerja. Hingga tak ada waktu untuk bertemu dengan neneknya.


"Cucu kesayangan nenek." Bu Farida langsung menggendong Kenzo. Terlihat bahwa dia sangat menyayangi Kenzo. Dengan sigap ia mengambil alih untuk menyuapi Kenzo. "Nak Shilla, Kenzo hari ini tidak usah ikut bekerja ya, ibu sangat kangen dengan dia."


Shilla tersenyum dan mengangguk. Memang hari ini rencana ia akan menitipkan Kenzo kepada beliau. Apalagi pasti suasana kantor juga sedang berduka, kasihan kalau dia harus ikut dalam suasana seperti itu.


"Iya bu. Saya minta tolong ya."


"Oke, hari ini Kenzo sama nenek. Kenzo senang?"


Kenzo mengangguk antusias. Dia benar-benar sudah lengket dengan bu Farida, sudah menganggapnya seperti neneknya sendiri.


*


*


*


Suasana di kantor hening. Meskipun banyak orang berlalu lalang namun mereka diam tanpa kata. Semuanya sedang berkabung.


Shilla turun dari mobil Keano. Yang berbeda adalah orang yang menjemputnya. Karena Keano sedang berduka, ia menyuruh Leon untuk menjemput wanitanya. Ia tetap menjalankan tugasnya sebagai kekasih idaman.


"Apakah nanti nona akan pergi ke rumah utama? Kalau iya saya bisa antar."


"Apakah Keano mengizinkan?"


"Tuan sudah memberi izin. Tapi kalau nona tidak mau ke sana juga tidak apa."


"Kalau begitu tentu saja aku akan ke sana. Mama Evelyn pasti sedih sekali. Aku harus menghiburnya."


Leon tersenyum atas kebaikan hati shilla. "Tapi sepertinya di balik tangisnya mama Evelyn, sebenarnya dia merasa lega." Batin Leon yang sudah mengetahui kronologi kejadiannya. Semalaman ia membereskan semua kekacauan yang ditimbulkan bosnya. Menjadikan itu sebagai kecelakaan tidaklah mudah. Lihatlah lingkar hitam yang menghiasi matanya, kalau dia ikut bersenang-senang tentu dia tak akan mempermasalahkan itu semua. Leon menyeringai. "Aku harus meminta tuan memberikan mainan untukku."


"Kamu bicara sesuatu?" Shilla menoleh karena mendengar Leon mengatakan sesuatu.


"Ah, tidak nona, nona salah dengar." Leon kembali berjalan mengikuti langkah Shilla.


Tak ada Keano di sisinya membuat waktu terasa berjalan lambat. Shilla menjadi terbiasa dengan godaan-godaan yang di lontarkan Keano. Tak ada kalimat menggodanya saat ini rasanya menjadi ada sesuatu yang kurang. Ah, sepertinya Shilla sudah menjadi ketergantungan dengan hadirnya Keano. Meski masih gengsi untuk mengakuinya. Bisa besar kepala kalau yang bersangkutan mengetahui.


Melakukan pekerjaan saat suasana berkabung tidaklah mudah. Mau menutup perusahaan sehari saja juga tambah tidak mungkin. Alhasil perusahaan hanya beroperasi setengah hari saja. Setelah semuanya selesai, mereka semua akan mendatangi rumah duka untuk turut berbela sungkawa. Meskipun Grigori dikenal pelit, namun mereka tetap menghormati mendiang sebagai atasannya.


Shilla sudah duduk manis di mobil menunggu Leon. Dia mengirim pesan kepada Keano menanyakan keadaan kekasihnya.


"Kei? Kamu tak apa?" Shilla mengirim pesan singkat kepada Keano.


'Kekasihku mengkhawatirkan aku hm?" Beberapa menit kemudian balasan dari Keano tertera di layar ponselnya Shilla. Tak lupa emot love nya yang membuat Shilla memutar bola matanya.


"Kami sedang menuju rumah duka. Semoga kamu selalu diberi ketabahan."


'Aku akan selalu kuat kalau kamu ada di samping ku."


Shilla tersenyum-senyum sendiri melihat balasan Keano. Sepertinya ia tak perlu mengkhawatirkannya. Dia tampak baik-baik saja.


Andai saja Shilla tau kalau yang mencelakai adalah Keano sendiri, apa sikap Shilla akan tetap seperti ini? Entahlah. Shilla adalah orang yang rasional. Ia akan selalu mendengarkan semua alasan yang masuk akal.


Rumah besar bergaya Eropa itu kini di penuhi pelayat. Orang besar tentu saja banyak pula yang datang untuk melepas kepergiannya. Mereka memberi semangat kepada Evelyn yang tampaknya masih syok. Semalam pertengkaran hebatnya merupakan pertengkaran terakhir. Yang dia tunggu adalah surat perceraian dari pengadilan, bukan perceraian dengan kematian. Kalau seperti ini bagaimana Evelyn bisa membenci lelaki itu, bagaimana pun Grigori sudah hidup bersamanya puluhan tahun.


Melihat kedatangan Shilla, Evelyn langsung menghampiri dan memeluknya. Tangis yang tadi berhenti kini berurai lagi. Evelyn sesenggukan di bahu gadis muda itu. Ia seperti menemukan kedamaian yang baru. Anak perempuannya. Yang datang ketika dia membutuhkannya.


"Turut berduka cita ya ma." Shilla memeluk Evelyn erat. Ia tepuk-tepuk punggungnya seorang mengatakan 'semua baik-baik saja.'


"Bukan perceraian seperti ini yang mama harapkan." Tangisan Evelyn membuat Shilla ikut menangis.


"Sabar ya ma, semua akan ada hikmahnya." Shilla tersenyum lembut menenangkan Evelyn.


"Sebenarnya kejadiannya bagaimana ma?"


"Maaf menyela, mungkin saya saja yang menjelaskan, nyonya sepertinya sangat terpuruk."


"...?"


"Ah perkenalkan, saya ART di rumah ini, nama saya Imah." Imah mengulurkan tangan pada Shilla.


"Ah iya, Shilla." Shilla balas menjabat uluran tangan Imah. "Jadi bagaimana sebenarnya kejadiannya mbak?"


" Ah, semalam ketika nyonya pulang, tuan besar marah-marah dan mengumpat pada nyonya. Nyonya yang sakit hati akhirnya menghubungi tuan Keano. Beberapa saat kemudian tuan Keano datang dan menenangkan nyonya. Tapi setelah nyonya tertidur, tuan Keano membawa Tuan Grigori dan Tuan Alexi pergi entah kemana. Dia begitu marah karena sudah membuat mamanya menangis. Sampai pagi mereka tak pulang, malah pagi-pagi sekali polisi yang datang dan mengabarkan mereka kecelakaan."


" Tidak nona. Beruntung tuan Keano sudah berpisah dengan mereka saat kecelakaan terjadi. Jadi beliau tak ada cidera apa-apa."


Mendengar tadi jantung Shilla seakan keluar dari tempatnya. Hatinya merasa lega ternyata Keano masih di beri keselamatan. Bukan berarti dia senang dengan kematian Grigori. Namun akan lebih menyakitkan apabila Keano juga mengalami kecelakaan.


"Tapi Keano mana?" Shilla tengak tengok mencari sosok pria jangkung yang telah mencuri hatinya.


"Dia di Rumah Sakit. Tuan Alexi masih belum sadarkan diri."


Shilla mengangguk mendapat informasi dari Imah. Ia masih di peluk oleh Evelyn yang tangisannya sudah mulai berkurang.


*


*


*


Terlihat seorang yang tidur di ranjang rawat Rumah Sakit. Tubuhnya di balut sana sini. Dari ujung rambut hingga ujung kaki semuanya terbalut perban. Kalau dilihat dengan seksama, seperti mumi yang bernapas.


Seorang pria tinggi tegap setia berdiri di samping pasien tersebut. Dia adalah Keano yang sedang menunggu Alexi bangun. Atau mungkin menunggu kematian Alexi? Entahlah, pikirannya tak bisa ditebak. Dia hanya berdiri diam tak melakukan apapun sejak kedatangannya.


Ponsel yang ada di sakunya bergetar. Ia melihat sebentar untuk mengetahui siapa yang menghubunginya. Senyuman yang sejak tadi tak terlihat langsung mengembang cerah. Siapa lagi yang bisa membuat mood Keano seperti ini kalau bukan Shilla.


"Hallo sayang." Keano tersenyum menggoda. Padahal Shilla juga tak akan mengetahui senyuman Keano yang menawan itu.


" Kenapa tak bilang kalau di Rumah Sakit?"


"Kenapa? Kangen ya aku tak di rumah?" Masih saja menggoda seenaknya.


"Engga!!"


Shilla mematikan sabungan telephone secara sepihak.


Keano kembali melihat layar ponselnya berharap Shilla masih menghubunginya. Namun layar telah menghitam tanda sambungan sudah terputus beberapa detik yang lalu.


"Haaaah dasar wanita."


Keano kembali ke sisi Alexi. Orang yang seperti mumi itu adalah Alexi yang entah keberuntungan apa bisa selamat dari kecelakaan rekayasa itu. Keano ingin langsung membunuhnya saja sebenarnya, namun dia ingin melihat kakaknya itu lebih menderita. Bagus juga kalau bisa menyediakan mainan untuk Leon. Anak itu pasti akan sangat menyukainya.


Perlahan Kelopak mata Alexi bergetar. Sedikit demi sedikit ia membuka matanya. Cahaya putih yang menyilaukan langsung masuk ke pupil matanya. Ia mengerjap-ngerjap secara berkala sampai matanya bisa menyesuaikan cahaya sekitar.


Bola mata itu melirik kanan dan kiri mencari apakah ada yang menunggunya. sorot matanya terlihat bingung saat ia mendapati seseorang yang tak di kenalnya.


Melihat Alexi membuka mata, tak langsung membuat Keano bergerak. Ia tunggu hingga mata mereka bertemu satu sama lain. Keano merasa janggal dengan tatapan Alexi. Ia diam dam memperhatikan Alexi dengan seksama.


Alexi menggerak-gerakkan bibirnya hendak meminta air. Tenggorokannya terasa sangat kering. Suaranya tak mau keluar hanya sampai pangkal tenggorokan saja. Ia berusaha mengangkat tangannya untuk menunjuk gelas yang berada di nakas, namun rasanya begitu berat dan sangat sulit hanya untuk mengangkat telunjuknya saja.


Keano seakan mengerti kemauan Alexi. Ia lalu mendekat dan menanyakan lebih jelas kepada Alexi.


"Air?" Keano bertanya untuk memastikan kebenarannya.


Karena suaranya tak mau keluar, Alexi hanya mengedipkan kelopak matanya. Dia sungguh menjadi orang tak berdaya dan tak berguna. Bahkan untuk minum saja harus disuapi oleh orang yang dulu selalu dia aniaya.


Setelah dirasa cukup untuk memberi minum, Keano memencet tombol panggilan dokter. Ia harus segera memastikan apakah Alexi akan sembuh atau cuma akan menjadi beban untuknya.


Beberapa saat kemudian seorang dokter dan beberapa perawat masuk memeriksa keadaan Alexi. Dokter itu memeriksa Alexi dengan seksama. Mulai dari melihat matanya, meminta respon dari Alexi juga meminta Alexi untuk mencoba menggerakkan kaki juga tangan. Yang terpenting adalah mengembalikan suara Alexi terlebih dahulu.


"Apakah anda bisa melihat jari saya dengan jelas?" Dokter mengacungkan dua jari di muka Alexi.


Alexi berkedip sebagai respon kalau ia melihat dengan jelas.


"Apakah anda bisa menggerakkan tangan anda?"


Alexi mencoba melakukan permintaan dokter. Seberapa kuat ia berusaha, ia hanya bisa menggerakkan telunjuknya beberapa derajad saja.


"Sudah cukup. Sekarang coba gerakkan kaki anda."


Alexi mencoba mengikuti intruksi dokter dan berusaha menggerakkan kakinya. Juga hanya jarinya saja yang dapat ia gerakkan. Seberapa kuat ia berusaha ia tak bisa mengangkat bahkan hanya untuk satu detik.


"Baiklah sudah cukup. Syarafnya tak mati, jadi anda bisa sembuh meski memakan waktu. Rajinlah untuk berlatih meskipun hanya menggerakkan jari anda. Itu akan merangsang syaraf yang lain."


Alexi mengerti apa yang dikatakan oleh dokter.


"Baiklah karena fisiknya tidak ada yang serius, sekarang mengenai otak anda. Apakah anda mengenali orang ini?" Sang dokter meraih lengan Keano.


Alexi diam saja tak menunjukkan respon. Ia memang tak kenal seorang yang dari tadi menunggunya.


"Jadi anda tak mengenalinya?" Tanya dokter memastikan.


Dan Alexi berkedip tanda ia memang tak mengenali orang itu.


"Apa anda ingat siapa nama anda?"


Alexi diam. Dia memang tak mengingat siapa dirinya. Bahkan Ia juga tak mengingat kejadian yang telah menimpanya.


"Sepertinya kakak anda mengalami amnesia. Kita tidak bisa mengetahui apakah amnesianya serius atau cuma diakibatkan syok. Kita harus memantau perkembangannya." Dokter menjelaskan kepada Keano yang dari tadi hanya diam.


"Baiklah, terima kasih banyak dokter."


"Sama-sama. Sudah menjadi tugas saya. Kalau begitu saya permisi." Dokter itu pergi di ikuti perawat.


"Jadi kau tak mengingat huh?" Keano berkata sinis pada Alexi.


" Siapa orang itu. Kenapa wajahnya sangat dingin. Kenapa sepertinya dia sangat marah pada ku? dan sebenarnya siapa aku?" Batin Alexi yang benar-benar tak mengingat siapa dirinya dan Keano.


Bersambung....