
Seorang wanita berlumuran darah dengan perut besar berlari terseok-seok. Wajahnya sudah kacau tak dapat dikenali. Tangan kanannya memegang perut besarnya seperti melindungi dari marabahaya.
"To...long..."
Shilla gelisah dalam tidurnya. Dia melihat gambaran itu lagi.
Shilla sudah di tangani oleh dokter. Namun karena demamnya tak kunjung turun, dia belum juga sadar.
Keano menyadari kegelisahan Shilla. Ia belai mesra rambut Shilla yang terurai berharap kehadirannya di ketahui oleh Shilla.
Keano masih setia menemani disisinya. Ia abaikan setiap panggilan masuk biarpun itu penting. Tak ada yang lebih penting dari Shilla saat ini. Dia terlalu bodoh tak mengetahui lebih awal. Dia terlalu bodoh menikmati kerinduan pada yang telah lalu. Kalau tahu akan seperti ini, Keano akan menemani Shilla malam tadi.
Shilla mulai tenang saat tangan Keano dengan lembut membelainya. Seperti ada sebuah rasa nyaman yang tak dapat dilukiskan. Napasnya sudah mulai teratur. Wajahnya sudah kembali berwarna meskipun hanya sedikit. Namun tak sepucat saat Keano membawanya ke Rumah Sakit.
"Kenzo." Bibir Shilla bergumam lirih memanggil nama anaknya. "Kenzo." Matanya masih terpejam. Namun Shilla terus memanggil nama Kenzo. Meskipun saat ini dia masih belum sadar, seperti ikatan batin seorang ibu yang merasakan anaknya dalam bahaya.
"Hei..." Keano menepuk pipi Shilla pelan. "Hei... bangun Shilla sayang, hei." Keano terus menepuk agar Shilla terbangun. Sepertinya dia mimpi buruk lagi tentang Kenzo.
Shilla terbangun dengan napas terengah-engah. Bulir keringat meluncur dari keningnya. Pandangannya mengedar ke seluruh ruangan. Dan dia mendapati senyum Keano.
Namun, melihat Keano Shilla jadi mengingat kembali wajah rindu kekasihnya kepada sang mantan. Dia mencoba untuk tetap tersenyum. Senyum yang ia paksakan, namun ia buat senatural mungkin.
"Pagi Kei." Shilla berusaha untuk menarik bibirnya agar senyum tercipta. Meskipun masih begitu perih, namun ia harus tetap tegar.
"Dasar." Keano mengacak rambut Shilla sayang. "Lihatlah jam berapa sekarang. Ini sudah bukan pagi lagi."
"Eh...?" Shilla menatap jam yang ada di dinding. Memang sudah tak pagi lagi. Dan dia malah keenakan tertidur.
"Masih ada yang dirasakan? Jangan cuma diam kalau sakit, Kenzo sangat khawatir melihatmu tak sadarkan diri. Begitu pula denganku." Keano pura-pura merajuk. Dia sudah hampir ingin mengacak-acak seisi Rumah Sakit kalau sampai terjadi sesuatu dengan Shilla.
Shilla menggeleng pelan. Yang ia rasakan saat ini adalah hatinya, bukan raganya. Namun tak mungkin dia akan berkata seperti itu.
"Kenzo! Kei... Kenzo harus sekolah!" Shilla panik saat mengingat hari ini adalah hari pertama Kenzo masuk sekolah. Dia benar-benar bodoh sudah mengabaikan kesehatannya sendiri.
"Tenanglah, Kenzo berangkat dengan Harumi." Keano langsung memeluk Shilla yang hendak berlari pergi, bahkan masih ada selang infus yang tertancap di tangannya.
"Tapi... tapi Kei... Kenzo akan merasa minder, pasti teman-temannya diantar oleh orang tua mereka." Shilla sudah ingin menangis. Dia merasa gagal menjadi seorang ibu. Kebahagiaan mengantar anak sekolah untuk pertama kalinya menjadi kandas.
"Kenzo ngga papa ma, Kenzo senang dapat teman baru." Tiba-tiba dari arah pintu muncul Kenzo bersama Harumi. Anak itu masih mengenakan seragamnya tanda selesai sekolah langsung datang menemuinya.
Shilla merentangkan tangannya agar Kenzo memeluknya.
Dengan semangat Kenzo langsung menghambur memeluk mamanya. Menyalurkan keresahan yang sedari tadi tertimbun.
"Maafkan mama sayang." Shilla meminta maaf karena melewatkan sesi pertama masuknya sekolah.
"Kenzo senang dapat teman baru, tak apa mama tak mengantar, mama sedang sakit." Kenzo tersenyum. Namun Shilla menangkap ada kejanggalan di senyum itu.
"Anak mama kenapa hm?" Seakan mengerti kegelisahan Kenzo, Shilla dengan lembut menanyakan apa yang tengah dirasakan oleh putra semata wayangnya itu.
Namun Kenzo hanya menggeleng. Dia tak ingin menambah beban Shilla yang sedang sakit. Kenzo sangat sayang mamanya, dia tak pernah ingin menyakitinya, meskipun itu hanya seujung rambut.
"Mama tahu loh Kenzo sedang menyembunyikan sesuatu dari mama." Shilla membenarkan posisi Kenzo agar lebih nyaman berada di pangkuannya.
Kenzo masih diam dan lebih erat memeluk Shilla. Ia ingin terus seperti ini, merasakan kehangatan mamanya setiap saat.
Leon yang tadi mengantarkan Harumi dan Kenzo memberi isyarat pada Keano. Dia ingin segera melaporkan kejadian yang tadi di alami oleh Kenzo. Dia tak ingin mental Kenzo terpuruk karena hal kecil.
Keano berjalan keluar mengikuti Leon. Melihat Leon yang seperti itu, Keano bisa menebak sesuatu terjadi tanpa sepengetahuannya.
Shilla yang masih menenangkan Kenzo hanya melihat kepergian Keano tanpa bertanya. Melihat punggung itu menghilang dibalik pintu, pikirannya jadi kemana-mana. Dia sudah membayangkan jika punggung itu benar-benar menghilang dan tak kembali.
"Kenzo tak mau cerita sama mama?" Shilla mencoba membujuk Kenzo lagi.
Kenzo hanya menatap mata Shilla dalam. Terlihat di sana bahwa mamanya sangat khawatir.
"Mama maaf." Hanya itu yang bisa Kenzo ucapkan. Kenzo kembali memeluk Shilla dengan erat. "Maaf mama." Nada bersalah terdengar dari permintaan maaf Kenzo.
Hati Shilla teriris perih. Dia tak mengerti apa yang sedang terjadi, namun melihat Kenzo seperti ini merupakan luka terdalam baginya.
Shilla membalas pelukan putranya dengan sayang. Dia menenangkan Kenzo bahwasanya tak ada yang perlu dimaafkan.
"Kenapa Kenzo meminta maaf?" Setelah dirasa Kenzo cukup tenang, Shilla kembali bertanya. Dia tak ingin Kenzo menanggung beban pikiran. Dia harus tahu apa yang kini sedang dirasakan oleh anaknya itu.
"Maaf mama, Kenzo tak mendengarkan nasihat mama." Mata bening Kenzo mulai berkaca-kaca. Tak biasanya anak itu menangis. Bahkan terjatuh dan lututnya berdarah pun dia tak akan pernah menangis. Namun kini air mata itu seakan ingin tumpah dengan sendirinya.
Shilla mendengarkan Kenzo dengan saksama. Dia menatap Harumi yang sedari tadi diam menunduk. Dia ingin bertanya pada Harumi, namun sepertinya Harumi juga merasa bersalah tak dapat melindungi Kenzo dengan semestinya.
"Kenzo dengarkan mama." Shilla memegang kedua pipi Kenzo dan membawanya untuk saling bertatap muka. "Kenzo sakit, bicara dengan mama. Kenzo sedih, bicara dengan mama. Apapun yang Kenzo rasakan, mama harus tahu."
Kenzo menatap mamanya mengangguk. Dia tak bisa membuatnya terus kepikiran. Apalagi saat ini juga sedang sakit.
"Lalu?"
"Kenzo... Kenzo..." Kenzo sedikit ragu sebenarnya untuk menceritakan pada mamanya. Namun melihat Shilla yang menatapnya yakin, dia memberanikan diri untuk menceritakan hal yang membebaninya.
"Iya... Kenzo kenapa?" Shilla menunggu dengan sabar, sambil membelai rambut Kenzo.
"Kenzo memukul anak nakal ma." Kenzo menunduk merasa bersalah. Dia tak berani menatap mata mamanya.
"Boleh mama tahu kenapa Kenzo memukul anak nakal itu?" Tak ada nada marah dari tutur kata Shilla. Hanya ada kelembutan dan kasih sayang seorang ibu di sana.
"Dia mendorong teman Kenzo hingga menangis." Kenzo masih belum berani mengangkat wajahnya. Dia telah lalai mendengarkan nasihat mamanya.
Harumi yang mendengar perkataan tuan kecilnya tertegun. "Jadi tuan Kecil sedih karena telah memukul anak itu? Bukan karena ucapan-ucapan rendahan yang ditujukan padanya?" Harumi membatin. Dia sungguh kagum dengan pola pikir anak yang usianya masih di bawah lima tahun itu.
Shilla kembali memeluk Kenzo sayang. Dia tersenyum bangga dengan anaknya. Meskipun Kenzo tak dapat melihat senyuman Shilla, namun Kenzo bisa merasakan bahwa mamanya tak marah padanya.
"Kenzo sudah mendengar perkataan mama." Shilla masih memeluk mengelus punggung Kenzo menenangkan. "Kenzo sudah melindungi yang lemah, bagaimana bisa mama marah sama Kenzo."
Mendengar kalimat Shilla, Kenzo mendongak menatap penuh tanya. Awalnya Kenzo mengira Shilla akan berpidato panjang lebar. Namun nyatanya Shilla malah membenarkan sikapnya.
"Mama tak marah?"
"Kenzo jagoan mama, mana bisa mama marah."
"Tapi Kenzo sudah memukul anak orang kaya."
"Siapa di negara ini yang lebih kaya dari papa Keano?"
Kenzo setuju senang. Mamanya benar, tak ada yang bisa menandingi papanya di negara ini.
Shilla tak bermaksud untuk menyombongkan diri karena bisa bersanding dengan Keano. Namun dia berkata seperti itu untuk memulihkan mental buah hatinya. Dia tak ingin anaknya merasa kecil. Anaknya harus kuat dan berbangga diri, dia memiliki orang-orang yang sangat menyayanginya.
Harumi terharu melihat pemandangan itu.
Begitu pula Keano yang menguping dari luar, dia bangga dengan Shilla. Dia mau mengakuinya sebagai suami. Tinggal meresmikannya saja. Keano berjanji, dia kan membahagiakan mereka semua. Meskipun hatinya tak dapat diberikan pada Shilla seutuhnya, namun semua yang ia miliki, adalah milik Shilla dan anaknya.
Bersambung...