
Dengan langkah yang ringan Shilla berangkat bekerja. Sepanjang jalan ia tersenyum. Bukan senyum seperti orang sakit jiwa, namun senyum menawan membuat siapapun yang melihat ikut merasakan bahagia.
Ia berjalan kaki hendak naik kendaraan umum. Ia tak ingin selalu merepotkan Keano kalau harus selalu menjemputnya. Beberapa saat yang lalu dia sudah mengabari Keano. Namun, mungkin dia sedang sibuk atau apa dia tak membalas pesannya. Di baca pun tidak.
Dari pada dia telat, ia memilih untuk berangkat sendiri. Meskipun ia kekasihnya Bos, ia tak ingin bersikap seenaknya dengan datang semaunya sendiri. Ia tak ingin menjadi contoh yang buruk. Ia tak ingin memanfaatkan keadaan kekasihnya untuk menaikkan drajadnya.
Padahal kalau wanita lain, pasti akan memanfaatkan statusnya. Akan bersikap angkuh dan sombong. Namun tidak bagi Shilla. Ia selalu mengingat dari mana ia berasal.
Sampai di perusahaan, semua orang langsung menyapa Shilla. Sekarang di perusahaan ini tak ada yang tak mengenal dirinya. Wanita cantik yang memiliki satu anak imut yang bisa memikat Keano yang super dingin. Masih kuliah dan otaknya jenius. Mandiri juga penuh kasih sayang. Pembawaan yang dewasa membuat mereka segan dengan sosok pekerja keras tersebut.
"Selamat siang nona."
"Selamat siang."
"Selamat datang nona."
Mereka menyapa Shilla dengan sopan. Tak lupa pula mereka membungkuk hormat karena jabatannya kini yang merupakan seorang sekretaris.
Dengan ramah Shilla membalas sapaan mereka. Karena keramahannya, membuat karyawan menyukai Shilla. Apalagi ketika Shilla membantu mereka meredam kemarahan Keano, mereka akan sangat berterima kasih padanya.
Shill menuju toilet untuk mengganti baju. Tak mungkin ia memakai baju kuliahnya yang merupakan stelan celana jins dan juga T-shirt biasa. Ia harus menyesuaikan tempat dan mengganti pakaian dengan yang lebih sopan. Setiap hari dia membawa baju cadangan. Tak mungkin untuk pulang terlebih dahulu karena jarak yang lumayan jauh. Jadi untuk menghemat waktunya, ia lebih memilih membawa pakaian gantinya.
Sekarang Shilla terlihat lebih elegan. Dengan rambut terurai namun rapi, kemeja biru muda yang dikenakan bersama rok hitam selutut membuat pancaran lembutnya terlihat. Ia terlihat natural sederhana. Ia tak suka make-up yang terlalu tebal. Namun penampilannya kini sudah menarik banyak pasang mata.
Tak ingin berlama-lama memapatut diri, ia segera melangkah ke ruang Keano. Dia sudah sangat merindukan Kenzo. Anggap saja bertemu Keano adalah bonus.
Meski dia sudah mendapat izin untuk keluar masuk sesuka hati, namun Shilla tetap menghormati Keano sebagai atasannya. Sebelum masuk ia ketuk pintu perlahan. Tak ada respon ia mengetuk lagi. Karena ketiga kali masih tak ada respon, dengan mantap Shilla langsung membuka ruang Keano. Namun bukan tawa riang Kenzo yang menyambut dirinya, melainkan aura yang sangat mengerikan.
Shilla yang tak tau penyebab Keano murka, ia mendekat begitu saja. Ia memanggil Keano perlahan berharap Keano mendengarnya.
Dan sebelum dia menegur Keano, ia melihat sekeliling dulu. Kenzo tak ada di sana. Ia sedikit lega karena anak itu akan ketakutan melihat Keano yang seperti ini.
"Kei?" Shilla mendekat dan menyentuh punggung Keano dengan lembut.
"Ada apa? Apa ada masalah?" Dengan sangat hati-hati Shilla menegur Keano.
Keano berbalik dan memperhatikan Shilla. Pancaran matanya benar-benar sangat mengerikan. Semarah-marahnya Keano, ia tak akan mengeluarkan kemarahan yang seperti ini
"Apa kamu sangat menikmatinya?" Keano menatap Shilla tajam. Tak lupa nada sinis Keano yang membuat Shilla tak tau harus merespon bagaimana. "Apa kamu sangat menikmatinya?" Lagi, Keano menanyakan hal yang tak Shilla mengerti.
"Hm? menikmati apa?" Dengan polos Shilla bertanya pada Keano.
"Huuufft. Sepertinya kamu sangat menikmatinya. Kamu terlihat berbunga-bunga." Keano menghela napas. Ia tak akan pernah bisa marah kepada Shilla.
"Kei? Kamu tau kalau sebelum kesini aku makan duluan? Maafin aku ya, iya aku sangat menikmatinya, aku sudah lapar banget soalnya." Shilla menjawab dengan riang. "Oh iya, Kenzo dimana? sudah makan belum?"
"Sedang makan sama Leon."
"Kenapa Kei? Apa iya karena aku makan lebih dulu kamu jadi marah? Maaf deh, lain kali aku akan makan bersama kamu terus." Shilla cemberut. Ia tak tau jalan pikiran Keano. Tiba-tiba saja bersikap dingin.
"Kalau kamu lapar, makanlah lebih dulu, kalau sampai kamu kelaparan karena menungguku, aku malah akan menyalahkan diriku."
"Lalu kenapa?"
"Huuuft, sudahlah. Kemarilah, aku butuh energi." Keano memberi isyarat agar Shilla mendekatinya.
Tanpa membantah, Shilla mendekati Keano. Dengan lembut Keano merah pinggang Shilla dan memeluknya. Ia hirup dalam-dalam aroma Shilla yang selalu menenangkan.
Shilla hanya diam saja dengan perlakuan Keano. Ia merasakan Keano yang begitu rapuh. Dengan tangan yang sedikit gemetar Shilla membalas pelukan Keano. Perlahan Shilla mengelus punggung Keano menenangkan.
"Bagaimana aku bisa tahan kalau banyak lelaki menyukai wanitaku." Tiba-tiba saja Keano berkata lirih.
"..." Shilla masih menunggu kalimat Keano selanjutnya.
"Bagaimana aku bisa tenang kalau banyak lelaki yang menyatakan cinta kepada wanita ku."
Shilla sedikit terkejut. Jadi Keano tau kalau tadi di kampusnya Devan menyatakan cinta kepadanya. Jadi Keano marah karena Devan.
"Kei? Kamu cemburu?" Shilla melepaskan pelukan Keano dan menatap wajahnya yang sudah malu. "Jadi kamu beneran cemburu?" Shilla tertawa mengejek. Ia tak menyangka kalau seorang Keano bisa merasa cemburu.
"Iya, aku cemburu. Kalau ada lagi yang seperti itu mungkin suatu saat akan ku musnahkan saja." Dengan kesal Keano mengancam. Namun ancamannya malah jadi terlihat lucu. Apalagi Keano yang out of caracther, benar-benar hal yang baru untuk Shilla.
Keano kembali memeluk Shilla dengan erat. Ia tak ingin melepaskan wanitanya meskipun hanya sebentar saja. Ia sudah terlanjur menyerahkan hatinya kepada perempuan yang kini ada di pelukannya. Ia tak ingin menarik lagi perasaannya. Sulit untuk menemukan perempuan yang dapat menggetarkan hatinya. Banyak perempuan yang mendekatinya, namun hanya Shilla yang menariknya.
Entah berapa lama mereka diam saling memeluk. Mereka saling menyalurkan rasa sayang. Seakan waktu telah berhenti detik itu juga.
"Mama..!!!" Suara Kenzo membuat mereka melepaskan satu sama lain. Si ambang pintu berdiri Leon yang tersenyum penuh arti.
"Kalau kalian ingin melanjutkan, saya bisa mengasuh Tuan Kecil lagi." Leon hendak menggendong Kenzo keluar lagi. Namun anak itu sudah terlanjur berlari untuk memeluk sang mama.
"Anak mama dari mana hm?" Shilla merespon pelukan Kenzo. Ia bawa anaknya ke dalam dekapannya.
Keano tak mau kalah dengan Kenzo. Ia memeluk Shilla dari belakang. Ia belum puas memeluk Shilla. Seakan dirinya kini lebih posesif. Tak akan membiarkan siapapun memonopoli wanitanya.
"Kei, malu ah." Shilla melepaskan tangan Keano yang ada di pinggang rampingnya.
Keano menulikan pendengarannya. Ia memberi isyarat pada Leon untuk meninggalkan mereka. Ia masih ingin bersama lebih lama dengan wanita yang berada di pelukannya kini.
"Kei, aku harus bekerja. Lepasin."
"Tidak. Kamu hari ini menemani aku saja. Tidak usah bekerja. Biar Leon yang ambil semua pekerjaan." Keano masih erat memeluk Shilla takut di ambil orang.
"Haaah rasanya Kenzo memiliki kembaran." Shilla benar-benar tak habis pikir dengan Keano. Semua penilaiannya selama ini salah semua. Keano benar-benar manja kepadanya. "Kenzo mau tidur Kei, aku akan menidurkannya dulu." Melihat Kenzo yang sudah mengantuk Shilla hendak membawa ke tempat istirahat Keano. Semenjak saat itu memang Kenzo selalu tidur di kamar Keano yang ada di perusahaan ini.
"Oke, jangan lama-lama sayang." Keano mencium pipi Shilla. Ia sudah semakin berani saja. Membuat Shilla hanya kaget telat merespon.
Shilla membawa Kenzo ke tempat istirahat. Bocah itu sudah terlalu kecapaian bermain. Ia memeluk leher Shilla dan memejamkan matanya lelah.
Sepeninggalan Shilla, Keano mengambil gagang telpon yang ada di mejanya. Ia pencet nomor yang bisa menghubungkannya ke ruang kerja Leon.
"Segera kesini." Keano memberi perintah setelah Leon menerima panggilannya.
Dengan wajah yang sudah tak dapat di prediksi, Keano memikirkan bagaimana cara menjatuhkan Devan. Ia tak akan membiarkan siapapun yang berani mendekati wanitanya.
Beberapa saat kemudian Leon datang dengan wajah dingin. Ia seakan mengerti bagaimana situasi yang menimpa tuannya. Ia mendekat siap menerima perintah.
"Cari lebih detail siapa Devan. Cari kelemahannya. Aku harus menjatuhkan siapapun yang mendekati Shilla."
Leon tampak bingung harus menjawab apa. Sebelum ia mendapat perintah, ia sudah lebih dulu mencari detail tentang Devan. Dosen itu tak memiliki celah. Tak ada catatan kriminal. Dia dosen muda yang berbakat. Tingkah lakunya tak pernah melanggar hukum. Sepertinya tugasnya kali ini akan sulit bagi Leon.
"Dan sebelum itu, belikan dulu aku handphone baru. Keluaran terbaru." Ia menyodorkan kartu untuk membeli handphone.
"Segera tuan." Leon mengambil kartunya dan pergi.
"Lihat saja Devan, aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang." Keano bermonolog sendiri. Ia benar-benar sudah habis kesabaran. Ia tak akan melepaskan mangsa yang sudah masuk dalam cengkeramannya.
.
.
.
Keani menyusul Shilla ke ruang istirahat. Karena Shilla sedikit lama, ia menjadi khawatir. Bukan, bukan khawatir. Ia hanya semakin posesif saja. Mungkin kalau nanti Shilla pergi ke toilet, Keano akan mengikutinya.
Terlihat senyum Shilla yang sedang memeluk Kenzo dalam tidurnya. Ia belai kepalanya menyalurkan rasa damai.
Melihat pemandangan di depannya membuat Keani melangkah mendekat langsung memeluk Shilla dari belakang. Ia baringkan tubuhnya mengikuti Shilla. Ia pejamkan matanya di perpotongan leher Shilla.
Shilla tentu saja terkejut. Ia masih canggung kalau harus tidur di ranjang yang sama. Dengan sekuat tenaga ia mendorong Keano turun dari ranjang.
Karena memang dasarnya Shilla begitu kuat, badan Keano yang kekar berhasil ia jatuhkan dan langsung membentur lantai. Ia merasa de ja vu. Ia baru ingat kalau ia pernah menendang Keano dari ranjang juga. Ia tertawa kecil mengingatnya.
"Senang banget ya mengusirku dari ranjangku sendiri." Keano mengusap-usap pantatnya yang terasa nyeri.
Shilla hanya tersenyum meminta maaf. Ia bangkit dan membantu Keano berdiri. Ia dudukan Keano di sofa dan ia segera menyeduhkan kopi untuknya.
Shilla akan pergi untuk bekerja. Ia tak enak hati dengan Leon kalau pekerjaannya harus di limpahkan kepadanya semua. Padahal dia kini masih tahap belajar. Kalau selalu seperti ini dia tak akan berkembang.
Mengetahui Shilla akan pergi tentu saja Keano langsung mencegahnya. Ia pegang pergelangan tangan Shilla dan dengan sedikit tenaga ia tarik supaya duduk di pangkuannya.
Shilla sangat terkejut. Apalagi posisinya sekarang benar-benar membuatnya malu. Ia langsung bangkit dan sedikit menendang tulang kering Keano.
Tentu saja Keano langsung mengaduh kesakitan. Padahal ia hanya ingin bermanja dengan kekasihnya, namun yang di dapat malah tendangan darinya.
"Jangan berlebihan Kei, aku harus bekerja."
"Kan sudah aku bilang, biar Leon yang mengerjakannya." Keano masih kukuh dengan pendiriannya.
"Kalau Leon semua ya kasihan dia. Kamu mencari asisten untuknya juga karena ingin membuat dia lebih ringan pekerjaannya." Shilla benar-benar kesal dengan sikap kekanakan Keano.
Kedepannya Shilla harus benar-benar tahan menahan sifat Keano. Dia tak habis pikir, siapa sih yang iseng mengirimkan video itu kepada Keano. Membuat ia sekarang menjadi terkekang sangat ketat.
"Oke oke. Tapi sebelum itu aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu dulu."
"...?"
"Untuk selanjutnya kamu tak perlu membawa baju ganti. Di sini aku sudah menyiapkan segalanya untukmu. Baju, sepatu dan yang lainnya. Jadi silahkan sesuka hati memakainya."
Ternyata Keano sudah menyiapkan semuanya. Ia tak mungkin tega melihat kekasihnya setiap hari membawa pakaian ganti. Dan baju berbagai model berbagai warna sudah tertata apik di lemari.
"Kamu anggap ini rumahmu? sampai menyediakan lemari untuk bajuku juga?" Shilla tak habis pikir dengan Keano.
"Kenapa? ini memang perusahaan ku." Dengan nada sombong Keano mendekati Shilla.
"Baiklah, ini memang milikmu semuanya. Terima kasih tuan." Dengan senyum manis Shilla juga mendekati Keano. Jahil sedikit boleh lah ya. Dengan cepat kilat Shilla mencium pipi Keano. Sebelum mendapat reaksi berarti, ia berlari meninggalkan Keano yang masih mematung. "Tolong jaga Kenzo ya Kei, aku akan menemui Leon." Shilla langsung melesat sambil tertawa.
Keano masih saja mematung. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia berusaha menguasai jantungnya. Ia benar-benar tak menyangka Shilla bisa berbuat seperti itu. Seringai Keano muncul. Sepertinya Shilla telah membangunkan Harimau yang sudah lama di tinggalkan oleh sang betina.
"Kau yang meminta ini sayang." Seringai licik Keano sangat mengerikan.
Bersambung...