Young Mama

Young Mama
Bab 67: ~Cemburu tak Kenal Logika~



Terlihat Keano sedang merenung sendirian di ruang bacanya. Dia menatap bulan yang bersinar terang malam ini. Namun sinar itu tak mampu menerangi hati yang kelabu menahan rindu. Rindu dengan siapa? Tentu saja dengan kekasihnya yang telah tiada. Meskipun kini nama wanita lain juga terukir di hatinya, namun bayang wanita yang dulu selalu menemani tak akan bisa ia lupakan begitu saja.


Keano memutar-mutar anggur yang berada di dalam gelas. Minuman yang selalu menemaninya tat kala ia teringat nama Violeta. Rindu itu terus mengakar, tertanam kuat dalam hatinya. Berjalan beriringan bersama rasa bersalah terhadap wanita yang kini selalu menemaninya. Dia sangat mencintai Shilla, dia tak ingin kehilangan wanita itu, namun, dia juga tak dapat melupakan Violeta. Salahkan saja hatinya yang terlalu egois. Salahkan perasaannya yang tak mampu memilih. Tapi memilih apa? Violeta kini telah tiada dan tak dapat dipilih.


Shila berjalan perlahan melewati ruang baca. Dia melihat Keano yang tengah memandang bulan dengan tatapan sendu. Bahkan anggur dalam gelasnya hanya ia putar-putar dan enggan untuk meminumnya.


Tatapan Keano terlihat kesakitan. Kesakitan menahan rindu yang teramat sangat. Shilla tak dapat menebak apa yang ada di dalam hati Keano, namun Shilla dapat menebak apa yang sebenarnya terjadi kala ia lihat sebuah foto yang terpampang manis di sampingnya.


Rasa perih yang tanpa ia duga menjalar menelusuri hatinya. Ia mencoba meredam semua yang kini ia rasakan, namun perih itu terus menyayat tanpa ia minta.


Logikanya berkata jangan menangis, namun hati terlanjur merasakan perih yang teramat dalam. Shilla tahu bahwa Keano hingga kini masih sangat menyukai Violeta, namun saat melihatnya seperti ini, hatinya tak mampu untuk membendung perasaan cemburu.


Pikiran Shilla mengatakan tak apa, namun hatinya tetaplah terasa sakit. Mencoba berlapang, mencoba berdamai, menerima kenyataan yang ada, namun apalah daya, Shilla hanyalah seorang manusia yang penuh kekurangan.


Shilla bergeming. Dia yang tadinya hendak memanggil Keano jadi lupa dengan urusannya. Dia menatap Keano dalam diam. Dia hanya terus berdoa, bahwa ia pantas untuk bersanding bersama Violeta di hati Keano.


"Tak apa Shilla, dia hanya merindukan Violeta layaknya kamu merindukan mamamu." Shilla berucap lirih mengelus dada menenangkan dirinya sendiri. Padahal hatinya menjerit menangis. Wanita mana yang mampu melihat kekasihnya merindukan wanita lain? tak ada wanita yang sekuat itu.


Dulu Shilla begitu yakin bahwa ia bisa menerima hati Keano yang masih separuh, namun nyatanya sekarang begitu menyayat. Ia tak mampu menahan gejolak rasa ingin memiliki seutuhnya. Dan tanpa ia sadari, bulir bening membelai pipinya.


"Kenapa terasa begitu menyakitkan?!" Shilla merintih tanpa suara. Ia tak ingin mengganggu lamunan rindu Keano. Dengan perlahan Shilla mundur dan segera kembali ke kamarnya. Tubuhnya lemas di balik pintu. Ia sandarkan beban hatinya, ia tumpahkan seluruh rasa sakit yang baru kali ini ia rasakan.


Tangan kanannya memukul-mukul dadanya. Berharap rasa sakit di dalamnya tersamarkan oleh pukulannya. Namun seolah hati tak menuruti logika, rasa sakit itu kian menghujam dan menusuk.


Shilla meringkuk kesakitan. Baru kali ini ia merasakan sakit yang teramat sangat selain ditinggal oleh mamanya. Bahkan dia melupakan Kenzo yang tadi meminta dibuatkan susu. Biarlah Harumi yang mengurus Kenzo terlebih dahulu. Biarkan Shilla menikmati rasa sakit yang belum pernah ia rasakan. Rasa sakit yang tentunya bisa membuat hati dan jiwanya menjadi lebih kuat dan tangguh.


"Harus dengan cara apa aku bisa mengenalmu Vio?" Shilla bertanya pada udara kosong. Dia ingin sekali mengenal Violeta tanpa bertanya pada Keano. Bukan untuk menjadi penggantinya tapi Shilla ingin mengenal sosok seperti apa yang sampai sekarang masih bersemayam di hati kekasihnya.


Shilla masih meringkuk di lantai yang dingin. Ia tak memperdulikan bahwa badannya bisa saja sakit. Cemburu telah menghilangkan logikanya. Dia tak memikirkan bagaimana perasaan Kenzo jika dia jatuh sakit. Semua logika yang dia punya terkubur sesaat oleh rasa cemburu.


Waktu terus merangkak dengan pasti. Hari semakin larut. Namun Shilla masih setia dengan keterpurukannya.


Satu menit, dia larut dalam kecemburuan.


Satu jam, rasa sakit kian menyayat.


Dua jam, perih kian menghujam.


Tiga jam, rindu meruntuhkan segalanya.


Empat jam, sayang mengokohkan hatinya.


Lima jam, cinta membuatnya bangkit.


Shilla bukanlah gadis lemah yang bisa ditumbangkan oleh perasaan semu. Kecemburuan yang sempat menghinggapinya hanyalah perasaan semu yang sejenak meruntuhkan akal sehatnya.


Shilla bangkit berdiri. Dia hapus lelehan air mata yang sempat tercurah. Dia berjalan menuju kamar mandi untuk mendinginkan otaknya yang sempat memanas. Tak biasanya mandi pada dini hari, membuat badan shilla menggigil. Di tambah dia sudah meringkuk berjam-jam di lantai. Juga dia dengan sengaja tak menggunakan air hangat. Badannya langsung panas. Namun dia merasakan dingin yang teramat sangat. Dia bergelung di bawah selimutnya mencari kehangatan. Bulir keringat terus membasahi kening dan tubuhnya. Namun tetap saja Shilla merasakan kedinginan hingga pagi menjelang.


***


Kenzo sudah ganteng imut dengan stelan seragam sekolahnya. Hari ini adalah hari pertama Kenzo masuk sekolah. Berbaur, bersosialisasi dengan anak lainnya. Dia senang sekali karena akhirnya bisa bersekolah. Rencana sudah tersusun rapi dalam otaknya yang cerdas. Dia tak sabar untuk bertemu dengan kawan-kawan barunya.


"Dimana Shilla?" Suara berat yang khas mengagetkan Harumi yang sedang ingin menyuapi Kenzo.


"Nona Shilla belum terlihat tuan." Harumi menjawabnya dengan sopan.


Perasaan Keano menjadi khawatir. Tak biasanya Shilla terlambat untuk mengambilkannya sarapan. Dengan langkah panjang ia bergegas ke kamar Shilla. Dia segera mendorong pintu kamar gadisnya dengan sedikit keributan.


Untung saja Shilla tak pernah mengunci pintunya. Dia khawatir kalau Kenzo mencarinya dan membiasakan diri tak mengunci pintu.


Keano masuk dan mendapati Shilla masih meringkuk di ranjang. Selimut tebal membungkus tubuhnya. Keano berjalan ke arahnya dan hendak menggoda Shilla.


"Sayang, apa kamu sengaja menggodaku hm?" Keano duduk di tepi ranjang.


Shilla masih bergeming menikmati tidur indahnya. Dia tak mengetahui keberadaan Keano yang sudah duduk di sebelahnya.


"Kalau kau masih tetap diam, aku paksa kamu bangun loh, tentu saja dengan cara yang tak akan pernah bisa kamu bayangkan." Keano kembali menggoda Shilla. Namun masih belum juga mendapat respon.


Diamnya Shilla membuat Keano semakin ingin menjahilinya. Dia menelusupkan tubuhnya di bawah selimut yang di gunakan oleh Shilla. Rencananya ingin menggoda gadisnya, namun ada suatu kejanggalan di sana.


Tubuh Shilla telah basah kuyup oleh keringat dingin. Dia tak sadarkan diri dan suhu badannya naik drastis. Kulitnya pucat dan bibirnya membiru.


Keano langsung bangkit dan membuka selimut yang di gunakan Shilla. Kini ia dapat melihat dengan jelas bagaimana gadisnya menderita sendirian sepanjang malam. Dengan cekatan ia langsung menggendong dan berlari menuju mobilnya.


Di bawah sana orang-orang yang melihat kepanikan Keano juga langsung berdiri menghampiri. Apalagi Kenzo, dia langsung menangis kencang melihat mama tersayangnya tak sadarkan diri di pelukan Keano.


"Kalian berdua urus perusahaan, aku akan membawa Shilla ke Rumah Sakit." Sambil berlari keluar Keano memberi perintah. "Harumi, antar Kenzo sekolah, ini adalah hari pertamanya." Keano sudah melesat meninggalkan mereka semua.


Di pelukan Harumi Kenzo memberontak. Dia terus menangis memanggil mamanya. Dia bahkan memukul-mukul Harumi karena Harumi tak melepaskannya.


"Tuan kecil, dengarkan omongan papa ya, tuan kecil harus sekolah."


"Tidak!" Kenzo masih memberontak dan menangis keras. "Mama! Kenzo mau mama!" Kenzo berteriak teriak memanggil Shilla. Wajah imutnya sudah berganti dengan luka. Kenzo paling tidak bisa melihat Shilla sakit. Anak itu akan sulit di kendalikan jika sudah menyangkut sang ibu.


"Tuan Kenzo," Leon berjongkok memberi pelukan pada Kenzo, berharap pelukan itu dapat menenangkannya. "tuan Kenzo dengarkan kata papa Kei ya, kalau tuan Kenzo tak sekolah, pasti mama sedih. Tuan Kenzo mau mama sedih?"


Mendengar tutur lembut Leon Kenzo sedikit lebih tenang. Dia berpikir sejenak memikirkan perkataan Leon. Dan perkataan itu benar, kalau dia tak sekolah, pasti mamanya akan sedih. Kenzo tak mau melihat mama sedih.


Akhirnya Kenzo mengangguk. Meskipun hanya dengan Harumi, Kenzo akan tetap bersekolah sesuai anjuran dari papa dan mamanya.


"Kakak, kalau kita pulang nanti kita langsung melihat mama ya." Pinta Kenzo pada Harumi dengan masih sesenggukan.


"Baik tuan kecil." Harumi tersenyum. Dia tertolong berkat adanya Leon yang bisa menenangkan tuan kecilnya.


"Baiklah, kalau begitu ayo sekalian kita berangkat bersama."


Perkataan Leon dianggguki oleh semua orang. Termasuk Rose yang juga tatapannya tak lepas dari Harumi. Apalagi gadis pengasuh itu selalu menatap Leon dengan pandangan berbeda.


"Kau harus menjadi lebih tangguh nak." Sepeninggalan semua orang, Mamoru keluar dari persembunyiannya. Dia sengaja tak menampakkan diri. Dia hanya ingin memantau, melihat anak-anaknya tumbuh dengan lebih tangguh.


Bersambung...