Young Mama

Young Mama
Bab 89: ~Rival Keano~



Saat makhluk asing menginvasi bumi. Saat umat manusia di jadikan budak oleh para Elien. Terbentuklah para pahlawan pembela kebenaran untuk menumpas kejahatan. Melindungi bumi dari para makhluk asing yang terus merajalela mengambil alih bumi umat manusia.


"Lapor jenderal! Para Elien kepala kodok sudah mulai menguasai daratan Amerika Latin." Laporan dari mata-mata yang Jenderal Kenzo kirim membuat semua orang yang ada di ruang rapat gelisah.


Mata-mata ada di seluruh penjuru dunia. Dan yang baru saja melapor adalah mata-mata yang Jenderal Kenzo kirim untuk mengamati Amerika Latin. Keadaan di bumi semakin genting. Tak ada tempat perlindungan yang aman untuk umat manusia.


"Kita harus segera bertindak Jenderal, kalau tidak, seluruh umat manusia akan segera musnah." Ucap seorang perwira wanita bernama Shilla.


"Apa kamu ada pendapat apa yang harus kita lakukan?" Tanya Jenderal pada perwira itu.


"Kita harus segera mengirim pasukan ke sana Jenderal. Selain persediaan makanan kita yang semakin menipis, kalau sampai Amerika Latin juga jatuh ke tangan Elien maka sumber pangan kita akan semakin susah."


Semua yang ada di ruang itu mengangguk menyetujui usulan dari Shilla.


"Lalu siapa yang akan memimpin pasukan ke sana?" Tanya Jenderal Kenzo kepada seluruh orang yang hadir.


"Biarkan saya yang menerbangkan pesawat tempur. Biarkan Nona Shilla yang memimpin pasukan jenderal. Meski dia wanita, dia sangat kompeten." Jawab seorang pilot yang sudah ahli mengemudikan berbagai macam pesawat tempur. Dia adalah Kapten Earl yang kini sedang jatuh cinta dengan perwira Shilla.


"Baiklah kalau begitu, Shilla, kau segera siapkan pasukan mu, semakin cepat kalian berangkat, semakin cepat pula kita mengusir para Elien."


"Laksanakan Jenderal."


Shilla segera pergi ke ruang rapat. Di ikuti oleh kapten Earl yang sedari tadi tersenyum penuh arti.


"Om. Kenapa om senyum-senyum sendiri. Ayo lanjutkan kita main. Ini sedang seru." Tegur Kenzo saat Earl yang bermain bersamanya sedang asik menatap Shilla yang berkutat menyiapkan makanan.


"Makanan hampir siap sayang. Sudah dulu mainnya!" Teriak Shilla dari arah dapur.


Kenzo cemberut. Dia masih ingin bermain dengan Earl namun malah di ganggu oleh mamanya. Namun karena Kenzo anak yang baik, dia tak membantah Shilla dan segera merapikan mainannya di bantu oleh Harumi.


"Kak Haru, besok-besok ikut main aja, masa dari tadi cuma melihat." Tutur Kenzo yang sudah menganggap Harumi sebagai kakak perempuannya.


"Tapi Saya tak mengerti dengan permainan yang tuan kecil mainkan. Kok tuan kecil bisa memikirkan permainan yang seperti itu." Heran Harumi. Dia terlalu kagum dengan kepintaran Kenzo. Permainan tadi seluruhnya yang membuat skenario adalah Kenzo. Bahkan Earl saja hanya menjalankan perannya sesuai arahan Kenzo. Sepertinya memang Kenzo akan menjadi orang besar suatu hari nanti.


"Nanti kak Haru bisa menjadi Eliennya ya." Cengir Kenzo tanpa dosa.


Harumi hanya mengangguk saja menyetujui permintaan Kenzo. Tak mungkin dia menolak permintaan dari tuan kecilnya.


"Om ikut makan disini kan?"


Earl gelagapan saat di tanya seperti itu oleh Kenzo. Dia tak tau harus menjawab apa. Ingin sekali makan bersama. Namun dia terlalu canggung bertemu dengan Shilla setelah insiden latihan bersama.


"Ayo om. Ayo ikut makan sekalian." Kenzo menarik tangan Earl memaksa.


"Tapi...."


"Sudah ikut saja. Dia tak akan melepaskan kalau permintaannya tak di kabulkan." Shilla ikut menyambung pembicaraan.


Earl merasa malu sekali saat menatap mata Shilla. Seolah mata itu menenggelamkan segalanya. Mata yang menyembunyikan banyak hal. Namun Earl ingin sekali menyibak misteri pada diri Shilla.


"Lagi pula kakeknya Kenzo belum tau kapan pulangnya. Kau mau menunggu dengan perut lapar?" Sambung Shilla telak.


Mereka menyantap makanan yang telah di siapkan oleh Shilla. Bahkan Harumi juga ikut makan satu meja dengan mereka. Sungguh suatu hal yang begitu luar biasa untuk Harumi, dia tak pernah membayangkan bisa mendapatkan majikan yang begitu baik seperti Shilla.


Earl menyantap makanan dengan tenang. Sikapnya di meja makan mencerminkan keagungan keluarga bangsawan. Tak ada suara apapun dari dirinya. Bahkan suara mengunyah makannan pun tak ada.


Berbeda sekali dengan Kenzo. Dia makan dengan berisik dan heboh. Namun bisa di maklumi, karena Kenzo memang masih anak kecil. Bahkan Earl iri dengan Kenzo. Saat dia seusia Kenzo, disiplin meja makan sudah di tanamkan pada dirinya dengan ketegasan. Berbeda sekali dengan cara Shilla mengajari Kenzo. Penuh dengan kelembutan dan kasih sayang. Tak ada nada kesal ataupun marah di sana. Menyebabkan Kenzo menerima ajarannya dengan suka cita tanpa ada rasa takut atau tertekan.


"Kenapa Om berhenti makan? Masakan mama tak enak ya Om?" Tegur Kenzo pada Earl yang sedang melihat interaksi ibu dan anak itu.


"Eh... Em..." Earl tak tahu harus menjawab bagaimana. Dia seperti terciduk tengah menatap wanita yang dikaguminya. Terciduk oleh anaknya sendiri.


"Jangan mengganggu Om Earl makan sayang. Kenzo lanjut makan, ayo buka mulutnya, a..." Shilla dengan telaten menyuapi Kenzo. Kenzo memang sudah bisa makan sendiri tanpa disuapi. Namun Shilla tak ingin mengurangi kebersamaan seperti ini selagi masih dapat dinikmati.


Kenzo membuka mulutnya dan menerima suapan mamanya.


Earl tak lagi fokus pada makanannya. Dia terlalu fokus menatap Shilla hingga lupa dengan makanannya sendiri.


Shilla tau jika sedari tadi Earl terus menatapnya. Dia sedikit rak nyaman di tatap seperti itu oleh laki-laki yang baru saja di kenalnya. Dia juga tak nyaman Earl hampir setiap hari datang menemuinya. Bukan menemuinya, lebih tepatnya menemui Mamoru. Shilla hanya tak mengerti, bagaimana bisa pertemuan mereka di lakukan di rumah. Kenapa tak di lakukan di kantor saja. Toh mereka selalu membahas masalah pekerjaan. Namun Shilla tak berani mengutarakan pendapatnya. Dia sadar siapa dirinya. Meskipun Mamoru begitu naik menganggapnya anak, namun Shilla tetaplah Shilla yang dulu. Yang tak akan terlena dengan apa yang didapatkannya secara instan.


"Kapan kakeknya Ken pulang. Semakin lama aku semakin tak nyaman dengan pandangan mata itu." Shilla berkata dalam hati. Dia berharap Mamoru segera pulang.


"Mama juga makan mama." Tegur Kenzo saat Shilla lupa menyuap makanannya sendiri karena terlalu asik menyuapi Kenzo.


"Ah, iya sayang. Mama makan." Belum sempat Shilla mengambil makanan untuk dirinya. Sebuh sendok berisi nasi beserta lauk sudah tersaji di hadapan mulutnya.


Shilla menatap Earl tak mengerti. Entah kenapa Shilla tak suka di perlakukan seperti ini. Shilla kira Earl berbeda. Nyatanya baru bertemu beberapa kali saja sudah berani menyuapinya.


"Ah maaf, aku tak tega melihat kau sibuk menyuapi Kenzo sampai lupa dengan makanan mu sendiri." Earl merasa bersalah kepada Shilla.


"Tak apa, tapi aku sudah terbiasa. Aku akan selalu memprioritaskan Kenzo lebih dulu, baru aku makan." Jawab Shilla tegas.


Earl langsung memundurkan suapan yang harusnya di makan Shilla namun tak jadi. Dia merasa di tolak secara halus. Padahal bilang sayang saja belum, namun sudah di tolak lebih dulu. Sungguh miris nasib Earl.


"Oh iya Shilla, boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Earl saat dia sudah selesai dengan makanannya. Dia tak biasa dengan suasana canggung. Dia harus mencairkan suasana.


"Selagi aku tahu jawabannya pasti aku jawab." Shilla memberikan makanan Kenzo pada Harumi agar di teruskan oleh Harumi.


"Jadi kamu ini adiknya Kenji?"


"Uhuuuuuk.. uhuuuuuk.." Shilla langsung terbatuk dan menumpahkan seluruh isi mulutnya. Pertanyaan Earl sungguh tak terduga. Shilla tak tahu harus menjawab bagaimana.


"Siapa yang adiknya siapa!" Suara yang sangat di rindukan Shilla. "Dia adalah calon istri ku." Keano masuk mengagetkan semua yang ada di dalam.


Dan yang lebih membuat Shilla terkejut adalah perkataan Keano yang seenaknya sendiri. Shilla hanya bisa memijat pelipisnya pusing melihat tatapan tajam kedua lelaki yang ada di hadapannya. Terlebih lagi Kenzo yang langsung menatap Keano tak suka.


"Sebenarnya kenapa dengan semua lelaki di sini."


Bersambung....