Young Mama

Young Mama
Bab 66: ~Berebut Hati Kenzo~



Hasil tes DNA yang dilakukan oleh Mamoru sudah keluar. Berkat bantuan dari Keano yang mengambil diam-diam rambut Shilla, kini Mamoru sudah mengetahui kalau Shilla bukanlah anaknya. Mamoru juga sempat menelusuri kembali rekam jejak dua puluh tiga tahun lalu saat Susan di Rumah Sakit sekembalinya dari Inggris. Ternyata kala itu Susan sudah mengandung tiga minggu. Mamoru menjadi yakin, bahwa Shilla adalah anak dari musuh bebuyutannya, Alison.


Mamoru geram, dia tak menyangka hidup Susan selama ini penuh dengan kepahitan. Kalau tahu akan seperti ini, Mamoru akan kembali dan menjaga Susan dan anaknya. Mamoru tak akan menjadi pengecut yang membiarkan wanitanya berjuang sendirian.


Mamoru melihat Shilla yang tengah bermain dengan Kenzo. Meskipun anak itu tumbuh tanpa sosok dari seorang ayah, namun Susan membesarkannya dengan baik. Tak ada wajah minder di sana. Bahkan sekarang dia mampu membesarkan putranya seorang diri.


Awalnya Mamoru mengira Kenzo adalah anak dari Kenji, dia berpikir di belakang Violeta Kenji bermain perempuan, namun ternyata Kenzo anak yang diasuh Shilla saat gadis itu sendiri masih kuliah. Kebaikan hati Susan menurun kepada anaknya. Namun Mamoru takut jika kebengisan Alison juga menurun pada Shilla, hanya saja masih tertidur dalam jiwa gadis itu.


"Asiknya, kalian sedang bermain apa?" Mamoru mendekati Shilla dan juga Kenzo. Mereka sedang bermain tembak sasaran. Dan kini Kenzo mulai belajar mengarahkan target dengan pisau asli. Dan keahlian Kenzo semakin bagus. Dia tak pernah meleset sedikitpun meski jaraknya dijauhkan.


"Selamat siang tuan." Shilla menunduk hormat menyambut kedatangan Mamoru.


"Sudah aku bilang jangan memanggilku tuan. Kau adalah anak dari sahabatku, kau sudah seperti anakku sendiri." Meskipun bernada dingin, namun terdapat kehangatan di setiap kata yang Mamoru ucapkan.


"Suatu kehormatan untuk saya tuan." Tetap saja Shilla masih canggung menganggap Mamoru sebagai orang tuanya. Siapa yang menyangka orang besar seperti Mamoru bisa menerimanya begitu saja. Menerima Gadis yang tak diketahui siapa ayahnya yang sebenarnya, menerima gadis yang membesarkan anak dari orang yang tak dikenalnya. Shilla begitu terharu jika mengingat itu semua.


"Biasakanlah mulai dari sekarang, kau akan menjadi MENANTUKU." Mamoru menekan kata menantu agar Shilla mengingat siapa dirinya sekarang. Dia bukan lagi gadis sembarangan yang bisa di sentuh oleh siapapun. Mamoru akan menjaga Shilla, ia tak ingin kejadian Susan juga menimpa pada anaknya.


"Kakek. Kenzo bisa Kenzo bisa." Tawa ceria Kenzo saat berhasil mengenai sasaran dengan sebilah pisau asli. Sebenarnya Shilla tak setuju dengan Keano yang membiarkan Kenzo bermain dengan pisau tajam. Namun Kenzo harus terbiasa dengan berat pisau asli. Mainan dan pisau asli beratnya tak sama, Kenzo harus membiasakan diri dengan tangan kecilnya. Karena jalan ke depan tak akan mulus seperti bayangan.


Namun yang membuat Shilla lebih terkejut lagi, sejak kapan Kenzo memanggil tuan Mamoru sebagai kakek. Bahkan dia tak mengajarinya. Dia selalu mengajari untuk menghormati orang yang lebih tua. Sekarang dengan seenaknya Kenzo memanggil tuan Mamoru sebagai kakek, Shilla malu karena belum mampu mengajari Kenzo dengan baik.


"Maafkan Kenzo tuan." Shilla menunduk merasa bersalah. "Saya akan mengajarinya lagi." Shilla benar-benar merasa bersalah.


"Untuk apa kau minta maaf, aku suka dengan cucuku ini, dia sangat cerdas meskipun masih kecil. Lagian ini adalah harga yang harus dibayar agar Kenzo memaafkan Kenji."


Shilla semakin tak mengerti. Kenapa harus ada harga yang dibayar. Apa mereka menganggap Shilla dan Kenzo berhutang, kalau memang benar, Shilla pasti akan membayar suatu hari nanti.


Mamoru melihat wajah Shilla yang sepertinya salah sangka.


"Kamu tak perlu berpikir macam-macam. Anakmu ini kecil-kecil sudah pintar bernegosiasi. Saat aku datang dia masih marah dengan Kenji, dan harga yang harus di bayar untuk memaafkan Kenji adalah aku harus menjadi kakeknya." Mamoru berhenti sebentar untuk tertawa. "Dasar, Kenji yang buat salah kenapa aku yang membayar ya? Tapi tak apa, aku suka cucu seperti Kenzo." Mamoru mencontohkan cara melempar pisau yang baik dan benar.


Meskipun Kenzo kesulitan memegang, namun dia berusaha keras agar bisa melempar seperti Kakeknya.


Kenzo mengangguk semangat. Dia sangat senang diberi pujian oleh kakek barunya. Dia jadi merasa memiliki keluarga lengkap. Ada mama Shilla, papa Keano, harusnya papa Leon juga, namun malah gagal, tak apalah yang pasti jadi mendapatkan kakek baru, kakek Mamoru, juga Oma Evelyn dan nenek Farida. Kenzo sangat bahagia. Impiannya untuk memiliki keluarga utuh akhirnya terpenuhi.


"Skil papa ternyata sudah menurun." Keano datang tiba-tiba dan mengejek Mamoru.


Keano mengambil pisau yang ada langsung melempar ke arah seseorang yang baru saja masuk. Untung saja orang itu langsung menghindar dengan sukses, kalau pisau itu tak dihindari, bisa jadi otaknya yang jadi korban.


"Apa-apaan kamu Kei!!!" Shilla terlihat marah. "Kamu memang sedang mengajari Kenzo, tapi bukan seperti itu caranya, kau melempar pisau ke arah orang, bagaimana kalau Kenzo meniru!"


Kenzo memang berbakat. Dia sangat cerdas. Namun anak kecil memang sejatinya tetaplah anak kecil. Dia akan meniru apapun yang dilihat dan didengarnya. Seorang anak kecil masih polos, seperti kertas putih tak bertinta, tergantung orang tua akan menulis seperti apa di kertas tersebut.


"Tidak sengaja sayang, aku gemas sekali melihat kemampuan orang tua ini sudah lebih menurun." Keano mencoba untuk membela diri. Dia baru saja di beli maaf oleh Kenzo, dia tak rela jika harus kena marah lagi oleh sang pujaan hati.


Shilla memalingkan wajah tak mempeduliakan ocehan Keano. Dia tak terlalu suka dengan cara mendidik Kenzo yang menurutnya cukup ekstrim. Bahkan anak kecil bermain pisau saja seharusnya belum boleh, nah ini malah diajari melempar ke arah orang. Bagaimana kalau Kenzo menirunya melempar ke temannya, tentu temannya tak akan bisa mengelak layaknya Leon.


Leon masuk dengan wajah biasa saja. Meskipun nyaris kepalanya menjadi korban hunusan pisau dari Keano. Tak lupa pula ia mengambil pisau yang tertancap sempurna pada pada hiasan dinding di sebelahnya.


Di belakang Leon berjalan Rose yang tersenyum manis. Entah kenapa, sejak malam itu Rose lebih banyak tersenyum dari pada memperlihatkan wajah dinginnya. Senyuman yang tak bisa diabaikan oleh Leon. Bahkan senyuman yang merupakan sumber cemburu Leon jika diberikan kepada lelaki lain.


"Lihatlah pa, bahkan Rose lebih baik darimu dalam hal melempar." Keano masih terus mengejek Mamoru. Bahkan ia sengaja membandingkan Mamoru dan Rose.


"Saya masih jauh di bawah anda tuan K." Rose merendahkan dirinya. Dia tak mungkin mampu bersaing dengan Keano yang handal dalam segala hal.


Rose memang pelempar pisau handal setelah Keano tentunya. Mamoru yang sudah semakin tua tak akan mampu bersaing dengan yang muda lagi. Mamoru hanya bisa pasrah saat Keano mengejeknya terus menerus.


"Tante, jadi tante lebih baik dari pada kakek? kalau begitu ajarin Kenzo tante." Kenzo langsung berlari ke menghampiri Rose. Anak itu memang selalu memilih yang terbaik untuk menjadi gurunya. Seakan dia sudah mengerti dengan hukum alam yang akan berlangsung nantinya. Yang kuat, yang akan bertahan.


Melihat Kenzo yang langsung berlari ke arah Rose, membuat Mamoru tersenyum kecut. Bahkan untuk mendapatkan hati seorang Kenzo pun harus bersaing dengan orang lain. Pantas saja keano sering dibuat kewalahan dengannya.


Melihat ekspresi masam papanya, membuat Keano semakin terbahak. Dia senang sekali papanya merasakan apa yang ia rasakan. Bahwa mendapatkan hati bocah itu, tak semudah mendapatkan hati mamanya.


Bersambung....