
Hari penyiksaan Kenji akhirnya berakhir. Ia berhasil menyelesaikan hukuman yang di berikan oleh Violeta. Kenji bertekad, kalau nanti Violeta menjadi kekasihnya, Ia akan membalas menghukumnya. Tentu saja hukuman yang lain, yang akan membuat mereka semakin lengket satu sama lain.
Kenji sudah mengenakan bajunya kembali. Ia hendak menemui Violeta untuk menerima hadiah karena ia telah menyelesaikan hukumannya. Tapi di tengah jalan ia berpapasan dengan Leon yang sepertinya sedang kuwalahan diikuti oleh seorang gadis.
"Tuan... tuan... saya mohon, izinkan saya ikut tuan."
"Maaf, saya bukan pemberi keputusan disini. Saya tidak bisa sembarangan membawa orang."
"Tapi tuan, saya yakin kalau saya akan berguna nantinya. Saya bisa cuci baju, memasak, bersih-bersih, apapun yang tuan perintahkan akan saya lakukan."
Kenji masih mengamati mereka. Sepertinya wanita itu adalah wanita yang ditolong oleh Leon tempo hari. Siapa sangka kalau kini dia akan mengikuti Leon tanpa jera.
"Ada apa ini?" Kenji menegur mereka berdua.
"Ah, selamat sore tuan." Leon memberi hormat pada Kenji.
Melihat orang yang dari tadi diikutinya memberi hormat pada seseorang yang baru datang, wanita itu mengikuti hormat pada Kenji.
"Ada masalah apa? Bukankah kamu wanita yang diselamatkan Leon kemarin?"
"Iya tuan. Saya Seira Yamasaki, saya ingin mengikuti tuan Leon."
"Tapi kamu tau kan Leon itu siapa? kamu mengikutinya artinya kamu menyerahkan nyawamu di sini."
"Saya mengerti tuan. Tapi lebih baik seperti itu. Saya sudah hidup sebatang kara. Meskipun saya harus menyerahkan nyawa saya di sini, itu lebih baik dari pada saya hidup terlunta-lunta di luar sana." Seira menatap Kenji dengan sedih.
Seira Yamasaki merupakan seorang anak dari keluarga sederhana. Hidupnya sudah susah dari dulu. Ayahnya berhutang dimana-mana untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sampai pada akhirnya mereka tak dapat melunasi hutang dan ayahnya dianiaya hingga kehilangan nyawanya. Ibunya yang sangat terpukul ditinggal oleh suaminya memutuskan bunuh diri untuk mengikuti sang suami.
Ketika itu Seira masih kecil. Hidupnya semakin susah ketika anak kecil itu di tinggal pergi oleh sandaran hatinya. Sehari-hari dia bergantung dari belas kasihan orang lain untuk makan. Kadang juga dia mengais sisa makanan di restauran atau tempat makan lainnya.
Ia putus sekolah. Namun belajar tak harus dari bangku sekolah, ketika ada buku yang sudah di buang, ia baca ia pelajari, dan ketika dia sudah cukup umur untuk bekerja, ia bekerja serabutan untuk memenuhi kehidupannya.
Dan kejadian kemarin benar-benar di luar dugaan. Tempat pertempuran itu mempertemukannya pada orang-orang elit yang mungkin bisa merubah hidupnya. Dia masih ada dendam kepada orang yang telah membunuh ayahnya. Hal itu mendorongnya untuk bisa bergabung dalam kelompok ini.
"Tapi Leon disini juga cuma bekerja."
"Tuan.. saya mohon tuan, izinkan saya mengikuti anda. Saya akan lakukan apapun agar bisa berada di sini."
"Apa yang mendorongmu untuk ikut kami?"
"Dendam!" Tanpa ragu Seira menjawab pertanyaan Kenji.
Kenji mulai memahami apa yang gadis itu rasakan. Sepertinya dia memiliki dendam besar hingga ia rela menyerahkan hidupnya pada iblis sepertinya.
"Bawa dia L. Ajari dia."
"Baik tuan."
"Untuk kamu, sebaiknya kamu jangan macam-macam. Kalau ternyata kamu adalah orang mata-mata, maka kamu akan tau sendiri akibatnya."
Seira menelan ludah dengan susah payah. Ia tahu betul apa yang di maksud oleh Kenji. Tapi tekadnya juga sudah bulat. Dia tak akan menyesal.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tak terasa pertemuannya dengan Keano sudah berjalan satu tahun. Satu tahun mereka lalui dengan suka duka. Mereka semakin memahami satu sama lain. Rasa yang mereka miliki juga kian bertumbuh. Satu yang masih belum Shilla ketahui, fakta bahwa Keano merupakan ketua mafia yang paling disegani di seluruh daratan Jepang.
Keano masih belum berani memberitahukan fakta tersebut. Biarlah pelan-pelan Shilla mengetahuinya.
Hari ini Kenzo ulang tahun yang ke tiga. Seperti tahun sebelumnya, perayaan di lakukan secara sederhana. Yang membedakan dari tahun lalu adalah hadirnya Keano sebagai papa untuk Kenzo. Keano sebenarnya ingin merayakan ulang tahun Kenzo secara mewah. Namun hal itu langsung di tolak oleh Shilla. Sudah banyak sekali hal yang Keano lakukan selama ini. Ia tak ingin selalu bergantung dan merepotkan Keano.
Keano hanya bisa pasrah. Ia mengikuti kemauan Shilla untuk merayakan ulang tahun Kenzo secara sederhana. Hanya orang-orang terdekat saja yang datang. Teman-teman Shilla dan juga teman Kenzo di sekitar rumah. Namun bukan Keano namanya kalau tidak memiliki rencana lain. Seperti saat ini. Setelah mereka selesai merayakan ulang tahun di rumah kontrakan sederhana milik Shilla, Keano langsung menculik ibu dan anak itu ke taman hiburan.
Shilla tak tahu rencana Keano kali ini. Dia hanya bisa terbengong saat sampai di taman hiburan. Tapi dia tak bisa protes saat melihat Kenzo begitu antusias untuk menaiki beberapa wahana yang ada.
"Kamu suka kan?" Keano nyengir melihat muka Shilla yang terlihat pasrah.
"Jangan berlebihan Kei. Jangan selalu memanjakan Kenzo."
"Kenapa? Dia kan juga anak ku."
"Haduh, susah sekali ngomong sama tuan muda yang egois. Jangan terlalu memanjakan dia, tak baik buat pertumbuhannya."
"Iya, iya, kali ini saja, ini kan ulang tahunnya."
Shilla menghela napas lelah. Selalu seperti ini. Kaki ini saja, kali ini saja, tapi pada akhirnya berkali-kali.
"Mama... mama... Sini...!" Kenzo memanggil dan melambai memanggil mamanya.
Shilla mendekati Kenzo dengan tergesa. Bisa-bisanya Kenzo sudah berjalan lebih dulu. Anak itu benar-benar tak takut jika sampai terpisah.
"Kenzo, jangan jauh-jauh dari mama."
"Iya ma. Kenzo mau Ice Cream." Kenzo menunjuk Ice Cream yang tak jauh dari tempat mereka berada.
Shilla menggendong Kenzo dan membelikan Ice Cream kesukaannya. Rasa coklat adalah rasa favorit anak itu. Setelah dapat apa yang Kenzo mau, mereka kembali berkeliling.
Keano sudah berjalan di belakang mereka. Mengamati sekeliling. Dari tadi perasaannya tidak enak. Rasa khawatir terus menyelimuti. Ingin mengajak mereka pergi, tapi melihat betapa bahagianya Kenzo, niat itu ia urungkan.
"Kenzo, hati-hati jangan berlarian!" Shilla khawatir terjadi sesuatu pada anaknya. Anak itu sangat aktif dan suka berlari kesana-kemari. Tidak mempedulikan lautan manusia yang bisa saja menyakitinya.
"Ah!" Kenzo terjatuh. Dia menabrak seseorang berbadan tinggi tegap berjas hitam. Perawakannya seperti Keano. Kenzo mendongak. Melihat wajah itu seperti familiar.
"Kenzo!" Pekik Shilla saat mengetahui anaknya terjatuh. Apalagi kini di hadapannya ada seseorang yang menatap Kenzo intens. Seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan.
"Kita bertemu lagi boy." Orang itu jongkok di hadapan Kenzo guna menyamakan tinggi mereka.
Mendengar kalimat dan bahasa orang itu Kenzo ingat, pertama kali mereka juga bertemu saat di taman. Kenzo ingat orang itu adalah orang yang dulu di tabrak dengan mobil mainannya. Entah takdir apa yang mempertemukan mereka, tiap kali bertemu pasti Kenzo menabrak orang itu.
"ICHIRO!" Keano kaget saat mengetahui orang yang mendekati anaknya adalah Ichiro. Perasaan khawatirnya kini terjawab saat melihat musuhnya juga berada di sini.
"Kenji Hayashi. Lama tak bertemu." Ichiro membalas perkataan Keano dengan bahasa Jepang yang tak Shilla mengerti.
"Sejak kapan kamu membututi kami!" Wajah Keano terlihat sangat ganas. Mode bertahannya naik beberapa tingkat.
"Kei? siapa? kamu kenal?" Shilla mencoba mencairkan suasana. Meskipun Shilla tak mengetahui apa yang mereka bicarakan, tapi melihat raut muka Keano sepertinya ada yang tak beres.
"Tak apa, kita pergi." Keano menggendong Kenzo dan menggandeng Shilla. Ia tak ingin berlama-lama disini. Ia tak ingin mengambil risiko.
"Jangan salah paham tuan Kenji, aku tak bermaksud mengikutimu. Ini merupakan takdir. Siapa sangka takdir baik mempertemukan kita. Dan.... anak serta istri?" Ichiro menyeringai. Selama ini dia mengetahui dari bawahannya bahwa Kenji sudah memiliki anak dan istri. Tapi sangat sulit melacak keberadaan mereka akibat sistem keamanan yang di buat oleh Kenji. Tapi siapa sangka, bahwa hari ini mereka di pertemukan secara tak sengaja.
"Jangan membual, Kamu sengaja datang kesini untuk memata-matai ku." Keano berhenti sejenak untuk membalas perkataan Ichiro.
Ichiro menyusul Keano. Ia tak ingin melewatkan kesempatan ini. Ia harus menemukan kelemahan dari musuhnya.
"Permisi nona, saya temannya Kenji." Ichiro mengajak Shilla berkenalan. Tentu saja ia memakai bahasa Inggris agar di mengerti oleh Shilla.
"Kei, ternyata temanmu, kenapa malah pergi." Shilla menegur Keano. "Saya Shilla, ini anak saya Kenzo." Shilla membalas uluran tangan Ichiro dan tersenyum sangat manis."*Tapi, kenapa anda memanggilnya kenji?"
"Karena dia memang Kenji*." Ichiro membalas dengan santai.
Shilla mengerti. Leon juga memiliki nama. Jepang, tak aneh kalau Keano juga. memilikinya.
"Dia bukan teman ku Shilla. Dia adalah ular. Kalau kamu tak mau terkena bisanya, sebaiknya kita pergi dari sini." Keano semakin jengkel. Kalau saja disini bukan tempat umum, dia pasti sudah membunuh Ichiro.
"Jangan seperti itu. Dia adalah temanmu."
Entah sudah keberapa kalinya Keano menghela napas. Susah memang memiliki kekasih yang terlalu baik.
"Mama Kenzo mau naik itu." Kenzo mengalihkan perhatian semuannya. Dia menunjuk sebuah wahana ayunan raksasa berbentuk kapal. Imajinasinya langsung pada bajak laut yang sering ia tonton di televisi.
"Memangnya Kenzo berani?"
"Em.." Kenzo mengangguk semangat.
Shilla mengajak Keano untuk naik namun di tolak. Jadi hanya dia dan Kenzo saja yang berteriak-teriak keasikan dari atas permainan itu.
"Aku peringatkan, kalau sampai kamu menyentuh mereka, aku akan melenyapkan kamu dan kelompok kecilmu." Sepeninggalan Shilla mereka berbicara lebih serius.
"Kenapa kamu sangat Khawatir tuan Kenji?" Ichiro menyeringai melihat gelagat Keano. Ia tau bahwa mereka berdua sangat berharga bagi Kenji.
"Aku tak ingin mengatakannya dua kali. Cepat pergi dari negara ini, jangan sentuh mereka, dan kamu akan selamat."
Mendengar perkataan dari musuhnya membuat Ichiro semakin ingin mendekati mereka. Ia ingin melihat Kenji benar-benar terpuruk. Ia ingin melihat kehancuran Kenji Hayashi lewat orang-orang yang berharga untuknya.
"KENZO! KENZO!"
Suara teriakan Shilla membuat kedua orang itu menoleh. Mereka melihat Shilla yang begitu khawatir. Dengan sigap Keano langsung menghampiri Shilla.
"Ada apa?" Keano menanyakan kebenaran yang terjadi sambil menenangkan Shilla yang tengah kacau.
"Kenzo, Kenzo kei."
"Iya, ada apa dengan Kenzo." Keano menatap Shilla seolah memberi kekuatan.
"Di bawa... Kenzo di bawa...KENZO!!!" Shilla menangis sejadi-jadinya. Ia tak memperdulikan orang-orang yang memperhatikan dengan pandangan ingin tahu.
"Di mana Kenzo. Kamu yang merencanakan ini semua kan? KATAKAN, DI MANA KENZO!" Keano langsung menuduh Ichiro yang yang berdiri di samping mereka.
"Tenang Kenji. Aku benar-benar tak ada hubungannya dengan ini. Pertemuan ini sungguh suatu kebetulan." Ichiro membela diri. Memang pertemuan ini adalah suatu kebetulan. Dia tak tahu kalau Kenji dan Shilla sedang berada disini. Awalnya dia kesini hanyalah untuk menemukan tempat untuk dijadikan medan tempur. Semakin banyak orang, semakin menarik. Siapa sangka jika dia juga bisa mengetahui kelemahan kenji.
"Jangan membual, kalau sampai terjadi sesuatu dengan Kenzo, kamu adalah orang pertama yang aku cari." Keano berkata tegas. Ia tak pernah main-main dengan sesuatu yang berhubungan dengan Kenzo maupun Shilla.
Kembali dia menenangkan Shilla yang masih menangis di pelukannya. Belum pernah ia melihat Shilla yang kacau seperti ini.
"Tuan, tuan Kenzo terlihat di bawa oleh seorang badut ke taman labirin." Leon mendekat. Dari tadi dia mengamati dari jauh. Ia tak ingin mengganggu mereka karena ini merupakan acara santai. Siapa sangka kalau akan ada kejadian seperti ini. "Saya sudah menempatkan penjagaan di tempat ini. Orang itu tak akan bisa keluar dari sini."
"Bagus. Lanjutkan pencarian, aku akan membawa Shilla dulu agar menenangkan diri."
"Tidak! Aku ingin ikut mencari Kenzo."
"Tapi..."
"Aku mohon Kei, Kenzo anakku. Aku ingin mencarinya."
"Baiklah. Tapi jangan jauh-jauh dariku. Aku tak ingin kau ikut berada dalam bahaya."
"Baik."
Mereka melanjutkan pencarian di taman labirin. Bahkan Ichiro juga mengikuti mereka mengamati keadaan.
"Begitu sangat berharga mereka, hingga kau menempatkan pasukan elit untuk menjaga. Menarik." Ichiro menyeringai lirih. Ia sangat mengenal pasukan elit dari Golden Dragon. Ia semakin yakin kalau Shilla dan Kenzo akan menjadi kunci dari kehancuran seorang Kenji.
Bersambung.....