The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 5 [Nakal Dikit, Gak Ngaruh]



Sejak Arthur mendapatkan buku itu dari Daeva dan mengembalikan Ratu Aviv menggunakan sihir penghilang ingatan milik Daeva, Daeva tidak pernah muncul di hadapannya lagi.


Hari ini, dua hari menuju perang dengan Shinrin yang bersekutu dengan Kerajaan yang berada di Negri Arden. Semua elf yang Alder bebaskan tengah menyiapkan beberapa jebakan untuk musuh.


Di hadapan Arthur, dia melihat Kakaknya (Aosora Bram) tengah menyiapkan dirinya untuk membebaskan Archie.


"Hei, kau terlihat sangat buruk. Apa yang terjadi denganmu?" Tsuha tiba-tiba muncul di sebelah Arthur yang baginya akhir-akhir ini lebih sering melamun.


Arthur menoleh dengan ringan kepada Tsuha di sebelahnya. Wujud Tsuha hampir terlihat seperti Elf sepenuhnya.


"Tsuha, kau akan turun di perang itu?" Tanya Arthur sambil membelakangi Bram. Dia melihat Elf-elf perempuan yang turut membantu Dean membuat senjata.


"Ya, dengan begitu aku akan segera bertemu dengan Tsuki" Ucap Tsuha dengan pelan dan melihat ke arah Arthur.


"Begitukah? Apa kau ingin ke Shinrin sekarang?" Tanya Arthur sambil melihat ke arah Tsuha sambil menunjukkan senyumannya. Namun, pipi Arthur tidak mengembang seperti saat dia benar-benar tersenyum.


Tsuha sangat terkejut mendengarnya. "Kurasa, itu ide yang buruk" Lirih Tsuha agar tidak didengar oleh orang-orang disana.


Arthur mengalungkan lengannya pada bahu Tsuha. Dia terkekeh ringan sambil berkata,"Mereka semua tengah sibuk. Tak akan ada orang yang menyadari kalau kita pergi sebentar ke Shinrin" Bisik Arthur di telinga Elf Tsuha.


"Hah, kau selalu membuat masalah. Aku tidak ingin kena masalah karena kau" Ucap Tsuha sambil mendorong wajah Arthur di dekat telinganya. Dia merasakan geli di telinganya.


"Kali ini, aku janji gak bakal buat masalah. Kita ke Shinrin hanya untuk melihat Tsuki saja. Dua jam! Ya! Dua jam" Arthur terus berusaha membujuk Tsuha yang takut dengan aturan yang telah di berikan oleh para Titisan untuk tidak keluar dari Meganstria seperti Arthur yang lalu.


Tsuha melihat ke arah Arthur dia melipat lengannya di depan dada.


"Kenapa kau memaksa sekali?" Tanya Tsuha sambil membuang wajahnya.


"Ya, itu... karena kalau kita tidak ke Shinrin, kita belum tentu bisa bertemu dengan Tsuki setelah perang" Ucapan Arthur ada benarnya.


"Bagaimana kalau aku mati saat perang?" Pertanyaan itu, memenuhi kepala Tsuha. "Kalau tidak sekarang, lalu kapan lagi?" Tsuha menjadi goyah.


"Cih! Baiklah! Apa dua jam saja cukup untuk menemui Tsuki?" Tanya Tsuha sambil melihat sekitarnya.


"Tiga jam! Lebih dari cukup!" Tegas Arthur dengan nada yang girang.


Ruri memperhatikan Arthur dan Tsuha dengan menyamar menjadi salah satu Elf di dekat mereka setelah kehilangan kontak dengan Daeva.


"Apa yang dipikirkan bocah-bocah sialan ini!?" Batin Ruri sambil melihat mereka berdua yang mengobrol di loteng mansion.


Ruri melihat Titisan yang tidak menyadari keberadaannya tengah sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Dia juga melihat Bram yang belum selesai mempersiapkan pembebasan Archie. Dia butuh cahaya bulan untuk membebaskannya.


"Ya~ Bagaimanapun, itu akan gagal karena malam ini akan hujan" Batin Ruri sambil berjalan keluar area mansion.


Di dalam mansion, Ambareesh mendapatkan tamu spesial yang akan membantunya dalam perang itu.


Dia adalah Bianca.


"Ambareesh! Kau tidak bisa memutuskannya dengan secara sepihak! Kenapa kau mengatakan kepada para Titisan untuk melarangku turun saat perang nanti! Apa kau berfikir aku tidak cukup kuat untuk membantumu?!"


Bianca marah besar kepada Ambareesh yang mengatakan kepada para Titisan untuk melarang Bianca ikut turun dalam perang. Dan Ambareesh memutuskannya tanpa izin dari Bianca.


Bianca kecewa kepada Ambareesh. Dia meremas baju Ambareesh dengan kasar hingga baju Ambareesh terlihat lecek.


Ambareesh melepaskan tangan Bianca yang meremasnya dengan kuat. "Bukan begitu, kalau kau ikut turun, orang yang menganggap kami musuh, mereka juga akan menganggapmu sebagai musuh. Kau bisa saja di kejar oleh dia dan aku tidak akan menyukai hal itu" Ucap Ambareesh untuk menenangkan Bianca.


"Cih! Selalu saja mengatakan hal itu! Kau berulang kali mengatakannya dan hasilnya, kau selalu jatuh sendirian, Ambareesh. Kenapa kau menyukai jalan itu?" Tanya Bianca sambil mengibaskan tangan Ambareesh yang akan memegang kepalanya.


Ambareesh melipat lengannya di dada dan dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


Dia membuang napas kemudian menatap Bianca. "Lalu, maumu apa?'


Mata Bianca terbelalak mendengar kata yang terucap dari mulut Ambareesh. Ucapan itu, membuat Bianca terdiam dan dia takut Ambareesh marah padanya.


Dia diam.


"Maafkan aku. Aku hanya ingin dilihat olehmu" Ucap Bianca tanpa melihat Ambareesh.


Andai saja kalau bukan Haraya dan Angel yang memberitahu Ambareesh tentang Bianca, mungkin saat ini Ambareesh tidak akan menyadari tentang perasaan Bianca terhadapnya.


"Aku lebih suka denganmu yang tidak memaksakan dirimu. Mengenai larangan itu, bukan hanya kau saja. Melainkan, Arthur dan Aosora yang lainnya akan ikut bersamamu dan biarkan mereka berdua berada di Istanamu hingga perang itu berakhir" Ucap Ambareesh sambil mengulurkan minuman kepada Bianca.


Bianca menerima minuman itu. "Bagaimana denganmu? Kapan kau akan tinggal bersamaku?" Tanya Bianca sambil dengan perlahan melihat Ambareesh.


"Setelah semuanya usai. Bisakah, kau menungguku lagi? Ini yang terakhir kalinya. Aku berjanji" Ucap Ambareesh sambil menunjukkan jari kelingkingnya kepada Bianca.


Senyuman mengembang perlahan dan lebar di wajah Bianca yang berubah menjadi sumpringah seketika.


"Sungguh?" Dia sungguh senang dengan ucapan Ambareesh. Dia memberikan jari kelingkingnya juga kepada Ambareesh.


"Iya" Tanpa sadar, Ambareesh tersenyum tipis melihat wajah Bianca yang berubah seketika.


...----------------●●●----------------...


Ruri kembali ke Aokuma setelah dirinya tak lama melihat Tsuha dan Arthur menghilang dengan sihir teleport.


"... Dia bahkan tak bisa melihat wajah orang lain. Kenapa dia malah yang menjadi pewaris Aokuma? Bagaimana cara dia melihat Rakyatnya? Haduh, padahal aku lebih senang kalau Arch Duke yang menjadi pewarisnya. Kalian tau kan, hampir semua bangsawan laki-laki Aokuma mati di insiden empat tahun yang lalu itu. Satu-satunya yang tersisa hanyalah Marga Berly yang asli Bangsa Iblis" Ruri mendengarkan suara gadis-gadis yang tengah membicarakan seseorang yang dia kenal.


Ruri dalam wujud Steve memantau para gadis Bangsawan yang tengah berpesta di Taman Teh para Gadis Bangsawan berkumpul.


Salah satu dari gadis yang memakai baret berpita merah maroon meletakkan gelas teh dengan anggun sambil berkata, "Ya, padahal saya lebih menyukai Arch Duke Berly yang menjadi pengganti Raja Aokuma. Saya dengar, Putri Mahkota bukanlah keturunan Asli Raja dan Ratu. Dia hanyalah anak adopsi yang di tolong"


"Andai saja kalau tidak ada dia, mungkin Archduke-lah yang menjadi Raja saat ini"


"Ugh, meski begitu bukankah dia selalu membawa Archduke kemana-mana? Saya kasihan dengan Archduke yang tidak bisa menolak ucapannya"


"Mau bagaimana lagi? Dia bahkan tak bisa menggunakan sihirnya sedikitpun. Kalau tak ada Archduke, siapa lagi yang dipercaya untuk menjaganya"


Gadis-gadis itu mengobrolkan Devina tanpa henti.


Ruri menoleh ke arah kanannya. Dia melihat Devina yang masih telah melihat air terjun itu hampir 45 menit sambil menyeduh tehnya sendiri.


"Ah, dia gadis yang terlalu mandiri untuk ukuran yang tak bisa sihir" Lirih Ruri sambil memakan buah mana dari Devina.


Ruri memegang lehernya yang masih terasa menyengat karena kejadian lusa yang lalu, dimana Arthur menempelkan pedang mananya pada lehernya.


"PATSH!" Ruri tiba-tiba merasakan sihir Daeva dari dalam tubuhnya. Daeva menghubungi Ruri melalui telepati.


"Huh? Tumben sekali. Apa yang membuatmu menghubungiku terlebih dahulu? Sopankah kau memperlakukanku seperti ini, Sayang?~" Tanya Ruri sambil bernada dan dia terlihat tersenyum tipis sambil menundukkan kepalanya.


[Matamu! Najis!] Jawab Daeva dengan nada yang ngegas.


Ruri terdengar terkekeh ringan. "Apa yang terjadi?" Tanya Ruri kepada Daeva.


[Bisakah kita bertemu sebentar? Ada seseorang yang mengatakan sesuatu tentang Spirit Api dari Negeri Gry. Apa pendapatmu?]


Mendengar kata itu, Ruri tiba-tiba terbelalak. Dia sungguh terkejut. "Siapa yang mengatakann-/BYURRRR!!" Belum usai Ruri berkata tiba-tiba suara sesuatu yang jatuh di air membuatnya terkejut.


Sontak, Ruri langsung melihat ke arah suara itu.


DEGH!


Mata Ruri terbelalak kembali dengan lebar. Dia melihat gadis-gadis yang berkumpul membicarakan Devina tiba-tiba berada di meja Devina yang tengah minum teh sendirian.


Ruri langsung berdiri "Daeva, tunggu aku sampai aku mengabarimu terlebih dahulu" Ruri berlari sambil melepaskan jubahnya. Sekejap, dia melihat Devina masuk ke dalam kolam air terjun yang memiliki kedalaman hampir 15 meter.


"Archduke?" Gadis-gadis itu melihat Ruri yang berlari ke arah mereka. Mereka semua terkeju saat "BYUUUR!" Ruri terjun ke dalam kolam dingin dan dalam itu.