The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 2 [Kehidupan Baru]



"Wosh! BRUAK!!!!"


Daeva terhempas jauh dan dia melepaskan Alder hingga menabrak pohon kering di sekitarnya.


"Sialan! Kenapa harus muncul dengan seperti itu!" Daeva berlari ke arah Alder yang tak sadarkan diri. "Crat!" Dia menarik anak panah dari mana itu dari kepala Alder.


Daeva menutup kening Alder agar tak semakin banyak mengeluarkan darah dari kepalanya.


Beberapa detik kemudian Alder tersadar dan langsung duduk melihat sekitarnya.


"Apa yang.... Eh! Dimana Ruri?!" Tanya Alder sambil melihat Daeva yang berdiri di sebelahnya.


Daeva membelakangkan rambut putihnya. Dia meletakkan tangan kirinya di pinggang.


"Bukunya, diambil oleh dia" Jawab Daeva.


Mata hijau Alder terbelalak. "Lalu, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Alder.


Daeva beranjak pergi dari sana.


"Hei! Jawab aku!" Tegas Alder.


Daeva berhenti sejenak dan melihat Alder sekilas. "Lakukan sesukamu. Dan aku akan melakukan sesukaku untuk mendapatkan kembali buku itu. Aku, tidak butuh campur tangan kalian para Titisan" Ucap Daeva sambil meninggalkan Alder.


Sejak hari itu, Daeva sulit ditemukan oleh Alder.


...----------------●●●----------------...


Hari ini adalah hari kedua Ambareesh berada di Shinrin. Dia masih belum terbiasa dengan keramaian dan kedamaian di Shinrin.


Razel (Wakil Markas Pemberantas Iblis) mengajak Arthur (Ambareesh) mendatangi sebuah wahana hiburan sebelum misi terakhir untuk Putra Mahkota.


Ambareesh mendonggakkan kepalanya melihat pertunjukkan sirkus di hadapannya.


"Mereka tidak bisa melayang. Tapi, kalau dia jatuh, apa dia akan mati?" Tanya Ambareesh pada Razel.


Razel menepuk punggung Ambareesh yang dia kira Arthur. "Mereka sudah dilengkapi oleh pengaman pada seluruh tubuh mereka. Bila mereka kehilangan keseimbangan di atas sana, mereka akan terjatuh dan mengantung sambil menunggu pertolongan datang" Jawab Razel sambil menatap pemain sirkus di atas sana.


"Padahal, pertunjukkan ini akan seru bila salah satu dari mereka jatuh dan mengalami sedikit keretakan pada tulangnya tanpa menimbulkan kematian" Lirih Ambareesh.


Razel agak terkejut mendengarnya. Kemudian, dia tertawa karena Arthur biasa bercanda dengannya. "Anda, ada-ada saja Putra Mahkota. Saya kira Anda berubah menjadi lebih pendiam setelah mendapat gelar besar tersebut. Tapi, disisi pendiam Anda, Anda masih bisa melawak juga" Razel kembali tertawa dan pergi ke tempat berikutnya.


Ambareesh hanya melihat Razel tanpa berkata apapun.


Mereka kembali setelah Ambareesh kelelahan karena keramaian yang menghabiskan energinya. Dipandang Razel, Arthur terlihat meleleh seperti es yang mencair.


Sesampai di Markas, Ambareesh dikejutkan dengan kembalinya semua anggota pemberantas Iblis. Termasuk Nel (Kapten Guild) dan anggota lain yang baru pulang setelah menyelidiki insiden kepala Siluman yang meledak di malam pengantaran Arthur ke Aosora.


Ambareesh tidak henti-hentinya menatap dua orang disana. Yaitu, Nel dan Liebe.


Nel merasa risih ditatap oleh Ambareesh. Sebab, pada dasarnya Ambareesh mengetahui sosok di dalam tubuh mati Nel itu adalah Arnold.


"Arthur, kenapa kau melihatku seperti itu?" Tanya Nel (Arnold) pada Ambareesh yang tengah menyantap makan malamnya.


Ambareesh mengabaikan pertanyaan Arnold. Liebe, melihat Arthur yang kepribadiannya berubah secara drastis.


"Apa ada yang ingin kau sampaikan kepadaku juga Arthur?" Tanya Liebe.


Ambareesh mengunyah habis makanan di mulutnya.


"Kau terlihat senang berada disini. Aku hampir tidak mengenalimu" Jawab Ambareesh sambil melihat Liebe.


Tsuha memperhatikan Arthur sejak kepulangan mereka dari Aosora. Dia merasa Arthur banyak berubah. Dari cara bicara, menatap, makan, hingga postur tubuhnya saat berjalan. Walau begitu, Tsuha tetap diam dan terus memperhatikannya.


Saat dikamar, Tsuha melihat Arthur (Ambareesh) yang baru keluar dari kamar mandi dan langsung tiduran tanpa mengeringkan rambutnya.


Selama ini, Arthur selalu mengeringkan rambutnya dan selalu mengenakan pakaiannya saat akan tertidur.


Tsuha mulai membuka mulutnya. "Apa status Putra Mahkota Aosora membuatmu sedikit terbebas?" Tanyanya.


Kening Tsuha mengkeryit setelah mendengar jawaban datar Arthur yang tak seperti biasanya.


"Kau, tidak salah minum obat? Biasanya, kau orang yang paling antusias hingga tidak bisa tidur" Ucap Tsuha sambil menutup buku bacaannya.


Ambareesh mulai muak mendengar ucapan 'Biasanya dan tidak seperti biasa'. Dia duduk dan melihat ke arah Tsuha.


"Kalau begitu, keringkan rambutku" Pinta Ambareesh sambil menundukkan kepalanya.


"Hah?" Urat kesabaran Tsuha hampir putus.


"Tanganku sakit dan kram. Jadi, tolong bantuannya" Ucap Ambareesh dengan nada naik turun sama seperti Arthur.


"Menjengkelkan!" Tsuha kesal, tapi dia tetap berjalan menuruti ucapan Ambareesh yang dia pikir Arthur.


Tsuha menyadari bila rambut Arthur yang kala itu memutih, mulai terlihat agak seperti warna langit di siang hari namun lebih pudar.


"Bagaimana dengan dadamu, apa masih terasa sakit?" Tsuha mengkhawatirkan kondisi Arthur setelah beberap hari yang lalu saat kenaikkannya menjadi Putra Mahkota, Arthur muntah darah.


Tsuha juga melihat tanda ungu di dada kiri Arthur menghilang.


"Itu bukan apa-apa"


Termasuk bekas luka tusukkan di pinggang kanan dan pada pilipis kirinya yang menghilang.


Tsuha kembali duduk di ranjangnya.


"Kau tau, Nao menghilang sejak dia pamit akan pergi dari Aosora" Tsuha mulai bercerita kepada Ambareesh.


"Dia belum kembali sampai sekarang. Menurutmu, apakah Nao akan baik-baik saja dan hanya tersesat?" Tanya Tsuha.


Ambareesh kembali tiduran dan menatap langit-langit kamar.


"Kalau sudah seminggu dia tidak kembali, artinya dia muak denganmu" Jawab Ambareesh dan dia tidak peduli dengan teman Tsuha yang bernama Nao itu.


Tsuha melihat ke arah Arthur (Ambareesh) yang membelakanginya. "Kenapa dengan dia?" Batin Tsuha.


...----------------●●●----------------...


DI TEMPAT ARTHUR


"BWOSH!!!!!" Dia tidak atau apa yang terjadi dengan dirinya. Arthur tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri dan malah tertarik oleh hewan yang melintasinya.


Arthur melihat sekitar dirinya yang tampak lebih abu-abu dan rendah. "Apa ini?" Dia melihat tangannya yang berupa bulu berwarna putih. "Hah?!" Arthur terkejut dengan cakar yang keluar dari tangannya yang memiliki bantalan pada telapaknya.


"Syuuut!" Arthur diangkat oleh sesuatu yang besar dibelakangnya. Dia melihat ke arah belakang.


"Manusianya, kenapa besar sekali?" Arthur masuk ke dalam tubuh anak kucing jantan berbulu putih. Dan sosok yang mengendongnya, adalah anak kecil laki-laki yang tengah lewat.


Jumlah anak itu, lebih dari satu.


"Ayo kita buat dia jadi kucing terbang!" Seru salah seorang dari mereka.


"Hah?! Apa maksudnya dengan kucing terbang?!"


"MEOW!" Arthur memberontak dan mencakar lengan anak itu. Anak itu langsung membanting tubuh kucing kecil yang tak sengaja Arthur masuki.


"BEGH!" Hentakan yang keras itu, membuat tubuh kucing itu sakit dan Arthur merasakannya sebelum dirinya terpental keluar dari tubuh kucing kecil itu.


"Hei! Kau berlebihan! Kucingnya! Apa dia akan mati?" Tanya salah seorang dari mereka.


Arthur sangat terkejut melihat kucing kecil itu kejang di hadapannya. Arthur berusaha memegang tubuh kucing itu dan menembusnya. Arthur mulai kesal dengan dirinya sendiri. Sontak, Arthur melihat ke arah anak kecil yang membanting kucing itu.


"Salah dia sendiri! Kenapa dia mencakarku?! Dah! Ayo pulang" Ucapnya sambil pergi bersama teman-temannya.


Arthur berdiri. "Hei! Kubur dulu kucingnya!" Dia tidak terima dengan tingkah anak-anak itu. "Setidaknya, kubur kucing itu sebagai tanda maaf kalian."