The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 5 [Pertama]



Ambareesh meragukan para Titisan. Dia melihat Arthur yang masih melatih dirinya dengan tubuh baru itu untuk menyesuaikan sihirnya sebelum esok hari tiba.


Ambareesh mendatangi Arthur dan menghancurkan kayu besar yang digunakan Arthur untuk melatih ketanglasannya dalam berpedang.


"Apa?!" Arthur sungguh terkejut melihat Ambareesh yang mrnghancurkan alat latihannya itu dan merebut pedang kayunya kemudian membakarnya dengan api biru miliknya.


"Kau bertanya apa kepadaku?" Tanya Ambareesh sambil membuang pedang kayu Arthur yang terbakar itu.


Arthur menatap mata Ambareesh yang tengah melihatnya. Dia menundukkan pandangannya. "Guru, biarkan aku berlatih. Bagaimana dengan esok? Saat ini, aku masih belum bisa menggunakan pedang, apalagi sihir penyerangan lainnya untuk bertahan karena tubuh ini"


Ambareesh mengetahui alasan Arthur memaksakan dirinya seperti ini. Dia merasa bersalah karena Raja Meganstria mendeklarasi perang kepada Para Titisan karenanya.


Ambareesh membuang napas perlahan.


"Arthur, jangan salahkan dirimu. Ini memang rencana mereka untuk mengkosongkan Meganstria. Tanah ini, tidak aman lagi untuk mereka. Satu-satunya yang bisa membersihkan tanah ini dari wabah yang akan datang hanyalah, para Elf. Kau tidak akan keluar untuk ikut dalam pembuktian itu. Para Titisan disana, tidak akan membunuh satupun orang Meganstria" Jelas Ambareesh sambil mengusap perlahan rambut gelap Arthur.


Ekspresi Arthur langsung berubah.


"Aku tidak ikut dalam perang esok?" Tanya Arthur dengan wajah terkejutnya.


"Ya, Raja itu hanya mendeklarasikannya pada Para Titisan. Dia tidak akan berani mengusikmu karena akan bermusuhan pula dengan Shinrin dan Narai" Ambareesh hanya membohongi Arthur.


"Benarkah?!" Arthur mempercayai ucapan Ambareesh begitu saja.


"Ya. Jangan biarkan mereka membuatmu melihat di satu jendela saja. Apapun keputusanmu, sama sepertiku. Dimana kau berada, disitu jalanku. Percaya pada dirimu sendiri Arthur. Sekarang istirahatlah" Ambareesh mengalungkan lengannya pada bahu Arthur untuk masuk ke dalam.


Arthur terkekeh ringan. "Guru, nanti kalau aku kembali ke Aosora, kau harus ikut ya. Aku akan memberikan apapun yang aku miliki untuk Guru. Ya, tapi guru harus mengajarkanku banyak sihir jarak jauh yang kau tunjukkan padaku itu. Apa namanya? Dadelion blue? Ah, Busth, ya.. intinya serangan biru itu" Jelas Arthur sambil melepaskan tangan Ambareesh dari bahunya dan berjalan mendahului Ambareesh.


Melihat punggung Arthur dan cara berjalan Arthur yang sedikit melompat saat dia dalam mood yang baik, membuat Ambareesh teringat dengan Arnold.


Archie tersenyum tipis saat melihat Arthur hanya bisa di bujuk oleh Guru barunya itu. Senyuman Archie menghilang saat Ambareesh mendecih kepadanya.


"Hah?" Archie tau alasan mengapa Ambareesh seperti itu. Semua karena wajahnya yang mirip dengan Arnold. Archie ikutan mendecih kesal. "Sialan!" Umpat Archie sambil masuk ke dalam mansion itu.


...----------------●●●----------------...


Daeva mendengar kabar deklarasi itu dari Ruri.


"Siapa orang bodoh yang menerima deklarasi itu daripada menjalin sebuah ikatan yang pasti dengan Kerajaan Meganstria?" Daeva meremas buku sihir yang dia baca saat di ruangan dimensi Ruri.


Ruri terkekeh ringan. "Alder berjalan sesuai dengan masa depan yang dia lihat untuk mempersiapkan tanah Meganstria sebagai tanah tempur yang akan terjadi di masa depan" Jawab Ruri.


"Tapi, dia bodoh! Kenapa selalu memilih cara kasar untuk menempuh semuanya dengan cepat?! Dia bisa membuat pandangan orang lain tentang Titisan menjadi buruk. Aku akan menuju ke Meganstria, sebelum perang itu terjadi. Tentunya, perang itu tidak hanya akan berakhir sekali" Daeva pergi begitu saja dan meninggalkan Ruri tanpa pamit.


Ruri kembali membuka matanya dan dia berada di sebuah taman yang dia datangi bersama gadis itu.


"Padahal, kau sudah dipandang buruk, tapi kenapa masih bersusah payah membantu mereka?" Batin Ruri sambil melihat Gadis itu yang tengah memperhatikan air mancur cukup lama.


Ruri berdiri dan mendatangi Putri Mahkota Aokuma yang tak bertanduk itu.


"Putri, malam sudah cukup berlarut. Mari pulang, para pelayan pasti sudah menunggu Anda" Ruri mengulurkan tangannya pada gadis itu.


Gadis itu sangat mempercayai sosok pemilik tubuh yang digunakan Ruri itu. Dia menerima uluran tangan Ruri.


"Steve, apa besok kamu luang? Atau mungkin lusa?" Tanya Gadis itu sambil berjalan di sebelah Ruri.


"Saya selalu luang untuk Anda. Apa yang Anda butuhkan?" Tanya Ruri pada gadis itu.


"Aku penasaran dengan Aosora Arthur"


DEGH!


Mata Ruri terbelalak mendengar ucapan Devina.


"A... Penasaran bagaimana?" Ruri berusaha tetap tenang di kondisi itu.


"Tidak" Ruri menolak permintaan itu.


"Kenapa?" Tanya gadis itu.


"Aosora Arthur hanya akan membuat Anda menderita untuk waktu yang cukup lama. Meski begitu, apabila Anda bertemu dengannya secara tak sengaja, saya tidak keberatan. Mari pulang"


Permintaan Devina membuat Ruri berfikir. Ruri dapat melihat masa depan secara komplex. Membuat Devina bertemu dengan Arthur lebih awal akan membawa banyak perubahan untuk masa depan. Termasuk masa depan Arthur yang akan membuatnya mengubah pandangan dengan signifikat.


Arthur harus bertemu dengan Daeva terlebih dahulu.


...----------------●●●----------------...


Sebanyak 45 Keluarga telah di pindahkan secara dadakan oleh pemerintahan Meganstria yang memiliki tempat tinggal di area sekitar Mansion para Titisan tinggal.


Banyak dari mereka yang menolak hal tersebut, namun mereka langsung terdiam saat mendengar akan terjadi pembebasan wilayah karena terdapat area yang di penuhi sihir dan di duduki oleh para Titisan.


****MEREKA TAK INGIN MEGANSTRIA DIAMBIL ALIH OLEH PARA TITISAN SEPERTI YANG TELAH DI RAMALKAN DI DALAM BUKU SIHIR KUNO KERAJAAN****.


Mansion tempat tinggal Para Titisan telah di kelilingi oleh 1500 prajurit seperti yang dikatakan oleh Raja Meganstria.


Tidak sedikit dari para Prajurit yang bergetar untuk mengangkat senjata mereka kepada lima sosok yang memiliki sebutan Titisan itu.


Ambareesh, Alder, Daeva, Lingga, dan Ranu telah berdiri dari beberapa titik yang telah di strategikan oleh Alder.


Daeva tidak bisa masuk di mansion itu karena dirinya adalah penyebab mengapa sihir perlindungan itu ada. Daeva hanya melihat dari kejauhan. Dia yakin, kepada para Titisan tidak akan membunuh satu orang pun dari Meganstria karena mereka adalah Tonggak kedamaian untuk Arden.


Namun, itu tidak berlaku bagi Ambareesh.


Api biru Ambareesh mulai membakar mereka yang menyerang Ambareesh karena murni berniat membunuh Ambareesh.


"Aku bukan Titisan. Aku tidak terikat dengan mereka. BLARRR!!!"


Andai saja bukan karena kondisi mental yang Wandlle berikan kepada Ambareesh, mungkin saat ini Ambareesh akan merasa sangat kesakitan karena membunuh mereka. Namun, mereka memiliki niat membunuh kepada Ambareesh. Dan Ambareesh menyerang balik mereka atas dasar perlindungan diri. Semuanya dapat terbaca karena aura membunuh mereka yang tidak main-main.


Alder yang melihat api biru itu membakar para prajurit dan teriakan yang memilukan dari mereka segera menggunakan sihirnya untuk menjauhkan Para prajurit di titik Ambareesh hingga mengkosongkan wilayah Titik Ambareesh dengan membuat tembok besar dari akar-akar pohon disana.


Ambareesh melihat Alder. Baginya, Alder adalah penganggunya. Ya, Ambareesh tidak memperdulikannya. Dengan begini, dia tidak perlu membuang energi sihir untuk mereka.


Arthur dan Archie, termasuk Tsuha, serta Angel, dan Ela melihat para Titisan yang membuat mundur para prajurit dengan sihir pertahanan mereka, kecuali Ambareesh.


"Mereka hanya buang-buang waktu. Bahkan, ini pun tidak bisa di sebut Perang ataupun perebutan wilayah" Ucap Archie sambil melipat lengannya di depan dada.


Angel menyadari sesuatu terhadap hal yang di lakukan oleh para Titisan.


"Archie, kau sendiri tau. Tidak ada peperang tanpa korban jiwa. Sejak awal, mereka tidak menerima dengan sungguh-sungguh perang itu" Lirih Angel sambil menilai sekitarnya.


Tsuha melihat Daeva dari kejauhan dengan mata miliknya.


"Apa kau memiliki saudara yang tidak bertanduk, Archie?" Tanya Tsuha yang terdengar seperti candaan di telinga Archie.


Archie menoleh ke arah Tsuha di sebelah Angel. "Aku tidak menduga kau bisa bercanda di kondisi seperti ini" Ucap Archie yang sepemikiran dengan Arthur dan Angel.


Tsuha bukanlah orang yang bodoh. Mendengar jawaban itu dari Archie, membuat Tsuha mengetahui jawabannya.


Tsuha melihat ke arah Ela di sebelahnya. "Kau sepemikiran dengan mereka?" Tanya Tsuha sambil menunjuk tiga orang di sisi kanannya.


Ela mengeleng karena dia dapat mendengar batinan ataupun pikiran orang lain.


Tsuha menepuk bahu Ela beberapa kali. "Tetap di pihakku, okey?" Tanya Tsuha.


"Hei! Hei! Kau tidak boleh serakah Tsuha!" Arthur mendorong Archie untuk melihat ke arah Tsuha.


"Terserah aku" Jawab Tsuha sambil menutup kedua telinganya karena Arthur mulai memperdebatkan Angel dan Ela.