The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 1 [Persaudaraan]



Ken menarik tangan Ambareesh dengan jalannya yang sempoyongan. Ambareesh membawa Ken berteleport ke kamar asramanya untuk mengistirahatkan Ken. Sebelum itu, dia butuh informasi lebih banyak lagi tentang adiknya yang mati.


Ken melihat sekitarnya.


"Woah, kita sudah sampai dengan cepat. Ayo! Segera pesan ikan~" Ken beranjak untuk membuka pintu.


Ambareesh menahannya. "Duduk dan ceritakan semua padaku. Ini adalah tempat yang aman" Ucap Ambareesh.


Ken melihat Ambareesh sambil meringis. "Hehe, ternyata kau masih anak-anak. Baiklah, cerita apa yang ingin kakak bacakan?" Ken menepuk-nepuk kepala Ambareesh.


Ambareesh mengkatupkan giginya kembali dengan rapat. Kemudian, dia menunjukkan senyumannya pada Ken.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian" Tanya Ambareesh perlahan.


Ken duduk di lantai.


"Kau pergi meninggalkan kami. Ibu berkata, kau sedang berada di akademi jauh dari Akaiakuma dan dibawa oleh Paman Zen. Sejak kepergianmu, ibu selalu mengigau dan memanggil namamu dengan tiba-tiba. Dia juga, sering membawakan makanan keloteng karena lupa bila kau sudah pergi. Ibu sangat menyayangimu, dia punya cara sendiri untuk melindungi putranya" Ucap Ken sambil mengetuk-ngetuk lantai kayu.


"Entah dua minggu atau lebih setelah keberangkatanmu, Paman Zen dijatuhi hukuman karena telah menipu Kerajaan dengan data palsu dan menyembunyikan jati dirinya. Paman Zen itu, Iblis merah beriris biru. Dia dan kakek, serta nenek dibunuh oleh mereka. Aku, Ibu, dan Bella melarikan diri dan meninggalkan rumah"


"Bella yang tumbuh dengan cantik dan ceria, harus kehilangan Ibu diusianya yang ke enam tahun. Ibu mati karena dirinya yang depresi dan tidak henti-henti menyalahkan dirinya setelah mendengar kabar matinya dirimu. Dia mengantung diri, dan Bella melihat semua itu hanya bisa berteriak" Ken mulai mengaruk wajahnya kembali.


"Lalu, saat dia berusia 13 tahun dan aku 19 tahun, dia mengalami hal yang buruk. Ini semua karena aku menolak tawaran Akaiakuma untuk menjadi prajuritnya. Tubuhku, diikat disebuah tiang kayu dengan erat dan mereka membuatku kehilangan sihirku itu adalah penyiksaan yang menyeramkan yang pernah kualami. Rambut panjang Bella yang halus, dijambrak dan ditarik paksa oleh mereka (prajurit). Hiks, Bella diperkosa di depan mataku. Dia berteriak meminta tolong namun aku tidak bisa menolongnya. Hingga, Bella membunuh salah satu dari mereka. Peraturan Negri ini yang lucu, langsung memberi hukuman pacung pada Bella dan Aku... aku sangat egois hari itu. Aku takut mati. Aku menandatangani kontrak keprajuritan Akaiakuma hanya untuk membuatku tetap hidup"


Darah mulai mengalir pada kulit yang Ken garuk.


Ambareesh menahan dirinya dan terus mendengarkan cerita Ken.


"Lalu, kami mengalami kekalahan saat melakukan penyerangan untuk merebut Wilayah di Kerajaan Herakless. Lagi-lagi, aku menjadi satu-satunya yang hidup. Aku kembali tanpa membawa apapun. Kemudian, aku mendapatkan surat pertukaran Prajurit yang semua ini terjadi-"


"Sudah cukup" Ambareesh tidak tertarik dengan cerita hidup Ken.


Dia berjongkok dan mengulurkan tangannya pada Ken. "Istirahatlah, Aku akan mendengar kelanjutannya setelah kau sadar sepenuhnya" Ucap Ambareesh sambil melepaskan pin jubah Ken.


Ken tidak berhenti menatap wajah adiknya ini. Kemudian, Ambareesh menuntun Ken untuk tidur.


Ken menarik tangan Ambareesh sebelum Ambareesh beranjak untuk meninggalkannya. Hati Ken merasakan kerinduan yang begitu besar pada adiknya. Dia sangat tulus.


"Aku ingin tau bagaimana rasanya tidur bersama saudara laki-laki yang biasanya dilakukan oleh hubungan persaudaraan diluar sana"


Ambareesh menurutinya tanpa banyak bicara. Dia membelakangi Ken yang sedang menepuk-nepuk kepalanya perlahan.


Ambareesh menangis disana. "Sialan!".


Ambareesh duduk setelah menunggu Ken tertidur. Ambareesh hampir gila karena Ken banyak bicara dan membuang pakaiannya sembarangan untuk menunjukkan banyak luka cambukan di punggungnya. Dia melihat bantalnya yang digunakan Ken terdapat darah. Ambareesh, menyembuhkan luka di wajah Ken.


"Kau menyedihkan sekali" Ucap Ambareesh sambil pindah tempat untuk tidur di kursi baca miliknya.


Pagi hari, Ken terbangun dalam keadaan kepala yang seolah ingin meledak. "Hah... Berat sekali..." Satu persatu ingatannya tadi malam, mulai terlintas di pikirannya.


Dia duduk sambil mengosok punggungnya yang nyeri. "Mimpi yang bagus" Lirihan Ken terdengar di telinga Ambareesh yang tengah duduk di kursi bacanya karena baru bangun.


"Apanya yang mimpi bagus?" Tanya Ambareesh sambil melihat ke arah Ken.


Ken melirik ke sisi kirinya. "HAUACK! APA?! AKU SUDAH MATI?!" Ken tiba-tiba panik dan mengeser tubuhnya ke sisi kanan hingga dia turun dari kasur kecil Ambareesh.


Ambareesh mengeser kursinya dan duduk menghadap ke arah Ken.


"Selamat atas kepulangan adik tercintamu ini kak" Ucap Ambareesh dengan nadanya yang datar dan melihat Ken dengan wajah yang datar pula.


"Tidak mungkin! Kau itu sudah mati! Eh, tunggu apa mungkin Aku sedang diserang dengan sihir oleh Bangsa Siluman?" Ken langsung berdiri keluar dari kasur dan mengeluarkan pedang mananya. Dia mengarahkan pedang mananya pada telapak tangannya untuk menimbulan rasa sakit agar dia tersadar dari mimpinya.


"Jangan bodoh. Kau tidak sedang mimpi" Ucap Ambareesh.


Ambareesh menompangkan pipinya pada punggung tangan kanannya. "Jadi... Apa ini mimpi kakakku?~" Tanya Ambareesh dengan bernada.


Ken mengkernyitkan keningnya saat melihat jubah Akaiakuma milik Ambareesh yang berada dibelakang Ambareesh dan membiarkan tangannya terus meneteskan darahnya.


"Apa kau kiriman Akaiakuma untuk membuatku takut? Apa sebenarnya yang kalian inginkan dariku?!" Ken berdiri dengan postur waspada.


Ambareesh mengangkat kedua tangannya.


"Lebih baik, turunkan pedangmu dan jangan menyerangku. Apa yang perlu kau waspadai terhadap aku yang baru bisa sihir ini?" Tanya Ambareesh sambil menyeringai tipis.


Ken mampu melihat aura milik Ambareesh yang lebih besar darinya. Auranya juga, mengintimidasi Ken.


"Jangan menipuku. Sebutkan namamu, tujuanmu dan siapa orang yang mengirimmu. Setelah itu, aku berjanji akan membebaskanmu" Ucap Ken.


"Belial Ambareesh adalah namaku"


Ken membelalakan matanya.


"Tujuanku adalah dirimu. Dan aku kemari menggunakan izin Akaiakuma sebagai Prajurit pertukaran"


"Ah, benar juga. Harusnya, kau yang memohon padaku agar aku melepaskanmu" Ucap Ambareesh sambil berdiri dan berjalan ke arah Ken.


"Jangan menipuku" Ken semakin mewaspadainya.


"Ah, harusnya kakak yang baik itu, melapangkan dadanya pada adiknya yang baru pulang dari perjalanan yang panjang dan melelahkan ini" Ambareesh berdiri di hadapan Ken dan menatap Ken dengan wajahnya yang tidak berekspresi.


Ken melihat Ambareesh yang berubah total. Baik dari auranya maupun dari ekspresi Ambareesh. Saat kecil, Ambareesh selalu memanggilnya kakak dengan nada suara yang ceria. Namun, dihadapannya ini sangat bertolak belakang dengan Ambareesh dulu.


Ken menundukkan pandangannya. "Bunuh aku" Lirih Ken.


"Apa?"


"GREP!" Ken menarik pakaian Ambareesh hingga lubang tali pada dada Ambareesh sobek. "AKU BILANG! BUNUH AKU!! BUKANKAH INI TUJUANMU MENCARIKU?!!!"


Ucapan Ken saat mabuk dan saat ini tidak jauh berbeda. Ambareesh, mengakui kejujuran Ken.


Ambareesh terkekeh


"Baginda, saya bukan orang yang bodoh. Tidak ada salah satu dari kami yang berani membunuh seorang raja" Ucap Ambareesh.


Ken terkejut mendengarnya. Namun, ucapan Ambareesh tidak salah.


"Apa itu yang menurutmu akan ku ucapkan?" Tanya Ambareesh sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Ken. Ken mundur beberapa langkah.


"Aku kemari hanya untuk menemui Bella. Sedikitpun, aku tidak peduli denganmu. Baik itu kehidupanmu yang sekarang ataupun hal-hal yang sudah kau alami sebelumnya. Bersyukurlah karena minatku untuk membunuhmu telah hilang" Ucap Ambareesh sambil menepuk kepala Ken.


Tubuh Ken bergetar dan dia tidak bisa mengatakan apapun. Dia terimitidasi dengan aura samar milik Ambareesh.


"Yang kau rasakan saat ini adalah sebuah balasan tentang apa yang telah kau lakukan kepada orang disekitarmu. Ini adalah buah dari kesombonganmu. Dan, katakan pada dirimu ini, bila aku tidak membencimu" Ucap Ambareesh.


Ambareesh berusaha membuka pandangannya bila dia berada di posisi Ken.


Sontak, Ken melihat ke arah Ambareesh.


"Jangan mati dulu, kalau kau mati anakmu tidak akan beda dengan Bella yang kehilangan ayahnya karenaku diusia yang kecil" Ucap Ambareesh.


Ken tidak tau harus berkata apa. "BUGH!" Dia memukul keras bahu kiri Ambareesh.


"Jangan menyalahkan dirimu. Semua itu terjadi karena sudah takdirnya dan pemerintahan mutlak Akaiakuma" Ucap Ken sambil menutup matanya dengan tangan kirinya yang berdarah.


"Kalau begitu, kau juga berhentilah menyalakan diri sendiri. Haha, padahal kau masih belum benar menasehati diri sendiri" Sindir Ambareesh sambil memutar pandangannya.