The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 2 PROLOG [Aosora Arthur]



TAHUN 1092 Hitungan Kerajaan Akaiakuma


"KRATAK!!!! PRUAKKKKK!!!!!! BAM!"


Haraya menghentakkan kakinya di tanah. Sekeliling Haraya yang terkena hentakkannya langsung retak dan hancur. Baik itu tanah yang langsung berlubang dan pohon yang tumbang karena hempasan angin dari serangan Haraya.


Haraya berdiri dan mengikat rambut hitamnya ke belakang. Ha nashi menghilangkan sihirnya yang ada diatas kepalanya berupa sihir gerbang teleportasi.


"Sungguh kenakan-kanakan!" Ucap Ha nashi sambil mengibaskan tangan kanannya yang kebas.


"Berisik! Kau tak hanya membuat Putra Mahkota Aosora merasakan sakit yang luar biasa. Tapi, kau juga membuat tuanku merasakan hal yang sama dengan-"


"Azuma...." Panggil Arthur yang tiba-tiba muncul di belakang Haraya.


Haraya yang tengah memegang pedang mana hijaunya, dia terkejut dengan suara halus yang bersuara dibelakangnya. Dia langsung menebaskan pedang mananya sangking terkejut karena tidak merasakan aura dibelakangnya.


"TRANKKKKK!!!"


Ha Nashi berteleport sebelum pedang mana itu mengenai mata Arthur. Ia menahan pedang mana Haraya.


Haraya melihat mata biru gelapnya. "Ah, Tuan.... Maafkan saya!" Haraya langsung menghilangkan pedang mananya. Ia langsung berlutut dihadapan Arthur.


Arthur berjongkok di hadapan Azuma yang berlutut.


"Kalian berdua akrablah. Mari menuju Shinrin dan menyelesaikan misi terakhir sebagai Anggota Pasukan Pemberantas Iblis" Dia mengangkat pandangan Haraya.


Ha nashi merasa ada yang aneh.


"Ambareesh apa ada yang salah dengan dirimu?" Ha nashi menepuk bahunya.


Arthur melihat Ha nashi, dua menunjukkan matanya yang sipit saat meringis. "Oh, Tuan Ha nashi. Ku kira Anda siapa. Apa ada yang aneh dengan diriku?"


"Kau masih Arthur" Ha nashi mundur kebelakang.


----------------●●●----------------


Haraya melihat Arthur dengan seksama. "Kau salah. Dia bukan Aosora Arthur. Dia Tuan Ambareesh" Haraya menarik Ha nashi untuk membisikkannya.


Ha nashi melihat Haraya yang lebih tinggi darinya. "Mungkin, ini efek ingatan Arthur yang bersatu dengan Tuan Ambareesh" Lanjut Haraya.


Ha nashi melihat wajah Ambareesh dengan mimik dungu Arthur.


"Apa yang harus kita lakukan untuknya?" Bisik Ha nashi.


"Kita ikuti saja kemauan Tuan Ambareesh. Mungkin, dia kini sedang memulihkan ingatannya yang lalu" Lirih Haraya.


"Apa yang kalian bisikkan?" Tanya Ambareesh dalam wujudnya yang masih menggunakan tubuh 18 tahunnya.


"Apa Anda kembali menyukai ikan? Kami akan menyiapkannya sebelum perjalan pulang" Ucap Haraya.


"Baik. Aku akan menunggunya" Jawab Ambareesh sambil kembali pada kelompok Tsuha dan yang lain.


Dugaannya benar. Ambareesh masih belum terbangun sepenuhnya. Ambareesh yang saat ini, masih bisa dikatakan menggunakan ingatan Arthur.


Sebelum kita berlanjut pada cerita ini, mari kita bahas sepintas untuk mengingat Novel ini dan Aosora Arthur.


Author harap, kedepannya nanti Author dapat mengurangi flashback panjang dari keluarga Aosora. Sebenarnya, Aku berniat untuk melentakkan sendiri bab tentang Flashback keluarga Aosora. Namun, Author pikir ini hanya akan memperpanjang isi cerita.


Untuk awal dari Bab 2 ini, Author akan mempublish sebanyak 2500 kata.


Kemudian, Aosora Arthur pada Novel 1 adalah Tokoh utama sekaligus Mc dalam cerita.


Aosora Arthur terlahir sebagai Pangeran Kedua dari Kerajaan Aosora. Kedua orang tua Arthur mati bersamaan di malam hari ditangan seseorang pria yang sudah mati namun, jasadnya dimanfaatkan oleh sosok misterius atas perintah saudara tiri Ayah Arthur.


Kakak Aosora Arthur bernama Aosora Bram yang hingga kini belum ditemukan tubuhnya oleh pasukan khusus dari pergabungan guild-guild Kerajaan sahabat Aosora termasuk Kerajaan Shinrin.


Setelah kematian keluarga Aosora, dari dalam tubuh yang digunakan oleh Aosora Arthur bangkitlah sosok Iblis lain yang tersegel di dalam Hinoken. Dia adalah De luce Archie. Putra tertua De luce Arnold yang disegel di dalam Hinoken oleh Aosora Alex.


Kemudian, bagaimana Aosora Arthur bisa setubuh dengan Ambareesh?


Kasus Arthur, berbeda dengan Titisan yang lainnya. Arthur terlahir dengan tubuh. Namun, tubuh itu tidak kuat menahan kapasitas Arthur hingga berujung sakit dan Orang tua Arthur bertemu dengan Haraya kemudian digiring menuju Danau harapan untuk menuntaskan tugasnya sesuai dengan wasiat Ambareesh.


Jiwa Arthur yang tidak melebur seperti kematian Titisan yang lainnya ditarik oleh Ambareesh untuk tinggal di dalam tubuh Ambareesh selama 17 tahun dengan kontrak yang disetujui oleh orang tua Arthur.


Tidak ada seorang pun, kecuali Daeva, Alder, dan Ruri yang mengetahui kebenaran bila Aosora Arthur adalah Titisan terakhir.


Karena kemunculan De luce Archie yang tiba-tiba. Semua orang takut kepada Aosora Arthur yang terkenal dengan Pangeran yang terkurung. De luce Archie membawa kabur Arthur menuju hutan terlarang sebelum kepala Arthur di penggal di hadapan warga.


Setelah melarikan diri, awalnya Arthur menolak kehadiran Archie. Bagi Arthur, Iblis tetaplah Iblis. Dan Archie tidak akan ada bedanya dengan Iblis yang lainnya. Namun, hal ini terbantahkan setelah Arthur mengenal Archie. Dia sadar. Tidak semua Iblis itu berniat jahat.


Kemudian, Arthur bergabungan Markas Pemberantas Iblis setelah ketahuan menyusup ke dalam event antar pelajar akademi sihir. Sebelumnya, Arthur telah menjadi pelajar akademi sihir kelas 2. Karena ketahuan telah menyusup, Arthur disidang oleh Empat Kerajaan Non-Iblis (Shinrin, Narai, Meganstria, dan Aosora).


Karena kehadiran Kapten Guild Penyidik Ven de Marsyal, Arthur bisa terbebas atas tuduhan pembunuhannya kepada keluarganya sendiri.


Dua minggu setelahnya, Arthur diangkat menjadi Putra Mahkota Aosora diusianya yang ke 17 tahun. Namun, sayang sekali. Ini adalah batas kontrak Ambareesh meminjamkan tubuhnya pada Arthur.


Kemudian, ini lah yang terjadi. Jiwa Arthur melesat keluar jauh dari tubuh Ambareesh dengan paksa. Dan yang menemukan jiwa Arthur adalah Daeva Nerezza. Titisan pertama.


Daeva, termangun ditempat melihat jiwa Arthur yang telanjang dan transparan.


"Ini pasti mimpi" Daeva memalingkan pandangannya sambil mengusap keningnya yang berkeringat dingin.


Daeva kembali melihat ke arah Arthur secara perlahan. Mata mereka saling bertemu. "Ini sungguhan!" Daeva masih melihat ke arah Arthur.


"Hei! Apa kau melihat pakaianku?" Arthur tidak sadar bila dirinya telah terpisah dengan raga Ambareesh.


Arthur melihat mata Daeva yang berwarna merah. "Eh?! Kenapa Bangsa Iblis ada di Aosora? Apa kau berniat menyerang Aosora?" Arthur berusaha mengeluarkan pedang sihirnya namun tidak bisa.


Daeva turun dari dahan pohon dan pergi begitu saja seperti tidak melihat apapun. Arthur mencurigai Daeva. Dia mengendap-endap dan mulai mengikuti Daeva kemana-mana, termasuk dirumahnya.


"Kenapa... Dia malah mengikutiku? Apa yang akan Alder katakan bila melihatnya?" Daeva mengaduk masakannya untuk makan malam.


Daeva berusaha tenang.


Arthur kini melihat ke arah cermin. Bayangan dirinya tidak terpantulkan. "HUAH!!!! APA INI?!!! APA CERMINNYA RUSAKKK!!!!" Arthur memukul cermin itu. Namun, tangannya tembus. "HUWAAAAA!!!!!! APA AKU SUDAH MATIIII!!!!!??!!" Suara teriakan Arthur membuat telinga Daeva berdengung.


Daeva hanya mampu menyipitkan matanya. "Ku..kurang garam...." Ucap asal Daeva dengan tangan yang bergetar.


Arthur melihat ke arah Daeva. "Hei Tuan Iblis! Bisakah kau melihatku?" Arthur mendatangi Daeva. Dia mulai ketakutan karena tak mengerti bagaimana dia bisa mati.


Daeva berjalan ke arah meja makannya. Dia duduk untuk menyantap makan malam. Arthur berjongkok di bawah Daeva sambil mengacak-acak rambut biru gelapnya.


"Bagaimana aku bisa mati? Ah, atau aku melesat setelah Archie bertukar tempat denganku secara paksa? Tidak-tidak-tidak! Ini ada yang salah! Tidak mungkin bila jiwa itu akan melesat dari tubuh. Huhu, padahal aku belum pernah merasakan disukai oleh seseorang T~T"


Daeva tidak bisa berkata-kata mendengarkan celotehan Arthur. "Perasaan, saat aku remaja dulu, tidak pernah memikirkan perasaanku ataupun perasaan orang lain"


Arthur kembali berdiri dan dia melihat Daeva. "Haha, apa aku sekarang ini menjadi hantu gentayangan?" Arthur terkekeh dengan gila. Dia berniat menjahili Daeva.


Posisinya, Arthur tidak tau bila Daeva bisa melihatnya. Arthur berdiri di sebelah Daeva dan meniup telinga Daeva.


"Sialan! Ada apa dengan bocah ini?!" Daeva berusaha menghiraukan tingkah konyol Arthur. Namun, hal yang tidak terduga terjadi saat Arthur ingin menjahili Iblis di depannya ini dengan memegang tengkuknya.


Arthur masuk ke dalam tubuh Daeva begitu saja.


"Sial!" Daeva mengumpat saat tau Arthur merasuk ke dalam tubuhnya.


Mata merah Daeva berubah menjadi biru langit.


Daeva melihat Arthur yang sedang menggunakan tubuhnya dari jasad yang biasanya digunakan oleh Daeva di dekat sana.


Daeva duduk sambil melipat kaki kanannya diatas lutut kirinya. "Keluar dari tubuhku" Ucap Daeva kepada Arthur yang merasuk ke dalam tubuhnya.


Salah satu keistimewaan Daeva selain mampu mendengar apa yang dipikirkan oleh orang lain adalah memindah jiwa. Baik jiwa dirinya ataupun menerima jiwa lain dengan tubuhnya.


Mata Merah Daeva saat menggunakan jasad Elf sedang menatap tajam Arthur yang menggunakan tubuhnya.


Arthur berdiri karena terkejut melihat Daeva. "BRUAKK!" Dia langsung terjatuh karena tidak terbiasa menggunakan tubuh Daeva yang berbeda dengan berat badan dan tinggi tubuh sebelumnya.


Daeva mendatangi Arthur dan duduk diatas tubuhnya. "Keluar dari tubuhku" Ucap Daeva sekali lagi.


"A.. Aku tidak tau caranya! Aku tidak sengaja!" Arthur gelagapan.


Daeva menarik jubah tubuh yang dirasuki Arthur. Kemudian, dia memegang ubun-ubun kepalanya dan menarik jiwa Arthur keluar dari tubuhnya.


"BRUAK!!!" Arthur melesat kebelakang Daeva berada hingga menjatuhkan buku-buku sihir Daeva di rak bukunya.


"Bruk!"


Daeva kembali ke tubuhnya sendiri dan mengambalikan jasad Elf itu di sofa dekatnya.


Daeva segera mengambilnya setelah melihat buku itu yang datang sendiri ke Arthur.


"Aneh, kupikir ini akan sakit" Ucap Arthur sambil mengosok keningnya.


Daeva berjongkok di depan Arthur. "Pergi dari sini dan menetaplah di danau harapan. Biar mereka yang menemukanmu. Kau hanya akan membawa bencana bila di dekatku" Ucap Daeva.


Arthur membenarkan posisi dia duduk. Kedua tangan Arthur diletakkan diatas lututnya yang dia tekuk.


"Tapi, hanya kau yang bisa melihatku. Dan aku juga bisa menggunakan tubuhmu. Bagaimana kalau kita menjalin kerjasama yang bersifat untung 50-50?" Tanya Arthur sambil meringis.


Kening Daeva berkedut.


"Aku tidak ingin menjalin kerja sama dengan orang sepertimu" Ucap Daeva.


"Bagaimana dengan uang? Kau boleh menggunakan uangku bila-"


"Aku lebih kaya darimu" Sahut Daeva.


"Ahk..." Motivasi hidup-eh, motivasi kerjasama Arthur dengan Daeva semakin menurun.


"Kalau begitu, aku bersedia menjadi pelayanmu, bila kau mau meminjamkan tubuhmu selama 6 jam setiap harinya. Dan aku akan melakukan apapun yang kau suruh" Pinta Arthur sekali lagi.


Daeva berdiri sambil melipat lengannya di depan dada. "Pergilah. Aku lebih senang bekerja sendiri" Ucap Daeva sambil memalingkan pandangannya.


"Huh... Bagaimana dengan permintaan. Aku bersedia menjadi apapun yang kau mau!" Tegas Arthur sambil memejamkan matanya. Meskipun, dia bisa melihat dalam posisi mata tertutup **^**


Mendengarnya, Daeva langsung melihat ke Arthur. Sebenarnya, Daeva bisa memanfaatkan hal ini untuk keuntungan pribadinya agar mendapatkan kembali nama baiknya sebagai seorang Titisan Pertama.


"Dasar bodoh" Daeva merasa kasihan dengan kepolosan sekaligus keluguan Arthur yang berakhir dengan tindakan bodohnya.


"Apa gunanya kau meminjam tubuhku. Kau sendiri tidak tau bagaimana sifatku. Aku bukan Iblis yang baik" Jawab Daeva sambil memijat keningnya.


Arthur melihat sekeliling ruangan itu dan penuh dengan buku yang berantakan.


"Aku hanya merasa mengenalmu dan kau tidak terlihat seperti Iblis jahat. Kau berbeda dengan Archie. Tubuhmu juga lebih ramping dari tubuh Iblis laki-laki yang lain. Aku tidak menduga ada sosok yang lebih ramping dari Tsuha" Ucap Arthur dengan jujur.


Daeva memasang raut kesal. Dia kembali berjongkok di depan Arthur. "Sekali lagi kau mengatakan hal aneh tentang postur tubuhku, aku akan mengirimmu langsung menemui Sang Cahaya untuk meminta maaf padanya! Ctak" Tegas Daeva sambil menjitak kening Arthur.


Jitakkan Daeva begitu terasa di jiwa Arthur. "Bagaimana caranya?" Maksud Arthur adalah rasa jitakan Daeva yang terasa dan bersuara.


"Sekarang, pergi dari sini sebelum-"


"TOCK! TOCK!" Ada seseorang yang mengetuk pintu rumah Daeva.


"Dia datang. Cepat pergi dari sini" Daeva langsung berdiri dan merapikan buku sihir miliknya. Buku sihir yang sebelumnya dipegang Daeva, dia sembunyikan menggunakan sihir miliknya.


"Kenapa harus panik? Dia tidak bisa melihatku" Ucap Arthur dengan santai.


"Turuti ucapanku dan temukan kembali Alfarellza di Shinrin. Yang bisa melihatmu, tidak hanya aku saja. Dia yang kemari, datang untuk mencarimu" Daeva harusnya tidak berkata demikian. Namun, dia terpaksa karena menurut Daeva, ini terlalu cepat bila Arthur bertemu dengan Alder.


Arthur pergi setelah mendengar ucapan Daeva. Sedangkan Daeva, kini membuka pintu rumahnya.


Sosok berwujud Elf dengan tingg 180 cm, berada di hadapan Daeva. Sosok itu, memiliki garis rahang yang tegas dengan matanya yang hijau zamrud kemudian rambutnya yang hitam dan poninya yang kebelakang (jidatnya kelihatan).


"Daeva, dimana Aosora Arthur?" Tanya Alder sambil menerobos masuk ke dalam rumah Daeva yang masih berantakan dengan buku sihir.


"Dia baru saja melarikan diri saat tau bila dia tidak memiliki raga" Daeva berbohong.


"Benarkah? Wousssh" Alder mengeluarkan aura miliknya disekitar Daeva.


"Aku tidak takut denganmu. Aku akan melayanimu bila benda dirumahku tergores sedikit saja karena sihirmu" Balas ancam Daeva.


Alder menghilangkan auranya kemudian di terkekeh ringan. "Kau tetap tidak ramah padaku. Aku datang kemari bukan hanya untuk mencari Arthur. Bolehkah Aku duduk?" Tanya Alder.


"Terserah" Daeva menutup pintu rumahnya dan mendengarkan hal yang akan dibicarakan oleh Alder.


"Selama ini, Ruri menyamar sebagai siswa ASSJ (Akademi Sihir Shinrin Jelata) bernama Nao. Dan hubungan antara Nao dengan Aosora Arthur begitu dekat. Aku-" Alder belum usai meneruskan perkataannya namun disela oleh Daeva.


"Bukankah itu karena kecorobohanmu? Jelas-jelas Nao berada sangat dekat denganmu dan kau tak sedikitpun menyadarinya. PFFT! Inikah penciuman tajam Titisan Elf?~" Sindir Daeva.


Alder tidak mengelak sedikitpun. Karena dia mengakui kesalahannya. "Karena itu, aku butuh bantuanmu sebagai Titisan pertama untuk mencari Aosora Arthur. Aku sangat yakin bila jiwa Arthur langsung melesat tertarik oleh tubuhmu" Ucap Alder sambil menepuk kedua tangannya bersamaan.


Daeva terus mendengarkan semua hal yang dikatakan oleh Alder.


"Alfarellza, masih belum mendapatkan ingatannya dengan penuh. Kita bisa memanfaatkan hal itu agar dia berada di pihak para Titisan. Aku juga, butuh bantuanmu untuk mencari tiga Titisan yang lainnya" Pinta Alder.


"Tak lama lagi, kau akan bertemu dengan Dean (Titisan Manusia). Kau mintalah bantuan dia" Jawab Daeva.


Alder tidak bisa menerimanya. "Aku berjanji akan membersihkan namamu agar para Titisan yang lain dapat menerimamu kembali. Aku akan berusaha keras untuk membujuk Lingga (Titisan kedua bangsa Iblis sekaligus Kakak kembaran Daeva) agar dia mau menerimamu" Jelas Alder.


Daeva mulai muak sejak Alder menyebutkan nama itu.


"Pergilah dari sini. Aku tidak butuh bantuanmu. Kalian sendiri yang lebih percaya dengan ucapan Ruri daripada ucapanku sebagai Titisan Pertama!" Daeva membuka pintu rumahnya dengan sihirnya.


"Sejak awal, aku tidak menginginkan Sang Cahaya untuk membangkitkanku kembali. Bila bukan untuk Aosora Arthur dan alur cerita yang Ruri buat, aku akan bunuh diri sejak aku di bangkitkan" Ujar Daeva sambil pergi dari ruangan tamu dan masuk ke ruangan lain.


Alder terdiam sejenak. Dia melihat jasad Elf di dekatnya yang dia berikan untuk Daeva. "Sialan! Daeva! Kau tau! Aku berusaha untuk keluar dari alur cerita itu! Dan kami! Butuh kau untuk mengawalinya!" Tegas Alder.


Daeva merasakan aura aneh yang berada disekitar rumahnya. Termasuk Alder merasakannya juga.


Daeva kembali keluar dari kamarnya dan melihat Alder yang tengah melihatnya.


"Dia datang?" Tanya Alder pada Daeva.


Daeva mengangguk sambil mengeluarkan lingkaran sihir untuk melindungi dirinya dan Alder.


"PRUAK!!!! BAM!!!!"


Rumah Daeva hancur berantakan. Seolah ditumbuk oleh sesuatu yang keras dari atas.


Buku-buku milik Daeva terbakar dan terbang ke atas. Sosok bersayap hitam berdiri di atas lemari buku yang tengah terbakar itu.


Sosok itu, memiliki rambut hitam pekat dengan dua tanduk kecil menghadap ke langit berwarna hitam. Dia menyeringai kepada Daeva dan Alder.


"Serahkan, buku itu" Ucap sosok itu yang bersuara laki-laki.


Alder dan Daeva keduanya bersiap dan telah mengeluarkan pedang mana mereka. "Buku apa yang dia maksud?" Tanya Alder melalui telepati.


"Buku perjanjian 5 Titisan dan sejarah tentang lahirnya sosok Penguasa yang menjadi Titisan terakhir. Buku itu, datang bersamaan dengan datangnya Aosora Arthur" Jawab Telepati Daeva.


"SYUUUT!"


Satu anak sayap sosok hitam itu, melesat cepat ke arah Daeva dan Alder kemudian, "BAMMM!" Keduanya melesat akibat ledakan itu.


Tubuh Alder Ren, terbelah menjadi dua. Sedangkan Daeva, sebagian kepalanya menghilang karena ledakan itu.


Sosok bersayap gelap itu berjalan ke arah Daeva dan mengambil paksa buku itu yang Daeva sembunyikan dengan sihirnya.


Sosok itu tersenyum lebar saat melihat Daeva sekarat untuk kedua kalinya dihadapannya.


"Selamat datang kembali, Titisan pertama. Dan, bunuh Aosora Arthur sesuai alur yang telah ditentukan" Ucapnya.


Tubuh Alder mulai beregenerasi dan menyatu kembali dengan waktu 5 detik. Dia melesatkan anak panah sihirnya ke arah sosok itu.


Namun, sosok itu membalikkan serangan Alder dan mengenai tepat pada kepala Alder. "Alder Ren, apa kau masih mencintaiku setelah kau tau aku seorang laki-laki?" Tanyanya.


Kepala Daeva kembali dengan lambat. Daeva berteleport menuju Alder dan membopongnya. "Ruri, aku akan mengambil kembali buku itu. WOSH!" Daeva membawa kabur Alder.


Sosok bersayap gelap itu, adalah Ruri. Sosok yang paling ditakuti oleh Para Titisan dan sosok yang memiliki tujuan sama dengan para Titisan untuk mendapatkan Aosora Arthur sebagai penentu terakhir kehidupan Negri Arden.


...----------------●●●----------------...


Wah, lumayan panjang juga ya.


Nih, ada bonus illustrasi dari dua Tokoh The Last Incarnation Of The Land Of Arden yang telah Author gambar dengan mati-matian😭


>> DAEVA NEREZZA



>> AOSORA ARTHUR (4 tahun lagi :D)



Untuk ilustrasi yang lain, bisa teman-teman pembaca lihat di Instagram Author @ChiArt_27.


Ketemu lagi di Chapter berikutnya yang akan dipublish pada Lusa. Semangat membacanya yah ;^