The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 5 [Alasan Takdir Harus Di Rahasiakan]



Daeva kini duduk di sebelah Ruri. Dia memperhatikan wajah Ruri dari cermin yang berada di depannya.


"Ngomong-ngomong, kau pintar sekali memilih wajah. Kau membuatku penasaran dengan wajah aslimu" Daeva memuji Ruri yang menggunakan rupa Steve. Tak hanya itu saja, Daeva juga memuji Ruri yang selalu menggunakan wajah orang-orang yang cukup tampan. Termasuk, wajah Nao yang selalu tertutup poni.


"Jadi, kenapa kau kemari?" Tanya Ruri dengan nada suara yang rendah. Dia terlihat lelah.


"Aku tidak sengaja mendengar isi kepala Tsuha. Dugaanmu benar. Saudara Tsuha berniat mengakhiri dirinya dan menyerahkan semuanya kepada Tsuha. Apakah aku harus menculik saudaranya Tsuha agar hal ini terhindar?" Tanya Daeva yang sekaligus meminta izin.


Ruri sedikit mengangkat pandangannya. "Kurasa ini akan percuma saja. Aku memimpikannya. Hal itu, tidak akan berubah. Jadi, biarkan saja. Untuk berikutnya, setelah perang bawa Arthur bersama denganmu. Dan buat Ambareesh memiliki kepercayaan terhadapmu. Diantara para Titisan, hanya Ambareesh yang menerimamu" Jawab Ruri sambil mengangkat kaki kirinya kemudian di letakkan di atas lutut kanannya.


"Hah? Kau tidak bercanda?! Itu sangatlah tidak mungkin!" Daeva menolak untuk membuat Ambareesh percaya padanya.


 Sebab, dia tau seberapa gilanya Ambareesh di kehidupannya setelah kehidupan keduanya yang dijalani oleh Ambareesh penuh dengan siksaan, hingga mengubah mental dan kepribadian Ambareesh yang seharusnya.


"Percaya padaku. Aku dapat melihat apa yang tak bisa kau lihat. Ini untuk melancarkan rencana penculikan itu. Ah, benar juga! Jangan lupakan Dean. Kurasa dia mulai terbuka denganmu?"


Mendengar nama itu, kening Daeva berkernyit. "Bocah itu? Kau mulai mengatakan hal-hal yang tak masuk akal Ruri. Apa kau mulai lelah dengan kehidupanmu?" Daeva menunjukkan seringaiannya.


Ruri mendecih sambil menatap mata Daeva. "Jangan memancingku untuk marah padamu" Tegas Ruri kepada Daeva.


Daeva tiba-tiba berdiri dan mengangkat bahunya tanda dia tak mau tau.


"Ya, cuma itu saja yang ingin ku sampaikan" Ucap Daeva untuk pamit pergi.


"Tunggu, bagaimana perkembangan Aosora Bram?"


Daeva tersenyum canggung mendengar pertanyaan itu. Sebab, pertanyaan itu, sangat dia hindari.


"Ha, begitulah" Jawab Daeva.


"Apanya yang begitulah?" Tanya Ruri yang sudah mengira bagaimana jawabannya.


"Ya... gitu. Dia lebih keras kepala dari Arthur dan dia memiliki dua wajah yang bisa dia kendalikan saat dia mengobrol denganku di sekitar Arthur" Jelas Daeva.


Ruri terkekeh "Haha, sepertinya... Dia adalah satu-satunya Aosora yang berbeda. Bagaimana cara menjinakkan hati Aosora kalau sudah terlanjur membenci Iblis?" Tanya Lirih Ruri sambil melihat Devina yang baru keluar bersama pemilik butik yang menunjukkan model gaun yang dikatakan oleh Ruri.


Daeva melihat senyuman tipis Ruri. Dia ragu dengan senyuman itu. Senyuman itu, mengatakan kalau Ruri memiliki ide untuk menjinakkan Bram.


"Cari tau type ideal pasangan yang disukai oleh Aosora Bram" Perintah baru Ruri.


"Hah?" Daeva terkejut dengan perintah itu.


"Aku bisa berubah menjadi sosok ideal yang dia inginkan. Ini untuk membuat Aosora kembali terbuka dengan Iblis dan bisa membebaskan Archie lebih cepat. Tanpa hati, dia tak akan bisa membebaskan Archie" Ucap Ruri sambil berdiri dan kemudian, mendatangi Devina.


"Apa Kau sudah gila? Kau mau menyamar menjadi perempuan? Aku tidak akan mau kalau kau harus membunuh seorang gadis untuk rencanamu ini" Bisik Daeva sambil menahan lengan Ruri.


Daeva sudah tau siapa gadis yang disukai oleh Bram. Dia mengetahuinya karena sudah lama berada di sekitar keluarga Arthur.


Ruri menyipitkan matanya dan menunjukkan senyumannya. "Aku sudah tau tanpa kau sebutkan nama lengkap gadis itu. Sebab, gadis itu memang sudah ditakdirkan untuk mati di perang itu" Ruri melepas tangan Daeva yang berada di lengannya.


Mata Daeva terbelalak dengan lebar sambil melihat Ruri yang meninggalkannya.


"Dia temanmu, Steve?" Tanya Devina kepada Ruri.


"Bagaimana dengan dia? Apa kau akan meninggalkannya begitu saja?" Tanya lirih Devina yang mengkhawatirkan Daeva.


"Dia akan kembali menjalankan tugasnya. Jadi, Anda akan kemana setelah ini?" Tanya Ruri sekali lagi.


"Aku mau keperpustakaan. Bantu aku mencari bacaan baru" Mereka berdua meninggalkan Daeva yang masih berdiri disana.


"Tidak mungkin, gadis sebaik dan sekuat itu akan mati di perang esok" Daeva kembali ke Meganstria dan melihat Angel yang kembali berbaikan dengan Tsuha. Disisi lain, Bram juga memperhatikan Angel yang tertawa bersama Tsuha saat mereka berempat bersama Arthur menyiapkan tiga ramuan itu.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku sendiri, tidak ingin gadis itu mati. Dia sangat berguna untuk para Titisan" Batin Daeva dari kejauhan.


Daeva menarik napas panjang kemudian membuangnya perlahan lewat mulut. Dia mendatangi empat orang itu.


"Hei, ada yang bisa ku bantu?" Tanya Daeva sambil melihat Angel.


"Guru! Duduk sini! Kau bisa membantuku! Ini agak sulit memasukkan ramuannya ke dalam botol! Aku kena marah terus sama Kak Angel" Ucap Arthur dengan tangan yang terlihat lengket karena ramuan itu.


"Biar aku yang membantumu Arthur" Bram menunjukkan cara mengisi botol yang bertutup sempit itu dengan menggunakan corong kertas yang di beri sela untuk udara keluar di sisi lain kertas.


"Ah, ternyata aku tidak memberi sela udara keluar..." Jawab Arthur sambil membenarkan corongnya.


Tingkat Daeva ingin menendang Bram dari Meganstria semakin tinggi.


"Tuan Titisan, kau bisa membantu Tsuha" Jawab Angel sambil mengulurkan setimba botol kecil kosong itu.


Daeva menerimanya dan melihat Tsuha yang mengalihkan pandangannya. Tsuha semakin merasa tak nyaman dengan Daeva usai introgasi itu.


"Baiklah~ apa ini timba terakhir?" Tanya Daeva.


"Yaps!" Jawab Angel dengan antusias.


Daeva duduk antara orang-orang yang tak nyaman dengannya (Tsuha dan Bram). Mereka berlima menjadi diam untuk waktu yang cukup lama. Arthur merasakan kecanggungan itu.


"Ehem, Guru...." Arthur berusaha mengawali topik berbicara agar keluar dari kecanggungan itu.


Daeva menoleh ke arah Arthur. "Aku dengar, Guru Ambareesh akan mengajakmu untuk berada di gardu serangan jarak jauh. Dia cukup terkesan dengan cerita Kak Alder tentang seranganmu yang menghamcurkan satu desa" Ucap Arthur dengan santainya.


Daeva tidak ingin berurusan dengan Ambareesh. "Hah? Apa Gurumu itu kerasukan Iblis?!" Daeva terkejut dengan tawaran yang belum dia dengar dan tidak terduga itu.


Arthur terkekeh sambil menyentuh dagunya sendiri. "Aku dengar, jarang ada orang yang membuat Guru Ambareesh terkesan. Jadi, itu akan menjadi awal yang bagus untukmu" Daeva melihat Arthur sama seperti melihat Ruri.


Daeva berdiri. "Aku akan ke Alfarellza" Ucap Daeva sambil meletakkan botol yang baru dia tutup dengan penutup botol dari kayu.


"Tentu. Kau bisa membantu kalau sudah selesai" Jawab Angel.


Daeva berhenti sejenak dan melihat Bram, kemudian melihat ke arah Angel. "Hei, bolehkah kita bicara berdua disana?" Tanya Daeva sambil menujuk pohon yang berjarak 5 meter dari dia berdiri.


Tsuha memegang tangan Angel. "Kenapa kalian harus berbicara seperti itu? Apa kau tidak bisa mengatakannya karena hal ini terlalu berat untuk kami dengar?" Tsuha merasa cemburu dengan Daeva.


Angel mengusap kepala Tsuha. "Sebentar saja, oke..." Angel tidak keberatan dengan permintaan Daeva. Dia langsung berdiri dan mengikuti Daeva berjalan. Dan Daeva, memberikan tatapan sinis kepada Tsuha setelahnya.