The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 5 [Luciel Sang Malaikat Jatuh]



Langit gelap mulai menyelimuti wilayah Meganstria. Rintik hujan mulai turun disertai dengan angin kencang membuat bèberapa orang berfikir ini adalah kutukan karena mereka berani menantang Sosok Spesial (TITISAN).


"Kita harus mundur! Aku tidak ingin keluargaku dan aku terkena kutukan dari Para Titisan" Mereka yang mengangkat senjata, tidak sedikit yang membuang senjata besi mereka ke tanah.


Mereka takut akan kutukan para TITISAN.


Para Titisan sendiri tidak tau apa-apa tentang hujan itu.


"Mari kita tebak, awal kekuatan siapa yang bangkit ini?" Tanya Ruri yang tiba-tiba muncul di sebelah Daeva dan menyamar menggunakan tubuh salah satu bangsa Malaikat dari Meganstria.


Daeva cukup terkejut dengan kemunculan Ruri.


"Apa maksudmu? Ini bukan perbuatanmu?" Tanya Daeva yang awalnya berfikir kalau Ruri yang menciptakan hujan ini.


Ruri terkekeh ringan sambil mengosok keningnya.


"Lucu sekali, aku tak ingin membuang-buang sihir ku hanya untuk mereka yang bermain-main ini" Jawab Ruri sambil melihat jendela mansion tempat Arthur dan yang lain berada menggunakan tangannya yang dia bentuk lubang pada kepalan tangannya.


Ruri bisa melihat Tsuha dan Arthur bersama tiga orang lainnya dari jarak itu.


"Siapa yang kau maksud?"


"Perlukah aku mengatakannya agar kau paham, Iblis?" Tanya Ruri sambil menoleh ke arah Daeva.


Daeva melihat ke arah para Titisan berada. "Kalau begitu, bagaimana mencegahnya? Aku butuh rencanamu" Tanya Daeva kepada Ruri.


Ruri terlihat terseringai tipis.


"Bagaimana dengan dekati Arthur dan buat dia tertarik padamu?" Tanya Ruri.


"Itu ide yang buruk" Daeva dengan cepat menyahutnya.


"Kenapa?"


"Terakhir kali, aku memiliki masalah dengan para Titisan. Dia pasti sudah ikut terkena hawa panas dari mereka" Jawab Daeva.


"Hah..." Ruri menghela napas.


"Kalau tidak membuat masalah, itu bukan kau" Jawab Ruri sambil berdiri dan mengarahkan tangannya ke arah sihir perlindungan milik Lingga dan di lapisi oleh Ambareesh yang menyelimuti area sekitar kawasan mansion itu.


"Apa yang kau lalukan?" Tanya Daeva saat melihat cahaya putih bersinar keluar dari telapak tangan Ruri yang membentuk anak panah.


"Mari kita buat kebangkitan itu lebih cepat. Kau jadilah penyelamat mereka. BWOSH! PATSH!" Sihir milik Ruri itu, melesat dengan cepat dan menyentuh permukaan sihir perlindungan itu dengan halus. Sihir perlindungan itu, melenyap dengan perlahan hingga tak ada seorangpun yang menyadari selain Daeva.


"A... Apa maksudmu..?" Tanya Daeva saat melihat Ruri setelah sihir perlindungan itu melenyap seperti gelembung sabun yang meletus dengan perlahan.


"Selamatkan mereka, setelah ledakan yang ku buat. Weshhh" Ruri menghilang seperti angin.


Daeva melongo dan cukup tercengang dengan rencana dadakan Ruri.


"Sebenarnya, ada apa dengan makhluk aneh itu?" Daeva tidak bisa berfikir kalau Ruri ini baik atau tidak. Meski begitu, dia tidak akan membuang sia-sia jalan yang di buat Ruri untuk dirinya.


...----------------●●●----------------...


Ruri muncul di belakang Arthur dengan wujudnya yang menyerupai Nao. Dia memegang leher Arthur dengan tangan kanannya dan menutup mulut Arthur dengan tangan kirinya.


"Selamat Datang kembali, Aosora Arthur~" Ucap Ruri dengan lirih pada telinga Arthur.


Mata Arthur terbelalak dan dia melirik ke arah wajah Ruri.


Archie memegang pundak Ruri setelah merasakan aura yang tidak main-main dari tubuh Nao.


"Menyingkir dari Arthur" Archie mampu merasakan aura jahat yang dibuat oleh Ruri. Begitu pula dengan Angel. Dia langsung mengeluarkan pedang mananya dekat dengan mata Ruri yang ditutup oleh poni rambutnya.


Ruri menunjukkan seringaian lebarnya kepada mereka.


"Tenanglah, aku hanya ada urusan dengan Arthur, jadi kalian semua jangan menganggu" Ucap Ruri sambil menempelkan dagunya pada bahu Arthur.


Sebenarnya, Arthur merasakan aura mengancam dari Nao di belakangnya. Dia tetap tenang dan memegang pedang mana Angel. Pedang mana Angel melenyap dengan cepat karena sentuhan Angel.


Tubuh Arthur merespon mana dari Ruri. Mana Ruri yang Arthur serap, memiliki sensasi yang dingin dan nyaman pada tubuhnya.


"Kak Angel, dia Nao, temanku dan Tsuha" Ucap Arthur untuk menyakinkan Angel. Meski begitu, dia merasakan jari telunjuk Ruri yang berada pada jakun tipisnya.


Mata Ruri terintip sedikit oleh Tsuha. Di mata Tsuha, kedua mata Ruri terlihat merah. Dia menarik Angel dan Ela untuk mundur.


Tsuha menuliskan sebuah bahasa isyarat pada telapak tangan Angel dengan jarinya yang mengatakan untuk meminta bantuan.


Angel menoleh ke Tsuha yang melihat wajah Nao.


Angel menarik lengan Ela untuk pergi ke tempat yang aman. "Walah, begitu. Bawa dia untuk duduk. Aku dan Ela akan membuatkan minuman untuknya" Abal-abal Angel untuk melarikan diri bersama Ela.


Arthur tersenyum tipis. "Archie, Tsuha... E, bisakah kalian keluar 15 menit saja? Aku ingin mengobrol empat mata dengan Nao" Arthur membuat dua orang itu berjaga di belakang pintu.


Kepergian orang-orang disekitar Arthur, sedikit membuatnya merasa bebas, karena dia tidak perlu menyembunyikan hal yang ada di pikirannya.


Arthur mengangkat ke dua tangannya.


"Kau yang ada di dalam mimpi itu, kenapa kemari? Dimana Nao yang asli" Arthur langsung mampu mengenali Ruri.


Ruri sedikit terkejut dengan Arthur yang mengenali dirinya.


Wujud Ruri berubah ke wujud aslinya.


Arthur dapat melihat wujud itu dari cermin di depannya.


Rambut yang putih dengan dua tanduk kecil di keningnya yang hitam, dan sayap hitam yang terlihat di belakang Ruri, membuat tubuh Arthur bergetar.


Ini pertama kalinya Arthur melihat sosok semenyeramkan itu dengan warna iris mata yang berbeda antara kanan dengan kiri. Di kiri garis mata Ruri, terdapat tanda seperti Bangsa Elf hijau dan dari kening kanan Ruri di bawah tanduknya hingga di bawah garis mata kanannya terdapat retak hitam yang terlihat jelas dipandangan Arthur.


Perlahan, wajah Ruri mengeluarkan topeng yang menyerupai tengkorak hewan bertanduk yang mengarah kebelakang dan rambutnya berubah menjadi hitam. Taring-taring panjang dan runcing dari tengkorak itu, membuat Arthur merinding.


"Salam kenal, Aku Luciel, sang Malaikat yang Jatuh" Suara Ruri berubah menjadi lebih rendah karena topeng tengkorak itu.


Arthur menutup matanya dan tidak berani menyentuh topeng menyeramkan itu. "Maaf, bisakah kau menghilangkan topengmu dulu? Itu menyeramkan sekali. Aku tidak bisa fokus bicara kalau seperti ini" Ucap Arthur dengan tangan yang kaku seperti orang yang terkena stroke.


Ruri/Luciel itu melepaskan topengnya. Hanya rambut Ruri yang berubah menjadi hitam.


"Sudah puas?" Tanya Ruri dengan sedikit geram kepada Arthur.


"Ahahaha, jadi... Kau Luciel, Sang Malaikat yang jatuh. Kenapa kau kemari?" Tanya Arthur sambil membalik tubuhnya dan berbicara dengan sedikit membungkuk kepada Ruri.


"Kau tidak mengingatku?" Tanya Ruri.


"Tentu saja kau makhluk yang ada di mimpi itu" Jawab Arthur.


Sebenarnya, yang Ruri tanyakan adalah kehidupan pertama Arthur. Tentang pertemuannya dengan Luciel hingga akhir hayat seorang Tiran dengan nama ARTL KYZEN.