The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 1 [Hanya Untukmu]



Ken kembali ke Istana utama dan dia dengan Ambareesh akan bertemu kembali dengan Ambareesh pada tengah malam nanti ditempat pertemuan pertama mereka Istana Nekoma.


Langit kembali gelap. Ambareesh, tidak menemui Ken yang sedang menunggunya. Dia, mendengar kabar buruk tentang Arnold dari Haraya.


Dia segera kembali ke Akaiakuma untuk bertemu dengan Ha nashi.


"Dia aman. Maafkan aku, pagi ini aku tidak berada di sekitar Pangeran Arnold karena tugas memimpin pasukan" Ha nashi mengosok tengkuknya perlahan.


Ambareesh mendecih karena kesal dengan Ha nashi yang sembrono.


"Untung saja ada Azuma, Hah.... Apa perlu aku membunuh Arvolt malam ini?" Ambareesh menatap ke arah langit-langit sambil mengkatup keras gigi-giginya hingga berdecit.


Ha nashi tau ini adalah rencana yang buruk. "Jangan merusak prosedur urutan rencanamu. Hitung juga konsekuensi yang akan terjadi bila kau membunuh Arvolt malam ini"


Hanya Ha nashi dan Haraya yang bisa didengar oleh Ambareesh.


"Sialan!" Dia hanya mampu untuk mengumpat.


Ambareesh, mendatangi Arnold di kamarnya. Dia memeriksa kondisi Arnold dengan matanya sendiri.


Ambareesh menyentuh kening Arnold. Arnold berkeringat. "Apa dia mimpi buruk?"


"Dasar lemah"


Arnold merasakan aura samar milik Ambareesh. Dia membuka matanya perlahan dan sempat melihat bayangan Ambareesh dengan samar sebelum Ambareesh pergi karena merasa Arnold akan terbangun.


Mata Arnold terbelalak. "GURU! KAU MAU PERGI KEMANA!!!" Dia berdiri dan pandangan Arnold mengelap kemudian, "BRUK" Tubuhnya terjatuh karena terkejut tiba-tiba berdiri.


"SIAL!!! KENAPA?!"


Sejak hari itu Arnold mulai membenci dirinya sendiri dan Arnold menyiksa dirinya dengan melatih dirinya tentang sihir dan ilmu pedang dengan keras.


...----------------●●●----------------...


Kembali di tempat Ambareesh berada. Kini, dia berada di hutan terlarang dan tengah berbincang dengan Haraya tentang kondisi sekitar selama kepergiannya setengah tahun ini.


"Anda, melupakan gadis berambut putih itu, Tuan" Ujar Haraya dengan blak-blakan.


Ambareesh terlihat berfikir sejenak kemudian dia terbelalak. "Ah, bukannya aku melupakannya. Aku merasa tidak aman akhir-akhir ini. Aku tidak bertemu dengannya karena ada sosok iblis bermata aneh yang mengancam dan memperhatikannku dari jarak yang sulit ku temukan. Seolah, Iblis itu....memiliki mata yang banyak dari segala penjuru. Walau aku di kamar kecil, aku merasakan kalau dia masih memperhatikanku" Jelas Ambareesh sambil duduk di tanah yang penuh dengan daun kering.


Haraya terlihat takjub akan cerita Ambareesh, "Inikah yang dimaksud tingkat kewaspadaan yang dimiliki oleh Titisan Malaikat? Dia mampu merasakan bila sedang di pantau oleh orang lain" Batin Haraya.


Haraya berdehem untuk menyadarkan dirinya.


"Setidaknya, Anda harus menepati janji kecil Anda untuk membawa makanan dan menemui mereka sebulan sekali" Ucap Haraya.


"Tsk! Urus saja urusanmu"


Haraya sedikit senang saat melihat reaksi kesal dari Ambareesh, "Saya begini karena kasihan dengan Anda, Tuan. Bisa-bisa ada laki-laki lain yang lebih perhatian dengannya. Wanita itu, bisa jatuh cinta dengan mudah setelah mengenal laki-laki yang perhatian dan membuatnya nyaman. Saya menasehati Anda sebagai orang yang lebih tu-"


"Aku akan langsung kesana" Dia langsung menyela dan berdiri.


Haraya menghela lega. "Aku tidak menyangka bila Tuan, akan memiliki sisi lucu seperti ini. Padahal, dia selalu terlihat kaku dan selalu serius" Haraya terkekeh ringan setelah Ambareesh berteleport ke tempat Bianca.


...----------------●●●----------------...


Ambareesh langsung memasuki goa itu. Sekeliling Ambareesh telah berselimut es.


Dia lanjut masuk semakin dalam. Hawa es itu, semakin hangat saat berada di dalam. Ambareesh mendatangi anak kecil yang sedang duduk sendirian melihat anak-anak yang lain bermain.


Dia duduk di sebelah anak itu dan anak itu, melihat ke arah Ambareesh.


"Eoah! Kakak Malaikat! Kenapa kakak kemari lagi? Apa ada barang yang tertinggal?"


Ambareesh menaikkan salah satu alisnya.


"Hah? Apa yang katakan?" Tanya Ambareesh pada anak itu.


Ini adalah yang Ketiga kalinya bagi Ambareesh memasukki goa ini.


"Kakak langsung saja ke Kak Bianca, Oh! Atau mau ku bantu mengambilkan barangnya?" Anak itu, tidak mendengar pertanyaan Ambareesh.


"Tadi aku dengar Kak Bianca mengancam kalau kakak kemari lagi, kakak tidak akan bisa keluar dari goa" Bisik anak itu.


Ambareesh melihat ke arah lain. "Aku tidak kemari sejak enam bulan yang lalu. Apa kau bisa mengantarku ke Bianca sekarang" Ambareesh merasa ada yang aneh dengan ucapan anak ini.


"Mungkin dia berbohong." Batin Ambareesh sambil mengikuti anak kecil itu dari belakang.


Ambareesh melihat Bianca yang kini ada di hadapannya dengan wajahnya yang cemberut. "Kenapa kau kembali! Dugh!" Bianca meninju perut Ambareesh dengan keras.


Ambareesh sudah bersiap dengan tinjuan menyakitkan itu. Kemudian, dia melihat ke arah anak yang mengantarnya. Dia menepuk kepala anak itu.


"Terima kasih. Sekarang, bermainlah kembali dengan teman-temanmu. Jangan suka menyendiri" Ucap Ambareesh pada anak itu.


Kini, tinggallah Bianca dan Ambareesh. Ambareesh melihat ke arah Bianca. Namun, Bianca membuang pandangannya.


"Kenapa kau kembali lagi? Sudah! Pulanglah saja! Menjengkelkan!" Bianca mengibaskan rambutnya dan berancang pergi.


Ambareesh, segera menarik tudung jubah milik Bianca hingga Bianca hampir jatuh kebelakang kemudian Ambareesh tangkap.


"Haha, Apa ini?~ Aku baru pulang dari perjalanan yang jauh. Kenapa kau tidak memberi keramahan padaku?" Tanya Ambareesh sambil terkekeh dan melihat wajah Bianca yang kini mulai memerah.


Bianca mendorong dagu Ambareesh hingga dia mendongak ke atas. "Perjalanan jauh bokongmu! Kau bahkan kembali setelah 5 menit kau pergi!" Bianca kembali berdiri dengan tegak dan pergi dari Ambareesh.


Ambareesh tidak mengerti apa yang terjadi. "Apa, ini ulah musuh yang bisa menggunakan sihir ilusi?" Ambareesh langsung menyimpulkannya. Dia menangkap lengan bagian siku Bianca.


"Lepasin!" Bianca berteriak kepada Ambareesh sambil melihat ke arahnya.


"Gak!" Jawab Ambareesh.


"Lepasin! Dasar sialan!" Bianca mulai menarik-narik tubuhnya dengan kuat.


"Enggak" Ambareesh semakin bersemangat menganggu Bianca.


"SIALAN! KENAPA KAU BEBAL SEKALI! DUAGH!" Bianca melesatkan tendangannya dari bawah. Ambareesh tau ini adalah akhir dari masa depannya.


Sialan, waktu seolah berjalan melambat. Walau begitu, bagi Ambareesh pergerakan Bianca sangat cepat hingga dia tidak bisa menghindarinya.


"BRUK!" Kedua lutut Ambareesh mencium lantai es sambil membungkukkan tubuhnya. Walau begitu, Ambareesh tidak melepaskan tangannya yang menahan lengan Bianca.


"Ah! Maafkan aku! Apa itu sakit?!" Bianca langsung berjongkok di depan Ambareesh dan memegang kedua bahu Ambareesh sambil menguncangnya perlahan.


Ambareesh melihat ke wajah Bianca dengan mata yang berair. "Walau aku berkata sakit, aku yakin kau tidak akan bisa menyembuhkannya. Dugh!" Ambareesh mengetuk kening Bianca dengan tangan kirinya.