
Hilangnya tiga anggota Pemberantas Iblis, semakin membuat Baal curiga dengan keberadaan Marsyal di Markas Penyidik Shinrin.
"Periksa latar belakang Marsyal dengan teliti dan semua yang menjalin hubungan dengannya"
Baal menurunkan perintah kepada mata-mata elit Shinrin sebelum malam kenaikannya menjadi Raja Shinrin secara resmi.
Marsyal bukanlah orang biasa. Tentu saja, telinga dan mata Marsyal lebih banyak dari Shinrin.
"Begitukah? Tidak masalah biar saja mereka mengalih informasi lebih dalam tentangku dan hasilnya akan tetap sia-sia" Jawab Marsyal dengan santai sambil melihat ke luar jendela markas.
"Kemudian, saya membawakan kabar tentang dua titisan yang lainnya. Lingga Frederick dan Ranu Alba mereka berdua saya temukan. Untuk Ranu Alba, dia tengah melakukan perjalanan menuju Aosora dan untuk Lingga Frederick dia seperti Iblis yang tidak memiliki semangat hidup"
Haraya telah kembali dari perjalanan jauhnya. Dia memberikan informasi tentang dua Titisan yang tidak merespon telepati Alder.
"Lingga? Kenapa dia seperti itu? Dan apa Ranu mengetahui tentang Ambareesh yang meminjamkan tubuhnya ke Arthur?" Tanya Marsyal sambil melihat Haraya tengah mengosok tengkuknya.
"Bagaimana ya... Saya mengatakannya? Haha, dari informasi yang saya temukan, Lingga Frederick memiliki nama baru sebagai Denian yang tinggal seorang diri setelah adiknya meninggal karena sakit pasca kecelakaan yang menimpa kedua orang tuanya di Akaiakuma. Singkatnya, Titisan Lingga kehilangan adiknya yang sakit karena tidak memiliki biaya untuk berobat. Untuk Titisan Alba Ranu, saya tidak mengerti dia berjalan menuju Aosora dan saat ini telah sampai di Akaiakuma" Jelas panjang Haraya.
Marsyal mengangguk ringan.
"Dia rupanya tidak berubah. Tetap awasi Alfarellza dan yang lain. Sebisa mungkin, perhatikan mata-mata dari keturunan Ranu. Jangan biarkan ada sela Ruri untuk menghasut Alfarellza yang tidak mengingat ingatan di kehidupan pertamanya"
Marsya tersenyum tipis setelah mengatakan hal itu kepada Haraya. Ini, mungkin awal dari perubahan segalanya. Rencana Alder yang pertama adalah menyatukan para Titisan yang ada kemudian, mengurus Ruri. Sebelum itu, dia dan Daeva harus berhasil merebut Arthur sebelum semuanya terlambat.
Tapi, dia dan Daeva tidak bisa membawa Arthur begitu saja. Keberadaan Arthur saat ini, tengah di perebutkan oleh Shinrin karena Arthur adalah ahli waris Aosora. Sehingga, ini akan mempersulit para Titisan untuk membawa Aosora Arthur.
----------------●●●----------------
Disisi lain, anggota pemberantas Iblis telah berkumpul dengan lengkap sejak lima hari yang lalu.
Perlahan mereka mulai menerima penjelasan Razel dan Zack tentang kematian Nel dan raga Nel yang digunakan oleh De luce Arnold.
Setitik kebencian, tentunya muncul dihati mereka terhadap De luce Archie sebagai keturunan Arnold.
"Berisik. Jangan salahkan aku karena kesalahannya" Archie menjadi sosok yang lebih tertutup daripada sebelumnya.
Tsuha adalah satu-satunya orang yang dipercaya oleh Archie saat ini.
"Dasar Arthur bodoh! Bisa-bisanya kau mati duluan sebelum membebaskan aku!"
Setiap harinya, Archie selalu memaki Arthur disamping Tsuha yang selalu sabar mendengar ocehannya.
Sebenarnya, Arthur disana. Sayangnya, Archie dan Tsuha tidak bisa melihat Arthur.
"Ya, setidaknya, disini kita bisa aman" Ucap Tsuha kepada Archie yang masih saja kesal atas kehidupannya saat ini.
"Tsk! Aman? Kau pikir kita aman setelah dia membunuh dua orang tanpa ragu? Hei Tsuha, bukankah kau sangat membenci Iblis dan tidak menyukai pertarungan?"
Entah apa yang merasuki Archie. Dia begitu kesal dan menarik kera jubah Tsuha hingga hampir menutup sebagian wajahnya.
Tsuha menahan pergelangan tangan Archie yang tebal dan berisi.
"Hei Iblis, kau sendiri tidak aman berlama-lama di Shinrin. Aku hanya mengikuti firasatku untuk ikut dengan Iblis bertanduk satu itu. Kau sendiri apakah tidak melihat perubahan terhadap fisikku setelah mengikuti Iblis itu?" Tanya Tsuha sambil menatap tajam Archie dengan irisnya yang berubah menjadi hijau.
"Anu.... Kalian, jangan bertengkar...."Suara Arthur tidak bisa menembus telinga mereka dan itu percuma saja.
Perlahan Archie melihat telinga kanan Tsuha yang mulai menunjukkan runcingnya.
"Aku bahkan tidak tau kenapa fisikku berubah seperti ini. Selama ini, yang ku tahu bahwa, orang tuaku memiliki fisik manusia murni begitupun dengan Tsuki. Menurutku, mengikuti Iblis itu adalah satu-satunya jalan teraman dari orang-orang yang memburu para Elf" Jelas Tsuha kepada Archie.
Ini adalah hal yang perlu dicari tau oleh Tsuha.
Archie menyerah. Dia melepaskan Tsuha.
"Tsk, dari awal aku sudah tau kalau kau itu seorang Elf hijau. Aku sudah pernah mengatakan kepadamukan? Kau saja yang tidak ingin mengakuinya" Jelas Archie sambil kembali duduk di rumput dan memakan makanannya.
"Dasar. Setelah kau memperkenalkan nama lengkapmu yang bermarga Estelle. Dan Estelle Amon adalah temanku dulu saat tes masuk keprajuritan Shinrin bersama Aosora Alex. Estelle Amon memiliki wajah sepertimu bedanya dia memiliki tahi lalat di bawa bibir kanannya. Dan perlu diingat, dia adalah Elf hijau" Jelas Archie sambil menunjuk bagian bawa bibir kanannya.
"Tsk! Bisa saja itu hanya kebetulan" Lirih Tsuha.
"Dasar bocah. Kau tidak percaya sekali. Marga Estelle sejak dulu memanglah keturunan murni Elf hijau yang mempercayai bahwa menikah dengan bangsa non Elf Hijau sama seperti penghinaan terhadap Bangsa Elf. Itu tertulis jelas dalam buku sejarah Akaiakuma. Dan nama itu, tidak bisa digunakan untuk nama pemberian, bahasa lainnya adopsi" Jelas panjang Archie sambil mengacak-acak rambut Tsuha.
"Cih! Berhenti mengosok rambutku! Dan orang tuaku tidak mungkin menipuku!" Tegas Tsuha sambil mengangkat tangan berotot Archie.
"Orang tua akan rela menipu siapapun demi keamanan anaknya. Ibuku juga melakukan hal yang sama. Bangsa Elf hijau itu bisa menggunakan sihir ilusi untuk menipu orang-orang disekitarnya menggunakan wujud manusia maupun Iblis untuk melindungi diri mereka. Tapi, itu adalah sihir tingkat tinggi dan tidak masuk akal kalau kau sudah bisa menggunakannya sejak bayi. Kemungkinan besar, ini ada campur tangan dengan sosok lain yang memiliki mana tidak terbatas untuk melindungimu. Setelah mengetahui kau kembali kewujudmu ini, mungkin saja karena lonjakan energi sihir yang kau lepaskan saat itu dan membuat segel sihirnya terlepas juga. Lagi pula, ini hanya opiniku saja karena merasakan energi sihirmu lebih jelas dari sebelumnya yang terasa samar dan hambar" Jelas panjang Archie sekali lagi.
Seketika, Tsuha diam seribu bahasa setelah mendengar penjelasan panjang Archie.
"Aku tau kau bocah yang cerdas. Jadi, kau pasti paham dengan ucapanku ini. Haha, kalau aku menjelaskannya kepada Arthur, dia pasti menyuruhku mengatakannya hingga bibir ini lepas" Archie mengosok tengkuknya sendiri dan menghela napas.
Tsuha mengangguk karena dia bisa membayangkan bagaimana reaksi Arthur saat mendengarkan penjelasan panjang Archie itu.
"HAH?! KENAPA KAU MENGANGGUK TSUHA!!!!" Jiwa Arthur menembus tubuh Tsuha saat berusaha mendorongnya sangking kesalnya.
"Hah, tapi ini sungguh sepi. Biasanya, ada yang berisik dan menceramahiku" Lirih Tsuha pada Archie.
"Sudahlah. Lupakan tentang Arthur, masih ada adikmu kan di Shinrin? Jadikan dia sebagai tujuanmu saat ini" Jelas Archie untuk menenangkan Tsuha.
"Ngomong-ngomong tentang Putra Mahkota Aosora Arthur, beberapa waktu yang lalu, aku sempat bermimpi tentang Raja Aosora pertama" Ucap Tsuha.
Ucapan Tsuha tersebut membuat Archie terkejut tak kepalang.
"Bagaimana bisa?"
"Dia mencari Putra Mahkota Aosora Arthur dan mengatakan hal aneh tentang aku dan Putra Mahkota Arthur" Lanjut Tsuha.
Pembicaraan ini, sangat menarik bagi Archie. Dia sangat penasaran dengan mimpi Tsuha. Sebab, Tsuha sendiri hanya melihat Alex dari dalam foto dan Alex sendiri harusnya tidak tau dengan Aosora Arthur.
"Mengatakan hal aneh apa?"
"Dia tidak bisa menemukan Putra Mahkota Aosora Arthur akhir-akhir ini yang biasanya selalu mendatanginya. Kemudian, katanya dia terkejut karena bisa membuatnya muncul di mimpiku. Ya, awalnya ku kira ini hanya bunga tidur saja. Tapi, dia sering muncul di mimpiku dan membuatku merasa takut. Sialan" Tsuha meremas gelas plastik yang dia pegang.
"Kakek buyut mencariku? Dia bisa lewat mimpi Tsuha? Kalau begitu, aku bisa menggunakan tubuh Tsuha daripada Guru Ambareesh. Dan ini akan lebih mudah karena pertahanan tubuh Tsuha tidak sekuat tubuh Guru Ambareesh. Aku akan mencoba merasuki Tsuha terlebih dahulu"
Sejak detik itu, Arthur mulai mengontrol kepekatan mananya untuk bisa merasuki Tsuha dan hal ini berhasil setelah dia mencoba berulang kali untuk merasuki Tsuha yang tengah bercerita tentang mimpinya kepada Archie.
Merasukknya Arthur ke dalam tubuh Tsuha membuatnya melamun beberapa detik.
Archie langsung menepuk bahu Tsuha untuk menyadarkannya.
"Hei kenapa kau berhenti bercerita?" Tanya Archie kepada Tsuha yang telah dirasuki oleh Arthur.
"A..."
Saat ini, Arthur tengah bingung untuk keluar dari tubuh Tsuha. Biasanya dia keluar dari tubuh-tubuh hewan hutan setelah dia membunuhnya dengan cara bunuh diri.
"Aku mau tidur" Arthur langsung berdiri dan sempat hampir kehilangan keseimbangannya karena berat tubuh Tsuha yang lebih ringan dari berat tubuh Arthur saat menggunakan tubuh Ambareesh.
"Lah, belum selesai kau cerita udah pergi duluan?" Tanya Archie.
"Ahaha, ya maaf. Aku akan melanjutkannya besok. Tiba-tiba kepalaku pusing" Arthur meringis dengan wajah Tsuha dan melambaikan tangannya perlahan.
Archie mengkernyitkan keningnya.
"Tumben dia meringis seperti itu? Biasanya wajah dia datar seperti roti tawar" Batin Archie sambil terdiam melihat Tsuha dihadapannya.
"ARRGH!!!! APA ARCHIE SADAR?!!!!" Batin Arthur yang panik, kemudian melemaskan ekspresinya menjadi datar saat melihat Archie.
"Huh, ya. Pergilah" Jawab Archie sambil mengibaskan tangan kanannya.