The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 4 [Pengubah Alur]



Beberapa saat yang lalu Daeva menculik seorang gadis berusia 17 tahun yang buta dan dirawat oleh Lingga untuk memancing Lingga agar menemui Alder yang telah menunggu kehadirah semua Titisan lengkap di Shinrin.


"Apa aku bisa bertemu dengannya juga?" Tanya gadis itu.


"Ten/Itu tidak mungkin" Daeva baru akan menjawab pertanyaan gadis itu. Namun, sosok lain yang menjawab pertanyaan dari gadis itu.


Daeva tidak asing dengan aura ini. Dia melihat ke depan.


Ruri muncul disana untuk menghalangi Daeva.


Daeva memeluk gadis itu dengan erat dengan tangan kirinya dan tangan kanan Daeva mulai mengambarkan lingkaran sihir untuk memindahkan gadis itu.


Dia tau kalau dia tidak akan bisa berlari dari Ruri dan tentunya, Ruri akan memperburuk keadaan kalau Lingga melihatnya.


"Aria, nanti sampaikan pada orang yang mengendongmu kalau Daeva ada tamu istimewa yang menunggunya di hutan" Bisik Daeva pada gadis itu.


----------------●●●----------------


Ruri tersenyum lebar kepada Daeva menggunakan wujud Nao.


"Xixi, apa sekarang Titisan Iblis satu ini telah luluh hatinya~?" Tanya Ruri sambil mengeluarkan nada suaranya yang manja.


Daeva sangat mewaspadai hal ini. Bisa saja Lingga datang dan salah paham lagi terhadap hal yang Daeva lakukan.


Ya, itu memang rencana Ruri.


"Huh~ Jadi apakah ucapanku benar? Ah~ padahal,..." Ruri membuka poni di mata kirinya. Iris biru dengan pupil merah itu terlihat jelas di mata Daeva.


"...aku lebih menyukai kau berada di jalanmu sendiri" Suara Ruri menjadi rendah dari sebelumnya.


Daeva berusaha tidak terpancing oleh ucapan Ruri.


"Asal kau tau, Aosora Arthur menemuiku terlebih dahulu. Ya... kau taukan apa jawabannya?" Tanya Ruri sambil menyipitkan matanya dan menyeringai.


Kening Daeva berkernyit. "Kau salah besar" Ucap Daeva sambil bersiap mengeluarkan pedang mananya.


Sipitan mata dan seringai Ruri menghilang perlahan.


"Aosora Arthur bahkan tidak mampu mengendalikan kemampuannya. Jadi, jangan besar kepala" Lanjut Daeva kepada Ruri.


Sayap hitam Ruri meregang sebelah.


"Haha! Ku rasa kau tidak tau yang dinamakan insting. Aosora Arthur memang berada diantara kalian. Tapi, instingnya memilihku daripada Titisan. Mau bertaruh?" Tanya Ruri kepada Daeva sambil meregangkan keeenam sayapnya.


Ruri berdiri dan kini meregangkan semua badannya. Dia tidak puas kalau tidak membuat Daeva bergetar.


"Kalau begitu, harusnya Aosora Arthur telah menetapkan keputusannya. Yang artinya, dia telah memilih dan melihat segalanya. Aku yang akan membuka pandangan Aosora Arthur. Apapun keputusan akhirnya nanti, aku akan menerima semua pandangannya" Tegas Daeva sambil mengepalkan tangan kanannya yang dia tunjukkan kepada Ruri.


Ruri terkekeh. "Aku tidak yakin kau akan berhasil" Ucap Ruri sambil meregangkan kaki kanannya dan disusul oleh kepalanya.


"Ha~Ya. Tidak sulit untuk menumbuhkan kepercayaan untuk Aosora Arthur. WOSH!"


"PATSSH!!!!!" Ruri membungkukkan tubuhnya dan sayap Ruri menghempaskan Daeva beserta pedang mananya.


Daeva yang melesat ke udara, dengan sigap menarik dua pedang kecil di kedua pahanya saat kakinya bertumpu pada dahan pohon.


"PATSH!" Daeva kembali melesat ke arah Ruri dan Daeva mengalirkan mananya pada dua belati yang dia pengang.


"SYUUT! TEP!" Ruri menghindari setiap serangan Daeva. Dan dia berpindah dari pohon yang satu ke pohon yang lainnya.


"Kenapa dia tidak menyerang balik? Apa yang dia tunggu?" Tanya batin Daeva sambil berdiri di sebrang dahan tempat Ruri berdiri.


Ruri berjongkok dan membelakangkan poni rambut sisi kirinya. Mata Ruri dengan iris biru dan pupilnya yang merah dapat melihat kapasitas mana dan inti mana milik Daeva.


Sebenarnya, bisa saja Ruri menghancurkan Daeva saat ini juga dengan serangannya dari dalam. Namun, bila ini terjadi alurnya tidak akan seru bagi Ruri.


Ruri terkekeh.


"Apa dimatamu aku adalah sosok Antagonis?" Tanya Ruri kepada Daeva.


Daeva mendecih, "Kau ternyata orang yang suka bercanda" Ejek Daeva kepada Ruri.


Ruri mengangkat kedua tangannya setinggi bahunya. "Begitulah aku. Secuilpun atas apa yang aku lakukan, semua itu bukanlah hal yang salah. Aku hanya menjalankan tugasku. Sama seperti kalian" Jawab Ruri sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Tugas?" Daeva terkejut mendengarnya.


"Ya~ Aku adalah sosok yang mulia. Harusnya, kalian berbaik hati kepadaku karena musuh kalian bukan Aosora Arthur~ Bayangkanlah kalau Aku masih menjadi sosok yang Agung dan Aosora adalah musuhmu? Mau bertaruh? Tanah Arden pasti akan kekeringan dan kematian lebih merajalela daripada saat kalian menganggapku musuh" Ucap Ruri sambil menunjukkan telapak tangannya.


Daeva tidak paham dengan ucapan Ruri.


"Sialan, apa kau dulunya adalah seorang Ingkarnasi?" Daeva tidak basa-basi.


Ruri tertawa keras. "Aku? Ingkarnasi? Ah~ Betapa rendahnya itu? Kalahpun, aku tidak pernah. Apa lagi mati? Apa kau berusaha menganggap remeh seorang Ruri ini?" Tanya Ruri sambil memegang dada kirinya dan melihat Daeva.


Daeva tidak pernah menggangap rendah musuhnya.


"Kalau begitu, siapa kau sebenarnya?" Tanya Daeva.


Ruri menyeringai.


"Tebaklah. Akan ku beri clue nya. Aku akan selalu tau setiap jalan yang akan kalian lewati. Baik itu rencana ataupun strategi kalian. Aku memiliki mata kanan yang indah melebihi dari siapapun dan aku memiliki setiap keistimewaan yang kalian miliki. Termasuk, mendengarkan isi pikiranmu" Ucap Ruri kepada Daeva sambil tertawa tipis.


"Ya, umurku lebih tua dari Arden" Lanjut Ruri setelah dia berfikir sejenak.


Mata Daeva terbelalak. Dia baru mengetahui ini untuk pertama kalinya. Sehingga dia pikir pantas apabila Ruri selalu berada di depannya.


"Oh iya, dan juga.... Aku tidak suka diserang dari belakang. Menyerangku dari belakang artinya sama seperti bunuh diri" Lanjut Ruri untuk memperingati Daeva.


"Kenapa kau mengatakan semua itu? Apa tujuanmu?" Tanya Daeva.


Ruri kembali terkekeh. "Tebaklah siapa aku dan ini juga untuk pegangmu memperkenalkanku kepada Aosora Arthur. Katakanlah, aku bukan sosok yang jahat. Aku hanya sosok yang menjalankan tugasku~"


"Cih! Persetan dengan ucapanmu" Daeva tidak mempercayainya. Mendengar itu, Ruri tertawa sekali lagi.


"Ya~ Itulah dunia. Hanya karena satu kesalahan, beribu kebaikanmu hilang sekejap mata. Ya~ Makhluk yang berakal memang tidak ingin melihat kebelakang. Selalu dan selalu terfokus untuk melihat dan menjatuhkan orang lain" Ruri menghilangkan sayap-sayapnya kemudian duduk di dahan itu seolah Daeva bukanlah musuhnya.


Daeva mulai merasakan aura Lingga memasukki hutan dan tentunya, Alder tidak akan bisa menjemputnya karena dia bersama gadis itu. Satu-satunya cara bagi Daeva adalah dengan membuat Ruri pergi dari hutan sihir ini.


"Daeva Nerezza, kita berdua memiliki satu kesamaan dimana kebaikkan kita hilang karena suatu kesalahan" Ucap Ruri sambil memunculkan sihir kecil dari telapak tangannya yang berwarna biru terang.


"Cih! Aku tak sama denganmu. Kau adalah orang yang memfitnahku" Ucap Daeva dengan geram.


"Aku melihat sesuatu tentangmu di masa depan"


DEGH!


Daeva terkejut mendengar ucapan Ruri yang tiba-tiba dan seolah Ruri peduli dengannya.


Ruri menyeringai tipis. "Aku bisa mengubahnya kalau kau bersedia menjadi rekanku" Lanjut Ruri.


"Hah?" Daeva tidak menduganya hal ini akan keluar dari bibir Ruri dan ini adalah tawaran yang mengejutkan.


"Kau yang sekarang ditipu dan dimanfaatkan oleh bocah yang suka mencoba-coba. Dia hanya akan memanfaatkanmu hingga tujuan yang sebenarnya terwujud" Ucap Ruri sambil memindahkan Daeva menuju alam bawah sadarnya dengan sihir miliknya karena Ruri merasakan aura Lingga yang mendekat.


BWOSH!


Angin menyapu wajah Daeva dengan kencang. Gurun rumput menjadi pemandangan baru untuk Daeva. Langit mendung yang membentang luas dia terkejut dengan tempat penuh sihir ini.


Ruri duduk di jarak yang cukup jauh dari Daeva.


"Jadi, aku tidak mau seorang Titisan digunakan seperti alat oleh orang lain. Sebab, kalian itu adalah mainan milikku" Ucap Ruri di depan Daeva.


Kening Daeva berkenyit. Untuk pertama kalinya, dia penasaran dengan masa depan yang disindir oleh Ruri.


"Apa yang kau lihat?" Tanya Daeva.


Bibir Ruri yang menyeringai perlahan kehilangan seringaiannya. "Apa kau penasaran? Aku bisa mengatakan siapa orang yang akan memanfaatkamu seperti alat dan aku bisa menyelesaikan permasalahan kalian hanya dengan sekali hujan yang kuturunkan dari langit. Tapi, dengan begitu.... Aku sama saja dengan merusak alur cerita ini. Meski begitu, aku tidak ingin semuanya berjalan seperti alur yang telah tertulis" Ucap Ruri sambil mengeluarkan buku Titisan yang dicari oleh Daeva.


Mata Daeva terbelalak.


"Kau tau, ini tidak gratis~ Aku akan mengembalikan ingatan Alfarellza begitupula dengan ini. Bayaran yang perlu kau bayar adalah pengabdianmu dan kembalinya Aosora Arthur di tanganku. Sebab, musuh kalian yang sebenarnya bukanlah aku. Aku hanya mengarahkan kalian dan kalian memandangku seperti musuh" Ucap Ruri sambil duduk di kursi yang tiba-tiba muncul di depannya dan dibelakang Daeva.


Sebenarnya keuntungan Daeva adalah 50:50. Tapi, Ruri adalah sosok yang licik dan dia sulit menerimanya.


"Ya~ Kau menolaknya tidak masalah~ Sebenarnya, aku tidak membutuhkan kalian untuk membuka buku ini. Cklak!" Ucap Ruri sambil membuka buku itu.


Daeva menelan ludahnya karena kaget dan dia tidak bisa berkata apa-apa.


"Aku juga tidak membutuhkan buku ini karena aku memiliki sihir yang tak terbatas dan skala kekuatanku lebih besar dari para Titisan maupun Aosora Arthur" Ucap Ruri sambil menganti lokasi alam bawah sadarnya.


Lautan yang beku menjadi pemandangan Daeva saat ini. Meski begitu, Daeva hanya merasakan kekosongan dari alam bawah sadar Ruri.


"Ah, aku tidak bisa mengerakkan tubuhku"


Ini karena Daeva berada di wilayah Ruri dan Ruri melepaskan semua energinya hingga membuat Daeva terasa sesak.


"Aku tidak akan memberi penawaran ini untukmu dua kali dan aku tidak akan menyembunyikan jati diriku kalau kau telah terkontrak jiwa denganku" Ucap Ruri sambil meletakkan dagunya pada kedua punggung tangannya.


"Bagaimana dengan para Titisan yang lain?" Tanya Daeva.


"Aku tidak akan menganggu atau melarangmu saat bersosial dengan mereka dengan satu syarat. Kau harus datang saat aku memanggilmu dan kau harus jujur atas apa yang ku minta" Jelas Ruri.


Itu terdengar meragukan di teling Daeva.


"Bagaimana kalau aku menolak ini?" Tanya Daeva sekali lagi.


"Kau berada di wilayahku, tentunya kau tidak akan bisa keluar kalau menolaknya selain mengalahkanku" Jawab Ruri.


Sedikitpun, Daeva tidak dapat melukai ataupun mengores Ruri dengan sihirnya. Daeva saat ini memiliki pemikiran yang cerdik untuk melahap Ruri perlahan dengan menerima penawaran itu.


"Aku menerimanya, dan beri satu hal padaku. Aku tidak akan pernah mau dan tidak akan pernah menjadi mainanmu. Termasuk, menghianati para Titisan" Ucap Daeva.


Mata Ruri terbelalak dia terseringai lebar. "Ya... Itu bagus. Lagipula, aku tidak memiliki urusan dengan Para Titisan selain dengan Aosora Arthur dan Alder Ren begitupula dengan bocah itu" Jawab Ruri sambil membuat lingkaran sihir untuk memulai kontrak pengikatan jiwa dengan Daeva.


Daeva meneteskan darahnya pada lingkaran sihir itu.


"Jadi, untuk pemulaan aku akan memberikan buku ini kepadamu dengan syarat, jangan berikan terlebih dahulu kepada Alder. Karena, tubuh Aosora Arthur harus berasal dariku" Ruri melemparkan buku itu kepada Daeva.


Daeva menangkap buku itu dan dia tidak menduga akan semudah ini mendapatkannya. "Tapi, kenapa harus darimu?"


"Aosora Arthur harus mendapatkan sihirku karena sihir Aosora Arthur sebagian besar ada padaku. Kalau Alder yang mengembalikan tubuh Aosora Arthur, dia akan lama untuk bisa menyerap sihir orang disekitarnya.


"HACCHI!" Arthur bersin dengan menggunakan tubuh Tsuha yang dia susupi.


"Hah... Hidungku gatal sekali. Apa ini karena tidak terbiasa dengan tempat yang ber-es?" Tanya Arthur sambil mengosok hidungnya.


Razel yang berada di sebelahnya menutup mata Tsuha yang disusupi oleh Arthur agar tidur.


"Tidur. Besok kau harus menemui Angel" Lirih Razel dengan suara yang serak.


"Haha, tentu wakil~" Jawab Arthur. Dia tidak bisa keluar dari tubuh Tsuha. Dan dia menyelinap keluar untuk meminta bantuan Ambareesh.