
Razel termenung di tempat duduk depan kamar para gadis yang mabuk di dalamnya.
Zack menjaga jarak dengan Razel karena takut banyak hal yang akan terjadi apabila dirinya berada di jarak yang terlalu dekat. Mengetahui, apabila Razel tidak pernah mabuk untuk sekali pun.
Ini adalah pertama kalinya bagi Razel.
Apa lagi, anggur yang diminum oleh Razel bukanlah sekadar minuman alkohol biasa. Itu adalah Alkohol yang difermentasi menggunakan sihir khusus dan apabila yang tidak pernah mencobanya, bisa berefek mengamuk saat mabuk.
Namun, Razel menjadi lebih diam dari yang sebelumnya. Dia menatap ke depan terus menerus. Seolah, tak ada sesuatu hal yang menarik lagi baginya selain di depan itu.
"Wakil, kau melihat apa?" Tanya Zack dengan pelan.
Mata Razel melihat ke arah Zack perlahan. Iris Razel berubah menjadi berwarna terakota (warna orange bata/warna tanah liat).
Zack terbelalak melihatnya. Dia sungguh terkejut.
"Zack, bisakah aku mempercayaimu seperti aku mempercayai Nel?" Razel menyembunyikan perasaannya atas kehilangan sosok yang selalu menemaninya selama ini.
Zack duduk di sebelah Razel.
"Wakil, jangan terlalu memaksakan dirimu. Aku akan membuktikan kepadamu kalau aku bersungguh-sungguh dengan guild ini. Ingatlah, kita berenam adalah pendiri Guild ini. Kau, aku, Guru Nox, Kapten Nel, Daniel, dan Kanza. Aku akan berjuang semampuku untuk perjuangan teman-teman kita yang gugur" Jelas Zack kepada Razel.
Pandangan Razel menjadi kosong.
"Dulu, Bara meninggalkanku, kemudian disusul oleh Kanza yang tewas karena bertugas di perbatasan Aokuma empat tahun yang lalu. Minggu lalu, Nel pergi tanpa ku ketahui. Begitupula dengan Liebe. Aku tidak bisa menangis. Mataku sungguh kering. Dan tadi, kabar mengejutkan datang dari Tuan Haraya. Dia berkata Guru Nox telah di penggal. Kenapa kehidupan di sekitarku selalu berujung kesialan? Mereka mati satu-persatu. Dan aku tidak pernah ada di samping mereka saat ajal menjemput mereka. Apa salahku?"
Razel membelalakan matanya sambil melihat ke arah Zack.
Zack memang tidak pernah melihat Razel meneteskan air matanya sekalipun.
"Aku juga, hampir melupakan kematian terburuk yang pernah terjadi di hadapanku. Kematian Siluman yang datang bersamamu saat malam pengantar Putra Mahkota Aosora Arthur. Aku tidak bisa berteriak ataupun menangis. Aku tak mengerti mengapa aku selalu terlihat tenang dihadapan kalian semua" Ucap Razel sambil menutup matanya perlahan.
Zack selama ini tidak pernah mengetahui hal ini dari Razel.
Dia tersenyum tipis.
"Karena itu, Guru Nox memilihmu Wakil. Kau selalu membawa ketenangan suasana untuk kami. Itu adalah kelebihanmu. Untuk apa kau pikirkan?" Tanya Zack kepada Razel.
Razel kembali menoleh ke arah Zack. "Kelebihan?"
"Ya, kelebihan. Karena kehadiranmu kami menjadi tenang dan lebih terarah Wakil. Percayalah dengan ucapanku" Ucap Zack sambil menunjukkan ibu jarinya.
Razel terkekeh sambil menyandarkan punggungnya di tembok.
"Aku ada rencana untuk menjadikanmu sebagai Kapten yang baru Zack. Anak-anak yang lain sangat menghormatimu dan mendengarkan segala perintahmu saat aku pergi. Apa kau menyetujuinya?" Tanya Razel pada Zack.
"Wakil... bagi kami, kau adalah Kapten kami saat ini. Cukup kau dan kami tidak membutuhkan Wakil Kapten lagi" Zack mewakili anak-anak guild yang lain saat mereka berkumpul bersama. Termasuk Tsuha dan Luxe, serta Archie.
Tapi, dari tadi dimana Luxe berada? Dia tidak muncul setelah dia sampai di Istana Bianca ini.
Mari kita cari dimana Luxe berada. Dia kini berkumpul dengan Ranu. Titisan Siluman.
Luxe kembali kewujud dewasanya sebagai Dean.
"Intinya, gadis itu adalah anak dari Daeva" Singkat Luxe sambil mengintip Ela yang tengah berjalan bersama Tsuha setelah Tsuha menyelesaikan makan malamnya.
Ranu melihat gadis itu dengan pasti. "Tidak mungkin. Katamu, gadis itu berusia 16 tahun. Dan kata Alder, Daeva baru kembali ke Aosora dengan tubuh aslinya saat kematian Raja dan Ratu Aosora yang terkenal itu hingga di Kerajaan Heraklesh" Sahut Ranu sambil memakan kue yang dia bawa dari dapur.
"Cih!" Dean mendecih sambil melirik Ela lagi. "Daeva itu, bisa memindahkan jiwanya seenaknya. Dia bisa snu-snu dengan tubuh ayah gadis itu. Dan sihir Daeva tentu saja menurun kepada gadis itu" Jelas Dean sambil duduk di ambang jendela besar itu.
Tenggorokan Ranu terlihat bergerak untuk menelan. Dia agak kaget dengan teori dari Dean.
"Apa kau gila? Kita mengenal Daeva dan dia bukan tipe Iblis yang melepaskan hasratnya seperti bajingan" Sejelek-jeleknya Daeva, Ranu masih membelanya meski dia membenci Daeva.
Dean memegang dagunya sendiri dan masih melihat Ela yang akan melewatinya. "Lalu, menurutmu... Gadis itu adalah salah satu dari rencana Ruri?" Tanya Dean sambil melihat Ela dan Tsuha yang disebelahnya.
Mata Tsuha dan Dean bertemu.
"Siapa orang ini? Apa dia berasal dari Shinrin atau Siluman?" Batin Tsuha sambil kembali melihat ke depan.
"Cih! Menjengkelkan sekali bocah Elf itu" Gumam Dean sambil memakan kue dari tangan Ranu.
Ranu tertarik dengan ucapan Dean tentang gadis itu dengan Ruri.
"Aku agak setuju dengan ucapanmu itu. Bukankah, terakhir kali saat Ruri kau segel dia memindahkan energi sihirmu kepadanya hingga kosong dan itu menjadi kematianmu?" Tanya Ranu.
"Tepat sekali, saat itu Daeva sudah mati terlebih dahulu bukan? Jadi, dia tidak mengetahuinya. Ngomong-ngomong, dimana Ambareesh?" Tanya Dean sambil melihat ke arah Tsuha dan Ela.
"Tsk! Aku akan membunuhnya kalau sampai membuat keturunanku menangis" Jawab Ranu sambil menepis tangan Dean yang akan mengambil kuenya lagi.
...----------------●●●----------------...
Kita beralih ke tempat Daeva berada. Dia dengan cepat mampu menemukan Lingga. Daeva terdiam saat dia melihat Lingga tengah menyuapi anak kecil perempuan disana.
Dari informasi yang dia dengar anak kecil itu adalah anak dari seseorang yang menolongnya. Anak kecil itu terlahir buta dan kedua orang tuanya mati terbunuh oleh Prajurit Akaiakuma yang licik.
Lingga tidak menyembunyikan jati dirinya sebagai Titisan. Dia menggunakan wujud aslinya dan tak ragu menunjukkan tanda Titisannya di keningnya atau di antara kedua tanduknya yang merah gelap dan menghadap langit.
"Apa dia tidak takut dengan Ruri? Ah, tentu saja. Dia dan Ranu bukanlah Titisan yang dikhawatirkan Ruri" Lirih Daeva sambil melihat Lingga yang fokus menyuapi gadis kecil itu.
Sebenarnya, hal itu mengingatkan Daeva di kehidupan pertamanya dan dia menjadi muak karena ingatan itu. "Cih!".
Satu-satunya kelemahan Lingga saat ini adalah gadis kecil itu.
Mata merah Lingga melihat ke wajah Daeva perlahan. Dia terbelalak saat melihat Daeva yang menyeringai padanya. "Lama tak berjumpa. Grep! Wosh!" Daeva memegang lengan gadis itu kemudian dia membawanya berteleport untuk mempercepat tugasnya.
Lingga berdiri dan melihat disekitarnya. "ARIA!" Mangkuk di tangan Lingga terjatuh hingga pecah.
Mata Lingga bergetar. Dia menutup matanya perlahan untuk merasakan aura Daeva yang berada di hutan Terlarang.
Daeva tersenyum puas karena Lingga tidak akan bisa mengejarnya. Sebab, Lingga adalah satu-satunya Titisan tanpa sihir. Meski begitu, Lingga adalah ahli pedang yang lebih hebat dari Ambareesh. Lingga pula, memiliki kecepatan di atas rata-rata Iblis biasa dan dia memiliki fisik, serta stamina yang diatas rata-rata.
"Kau siapa?" Gadis itu merabah wajah Daeva yang membawanya berteleport diatas pohon.
"Aku Daeva Nerezza. Maaf membawamu untuk memancing Lingga. Kami tidak berniat buruk" Jawab Daeva yang membiarkan gadis berbangsa Iblis itu meraba wajahnya.
"Kamu bangsa apa? Kulitmu dingin sekali dan kamu tidak bertanduk" Gadis itu menempelkan keningnya pada kening Daeva.
Daeva peduli dengan gadis ini. Dan dia akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Lingga.
"Aku bangsa Iblis ras putih. Pegangan yang erat" Jawab Daeva sambil berpindah di pohon yang lain.
Dia sengaja tidak berteleport melewati Hutan Terlarang karena untuk menjebak Lingga agar datang.
Gadis itu memeluk bahu Daeva dengan erat. "Aku Aria. Usiaku 17 tahun dan aku berbangsa Iblis" Jawab gadis itu di telinga Daeva.
Daeva sedikit merinding karena suaranya yang halus.
"Ya, kau memiliki tanduk yang bagus" Ucap Daeva sambil menahan tumpuannya karena hampir terjatuh.
Aria terkekeh ringan. "Kamu memiliki bau mana yang sama dengan kak Lingga. Bau Kak Lingga semakin dekat" Ucap gadis itu sambil menunjuk kebelakang Daeva.
"Baiklah, dia pasti tidak sabar karena akan ada kejutan besar. Jangan menjawab apapun saat Lingga mentelepatimu, karena itu tidak akan menjadi kejutan untuknya" Ucap Daeva sambil kembali berdiri dan bersiap melompat antar dahan.
"Kejutan besar? Seperti apa?"
"JUMP! TEP!" Daeva berhasil melompati antar dahan. Dia kembali bersiap untuk melompat. "Bertemu dengan teman lama. Apa kau tau, temannya adalah seorang Elf hijau dia memiliki telinga yang runcing" Jawab Daeva atas pertanyaannya.
Daeva melihat mata gadis itu yang berwarna putih. Gadis itu mengangkat kedua alisnya bersamaan. "Apa aku bisa bertemu dengannya juga?" Tanya gadis itu.
"Ten/Itu tidak mungkin" Daeva baru akan menjawab pertanyaan gadis itu. Namun, sosok lain yang menjawab pertanyaan dari gadis itu.
Daeva tidak asing dengan aura ini. Dia melihat ke depan.
Ruri muncul disana untuk menghalangi Daeva.
Daeva memeluk gadis itu dengan erat dengan tangan kirinya dan tangan kanan Daeva mulai mengambarkan lingkaran sihir untuk memindahkan gadis itu.
Dia tau kalau dia tidak akan bisa berlari dari Ruri dan tentunya, Ruri akan memperburuk keadaan kalau Lingga melihatnya.
"Aria, nanti sampaikan pada orang yang mengendongmu kalau Daeva ada tamu istimewa yang menunggunya di hutan" Bisik Daeva pada gadis itu.
"Uh? Apa?"
Lingkaran sihir yang dibuat oleh Daeva langsung memindahkannya di depan dada Alder dan dengan cepat Daeva menjatuhkan gadis itu di lingkaran sihir yang dia buat.
Alder yang menggunakan tubuh Marsyal dan tengah berada di pertemuan penting dengan anggotanya terkejut karena lingkaran sihir diikuti dengan cahaya merah muncul dari pakaiannya di depan dadanya.
Marsyal segera berbalik dan berkata, "Kalian lanjutkan dulu. Aku ada urusan mendadak" Marsyal langsung melompat dan berjongkok di ambang jendela.
"Apa? Tapi Kapten, Anda-/ CTASH!" Marsyal melesat dengan cepat saat salah satu anggotanya berbicara.
"Tep!" Marsyal mendarat dan langsung mengendong gadis itu.
Mata Marsyal terbelalak. "Ah, siapa kau?" Marsyal terkejut dengan gadis yang ada di gendongannya. Dia pikir Daeva membuat jebakan untuk mendorong Lingga langsung di hadapannya namun, ini jauh dari perkiraannya dan masa depan yang Alder lihat diubah oleh kehadiran Ruri.
"Anu,... Tadi kata Kak Daeva dia punya tamu istimewa yang menunggunya di hutan saat membawaku untuk kejutan Kak Lingga. Katanya Kak Lingga memiliki teman Elf"
Mendengar itu, Alder langsung terbelalak.
"Kau bersama Daeva dan Lingga?"
"Iya" Jawab Aria yang diturunkan oleh Marsyal.
Hidung Aria mencium udara disekitarnya yang lebih dingin dan segar daripada Akaiakuma. Dia juga, mencium mana manusia yang banyak di sekitarnya. Aria mulai panik.
"I... ini dimana?" Dia menyentuh tanah Shinrin yang berumput dan memiliki banyak kerikil disana.
"Kau di Shinrin. Mari tunggu Lingga dan Daeva di rumahku" Marsyal berganti ke wujud Elfnya dan memegang tangan gadis itu yang masih meraba tanah.
Gadis itu, terlihat sangat ketakutan. Dia menepis tangan Alder. "Aku mau pulang. Shinrin berbahaya untuk Iblis" Aria sering mendengar kabar dari tetangganya kalau anak mereka banyak yang mati karena dibunuh oleh Prajurit Shinrin.
Alder meraih tangan gadis itu dan menyentuhkannya ke telinganya yang runcing.
"Ya, aku teman dari Lingga yang dikatakan oleh Daeva" Ucap Alder dengan pelan.
Gadis itu cukup terkejut. Dan Alder menarik tangannya perlahan kemudian mengendongnya.
"Mari kita tunggu mereka berdua di rumahku" Ucap Alder sambil meletakkan tangan kiri Aria pada telinga kanannya.
Aria mengangguk ringan. Aria mencoba untuk mempercayai Alder karena Daeva memiliki aura yang sama dengan Lingga. Dan juga, dia tidak merasakan aura buruk dari Alder.
Sebenarnya, hati kecil Aria merasa senang karena dia untuk pertama kalinya bisa memegang telinga Elf yang runcing dan hanya dari cerita ke cerita yang dia dengar.