The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 5 [Napas Buatan]



Di Kerajaan Aokuma. Bertepat pada Taman yang akhir-akhir ini menjadi topik hangat di telinga kalangan remaja Bangsawan yang ingin menjalin keakraban dengan yang lainnya.


Devina mulai mencintai Taman itu. Dia takjub dengan air mancur di kolam yang memiliki kolam hampir sedalam 15 meter. Terutama, Devina sangat senang saat air mancur itu memercikkan airnya ke arahnya saat angin sore bertiup dengan ringan.


Disana, Devina tiba-tiba di datangi oleh lima gadis yang mengenakan pakaian layaknya seorang gadis Bangsawan yang ceria dan style yang memikat lawan mereka.


"Yang Mulia Putri Mahkota Idreesh Devina, Kami tidak menyangka kalau Anda akan berada di tempat ini" Mereka berlima menyapa Devina dengan sedikit menekukkan lututnya dan membungkukkan tubuh mereka, serta mengangkat sedikit gaun bawah mereka dengan anggun.


Devina yang tengah menyeduh teh aroma mawar, sedikit terkejut dengan kedatangan mereka. Dia berdiri dan membalas sapaan mereka berlima.


"Em, apakah kalian kemari untuk minum teh?" Devina dengan polosnya, bertanya seperti itu kepada lima orang yang tidak menyukainya.


Gadis berbaret itu, menyentuh pipi kirinya sendiri sambil sedikit menelengkan kepalanya ke kiri. "Seperti yang Anda lihat. Tapi, kami berfikir sesuatu yang sedikit menyenangkan untuk di coba" Ucapnya sambil melihat ke kolam itu.


"Em, lalu?" Devina cukup gugup dengan kedatangan mereka yang tiba-tiba.


Gadis itu tiba-tiba memegang dan mengengam kedua telapak tangan Devina yang bersarung tangan combinasi ungu muda dan abu-abu muda. "Apakah benar, Anda menyukai air mancur itu?" Tanyanya.


"Eh? I..iya"


"Sudah kami duga. Kami bisa melihatnya dari kejauhan. Anda memandang air terjun itu tanpa berkedip. Apa Anda tidak penasaran bagaimana rasa air itu saat disentuh oleh kulit? Saya dengar, ini adalah air yang mengalir dari mata air danau Hutan Terlarang" Gadis itu membuat Devina mengetahui hal baru.


"Saya baru tau ini" Lirih Devina sambil melepaskan tangan gadis itu. Dia tidak terlalu menyukai kontak fisik dari orang lain meskipun dia sejenis. Kecuali, orang yang benar-benar dia percaya seperti Steve.


"Apa Anda tidak penasaran rasa air itu saat menyentuh kulit?" Tanya Gadis itu.


"Steve tidak memperbolehkanku untuk pergi lebih dekat dari meja ini" Jawab Devina sambil melihat ke arah awal Ruri menunggunya. Namun, dia tidak melihatnya karena Ruri telah berpindah tempat di dekat para gadis yang mengobrolkannya tadi.


"Ah, Archduke? Apa Anda memiliki hubungan yang sangat dekat dengannya sampai Anda menyebut namanya tanpa gelar?" Gadis yang lain bertanya kepada Devina sambil merangkul lengan kiri Devina.


Gadis yang lainnya merangkul lengan kanan Devina. Mereka mulai melancarkan aksinya saat taman itu mulai sepi.


"Ah, kami teman masa kecil. Dia melarangku untuk memanggilnya formal. Apa itu membuat kalian keberatan?" Devina di tuntun mendekati kolam yang lebar dan dalam itu.


"Tunggu, bukannya-"


"Pahamlah sedikit. Kau bukan Bangsa Iblis dan kami tidak menyukaimu" Gadis berbaret itu membisikkannya kepada Devina yang belum usai berbicara.


Devina terkejut. Dia kembali menoleh kebelakang untuk mencari Steve.


"Mohon maaf saja. Orang sepertimu yang tak bisa melihat kami, bagaimana caramu untuk menolong kami kalau kau menjadi pemimpin? DUGH!"


Mata biru langit Devina terbelalak dia melihat air berwarna biru itu tepat di depan wajahnya. Dirinya didorong oleh mereka dan "BYUUR!!!!" Dia tercebur di dalam kolam dalam itu.


Sekujur tubuh Devina merasakan dinginnya air itu yang terasa hingga ketulang-tulangnya. Tubuhnya terasa bertambah berat dan semakin tenggelam karena gaunnya.


Dia berusaha berenang ke atas. Namun, dia tidak bisa berenang. Cahaya di atasnya hanya terlihat semu. Dia mulai merasakan sesak di dadanya. Telinganya mulai berdengung dan kepalanya terasa seolah di tekan. Devina mulai kehabisan napasnya. Kedua tangan dan kakinya berusaha mengayuh ke atas.


Ruri melihat Devina yang semakin tenggelam di air. Dia mempercepat gayuhan tangan dan dorongan kakinya. "Gaun itu... Cukup berat untuk dibawa berenang sendiri" Ruri meraih tangan Devina yang di ulurkan padanya.


Mata biru Devina, menatapnya untuk pertama kalinya. Ruri cukup terkejut saat matanya berkontak dengan Devina. Cengkraman tangan Devina cukup terasa di telapak tangannya. Dia menarik tangan Devina kemudian membuka mulut Devina untuk memberikan napas padanya.


Devina masih menatapnya kemudian, dia merangkul pinggang Devina untuk membawanya ke atas.


"PHAH! COUGH!"


Ruri berhasil membawanya keluar dari air. Devina terbatuk berat setelah keluar. Ruri sudah tidak melihat seseorangpun di taman itu.


Dia mengangkat Devina untuk duduk di tepi kolam.


"Anda, baik-baik saja?" Ruri melihat wajah Devina yang sangat pucat. Devina menangis di depan Ruri.


"Steve, bisakah kau pura-pura kalau ini tidak pernah terjadi?" Devina tidak ingin Steve melaporkan kejadian ini kepada petinggi Aokuma yang lain.


"Mereka pantas di hukum. Saya bisa mencari mereka berlima dalam waktu 15 menit kalau Anda memerintahkan saya" Ucap Ruri sambil keluar dari air dan mengulurkan tangannya pada Devina.


Devina menerima uluran tangan itu. "Kumohon, jangan. Sebentar lagi akan terjadi perang. Kalau kau melaporkan ini, kondisi disini semakin ruyam. Berjanji ya?" Devina berusaha membujuk Ruri.


"Ya, lagipula... ini bukan urusanku" Batin Ruri sambil membawa Devina berjalan untuk mengambil jubahnya.


Dia mengenakan jubahnya pada kepala Devina. "Baiklah, kalau terulang lagi, saya pastikan kalau mereka tidak akan bisa lagi menggunakan tangan mereka lagi" Ucap Ruri sambil memalingkan wajahnya saat Devina menutup wajahnya sendiri dengan jubah itu.


"Mau ke tempat saya terlebih dahulu? Anda tidak ingin ketahuan pelayan yang berada di kamar Anda bukan?" Tanya Ruri.


"Maaf merepotkanmu" Ucap Devina di dalam jubah itu. Ruri memegang tangan Devina untuk berpindah ke kediaman Berly.


...----------------●●●----------------...


Ruri terdiam sejenak sambil melihat keluar jendelanya dia teringat dengan bagaimana ekspresi Devina saat di dalam air itu.


"Apa aku hanya salah melihat? Seharusnya, dia tidak melihat ke arah wajah dan mataku. Apa alurnya bercabang? Atau ini memang terjadi dan tidak tertulis?" Batin Ruri sambil melihat ke arah luar.


"CKLAK!" Pintu kamar mandinya terbuka. Dan Ruri melihat ke arah Devina yang keluar dari kamar mandinya yang telah mengenakan kemeja dan celana milik Steve.


"Itu agak panjang" Ucap Ruri saat melihat celana Steve yang digunakan oleh Devina yang kepanjangan. Dia juga memberikan handuk untuk mengeringkan rambut Devina.


"Steve, aku akan mengembalikan pakaian ini dalam bentuk yang baru" Devina menundukkan tubuhnya 90°.


"Tidak perlu. Anda bisa membuangnya atau berikan kepada orang lain saja. Saya akan mengambilkan makanan hangat untuk Anda. Tolong, tunggu disini sebentar" Ucap Ruri sambil keluar dari kamarnya.


Devina melihat bayangannya dari cermin di depannya. "Aku terlihat aneh" Ucap Devina sambil duduk di kursi didekatnya untuk melipat celananya yang panjang.


Namun, wajah Devina tiba-tiba memerah. Dia teringat saat di dalam air betapa memalukan dirinya yang mendapatkan napas bantuan di dalam air. "Maaf sudah berfikiran aneh, tapi terima kasih sudah membantu" Lirih Devina sambil menepuk kedua pipinya yang terasa panas.