
"BRUK!"
Arthur berlari menggunakan tubuh Tsuha dan terhantuk kayu sekat antar kamar di goa Razel.
Suara hantukkan itu terdengar cukup keras hingga membuat Angel yang tengah berbincang dengan Zack tentang Archie langsung melihat Tsuha (Arthur) mengosok kening dan hidungnya.
"Sial" Tentunya itu membuat Arthur malu karena kebiasaan dirinya yang selalu menembus apapun karena kondisi dirinya.
"Kau berfikir apa Tsuha? Sampai-sampai menghantam seperti itu?" Zack terkekeh karena Arthur.
"Maaf, aku hanya mengantuk" Arthur mempercepat jalannya tanpa melihat Angel dan dia langsung masuk ke dalam kamar Ambareesh.
Angel dan Zack saling melihat.
"Bukannya itu kamar Ambareesh?" Tanya Zack sambil menunjuk Tsuha.
"A.... Mungkin dia sedang bertengkar dengan Archie. Nanti aku akan mendatanginya. Lalu, bagaimana dengan kelanjutan rencana tentang Archiej?" Tanya Angel sambil kembali duduk.
Zack kembali duduk juga. Dia berdehem kemudian menunjukkan ilustrasi berikutnya.
"Selanjutnya, Archie akan tetap berdekatan dengan Ambareesh. Dan kita akan memisahkan diri setelah kita membantu Ambareesh menuju Meganstria, kemudian...." Zack melanjutkan pembicaraannya dengan Angel.
Arthur masuk ke dalam kamar Ambareesh yang sekamar dengan Luxe. Disana, ada Luxe yang sedang bercerita panjang kepada Ambareesh.
"GUR! Eh! Kak!" Arthur mengosok tengkuknya saat Luxe tiba-tiba melihat ke arahnya.
Awalnya Ambareesh tidak menyadarinya. Begitupula dengan Luxe. Arthur cengegesan dengan wajah Tsuha kemudian berjalan ke arah Ambareesh untuk berbisik.
"Guru tolong aku. Bagaimana cara keluar dari tubuh ini" Bisik Arthur dengan lirih.
Mendengar itu, Ambareesh terkejut mengetahui tubuh Tsuha bisa dirasuki oleh Arthur. Ambareesh melihat wajah Tsuha dengan seksama.
"Kau memang Arthur" Batin Ambareesh sambil melihat Luxe.
"Luxe, keluarlah sebentar"
Itulah Ambareesh, dia mengatakan apapun tanpa kata minta tolong, permisi, maaf, ataupun yang lainnya.
"Tsk! Selalu saja menganggu" Celoteh Luxe sambil keluar dari kamarnya.
Arthur langsung mengambil napas dan bercerita dengan cepat tentang apa yang terjadi dengannya.
"...Nah, jadi.... Aku tidak tau caranya keluar dari sini. Aku takut Tsuha terbangun dan dia akan tau kalau aku ternyata masih hidup tanpa tubuh. Haha, aku sudah bisa membayangkan reaksinya dan dia pasti berfikir aku adalah Iblis seperti Archie. Sialan...." Arthur lanjut bercerita dan dia mengigit kuku jari Tsuha sangking paniknya.
Ambareesh menghela ringan. "Dasar" Dia mulai memegang kepala Tsuha.
"Eh? Apa yang guru lakukan?" Tanya Arthur sambil melihat Ambareesh yang selalu berekspresi yang sama dengannya.
"Ini akan sakit, tapi hanya sebentar"/"NYUUUT!" Disaat yang bersamaan dengan jawaban Ambareesh, Arthur merasakan ubun-ubunnya seolah tertarik.
"AKH!" Sekujur tubuh Tsuha yang digunakan oleh Arthur seolah seperti tersayat hingga menembus ke tulang tulangnya.
Arthur mencengkram jubah yang Tsuha kenakan dengan erat.
"SYUUUUT!!!! BRUAKKKK!!!! BRUK!" Jiwa Arthur terlempar keluar dengan paksa dan kasar. Hingga, Jiwa Arthur melesat ke tembok dan jatuh di lantai tanah. Tubuh Tsuha jatuh di dada Ambareesh.
Ambareesh menyadari sesuatu tentang jiwa Arthur. Harusnya, jiwa Arthur tidak terpental seperti itu apabila menghantam benda. Harusnya, jiwa Arthur tembus dan Ambareesh menariknya dengan kasar sebab, mengira jiwa itu akan menembus batu.
Ambareesh kembali melihat kondisi Tsuha yang tak sadarkan diri. Ini karena mana Tsuha terkuras habis dan dia harus mewaspadai Arthur yang ternyata, meski tanpa tubuh, Jiwa Arthur masih menyerap mana orang disekitarnya.
"Bukankah, kau bisa mendapatkan tubuhmu kembali tanpa bantuan seseorang?" Ucapan ini terceletus secara spontan oleh Ambareesh sambil meletakkan Tsuha di alas tidurnya.
Arthur merasakan sakit yang luar bisa di sekujur jiwanya meski dia tidak memiliki tubuh. Arthur mengerang ringan dan berhenti sejenak karena tidak terlalu mendengarkan ucapan Ambareesh barusan.
Ambareesh melirik tipis dan mengeleng. "Bukan apa-apa. Lupakan saja" Ambareesh sendiri terkejut dengan lirihan spontannya.
Sejenak Ambareesh berfikir tentang bagaimana cara dia untuk mengurangi efek penyerapan mana yang selalu dilakukan Arthur tanpa sadar ini.
Lagi-lagi disisi lain jauh dari perbatasan Nekoma dengan Akaiakuma.....
"TRAAAANGGGGGGG!!!!"
Percikan api yang tercipta antar pedang besi yang saling berbenturan menciptakan percikan yang elok di malam yang gelap.
Daeva membuang napasnya dengan ringan dan mengatur kuda-kudanya saat bersiap untuk menyerang Iblis lain yang mengelilinginya karena beranggapan Daeva adalah sosok Titisan Kehancuran yang akan membawa bencana bagi Arden.
"PHHHSSSSS" Pedang besi itu, perlahan terlihat merah saat Daeva mengalirinya dengan mana miliknya.
Iblis-iblis itu adalah Prajurit Aokuma yang berjalan dibawah wewenang fisik yang diwujudkan (Copy) oleh Ruri.
Daeva bertindak demikian dan memilih tidak mendengar ucapan Malaikat Agung bernama Charael itu karena buku yang ada di Ruri adalah buku penting untuk para Titisan dan Aosora Arthur.
"BATTTSHHHH! TRASHHH!!!!"
Daeva mulai menebaskan pedang besinya yang telah bercampur dengan mana 360° saat Prajurit Iblis Aokuma maju kearahnya bersamaan.
Pedang Daeva begitu terawat dan tajam.
Tebasan Daeva membuat tubuh Iblis-iblis itu terbelah menjadi dua dan ada beberapa yang hanya mengalami goresan dalam karena jangkauan mana Daeva yang terbatas akibat kapasitas penampungan pedang besinya terhadap mana Daeva.
Suara teriakan yang memilukan terdengar bersamaan dengan sipratan darah memenuhi wajah dan rambut Daeva yang putih hingga membuatnya menjadi merah.
Daeva mengusap mata kirinya yang tersiprat darah itu. Di saat yang sama, dia merasakaan betapa menyakitkannya pergelangan tangan kirinya setelah membunuh Iblis-iblis itu.
Tanda Titisan Daeva yang hitam, kembali melahap dirinya secara perlahan.
"Sial" Daeva mengerti apabila Ruri melakukan hal ini hanya untuk membuat Daeva semakin merasakan kesakitan akibat membunuh jiwa-jiwa yang harusnya tidak bersalah.
Namun, di posisi Daeva, Mereka (Iblis-iblis) itu tidak akan bisa di ajak bernegosiasi untuk menghindari pertarungan dan ini adalah kunci teraman Daeva untuk menghindari penghianatan.
"PFFT! Haha, nyatanya Daeva tetaplah Daeva dan dia tetaplah Titisan yang memegang rekor pembunuh bangsanya sendiri terbanyak selama ini" Ruri menikmati mandi air hangatnya dengan lilin aroma terapi di sebelahnya.
Ruri mengunakan tubuh seorang laki-laki berusia 21 tahun, yang merupakan teman seperguruan dengan Putri Aokuma saat ini. Meski pada dasarnya mereka ada teman seperguruan saat akademi Bangsawan Khusus Pengetahuan Umum, usia mereka berjarak empat tahun.
Nama pemilik tubuh itu adalah Loernarf Steve. Steve adalah seorang Duke dari Kerajaan Aviv dan telah melamar Putri Mahkota Aokuma, Ourel Devina, sejak insiden gagalnya praktikum sihir perlindungan Aokuma, empat tahun yang lalu.
Ourel Devina menerima lamaran itu, demi melindungi Aokuma dari Akaiakuma yang mulai bergerak untuk mengambil wilayah Aokuma setelah terjadi kekosongan selama 7 bulan.
"Hmmm, bagaimana kalau kau kuberi sedikit hadiah kecil karena Charael telah bertemu denganmu?" Ruri mulai mengaktifkan sihirnya yang telah diletakkan kepada setiap Iblis yang disiapkan untuk menyerang Daeva.
Lingkarang sihir mulai keluar dari setiap tubuh yang telah menyentuh serangan Daeva.
Mata Daeva terbelalak saat cahaya yang terang itu mulai bermunculan mengelilingi dirinya.
Lingkaran sihir itu, sama seperti dengan lingkaran sihir yang Ruri gambarkan di air. Gambar lingkaran sihir di air tersebut telihat begitu jelas.
Ruri menyeringai dengan lebar.
"Meledak" Dia memutarkan jarinya searah jarum jam dan,.... "PATTSSSSH!!!!!!" Mata Daeva terbelalak saat lingkaran sihir yang mengelilinginya itu mengeluarkan cahaya putih dan menyilaukan.
"BEMMMMMM!!" Suara dentuman terdengar ringan hingga telinga Elf Alder bergerak. Alder segera melihat ke luar jendela Guild Pemberantas Iblis.
Cahaya itu, sampai hingga ke pandangan Alder yang berada di Shinrin.
"TEP! CTASSSSHHH!" Alder segera melompat ke jendela dan dia melesat begitu cepat hingga membuat daun-daun pepohonan berguguran.