
Arthur mengenakan celana abu-abu yang ada di lemari pelayan. Dia akan sangat malu kalau bertemu dengan Archie lagi dengan kondisi seperti itu. Namun, hal yang lebih memalukan telah terjadi di hadapan Arthur.
Dia tidak sadar apabila di ruang ganti pelayan itu ada Shera dan Razel yang tengah berbicara berdua.
Arthur menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ehm, kami tidak melihat apapun" Ucap Razel sambil mengusap wajahnya dan di angguki oleh Shera. Arthur sungguh membuang wajahnya karena merasakan malu hingga ke tulang-tulangnya.
...----------------●●●----------------...
Di tempat lain, Daeva kembali bertemu dengan Ruri setelah kontrak itu.
"Saat ini, Aosora Arthur sudah mendapatkan tubuh salinannya. Dan jangan sampai, rencana Charael berjalan sesuai apa yang dia harapkan" Ucap Ruri dengan fisik Nao sambil mengetuk-ngetuk meja hitam di dimensi buatannya.
Daeva memutar-mutar pisau pengiris apel di atas meja sambil mengkernyitkan keningnya. "Aku sungguh merasa telah kau tipu" Ucap Daeva sambil menghentikan putaran pisau apel itu yang lancipnya menunjuk Ruri.
"Ha? Haha~" Ruri terkekeh sambil melihat Daeva.
"Bagaimana bisa?" Tanya Ruri sambil mengusap air matanya di garis mata kirinya.
"Kau tidak mengatakan sesuatu tentang musuh yang sebenarnya. Dan aku saat ini, berusaha mempercayaimu. Jangan membuat kepercayaan yang ku bangun ini, hilang karena kau terledor atas ucapanmu" Jawab Daeva dengan lugas kepada Ruri.
Ruri menghela napas panjang. Dia tak ada niat untuk melupakan ucapannya saat kontrak itu.
"Itu semua, karena waktu yang kurang cocok untuk membahasnya. Mengenai musuh yang sebenarnya, dia bukanlah orang yang jauh dengan Aosora Arthur. Sosok itu memiliki sebagian sihir yang dimiliki oleh Aosora Arthur di kehidupan sebelumnya. Kau tau dengan calon Raja itu" Ucap Ruri sambil mendonggakkan kepalanya ke langit ruangan dimensi itu yang merah.
Pikir Daeva awalnya sosok yang dimaksud adalah Archie, namun semua terbantahkan setelah Daeva mendengarkan kalimat Ruri yang berikutnya.
".... Mungkin sekarang dia masih belum membangkitkan sihir gelap yang akan mengubah langit Arden menjadi merah. Mungkin, saat ini dia adalah bocah yang cukup penurut, mungkin saat ini, dia memiliki pandangan yang cukup bagi tentang dirinya, mungkin saat ini,...." Tiba-tiba Ruri menyeringai dengan lebar.
"... Dia mendengar banyak fakta yang mulai membuatnya kehilangan kepercayaan terhadap Aosora Arthur, bahkan Titisan. Kau ingin tau siapa sosok itu?" Tanya Ruri sambil membelakangkan poni rambutnya yang hitam pekat dan menunjukkan kedua iris matanya.
Daeva melihat iris mata kanan Ruri yang pupilnya memiliki tanda bintang yang berputar perlahan berlawanan dengan arah jarum jam.
"Siapa dia?" Tanya Daeva dengan hati-hati.
Kedua mata Ruri menyipit. "Dia adalah ***"
Daeva membelalakan matanya dan menelan ludahnya secara bersamaan. "Itu tidak mungkin! Kau pasti membual karena kau pernah memiliki hubungan dengan dia. Apa ini caramu untuk menghasutku agar membunuhnya untuk menghilangkan jejakmu?" Tanya Daeva sambil memukul meja hitam penuh sihir itu.
"Ha~Ha~" Ruri kembali tertawa.
"Kau tak akan bisa membunuhnya sebelum kebangkitannya terjadi. Saat dia terbangkit untuk pertama kalinya, itu adalah kesempatan bagi Kalian para Titisan untuk mengalahkannya tanpa Aosora Arthur. Namun, apabila kalian terlambat, dia akan menjadi perantara untuk kebangkitan sosok Aosora Arthur yang sebenarnya. Dimana, keangkuhan dan kebencian adalah sifat aslinya. Yang tentunya, Aosora Arthur tidak akan berpihak pada Kalian. Ah~ tidak sabarnya melihat drama saat kalian harus di bangkitkan untuk kehidupan selanjutnya karena tugas~" Jelas Ruri sambil menyindir Daeva.
"Bajingan! Seberapa banyak masa depan yang kau lihat?"
"Tentunya lebih banyak dan lebih konkret dari Alder. Karena, aku adalah orang yang lebih spesial dari Aosora Arthur itu sendiri" Jawab Ruri dengan mulutnya yang ringan.
Daeva mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
"Lalu, apa yang harus ku lakukan untuk saat ini?" Tanya Daeva.
Ruri berpikir sejenak sambil mengetukkan jari telunjuk kanannya pada meja itu.
"Memisahkan Aosora Arthur dari jangkauan dia sebelum kebangkitannya. Jadi, Aosora Arthur harus bisa menguasai beberapa teknik sihir yang kumiliki. Tentunya, menyerap manaku agar dia bisa membangkitkan skill tanpa batasnya. Meski begitu, ini tetap akan sulit karena Aosora Arthur memandangku sebagai sosok yang berbahaya. Haruskah, kau yang membawanya keluar dari Arden?" Tanya Ruri sambil melihat ke arah Daeva.
Daeva mengeleng. "Karena ulahmu, aku tidak di percaya oleh para Titisan. Dan jangan membuatku masuk ke dalam lubang yang sama lagi. Meski begitu, aku akan membuat jembatan untukmu. Intinya, aku akan menyiapkan skenario untuk dramamu" Ucap Daeva sambil menyeringai tipis ke pada Ruri.
Ruri membalas seringai itu.
...----------------●●●----------------...
Tsuha hampir tidak percaya kalau sosok di hadapannya ini adalah Aosora Arthur. Dia sangat ingat dengan wajah orang yang membuat Luxe kualahan itu.
"Kau mirip sekali dengan Raja Aosora pertama yang ada di lukisan besar itu" Lirih Tsuha sambil mengkatupkan bibirnya dengan tangan kirinya.
"Akan ku anggap itu sebagai pujian. Tapi, kau sangat menyebalkan! Sialan!!!!" Arthur menguncang tubuh Tsuha yang hampir sepantaran dengan dirinya.
"Apa-apaan dengan rambut biru gelap itu? Kau tidak terlihat seperti Alex kecuali dengan bentuk garis mata dan warna iris ice blue mu itu" Ucap Archie sambil menahan kepala Arthur dan menekannya.
"Hah! Pukulan apa itu? Apakah tanganmu kini seempuk permen kapas, Bo..cah~?" Ejek Archie kepada Arthur.
"Sialan! Kau mirip sekali dengan Ayahmu. Betapa menjengkelkannya saat melihat wajah itu" Balas Arthur sambil menyeringai lebar.
"Hah!? Apa kau mau mati sekarang?" Tany Archie sambil menarik hoodie biru yang dikenakan Arthur.
"Kalau kau memukulku, kau akan berurusan dengan 5 Titisan~" Ucap Arthur dengan bangga sambil menahan lengan Archie.
"Sialan, kau bahkan terlihat seperti Iblis daripada aku. Aku sangat meragukan kalau kau itu keturunan Alex yang tidak sah" Arthur dan Archie terus saling menyindir tanpa henti.
Disaat itu, Tsuha merasa sendiri meski disana telah dikumpuli oleh para mantan Anggota Pemberantas Iblis.
"Kenapa?"
Mungkin, Tsuha sedang dalam masa peralihan menuju Dewasa. Dia memandang semua orang yang tengah tertawa bersama disana karena kembalinya Aosora Arthur setelah penjelasan Alder. Dia tetap merasa sendiri. Kehadiran Angel, tak lagi membuatnya bersemangat seperti biasanya. Meski begitu, Angel tetap memberikan pelukan hangat kepada Tsuha.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Angel saat memeluk Tsuha perlahan dari belakang setelah Tsuha meninggalkan tempat ramai itu.
Tsuha tersenyum tipis. "Apa aku terlihat seperti otang yang tengah memikirkan sesuatu, Kak?" Tanya Tsuha sambil melihat Angel yang menolehnya.
Angel melepaskan pelukan itu dan dia berjalan di sebelah Tsuha. "Kau terlihat seperti ini, saat berpikir" Angel menunjuk keningnya yang berkerut untuk menunjukkan mimik muka Tsuha saat ini meski memiliki wajah yang tenang.
Kedua alis Tsuha terangkat ke atas. "Benarkah? Haha, seburuk itukah?" Tanya Tsuha sambil mengusap kepala Angel.
"Ya, itu lah kau~ Oleh karena itu, kalau ada apa-apa katakanlah padaku. Aku akan membantumu sebisaku" Ucap Angel sambil menepuk pantat Tsuha.
"Siap, Kak" Jawab Tsuha sambil mengosok tengkuknya.
"Jadi, apa yang terjadi denganmu?" Tanya Angel sambil memeluk lengan Tsuha dengan erat di dadanya.
Tsuha menempelkan pipi kanannya pada ubun-ubun Angel yang lebih rendah darinya. "Tidak ada masalah serius. Hanya kurang tidur dan sering bermimpi buruk saja" Jawab Tsuha.
Tsuha tidak bisa berkata jujur kepada Angel, sebab ini adalah masalah keluarganya sendiri.
"Bermimpi buruk? Tentang apa?"
"Entahlah, aku bahkan tidak bisa mengatakannya dengan benar. Maaf sudah membuat Kakak khawatir" Jawab Tsuha sambil kembali berdiri dengan tegak.
Tsuha mengikuti kemanapun Angel membawa pergi. Hingga Angel membawa Tsuha pergi ke tempat yang hanya ada mereka berdua berada.
Dia mendudukkan Tsuha di sebuah kursi dari es disana. Dia memeluk Tsuha dengan hangat dan dalam. Angel sangat menyayangi Tsuha melebihi apapun.
"Tsuha, selagi aku masih ada di sekitarmu, jangan malu untuk bercerita kepadaku. Aku sangat mempercayaimu, ku harap kau juga mempercayaiku sebagai bukti keterbukanya dirimu terhadapku" Angel memegang wajah Tsuha yang melihat ke arahnya.
Dia menempelkan keningnya pada kening Tsuha. "Tsuha, aku sangat menyayangimu. Jangan membuatmu membawa bebanmu sendirian. Aku tidak akan meninggalkanmu"
Air mata Tsuha menetes begitu saja karena ucapan Angel.
Dia memeluk Angel begitu erat hingga membuat Angel sesak dan kualahan.
"Aku juga menyayangimu seperti meyayangi diriku sendiri. Tolong, jangan tinggalkan aku sendirian" Ucap Tsuha membuat Angel terenyuh seketika.
"Aku berjanji"
Benarkah? Apakah semua ucapanmu bisa dipegang?
...----------------●●●----------------...
HALAMAN BONUS!
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN UNTUK INDONESIA YANG KE-78!