The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 5 [Elf Tanpa Marga-1]



Artl Kyzen diceritakan telah bertemu dengan pemuda Elf yang bernama Ryan tanpa marga. Siapa sebenarnya Ryan itu? Mengapa sosok Tiran yang dingin dan kejam itu mencarinya?


6.058 tahun yang lalu jauh dari kelahiran para Titisan, lahirlah seorang Elf hijau dari pasangan Elf yang tinggal di desa yang tandus dan jauh dari kata subur.


Hewan-hewan mitologi dan hewan sihir yang kurus tak terawat karena rumah mereka yang kering adalah dampak dari Penguasa Arden yang tamak dan haus akan harta.


Tak sedikit makhluk mitologi yang dijaga oleh Elf mati hingga mendapatkan ancaman kepunahan mereka.


Bayi Elf itu, dibuang oleh orang tua mereka saat mengijak usia 6 tahun di sebuah hutan yang penuh dengan sihir dan makhluk mitologi yang memiliki rasa keibuan yang tinggi.


Bayi Elf itu, ditemukan oleh Khimaira. Makhluk mitologi hybrid antara ular, kambing dan singa. Khimaira itu, baru saja kehilangan anaknnya yang bunuh oleh pemburu.


Bayi Elf itu, tumbuh dengan baik di tangan makhluk mitologi itu. Elf itu, mengklaim suara yang mirip dengan penyebutan Ryan yang dihasilkan oleh Khimaira itu adalah namanya.


Secara perlahan, Ryan yang ditemukan oleh manusia saat usianya mengijak 7 tahun.


Ryan tumbuh menjadi pemuda yang ramah dan penyayang terhadap sekitarnya.


Rasa kekecewaan yang teramat tinggi, dirasakan oleh Ryan saat dirinya mengijak usia 13 tahun. Dia melihat Ayah angkatnya yang membunuh Khimaira yang Ryan anggap seperti keluarganya sendiri.


Kemudian, Ayah angkat Ryan mati di usia Ryan yang mengijak 16 tahun karena dibunuh oleh prajurit Kerajaan Kyzen itu.


Lubang kesedihan di hati Ryan semakin membesar saat dirinya menjadi gelandangan yang di tolak dimanapun. Ryan kembali ke hutan. Dia tinggal dengan makhluk mitologi yang diambang kepunahan karena kekeringan mulai memasuki hutan sihir.


Ryan bukanlah sosok yang hebat dalam bidang sihir. Meski begitu, Ryan memiliki minat yang tinggi untuk belajar sihir. Ryan mulai mempelajari sihir dan racun dari makhluk mitologi yang bisa berbicara menggunakan bahasa manusia.


Ketandusan semakin parah saat usia Ryan mengijak 17 tahun. Mayat yang mulai membusuk dan bergelimpangan di jalan, mulai dimakan oleh gagak liar.


Kabar tentang pembantaian keluarga kekaisaran dan petinggi lainnya di Kerajaan Kyzen hingga di keturunannya membuat Ryan cukup terkejut karena pembantaian itu dilakukan oleh Putra Mahkota yang baru pulang dari Negri Fall yang selalu bersalju.


Bisik-bisik burung mengatakan "Putra Mahkota itu, diberkahi mana yang melimpah. Sosok seperti itu, mampu menurunkan hujan selama sebulan." Awalnya Ryan mengabaikannya karena menurutnya itu adalah hal yang mustahil.


Suatu ketika, air-air di hutan sihir penuh mana itu, mulai kering. Makhluk mitologi di hutan itu, mulai berebutan air untuk minum. Ryan menundukkan padangannya.


Dia memiliki keinginan untuk meminta bantuan Putra Mahkota yang dua tahun ini telah menduduki kursi Kekaisaran.


Namun, lagi-lagi rumor membuat Ryan berfikir dengan banyak pertimbangan. Hingga Makhluk mitologi di hutan itu, jatuh sakit dan tak ada satupun dari mereka yang bersiul seperti hari umumnya.


Ryan membulatkan tekadnya untuk bertemu dengan Tiran itu.


Sungguh dihadapan Tiran itu, jantung Ryan berdebar begitu kencang. Dia merasakan takut yang begitu besar dan rasa sesak di dadanya karena aura penuh mana yang mengitimidasinya berasal dari Artl Kyzen.


Pedang mana berwarna ungu terang ditunjukkan oleh Tiran itu pada leher Ryan saat dirinya memberikan salam tanda rendah hatinya.


ARTL KYZEN ADALAH NAMA TIRAN ITU.


Jantung Ryan seolah ingin melompat keluar. Dirinya mulai pusing dengan aroma mana Artl Kyzen yang pekat dan memakan mana miliknya.


Ryan menahan kakinya yang tiba-tiba lemas.


Mata Artl Kyzen yang beriris ungu karena perubahan mananya, membuat Ryan semakin ragu dengan tekadnya. Disisi lain, Ryan sangat menyayangi makhluk mitologi di hutan sihir itu yang selalu merawatnya.


Ryan berusaha membuka suaranya yang sulit keluar karena kegugupannya. "Saya Ryan, sungguh sebuah kehormatan bagi saya karena bisa bertemu dengan Matahari Arden" Ryan mengulangi salamnya.


Artl Kyzen mengetahui apabila Elf dihadapannya memiliki sesuatu lain yang ingin diminta. Artl Kyzen, ingin mempermainkan Elf itu. Karena, dia merasakan betapa lemahnya aura dan mana Elf itu.


"Apa tujuanmu?"


Kedua iris Kyzen berubah berwarna Ice blue. Dia menatap mata Elf dihadapannya yang berbulu mata lentik itu.


Betapa tak sopannya Ryan, meminta hal itu tanpa berbasa basi. Inilah yang dipikirkan oleh Artl. Artl menggangap Ryan telah lancang karena terkesan memerintahnya.


Padahal bagi Artl Kyzen, Ryan tidak lebih dari hewan yang datang untuk meminta air padanya.


"Apa yang akan kau bayar untuknya?"


Ryan mengetahui segala sesuatu di dunia ini pastinya ada timbal dan balik. Apa yang diberikan seseorang, tentunya dia yang mendapatkan bantuan harus memberikan sesuatu sebagai balas budinya.


Ryan tidak memiliki harta. Dia juga, lemah dalam sihir. Tentunya, dia yakin kalau Artl Kyzen menganggapnya tak lebih dari hewan.


Ryan berusaha membuang pikiran buruknya itu. "Meski dia menganggapku hewan, aku yakin tak akan ada yang bisa menandingi kesetiaan hewan yang telah di tolong untuk membalas budinya" Optimis Ryan.


Ryan mulai mengangkat pandangannya sambil menghirup napas dalam-dalam. Mata Artl Kyzen yang berisir ice blue, membuat Ryan merasa tertarik dengan warna dingin itu.


Mata itu, seolah berbicara tak ada siapapun yang bisa dia percayai dan mari jadikan dia sebagai mainan.


Ryan dapat membacanya melalui kontak mata. Dia tiba-tiba merasa iba terhadap dirinya sendiri.


"Saya bersumpah akan menjadi pengikut setia Anda, Tuan!" Tegas Ryan dengan keras.


Artl Kyzen cukup terkejut dengan ucapan Elf itu. Dia mengangkat kedua alisnya. "PFFFT!" Ucapan Ryan terdengar seperti lelucon di telinga Artl.


Ryan tidak tau darimana letak lucu dari ucapannya.


"Kesetiaan? Aku tidak membutuhkan satu pengikutpun untuk di kehidupanku. Menyingkirilah! Biarkan wilayah itu menjadi kering dan mati" Artl Kyzen menghilangkan pedang mananya dan melengos pergi meninggalkan Ryan.


Jantung Ryan berdebar lebih kencang. Dia tidak ingin kehilangan satu-satunya tempat yang menerimanya. Kuku jari telunjuk Ryan mulai mengelupasi pinggiran kulit kuku ibu jarinya.


"Saya! Akan mempersembahkan semua yang saya miliki untuk Anda, Tuan!" Ryan menjatuhkan lututnya karena begitu lemas. Dia menyatukan kedua tangannya dan membentuk kepalan untuk memohon belas kasih dari sosok Artl Kyzen.


Itu terdengar cukup menarik di telinga Artl. Dia berbalik dan melihat Ryan. Iris ice blue Artl bertemu dengan iris hijau Zamrud Ryan.


"Ulangi apa yang kau katakan" Ucap Artl sambil melipat kedua lengannya di depan dadanya.


""Saya! Akan mempersembahkan semua yang saya miliki untuk Anda, Tuan!" Ucap kembali Ryan.


Artl semakin ingin menjadikan Ryan sebagai mainannya. "Apa yang kau miliki?".


Pikir Ryan ini akan menjadi cahaya peluang untuknya. Dia menunjukkan senyumannya yang lebar. "Kehormatan,..."


Mendengar kata itu Artl membuka matanya lebar-lebar. Dia hampir tak mempercayai bagaimana seorang Pria akan memberikan kehormatan untuk Pria lainnya.


"Kepercayaan, kesetiaan, dan pengorbanan. Empat hal tersebut adalah segalanya yang akan saya persembahkan untuk Anda apabila Anda memberikan sediki sihir Anda untuk wilayah yang saya katakan" Dengan percaya diri, Ryan mengatakannya.


Raut wajah Artl mendadak menjadi dingin. Dia ingin menguji pemuda Elf itu.


"Siapa namamu?"


"Ryan, saya tidak memiliki marga" Jawabnya.


Artl tiba-tiba mengulurkan tangan kanannya dan mengularkan botol kecil berwarna pekat. "Minum ini. Buktikan pengorbanan yang akan kau berikan padaku"


Itu adalah racun dari darah salah satu makhluk mitologi ras Alamander.


Ryan membuka matanya dengan lebar saat mengetahui kalau botol itu berisi racun.


Apa yang akan dilakukan Ryan?