The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 4 [DI LEMA]



Daeva keluar dari ruangan kamar yang dia masuki. Dia melihat Alder yang tengah memijat keningnya dan meminum gelas di depannya.


"Bagaimana rencanamu? Apakah lancar? Haha" Daeva bertanya dengan tawa yang mengejek.


Semuanya berjalan tidak semulus yang Alder rencanakan.


"Haha, begitulah. Daeva aku butuh bantuanmu untuk mengiring Lingga kemari. Kita akan mengambil buku itu bersamaan. Sebelum bulan purnama, semuanya harus berkumpul. Termasuk Aosora Arthur" Ucap Alder sambil meletakkan buku novelnya di meja.


"Hah... Kau menyuruhku mengiring Lingga? Kau ingin Akaiakuma hancur karena dia? Kenapa tidak kau saja yang menemuinya? Hanya suaramu yang bisa mengumpulkan para Titisan" Ucap Daeva sambil tiduran di sofa panjang Alder yang awalnya diduduki oleh Ranu.


"Lagi pula, Bulan Purnama akan terjadi tiga bulan lagi. Yang artinya, buku itu harus di tangan para Titisan sebelum 3 bulan itu. Kenapa ribet sekali?" Daeva bergumam tidak jelas.


Alder masih harus di Shinrin karena Baal semakin mengila dan berniat memperluas Shinrin dengan menebang pohon di Perbatasan Hutan terlarang sepanjang Shinrin.


"Tidak bisa. Kalau aku pergi lebih dari sehari, Baal bisa menghancurkan hutan Terlarang dengan membabi buta. Kalau Kau yang menangani Baal, dia akan mengiramu adalah Archie. Itu dapat memicu masalah baru bagi Akaiakuma" Jelas Alder.


Daeva mendecih dan menoleh Alder. "Lagi-lagi alasan Aku dan Archie yang memiliki ciri sama. Jelas-jelas, Archie itu memiliki tanduk"


"Tapi, tak ada satupun orang yang mengakuimu sebagai Titisan Iblis. Mereka hanya mengaku Frederick Lingga daripada Daeva Nerezza" Jelas Alder.


Iris merah Daeva menatap langit-langit rumah Alder yang dingin. "Ribet. Kalau begitu, aku akan membunuh Agleer tanpa di ketahui siapapun. Diantara para Titisan, hanya aku dan Arthur yang bisa membunuh orang" Daeva mencengkram pergelangan tangan kanannya.


Alder memperhatikan tangan Daeva. "Kau sama seperti merusak dirimu sendiri. Diantara semua Titisan, tidak ada yang diperbolehkan membunuh orang yang tidak bersalah. Ya, orang yang bisa keluar masuk di Akaiakuma saat ini, hanya kau saja. Perlukah kau mengecat rambutmu?" Tanya Alder.


"Itu tidak akan mudah. Aku tidak memiliki tanduk. Akaiakuma, menjadi sangat ketat saat De luce Arnold kembali. Dan aku tidak seperti Ambareesh yang mampu memunculkan tanduknya untuk menyimpan kelebihan sihirnya"


Daeva hanya beralasan agar dia tidak di beri tugas untuk menjemput Lingga.


"Bukankah kau memiliki wanita yang berkerja sama dengan Akaiakuma?" Tanya Alder.


"Siapa? Tukang pijat itu?" Tanya Daeva sambil duduk dari tidurnya.


"Ya"


"Yang benar saja. Dia wanita yang menakutkan" Daeva tidak percaya kalau Alder mengetahuinya.


"Hubungi dia dan minta bantuannya untuk memasukkan mu ke dalam Akaiakuma" Jelas Alder.


"ARG! Aku sudah tidak ingin berhubungan dengan dia lagi. Cih! Aku akan ke Akaiakuma tanpa bantuannya. Kalau sampai Lingga mengamuk hingga membuat Akaiakuma terbelah menjadi dua, itu resikomu" Ancam Daeva sambil menunjuk Alder yang meringis kepadanya.


"Giring saja hingga masuk ke dalam Hutan Terlarang, aku akan datang setelah merasakan auranya" Jelas Alder.


Pada akhirnya, Daeva mulai memasukki Akaiakuma dengan sembuyi-sembunyi untuk mencari Lingga.


"Demi merebutkan Aosora Arthur" Itulah ucapan Daeva untuk memicu semangat dirinya.


...----------------●●●----------------...


Luxe telah membawa Ambareesh dan yang lain menuju tempat Bianca berada.


Mata Arthur terbelalak saat dia melihat alas yang dia injak adalah es. Dia melihat ke arah luar. Mereka jauh dari daratan. Itu adalah istana Bianca. Istana yang tercipta dari sihir es Siluman Rubah putih.


Bianca sudah menunggu kedatangan Ambareesh.


Dia membuka pintu Istana esnya.


Rambut hitam Bianca, perlahan berubah memutih setelah melihat Ambareesh jauh di hadapannya.


Dia berjalan dengan anggun. Gaun modifikasi antara putih dan biru ice semakin membuat Bianca bersinar. Dia berdiri di hadapan Ambareesh.


"Kenapa kau kemari?" Dia mendongakkan kepalanya untuk melihat Ambareesh yang memiliki tinggi 188 cm.


Ranu yang berada di sebelah Ambareesh membelalakan matanya seolah dirinya tidak percaya melihat sosok yang mirip dengan Putrinya di kehidupan dia dahulu ada di hadapannya.


"Huh!? Kau mengabaiku?" Bianca mengkernyitkan keningnya saat melihat punggung Ambareesh melewatinya.


Angel berdiri di hadapan Bianca dengan melipat ke dua lengannya di depan dada. "Oh, kita bertemu lagi. Jauhi Tsuha dan jangan sentuh dia" Angel geram dengan Bianca. Dari pandangannya, Bianca itu seolah mengincar Tsuha.


Bianca tertawa dengan menutup mulutnya menggunakan kipas di tangannya. "Kalau tidak ada aku, bocah itu sudah mati" Bianca mengibaskan rambutnya yang berubah menjadi hitam dan menyusul Ambareesh.


Ranu masih termangun di tempat saat para pasukan Pemberantas Iblis mengikuti Bianca untuk masuk ke dalam istana es itu.


Hati Ranu terasa pilu. Namun, dia merasa senang karena Alder tidak hanya berbicara omong kosong. Dia merasa bersyukur karena Ambareesh dan Bianca memiliki hubungan yang dekat.


Namun, rasa syukur Ranu terhadap Ambareesh menjadi rasa jengkel yang luar biasa.


Ambareesh malah mendekati Angel. Sebenarnya, Ambareesh melakukan itu, sebagai tanda rasa penasarannya terhadap Bianca. Ambareesh hanya terlihat banyak bersama Angel karena dia meminta tolong kepada Angel untuk menelusuri apa yang sebernarnya terjadi dengan Bianca. Mengapa dia melakukan hal itu terhadap dirinya hingga berani menculik Tsuha.


"Serius?" Angel mengangkat alis kanannya karena dia terkejut dengan Ambareesh yang ternyata tidak memiliki kepekaan terhadap orang disekitarnya.


"Tsk! Padahal, kau selalu terlihat waspada dan mudah menemukan musuh. Tapi, apa ini? Kau kalah dengan perempuan?" Angel tidak percaya dengan itu. Dia geleng-geleng di depan Ambareesh.


Sebenarnya, Ambareesh sudah meminta bantuan kepada Arthur. Namun, Arthur seperti orang konyol saat berbicara tentang perempuan.


"Ya, mau bagaimana lagi? Bianca itu sebenarnya baik. Apa aku ada salah dengannya. Sampai membuat dia benci kepadaku dan Tsuha jadi terkena imbasnya" Angel hanya mengaruk tengkuknya karena mendengar penjelasan Ambareesh.


Angel berdehem. Dia bingung bagaimana menjelaskan kepada Ambareesh dengan bahasa yang halus.


"Ajak dia berbicara di tempat yang nyaman. Dan meminta maaf saja kepadanya" Jelas Angel.


Ambareesh terkejut mendengarnya.


"Tapi, aku tidak merasa melakukan kesalahan terhadapnya" Jelas Ambareesh sambil memegang keningnya yang tak bertanduk.


Angel terkekeh ringan dia duduk di sebelah Ambareesh. "Ya~ Tuan Bertanduk satu. Aku ini adalah perempuan juga. Meski perempuan itu memiliki tipe kepribadian yang berbeda-beda, aku yakin dia hanya menunggumu untuk meminta maaf. Dia menyukaimu. Simplenya begitu" Jelas Angel sambil menepuk pundak Ambareesh.


Ambareesh merasa frustasi untuk pertama kalinya. Dia memegang keningnya dengan kedua tangannya.


Ranu geram karena melihat Ambareesh dan Angel yang terlihat seperti sedang bergurau dari jarak kejauhan. Dia pergi untuk tidak menghajar Ambareesh.


"Menyukai? Itu sangat tidak mungkin. Bianca, suka dengan laki-laki yang lebih muda darinya. Dan kurasa, itu alasannya mengapa dia menculik Tsuha" Jelas Ambareesh.


Angel membelalakan matanya. Dia meremas bahu Ambareesh. "Jangan membuatku emosi. Aku perempuan jadi aku tau dengan tatapan perempuan yang menyukai seseorang. Dah, sekarang aku mau menemui Tsuha. Bye~" Angel meninggalkan Ambareesh dan mengacak-acak rambut putih kebiruan Ambareesh.


Ambareesh hanya membuang napasnya dan melihat punggung Angel yang mulai menjauh darinya.


"Arthur, bagaimana menurutmu?" Tanya Ambareesh kepada Arthur yang berjongkok di depannya.


"Kurasa, ucapan Kak Angel ada benarnya Guru. Ayahku sering meminta maaf kepada Ibu yang merajuk hanya karena suatu hal yang sulit ku mengerti. Ya, tak ada salahnya untuk meminta maaf terlebih dahulu" Jawab Arthur sambil memegang dagunya.


Ambareesh merapikan rambutnya.


"Apa yang biasa Ayahmu lakukan agar dimaafkan Ibumu?"


"Memeluk dan mencium pipinya?" Arthur agak ragu menjawabnya.


"Yang benar saja?" Wajah Ambareesh tiba-tiba memerah dan dia mencengkram wajah Arthur di depannya.


"Apa salahnya? Mereka kan suami istri?" Jawab Arthur dan menembus tangan Ambareesh.


"Benar juga. Selain itu, apa ada yang kau tau?" Tanya Ambareesh dengan wajahnya yang kembali normal.


"Kalau dari prajurit yang menyukai salah satu pelayan di Aosora, mereka mengajaknya untuk bertemu. Entah itu di tempat makan ataupun di taman" Arthur pernah mendengarnya dari salah-satu prajurit Istana Aosora.


Ambareesh berfikir, itu adalah ide yang cukup bagus. Dia mengusap kepala Arthur sebagai apresiasinya.