The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 1 [Cerberus Dan Serigala Sihir]



Penebangan dimulai dari area sekitar tenda.


Serigala sihir, mulai berdatangan karena wilayah mereka mulai dirusak oleh Arvolt. Namun, para serigala sihir itu mundur saat melihat Ambareesh.


"Mereka tidak berani mendekat? Setakut itukah mereka ke Putra Mahkota Arvolt?" Ambareesh salah paham dengan tingkah para serigala sihir yang tak berani mendekat.


Para serigala sihir itu, mengenal sosok Ambareesh. Kemudian, seekor kucing hitam atau cerberus itu yang menyamar ikut berkumpul diantara para serigala sihir.


"Apa yang kalian takuti?" Tanya kucing kecil itu.


"Anda lupa dengan Raja Alfarellza?" Balas lirih salah satu serigala sihir disana.


"Raja Alfarellza? Seorang titisan Malaikat itu?" Tanya kucing itu sambil menjilat lengannya.


"Iya. Dia telah kembali, tapi tidak dengan ingatannya. Tuan Alder pasti bisa membantu Raja Alfarellza untuk mendapatkan ingatannya"


"Benar, jangan sampai Ruri datang pada Raja Alfarellza"


"Tapi, apa Tuan Alder sudah bangkit kembali?"


Kucing itu, mendengarkan obrolan para serigala sihir itu.


"Tentunya belum. Tuan Alder pasti akan mengambil pusakanya saat dia bangkit nanti" Jawab kucing itu.


"Itu benar. Tuan Haraya, dekati Raja Alfarellza dan jagalah dia selagi menunggu Tuan Alder bangkit" Ucap salah satu serigala sihir sambil menepuk-nepuk badan Haraya dengan ekornya yang berkibas.


Haraya memainkan ekor itu. "Bagaimana bila Tuan Alder marah?"


"Duh! Katakan saja bila Anda hanya menjaganya saja sementara. Tapi, jiwa raga Anda hanya untuk Tuan Alder kami" Ucap Serigala sihir itu.


"Ya, saya setuju Tuan Haraya. Jiwa raga kami semua hanya untuk Tuan Alder" Serigala sihir itu, menjilat tubuh mungil cerberus berkepala tujuh itu yang menjadi anak kucing.


"Baiklah, ini untuk melindungi Raja Alfarellza dari Ruri dan De luce" Kucing itu meregangkan tubuhnya kemudian, "BWOSH!" Asap hijau berkumpul disekitarnya.


"GROOOAAAAAA!!!" Kucing itu berubah menjadi seekor cerberus dengan tinggi sekitar 5 meter.


Pohon-pohon yang berhampitan mulai bergoyang saat tubuh besar Cerberus itu mengesek batang pohon disana.


Ambareesh dan Lima orang lainnya terkejut melihat sosok cerberus yang tiba-tiba muncul begitu saja.


"Sudah ku katakan kalau ini ide yang buruk" Ucap Luka sambil menarik tangan Tera untuk kebelakang.


Arvolt menarik pedang besinya.


"Megi, bantu aku dan yang lain, tetap menebang hutan" Ucap Arvolt sambil berjalan ke arah cerberus itu bersama pedangnya.


"Tenanglah, untuk kali ini saja aku bermain menjadi prajurit yang baik dan penurut" Batin Ambareesh sambil membelakangi Arvolt dan cerberus itu.


"Ambareesh, batangmu sudah sedalam mana terpotongnya?" Tanya Luka.


Ambareesh menunjukkan batang pohon yang dia tebang tidak sedikitpun terpotong.


"Sama anjir. Kau gak ada niatan pakek sihirmu?" Tanya Luka.


"Aku tidak mau buang-buang mana untuk tempat yang ingin ku hancurkan" Jawab Ambareesh sambil kembali menebang pohon itu yang cuil sedikitpun.


Semua ini, karena sihir perlindungan yang ada di hutan ini. Oleh karena itu, tidak ada seorangpun yang bisa menebang pohon selain pohon itu mati kering sendiri.


"TRASH! GDBUK! GRRRROOOOAAAAA"


Dua kepala cerberus itu, terpenggal bersamaan oleh Megi dengan Arvolt. Suara teriakan cerberus itu, terdengar nyaring hingga menyakiti telinga elf Ambareesh.


Disaat Ambareesh menutup telinganya, ekor panjang cerberus itu melesat ke arah Ambareesh dan "SPLASHHH!" Tubuh Ambareesh dan Luka tertampar ekor Cerberus itu yang panjang dan kuat.


"BUAGH! BRUK!" Tubuh Ambareesh dan Luka melesat ke arah yang berlawan kemudian, mereka terhantam pohon besar dan jatuh ke tanah.


Ambareesh membelalakan matanya saat tau bila Cerberus itu adalah menjaga hutan.


Ambareesh berdiri sambil memegang dadanya yang terasa sesak dan kesulitan untuk bernapas.


"Putra Mahkota! Hentikan! Cerberus itu adalah penjaga hutan ini. Kita bisa meminta izin pelan-pelan darinya!" Ucap Ambareesh sambil berjalan ke arah Arvolt.


"Lantas, mengapa bila dia penjaga hutan? Bukankah Akaiakuma akan beruntung sekali bila kita bisa membunuh hewan ini?" Tanya Arvolt.


Ambareesh mengkernyitkan keningnya. "Kau memang tidak bisa dibaiki sedikit saja" Ambareesh mengeluarkan pedang mananya dan menunjukkannya pada leher Arvolt.


Arvolt membelalakan matanya saat tau Ambaressh bisa mengeluarkan pedang mana miliknya.


"Ambareesh! Jaga kesopananmu. Dia itu-"


"Putra Mahkota?" Ambareesh menyela ucapan Megi.


"Aku tidak peduli dengan pangkatmu yang seorang Putra Mahkota. Ikuti ucapanku dan segera pergi dari hutan ini" Ambareesh mengancam Arvolt.


"Ambareesh. Turunkan pedangmu" Megi mengarahkan pedang besinya pada Ambareesh.


"Megi, kau yang turunkan pedangmu. Jangan memerintahku dan jangan bertingkah hanya karena kita sering bersama. Aku tidak segan untuk membunuh Putra Mahkota Akaiakuma, apalagi dirimu yang tidak ada apa-apanya bagi Akaiakuma" Ucap Ambareesh dengan jelas.


Tera tidak mendengar ucapan Ambareesh karena dia menolong Luka. Vera menjaga jarak mereka.


Megi menatap Ambareesh dengan tatapan penuh kebencian. "Kau memang sialan Ambareesh. Kau adalah orang yang tidak tau berterima kasih" Ucap Megi sambil menurunkan pedangnya.


"Aku tidak peduli karena itu memang diriku" Jawab Ambareesh dengan nada santai.


Namun, Megi menurunkan pedangnya bukan untuk menyerah. "SWING! TRANK!" Dia (Megi) melesatkan pedang besinya pada Ambareesh.


Ambareesh menarik pedangnya dari Arvolt kemudian dia menahan pedang besi milik Megi. "Aku paling benci dengan pertarungan menggunakan pe-dang! DAGH!!!" Ambareesh menendang perut Megi dengan keras.


Megi menahan tentangan Ambareesh dengan lengan kirinya. Tendangan keras Ambareesh itu, membuat lengan kirinya bergetar.


"Ambareesh, aku hafal dengan semua rentetan seranganmu. Jadi, dengarkan aku untuk menurunkan pedangmu"


Mendengar hal tersebut dari Megi, Ambareesh tertawa disana.


"Menyeramkan sekali. Apa kau mencatat semua hal yang telah kulakukan setiap hari? Kau cocok sekali untuk menjadi seorang asisten" Puji Ambareesh.


Megi merasa tersindir. Dia kembali melesatkan pedang besinya, kemudian Ambareesh menahan pedang besi itu.


Luka tersadar dan dia segera menegahi Ambareesh dan Megi agar tidak melanjutkan pertarungan itu. Sebab, Luka tau bila Megi tidak akan bisa menahan serangan Ambareesh bila menggunakan sihirnya. Di tambah lagi, Ambareesh telah menghilangkan tanduknya. Yang artinya, dia tidak akan segan untuk mengeluarkan sihirnya untuk melayani Megi.


Luka memegang bahu kanan Ambareesh.


"Ambareesh, jangan membunuh Megi. Dan Putra Mahkota, maafkan kami karena tidak bisa melanjutkan perintah Anda" Ucap Luka dengan nada berat karena menahan sesak di dadanya.


"Benarkan Ambareesh?" Luka melihat wajah Ambareesh dari sisi kirinya. Ambareesh menunjukkan seringaiannya kepada Megi.


DEGH!


Luka seumur hidupnya, melihat seringai itu hanya pada saat Ambareesh berada di medan tempur. Luka, segera merangkul Ambareesh dan mengusap kening Ambareesh.


"Hei, bukankah rencanamu bukan untuk ini. Sadarlah, kalau kau seperti ini, kau tidak akan ada bedanya dengan mereka" Bisik Luka.


Seringaian di wajah Ambareesh memudar. Ucapan Luka benar. Ambareesh tersadar kemudian dia menghilangkan aura miliknya dan sihirnya.


Ambareesh melipat lengannya di dada. "Terserah kalian bila ingin lanjut menebang. Aku akan kembali ke Istana" Ucap Ambareesh sambil melepas lengan Luka dan mendatangi cerberus dengan kepala yang tersisa 5.


Megi hendak melesatkan serangannya kepada Ambareesh, kemudian Luka menahan serangan itu. "Megi, aku tidak akan menahan Ambareesh untuk yang kedua kalinya" Ucap Luka dengan nada lirih.


Luka melihat Arvolt perlahan. Dia tidak berani melihat ke arah Ambareesh. "Humph, lucu sekali" Batin Luka.