
Rambut putih yang halus bak jaring laba-laba panjang sepinggang dan tergerai rapi, mengembang saat terkena sepoian angin di malam hari yang dingin.
Mata dengan iris kuning keemasan yang tengah menatap rembulan yang tengah purnama itu, nampak begitu indah.
Dia adalah Alba Bianca. Seorang Putri dari Kerajaan Alba yang diculik oleh dokter gila bernama Wandlle hanya untuk rasa penasarannya.
Bianca, tumbuh seperti remaja perempuan berusia 16 menuju 17 tahun (Seumuran dengan Arnold) dia memiliki tubuh yang cantik dan terawat.
"Bianca, siapkan ruangan khusus untuk Objek 641" Wandlle datang ke arah Bianca sambil memberikan beberapa kunci pada Bianca.
Bianca menerima kunci itu. "Perlukah saya menyiapkan sihir perlindungan juga?" Tanya Bianca.
"Tidak perlu Objek 641 adalah objek yang lemah. Aku hanya akan mengisolasinya selama seminggu karena kondisi mentalnya" Ucap Wandlle.
Bianca segera mendatangi ruang khusus itu. Ruangan yang sesisinya putih dan tidak ada barang lain selain ranjang. Tempat itu adalah tempat penyiksaan mental dengan cara perlahan dan keji. Ini akan membuat seseorang kehilangan jati dirinya dan paling parah akan membuat tahanannya menjadi gila. Ambareesh pernah mengalami hal ini.
"Sihir ilusi. BWESSH!"
Salju yang tipis keluar dan mengelilingi ruangan itu.
Bianca selalu melakukan hal yang sama. Hal yang tidak diketahui oleh Wandlle. Dia menggunakan sihir ilusinya untuk membuat ruangan itu tampak tidak berwarna putih untuk mengurangi penyiksaan itu.
Bianca telah menjadi penganti Elvry sejak kepergian Ambareesh.
Sebenarnya, Bianca tidak kuat berada disini. Namun, hatinya tetap menyuruhnya untuk tetap bertahan. Dia mengulangi kata-kata yang sama untuk tetap bertahan disana.
"Ambareesh akan datang dan akan membawaku pergi"
"Cepatlah datang dan bawa aku pergi"
Bianca sering mengulangi ucapan ini untuk menenangkan perasaaannya.
Kemudian, "BAMMMMM!!!" Suara ledakan terdengar begitu keras. Hingga membuat telinga Bianca berdengung.
Bianca segera keluar dari ruangan putih itu untuk memeriksanya.
Kebulan asap, terlihat di area sekitar tembok tinggi itu. Api biru terlihat membara di depan sana. Bianca bertanya-tanya “Apa yang terjadi?”
Suara teriakan kesakitan dari para penjaga membuat Bianca tambah bingung.
“ADA PENYUSUP!!! SEGERA AMANKAN PARA OBJEK PENTING KE RUANG BAWAH TANAH!!” Suara teriakan Wandlle begitu lantang hingga terdengar di lantai tiga tempat Bianca berada.
Bianca segera turun untuk mengevakuasi Objek-objek yang ada di sana. Namun, terdiam sejenak di tempat. Dia merasakan aura yang membuat dadanya terasa sesak. Mata kuning keemasan Bianca langsung melihat kearah sumber aura itu berada.
“Haha, aku benar-benar rindu dengan tempat ini. WOSHH! PATTZZ!!! BAMMMM!” Ambareesh membelakangkan poni rambut sisi kanannya sambil melesatkan sihir blue flameshot miliknya.
Ambareesh datang sendirian di tempat penelitian itu dan meninggalkan teman-temannya yang sedang beristirahat di jalan.
Dia berjalan dengan santai melewati para penjaga yang terluka dan tertindih runtuhan tembok. Para penjaga itu, mundur saat Ambareesh melewati mereka.
“Siapa dia?”-“Itu jubah Prajurit Iblis!”-“Dasar buta! Dia itu bangsa Malaikat! Tidak mungkin dia menjadi Prajurit Iblis!”-“Jangan bercanda! Bangsa malaikat, tidak mengeluarkan sebesar ini! Sihir sebesar ini hanya dimiliki Bangsa Iblis!” Suara bisikan penjaga yang bersembunyi.
Ambareesh tidak mempedulikan ucapan mereka. Dia terus berjalan untuk mencari Wandlle.
Ambareesh berhasil menemukan Wandlle yang tengah mengevakuasi para objek. Senyum seringaian terpampang jelas di wajah Ambareesh.
Amarah yang memuncak di diri Ambareesh, membuat seolah dadanya ingin meledak. Tangan Ambareesh mulai gatal untuk menebaskan pedang sihirnya. Namun, Ambareesh mengurungkan niatnya kearena melihat anak kecil lainnya yang menjadi objek sedang ketakutan melihatnya.
“Sialan!” Maki Ambareesh dibatinnya. Dia mengengam dengan erat pedang sihir miliknya.
"PATSH!" Ambareesh merasakan aura yang tak asing dari arah belakangnya.
Ambareesh segera melihat kebelakang. Betapa terkejutnya Ambareesh melihatnya. Sosok anak perempuan yang selalu membuntutinya.
"JLEB!!! BKHAHKH!!!" Sihir bunga es yang lancip, menembus perut Ambareesh. Darah muncrat dari mulutnya. Mata Ambareesh masih terbelalak melihat gadis kecil yang dia tinggal sudah sebesar dan secantik itu.
"Penjaga tidak berguna! Mengalahkan satu orang saja tidak bisa!" Bianca, mengarahkan tangan kanannya ke arah Ambareesh untuk melesatkan sihir miliknya yang selanjutnya.
"BAGUS BIANCA! HALANGI DIA UNTUK SEMENTARA WAKTU!" Wandlle membawa semua objeknya untuk bersembunyi.
Ambareesh tidak akan membiarkan Wandlle kabur. Dia menarik bunga es itu yang lancip dari perutnya. Kemudian, dia lesatkan bunga es lancip itu tepat pada tengkuk Wandlle.
Ambareesh, tidak memperdulikan darahnya yang berjatuhan di tanah.
"KHAAAAKKK"
Es itu, menembus tengkuk hingga leher Wandlle.
"HUAAAAH!!!!!" Anak-anak disana berteriak dengan histeris saat melihat darah muncrat dari leher Wandlle.
Tubuh Wandlle terjatuh di tanah. Disaat yang bersamaan dengan jatuhnya tubuh Wandlle, Bianca melesat ke arah Ambareesh sambil mengeluarkan pedang mananya yang berwarna kuning keemasan dan langsung dia tebaskan pada Ambareesh.
"TRANKKKK! PATSH!"
Pedang mana Bianca melenyap saat mengenai Hinoken Ambareesh.
Bianca membelalakan matanya kemudian dia berteleport kebelakang untuk menjaga jarak aman dari musuhnya.
"CRAT!" Luka di perut Ambareesh terlalu dalam dan besar. Ambareesh banyak kehilangan darahnya. Dia memegang perutnya.
Luka sebesar itu, tidak akan bisa langsung sembuh walau tubuh Ambareesh memiliki kelebihan akan regenerasinya.
"Bianca" Ambareesh memanggil nama itu.
Bianca melihat ke arahnya. "Bagaimana dia bisa tau namaku?"
Ruri menyaksikan pertarungan itu.
"Katakan padaku, apa kau berada di pihak dokter sialan itu?" Ambareesh berusaha memastikannya dan mengulur waktu untuk penyembuhan luka akibat serangan Bianca yang tiba-tiba itu.
Bianca tidak bisa melihat wajah Ambareesh dengan jelas karena kondisinya Ambareesh membelakangi cahaya.
"Kau, siapa?" Tanya Bianca sambil mengeluarkan pedang sihirnya kembali dan Bianca telah menyiapkan kuda-kudanya.
"Jawab pertanyaanku dulu. Kau berada dipihak dokter itu atau berada di sampingku?" Tanya Ambareesh sambil mengarahkan Hinoken ke tanah.
Hinoken itu terlihat meneteskan darah.
"Aku bukan berada di pihak dokter itu dan aku tidak mengenalmu. Aku hanya ingin melindungi anak-anak itu!" Tegas Bianca sambil menarik pedang mananya sejajar dengan bahunya.
Senyuman terpampang dengan jelas dari wajah Ambareesh. Ambareesh menghilangkan pedang mananya. Dia mengulurkan tangan kanannya yang penuh dengan darahnya pada Bianca.
Bianca mengkernyitkan keningnya karena tidak paham maksudnya.
"Bianca, aku datang untuk mengeluarkanmu dari sini. Maaf karena sudah membuatmu menunggu"
Saat itu, cahaya rembulan menembus awan dan membuat wajah Ambareesh terlihat dengan jelas. Mata Ambareesh yang berwarna unik itu, langsung menyadarkan Bianca.
Pedang mana Bianca melenyap. Dia berdiri dengan tegak sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Kedua alis Bianca berdenyut, mata Bianca memburam karena air matanya yang mengembung.
"DRAP!" Dia berlari ke arah Ambareesh. "GREP!" Bianca memeluk Ambareesh dengan erat. Rambut putihnya berubah menjadi hitam saat dia memeluk Ambareesh.
"Sialan! Kenapa kau membuatku menunggu begitu lama!" Ucap Bianca dengan nada suaranya yang menurun dan bergetar.
Ambareesh memeluk Bianca balik.
"Kau harus memaafkanku karena sudah membuatku terluka dan tidak bisa bergerak" Ucap Ambareesh sambil meletakkan dagunya di atas kepala Bianca.