The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 5 [Harta Terpenting]



DU... DOM!


Ambareesh dan Daeva berada di Akaiakuma setelah di pindahkan oleh Arthur secara paksa.


Ambareesh dan Daeva saling melindungi Punggung dan mengeluarkan pedang mana mereka.


Mereka berdua melihat Arthur yang tengah duduk di singgahsana Akaiakuma yang bahkan tidak pernah diduduki oleh Arnold sejak meninggalnya Ambareesh di hari pengangkatannya sebagai Putra Mahkota Akaiakuma.


Arthur meletakkan pipi kirinya pada tangan kirinya yang dia tumpu pada pinggiran kursi singgahsana dan kakinya yang terbuka lebar.


"Aku beri kalian berdua tiga pilihan...."


"DRAP! DRAP! DRAP!" Karena kemunculan sihir asing, membuat Arnold dan prajurit bermunculan, mengepung mereka bertiga.


Arnold mengkernyitkan keningnya saat melihat Ambareesh muncul kembali di hadapannya.


"SIALAN! KENAPA KAU MUNCUL LAGI DI AKAIAKUMA"


Arthur melihat pertikaian tiba-tiba muncul di hadapannya. Dia cukup diam untuk mendengarkan apa yang terjadi di hadapannya.


"Aku sendiri, tidak ingin kemari" Ucap Ambareesh sambil membuang pandangannya.


"Persetan dengan ucapanmu! Pergi atau-"


"Hei, memang kau siapa, huh? Kenapa kau berani mengusir bocah-bocah yang ku bawa?" Tanya Arthur.


"Bocah?" Tanya Ambareesh, Daeva, dan Arnold bersamaan sambil melihat ke arah Arthur.


"Huh? Kau sendiri siapa?" Tanya Arnold.


"BWOSH!" Arthur kembali memindahkan mereka dan juga Arnold menuju tanah Aosora.


Sekeliling Arthur telah di lapisi oleh embran sihir.


"Kalian makhluk berambut putih, sungguh menyedihkan. Terutama, kau Iblis bertanduk" Arthur menunjukkan pedang ungunya kembali kepada Arnold.


"Huh?"


"Kau sendiri, makhluk aneh. Mau menyebutmu bangsa malaikat karena iris biru di mata kananmu, tapi kau juga memiliki tanduk. Mau menyebutmu Bangsa Manusia karena warna rambutmu, tapi kau juga memiliki iris aneh di mata kirimu" Balas Arnold di depan Ambareesh.


"Bocah sepertimu, memang tak mengerti sopan santun" Ucap Arthur dengan santai sambil menyeringai tipis dan memberikan tatapan rendah kepada Arnold dengan kedua matanya yang menyipit.


"Berhenti memanggilku bocah, kau sendiri terlihat seperti bocah yang bahkan tidak seperti remaja yang puber" Sangking kesalnya Arnold dengan ucapan Arthur yang baginya tak berdasar membuatnya mengatakan hal yang tak mendasar pula untuk membalas Arthur.


Daeva menutup mulutnya dengan tangan kanannya sambil memukul punggung Ambareesh dengan tangan kirinya karena mendengar ucapan Arnold seperti lelucon.


"Huh? Siapa namamu?" Tanya Arthur sambil berdiri dari singgahsana yang entah berasal darimana.


"De luce Arnold. Katakan juga siapa namamu?" Tanya Arnold yang sudah bersiap untuk serangan sosok di depannya.


"Namaku, Arlt Kyzen. Aku datang untuk menghancurkan semuanya" Jawab Arthur yang muncul di depan Arnold.


Degh!


Tubuh Arnold tidak dapat bergerak. Arlt Kyzen, memiliki tubuh yang lebih tinggi dari Arnold dengan wujud aslinya. "Apa aku terlihat seperti bocah yang bahkan belum puber?" Tanya Arthur pada Arnold.


"De luce Arnold, itu nama yang tidak buruk. Berapa banyak orang yang sudah kau bunuh selama kehidupanmu? Melihatmu dari dekat, sungguh menyedihkan. Apa kau masih berharap orang yang bahkan tak melihatmu sedikitpun, kembali padamu?" Tanya Arthur sambil menyipitkan kedua matanya dan menunjukkan seringaiannya kembali kepada Ambareesh.


Tubuh Arnold bergetar melihat asap hitam yang dia lihat karena ilusi dari sihir Arthur.


Arthur berjalan menuju Ambareesh. "Sosok Malaikat yang kehilangan ingatannya karena termakan sumpahnya sendiri, inikah, sosok Titisan yang memegang pedang suci itu? Menyedihkan sekali, bahkan kasih sayang pun, tak bisa kau dapatkan di kehidupan ke-tigamu"


Ucapan Arthur membuat Daeva terkejut. "Bagaimana dia bisa tau?" Harusnya, Arthur tidak mengetahui tentang masa lalu Ambareesh ataupun Arnold.


"Sosok Iblis yang di benci oleh Ayahnya sendiri dan dijadikan kambing hitam oleh Luciel, hingga berakhir fitnah dan di benci oleh semuanya, di takuti oleh semuanya, bahkan keberadaannya yang tak pernah diinginkan. Bukankah, lebih baik kau mati saja dari pada mendengar suara berisik mereka?" Tanya Arthur.


Dunia Daeva seakan membesar, dirinya terasa seolah menciut dan dia merasa seakan dirinya tak ada.


"Arthur, sadarlah" Ucap Daeva sambil menatap wajah Arthur yang tengah menatapnya dengan rendah.


"Aosora Arthur yang bahkan tak pernah merasakan kebebasan, menurutmu, haruskah aku kembali seperti dirinya yang selalu bersikap lugu dan berkata iya, untuk menyenangkan hati semua orang?" Tanya Arthur kepada Daeva.


"Sadarlah, dunia ini sudah berubah" Ucap Daeva sekali lagi.


"Aku membenci kalian yang bangsa berambut putih. Entah itu Siluman, Malaikat, atapun Iblis. Aku memberi kalian 3 pilihan. Bunuh diri, Saling membunuh, atau Mati di tanganku" Arthur menunjukkan tiga jari kanannya.


"Kenapa kau dari tadi terobesi dengan membunuh. Sadarlah Arthur, kau ingin menjadi pahlawan bukan?" Ambareesh menunjuk Arthur dengan jari telunjuk kanannya.


Kening Arthur berkernyit.


"Pahlawan? Kau hanya di bodohi oleh kata manis yang indah di mata masyarakat. Pahlawan itu tak ada, begitu pula dengan penjahat. Dua sebutan itu, hanyalah sugesti yang tercipta karena peristiwa yang memiliki pemikiran atau kubu pro dan kontra. Dari matamu itu, aku dapat melihat ribuan orang yang kau bunuh, termasuk dengan Ayahmu sendiri. Kenapa kau bisa menjadi Titisan?" Tanya Arthur.


Daeva berdiri di hadapan Ambareesh agar Arlt tidak mengusik pemikiran Ambareesh karena kehilangan ingatan di kehidupan Pertamanya.


"Aku sudah memutuskan pilihan yang kau tawarkan. Tapi, bagaimana dengan satu lawan satu? Aku akan maju untuk mengalahkanmu. Apa bila kau kalah, menurutlah dengan ucapanku" Suara Daeva terdengar seperti lelucon di telinga Arlt.


Dia tertawa dengan kencang.


"Kau bahkan tak dapat bergerak saat aku mengangkat pedangku, bagaimana caramu melawanku?" Tanya Arthur di hadapan Daeva sambil menundukkan kepalanya untuk menatap mata Daeva.


"Aku memiliki tekad untuk melawanmu" Jawab Daeva.


"Kalau begitu, aku memiliki permintaan kalau kau kalah" Ucap Arthur.


"Apa itu?" Tanya Daeva.


"Temukan Elf berisik itu" Jawab Arthur sambil menyeringai.


"PATSH!" Dengan cepat Ambareesh dan Arnold terlempar keluar setelah Arthur menyetujui duel dari Daeva.


Arnold melihat Ambareesh yang berusaha menghancurkan embran sihir itu. Embran sihir milik Arthur berbeda dengan embran sihirnya. Embran sihir ini, menyerap mananya lebih cepat saat berada di luar dan itu mengeluarkan setruman besar saat Ambareesh menyentuhnya.


"Sialan! Arthur! APA YANG TERJADI DENGAN MU!!!? BAMM!" Ambareesh menendang keras embran mana itu dan membuat kakinya terkilir.


Untuk pertama kalinya, Arnold melihat rupa Ambareesh yang biasanya datar tiba-tiba menjadi panik seperti itu. Di tambah lagi, dia dapat melihat wajah Ambareesh yang berkeringat cukup banyak.


"Kenapa kalian memanggil monster itu Aosora Arthur? Apa yang terjadi dengannya?" Tanya Arnold.


Ambareesh melihat Arnold sambil mengerutkan keningnya. "Orang yang kau sebut monster itu, Aosora Arthur. Dan dia adalah harta terpenting para Titisan" Jawab Ambareesh.