
Ryan menepati janjinya. Dia sangat menempel kepada Artl Kyzen untuk membayar janjinya.
Artl Kyzen selalu kesal dengan sifat Ryan yang dibuat-buat didepannya. "Kau seperti anjing" Ujar Artl Kyzen kepada Ryan yang selalu mengikutinya dimanapun dan saat di kamar atau di ruangan apapun, Ryan selalu menunggu di depan pintu.
Ryan menganggap ucapan Artl sebagai pujian. Dia merasa senang karena Artl melihatnya. "Terima kasih Tuan!" Tegas Ryan sambil membungkukkan tubuhnya.
Artl menganggap Ryan itu bodoh dan tidak bisa menyaring ucapan baik ataupun buruk.
Dua tahun berlalu dengan cepat. Artl Kyzen mulai bersikap santai kepada Ryan yang sering mengajaknya bercanda. Artl Kyzen juga, sering menjadikan Ryan sebagai lawan latih tandingnya. Meski, Ryan cepat tumbang di menit-menit awal pertandingan.
Kabar tentang kebakaran Hutan Sihir terdengar dengan cepat ke telinga Ryan setelah kedatangannya di Istana Kyzen pada tahun ketiga.
Malam itu, Ryan panik. Ryan melihat kobaran api hitam yang membakar hutan penuh mana itu. Satu-satunya orang yang bisa membantunya hanyalah Artl. Dia menggunakan sihirnya untuk berlari ke istana Artl.
Artl mencium aroma mana yang terbakar. Dia melihat kobaran api yang sulit di lihat oleh manusia itu. "Silumana mana yang membuat hutan bagus itu terbakar?" Lirih tanya Artl sambil berjalan keluar.
Namun, saat keluar dari kamarnya, Ryan menabrak Artl hingga Artl terhempas masuk kembali ke kamarnya. "Apa-apaan?" Artl cukup terkejut dengan sesuatu yang menabraknya.
Ryan membungkukkan tubuhnya di depan kamar Artl yang pintunya terbuka. "TUAN! MAAFKAN SAYA!!" Ucap Ryan dengan nada yang terburu.
Artl kembali berdiri dan dia melihat keringat yang banyak menembus kemeja Ryan. Artl mencium aroma terbakar dari Ryan.
"Kau kenapa?" Tanya Artl Kyzen sambil menstabilkan aliran mana Ryan yang berantakan tanpa sebab.
Ryan tiba-tiba merasa sedikit tenang dari sebelumnya. "Uh, itu Tuan, saya tau saya masih belum bisa memberikan apapun dari janji saya. Bisakah Anda membantu saya untuk terakhir kalinya?" Tanya Ryan sambil berlutut dan menengadahkan kedua tangannya di hadapan Artl Kyzen.
Artl dapat melihat raut yang putus asa dari wajah Ryan. "Apa yang kau minta lagi?" Tanya Artl sambil menarik kera kemeja Ryan di bagian belakang agar kembali berdiri.
"Hutan sihir tempat saya tinggal, tiba-tiba kebakaran, Tuan. Bisakah Anda memadamkannya? Saya tidak bisa memadamkan api itu" Mohon Ryan sambil mengenggam kedua tangan Artl yang baru melepaskan kera kemejanya.
Artl dapat merasakan kesedihan Ryan dari sentuhan tangan Ryan. "Ya, antar aku ke tempat itu" Ucap Artl sambil melepaskan energi sihirnya dan dari energi sihir yang dilepaskan oleh Artl, muncullah lingkaran sihir sebanyak empat lapis di atas langit hutan sihir itu. Hujan lebat mulai turun disana.
Tak ada yang tau kapan bahaya akan datang.
Artl Kyzen menyadari ada sesuatu yang aneh dengan hutan itu. Dia berinisiatif untuk memberikan sihir khusus yang hanya para Elf dan beberapa orang saja yang bisa menggunakan sihirnya saat di dalam hutan.
"Apa kau setuju?" Tanya Artl setelah menjelaskan sistem sihir perlindungan itu kepada Ryan.
Tentunya Ryan tak ingin membuang kesempatan bagus menerima kebaikan itu dari Artl Kyezen. Dia menerimanya dengan wajah yang benar-benar berbinar.
Artl menyeringai tipis dia senang dengan reaksi Ryan. Artl menganggap Ryan seperti keluarga sendiri. Tepatnya seperti adik meski Ryan lebih tua dua bulan dari Artl.
Sihir perlindungan Artl membutuhkam waktu yang cukup lama untuk membuatnya. Ryan memperhatikan bagaimana cara Artl yang berkonsentrasi untuk mengaktifkannya.
Artl yang berkonstrasi tidak menyadari kehadiran Ras Siluman yang membencinya.
Siluman itu, bersembunyi diantara batang pohon tumbang karena kebakaran dan telah mendingin karena hujan dari Artl. "Ah, ternyata rumor itu benar. Bocah keras kepala dan dingin itu bisa melembek karena satu orang yang belum lama dia temui" Siluman itu adalah satu-satunya orang pihak Ayahnya yang selamat dari pembantaian dengan menganti tubuhnya dengan tubuh Putranya sendiri.
Ryan mendengar suara lirihan itu dengan telinga Elfnya. Ryan melihat sekitarnya. Dia tidak bisa melihat ataupun merasakan aura dari siluman itu karena Aura tercium sama seperti aroma kayu bakar yang dipadamkan dengan air.
Ryan berusaha memanggil Artl, namun Artl yang terlalu fokus tidak bisa mendengarkan suaranya.
Ryan semakin terkejut dengan suara lirihan itu. Dia berdiri dan dengan cepat, dia dapat melihat dimana pria berpenampila seperti Siluman Ular itu berada. Namun, Ryan terlambat.
Pria itu tiba-tiba menghilang dari hadapannya. Mata Ryan terbulatkan. "SHHHSSS!" Seperti takdir Ryan, dia selalu beruntung dimanapun. Dia melihat aliran mana Siluman itu yang membuat dirinya tembus pandang tengah bersiap untuk menikamkan pedang hitamnya pada punggung Artl.
Meski Ryan selalu diberkahi dengan keberutungan yang tak terbatas, dia tetap akan mendapatkan imbas dari keberuntungannya karena dirinya yang ceroboh dan tidak berfikir panjang.
"CTASH!"
Tubuh Ryan bergerak dengan sendirinya. "JLEB! GUHH..." Pedang mana hitam itu menembus bagian ulu hati Ryan hingga menembus panggungnya.
Mata Ryan terbelalak saat menyadari pedang itu menembus dirinya. Darah mengalir dari mulut dan bagian tubuhnya yang tertusuk pedang mana itu.
Artl mencium aroma darah. Dia membuka matanya dan menoleh kebelakang. Seisi pikiran Artl seakan runtuh.
"BRUK!" Ryan jatuh terlutut setelah merasakan rasa sakit yang tak tertahankan dari bagian tubuhnya yang tertusuk. Darah mulai mengenang di sekitar Ryan dan mengenai alas kaki Artl.
Mata Artl menatap tajam Siluman yang di depannya. Dia mengenali wajah Siluman itu. "Ah... Ugh...!" Siluman itu menjatuhkan tubuhnya karena lututnya yang melemas.
Artl melangkahi Ryan dan mengangkat Siluman itu dengan cekikannya. "Aku ingat dengan wajahmu" Ryan mencekiknya di udara dengan keras.
Mulut Siluman itu terngagah dan dia berusaha melepaskan tangan kanan Artl yang mencekiknya.
Kedua tangan Ryan yang penuh darah meraih pergelangan kaki kiri Arthur. Dia mengengam dengan erat pergelangan kaki Artl hingga membuat Artl menoleh ke arahnya. "Baginda, tolong jangan membunuhnya. Jangan menjadi Raja yang ditakuti karena kekejamanmu" Ryan memohon kepada Artl.
Kening Artl berkenyit. "Aku tidak peduli. CRAT!" Tangan kiri Artl menembus jantung Siluman itu.
Mata Ryan terbelalak dengan lebar dan dia melepaskan kaki Artl. Artl melepaskan tubuh siluman itu dengan jantungnya yang hancur.
Artl berjongkok di hadapan Ryan yang kini bernapas dengan berat. "KHUKH!" Darah hitam keluar dari mulut, hidung, dan kedua lubang telinga Ryan.
Artl memegang wajah Ryan. Dia melihat wajah orang yang akan mati karena racun dari Siluman ras Naga Hitam yang menyamar menyerupai aura Siluman ras Ular. Racun dari pedang mana Siluman Naga Hitam bisa membunuh dalam hitungan menit dan tidak ada ramuan yang bisa menyembuhkannya termasuk bangsa itu sendiri.
Ryan dapat melihat raut wajah yang belum pernah dia lihat dari wajah Artl.
Apa ini perasaan yang dinamakan kehilangan?
Bibir Artl berdenyut berantakan. Air matanya menetes tanpa dia sadar. "Aku tidak bisa menolongmu" Ucap Artl sambil memeluk Ryan.
Bibir Ryan bergerak dengan darah yang mengembung disana, namun suaranya tidak keluar karena racun itu.
"Aku bersumpah akan membuat Siluman ras Naga hitam tidak ada lagi di Arden" Artl mengusap ringan tengkuk Ryan yang terbatuk-batuk.
Artl berteriak dengan kencang setelah dia tidak mendengar suara detak jantun Ryan. Sekujur tubuhnya menjadi lemas.
Aku selalu ditinggalkan oleh orang-orang di sekitarku. Namun, kenapa ini berbeda?"
Artl menepati janjinya untuk melindungi hutan sihir itu dengan sihir pelindungnya hingga Hutan Sihir itu, dikenal sebagai Hutan Terlarang oleh orang-orang di sekitarnya.