
Surat dengan tempel merah diatas tanda tangan Raja De luce ke-9 telah diserahkan kepada Ambareesh dihari yang sama saat Kerajaan Akaiakuma dirudung kedukaan atas kematian sosok pentingnya.
Ambareesh kembali membaca surat itu. "Tambahkan janji bila Akaiakuma tidak akan menyentuh wilayahku sedikitpun. Menyentuhnya, sama dengan perang" Ucap Ambareesh sambil melebarkan gulungan surat itu dan menunjuk bagian kosong pada lembar bawah.
Raja Akaiakuma benar-benar ketakutan dengan Ambareesh. Dia menulis sesuai yang Ambareesh katakan tanpa banyak basa basi.
"Apa ini sudah cukup?" Tanya Raja Akaiakuma sambil menunjukkan surat penyerahan setengah wilayah Akaiakuma bagian Timur hingga tenggara termasuk hutan untuk Ambareesh.
"Sudah cukup. Terima kasih atas kerja samanya. Dengan begini, Aku tidak akan menyentuh ataupun menyerang Arnold sedikitpun di kehidupan ini" Ucap Ambareesh sambil menggulung lembar surat itu.
"Aku apresiasi atas rasa kasih sayangmu kepada Arnold yang rela kehilangan sebagian wilayahmu daripada kehilangan putramu" Ucap Ambareesh sambil memberinya sedikit tepuk tangan kemudian meninggalkan ruangan itu.
Raja Akaiakuma ke-9 tersenyum lebar saat perginya Ambareesh.
"Suatu hari nanti, Arnold-lah yang akan merebut wilayah itu kembali ke tangan Akaiakuma. Karena sebaik-baiknya Arnold, dia adalah keturunan De luce yang selalu haus akan kekuasaannya"
"Baiklah! Cerita kita hentikan bagian ini. Karena ini Flashback, langsung saja pada inti cerita. ENAM BULAN KEMUDIAN"
...^^^Tunggu sebentar, sebenarnya siapa Authornya disini?^^^...
"Aku hanya membantumu. Karena kau mulai terlihat stres karena tidak memiliki pembaca"
...^^^Halah! Jangan sok baik! Aku tau niat mu ini hanya kau gunakan untuk mempercepat waktumu bertemu dengan Aosora Arthur. ^^^...
...----------------●●●----------------...
ENAM BULAN KEMUDIAN
Kerajaan Shinrin berdiri untuk pertama kalinya di tahun 1010 hitungan Akaiakuma dan di pimpin oleh Belial Ambareesh dengan penasehat Luka dan pasukannya di komando oleh Megi.
Saat itu, Tera telah berstatus sebagai Istri Megi dan tengah hamil 4 bulan.
Pada kisah Ambareesh dalam Novel pertama diceritakan bila Raja pertama Shinrin adalah Megi. Cerita ini, tercipta bukan hanya omong kosong belaka dan bukan karena Ambareesh yang menyerahkannya.
Teman-teman Ambareesh merencanakan pembunuhan terhadap Ambareesh atas dasar KETAKUTAN.
"Dia tertawa dengan keras saat membunuh Putra Mahkota Akaiakuma. Lalu, bagaimana dengan kita yang hanya berstatus bawahannya saja?"
Kebencian dan ketakutan itu, di provokasi oleh Megi. Megi, mulai menyebarkan rasa ketidaksukaannya terhadap Ambareesh kepada semua orang.
Haraya adalah saksi hidup atas kematian Ambareesh yang direncanakan oleh teman-temannya.
Haraya melihat masa depan Ambareesh beberapa jam sebelum kematian Ambareesh.
"Tuan, Kenapa Anda berpakaian rapi? Anda jarang sekali terlihat bersemangat seperti ini" Tanya Haraya dalam wujud Elfnya.
"Iya, Aku akan menemui teman-temanku. Mereka ingin mengadakan perayaan kecil-kecilan di sekitar danau harapan. Apa pakaian ini tidak terlihat berlebihan?" Tanya Ambareesh sambil berkaca.
Haraya duduk di atas kasur Ambareesh.
"Apakah, Anda akan mau melakukan saran yang saya katakan?" Tanya Haraya.
"Apapun itu, selain kau menyuruhku untuk tidak datang. Azuma, menurutmu apakah aku tidak layak untuk mendapatkan kesenangan dan kedamaian di dunia ini?" Tanya Ambareesh sambil melihat Haraya.
"Anda sudah mengetahuinya?" Tanya Haraya.
Ambareesh terkekeh ringan. "Hari ini, Bianca akan datang kemari. Bisakah kau buat agar Bianca tidak melihatku dikondisi itu? Aku juga, memiliki firasat bila Arnold akan datang kemari untuk menolongku. Tentunya, karena Tuan Ha nashi yang memberikan kabar atas rencana itu kepada Arnold" Ucap Ambareesh sambil kembali berkaca.
"Setidaknya, biarkan aku sedikit terlihat seperti seorang raja dihari kematianku. Azuma, bisakah kau berjanji untuk ini?" Tanya Ambareesh sambil menunjukkan jari kelingkingnya pada Haraya.
Haraya berdiri dan membungkukkan tubuhnya. "Saya akan menjalankannya dan akan menunggu Anda dikehidupan berikutnya" Ucap Haraya.
"Azuma, ingatlah bila kau bukanlah bawahanku dan aku bukanlah Tuanmu. Kita keluarga. Bisakah kau memberikan pelukan hangat untukku?"
Mendengar hal ini, Haraya terbelalak dan langsung melihat Ambareesh. Dia berjalan sambil memeluk Ambareesh dan mengusap kepala Ambareesh dengan halus.
"Tolong, jangan panggil aku Tuan" Pinta Ambareesh.
Haraya terdiam saat melihat sekilas kematian Ambareesh yang akan terjadi di hadapannya.
"Tuan, Anda harus mendapatkan kehidupan yang layak di kehidupan berikutnya" Ucap Haraya sambil melepaskan pelukannya itu.
"Dan juga, serahkan Hinoken dan cincin ini kepada Tuan Ha nashi. Dia adalah orang yang bisa ku percaya untuk menjaganya. Jadi, kau bisa fokus menjaga hutan terlarang" Lanjut Ambareesh.
Firasat Ambareesh begitu kuat. Tujuh pedang besi, menusuk tubuh Ambareesh diikuti dengan serangan seribu pedang sihir milik Megi.
Pandangan Ambareesh memburam dia melihat Arnold yang tengah berlari ke arahnya.
"GURU!!!!" Teriakan Arnold tidak bisa Ambareesh dengar.
Sihir merah keluar dari sekitar Arnold kemudian dilesatkan olehnya ke arah teman-teman Ambareesh.
Arnold tidak pernah tau bila serangannya itu akan berakibat fatal terhadap teman-teman Ambareesh.
Tera berada di posisi ujung dan dia adalah yang paling fatal terkena serangan Arnold hingga tubuh Tera terpental dan menghantam pohon besar disana.
Ambareesh melihatnya. Dia sadar bila Tera dalam kondisi mengandung janin. Matanya terbelalak. Teriakan Megi dan Luka menembus telinga Ambareesh saat tubuh Tera terjatuh di tanah dengan keras.
Luka dan Megi berlari ke arah Tera. Sedangkan Arnold mendatangi Ambareesh yang telah dikelilingi oleh sihir pengikatan.
Kepala Ambareesh yang bertanduk. Dia hantukkan dengan keras pada kepala Arnold. "Dasar bodoh! Wanita yang kau serang itu sedang hamil!" Tegas Ambareesh pada Arnold.
"Guru.... Aku sudah membunuh ayahku untukmu. Aku akan menolongmu keluar dari sini" Arnold menghancurkan inti dari segel pengikatan itu dari Ambareesh hingga terlepas.
Ambareesh menghantukkan kepalanya yang bertanduk dengan keras pada kening Arnold hingga hidung Arnold mimisan.
"BODOH! Kenapa kau bertindak sejauh ini?!" Bentak Ambareesh pada Arnold.
Arnold memegang hidungnya yang terus bercucuran darah.
"Maaf Guru. Setelah ini, mari pulang ke Akaiakuma. Aku bersedia memberikan apapun termasuk singgahsanaku untuk Guru" Arnold melapisi sekujur tubuh Ambareesh dengan sihir penyembuhannya.
Padahal Arnold sendiri tau bila ini sia-sia.
"Arnold, Kau membuatku kecewa. Janin itu, tentunya mati karena hentakan keras itu. Suatu hari nanti, kau akan mati ditangan putramu sendiri bersama keturunan dari Aosora. Dan hari yang telah ditentukan itu, kau akan bangkit tanpa memiliki tubuh. Katakan kepada Ha nashi yang membawamu kemari. Dia tidak akan bisa mati atas izinku"
Tubuh Ambareesh melebur ke udara kemudian leburan cahaya biru itu, masuk ke danau dengan meninggalkan Hinoken dan cincinnya.
"Tidak! Guru! Kembalilah!" Arnold berancang melompat ke danau dan di tahan oleh Ha nashi.
Disaat yang bersamaan, Luka melesat ke arah Arnold dan Hinoken itu, bergerak dengan sendirinya menembus dada kiri Luka. Kemudian, Hinoken itu melesat ke arah Megi namun, Haraya menahannya dengan sihir akar menjalar miliknya.
"Tuan, Sang Cahaya tidak terima atas kematian Anda" Lirih Haraya.
Megi meninggalkan Tera dan berteleport untuk mengambil cincin Ambareesh dari tangan Ha nashi.
Bianca mengarahkan pedang besinya ke arah Megi kemudian dia lesatkan dari jarak ke jauhan.
Sayang sekali, pedang besi Bianca tiba-tiba berbelok karena ulah sosok berambut putih ini.
"Bukankah, cerita ini diakhiri dengan kemunculanku yang membuat mereka melepaskan Megi?" Tanyanya padaku.
...^^^Terserah. Lakukan sesukamu mulai dari bab berikutnya. Dan biarkan aku menyelesaikan narasiku^^^...
Ha nashi membiarkan Megi membawa cincin milik Ambareesh.
"TUAN HA NASHI! LEPASKAN AKU! DIA MENGAMBIL PUSAKA GURU!" Tegas Arnold sambil menunjuk Megi yang berlari.
"Putra Mahkota Arnold, biarkan. Pusaka itu, hanya akan memakan kehidupan orang itu" Ucap Ha nashi sambil mendekap Arnold.
Arnold menjatuhkan lututnya. "Tuan.... Apa yang harus aku lakukan? Tolong maafkan aku. Karena ku, Anda terkena kutukan guru"
Sejak hari itu, Arnold memiliki dendam tersendiri terhadap tanah Shinrin dan semua rakyatnya.
...---------------●●●----------------...
Tidak terasa Bab 1 telah usai sebanyak 40 Chapter. Terima kasih untuk teman-teman pembaca yang setia hingga chapter ini. Mulai 01 Juni, saya akan memulai Bab 2 untuk melanjutkan Novel 1. Disana, kita akan berlanjut pada Misi Terakhir Sebagai Anggota Pemberantas Iblis.
Semangat membacanya ya....
"Jangan lupa untuk klik ♡ dan klik favorit untuk menambah semangat Author agar rajin Update"_Salam dari Luciel |~^