
"Ya, itu benar. Meski begitu, masa depan masih belum berubah. Aku masih melihatmu berada di samping Ruri. Apa yang akan kau rencanakan selanjutnya, DAEVA?"
Kedua mata Daeva terbelalak mendengarnya. Dia melihat Alder dengan spontan.
...----------------●●●----------------...
"Tunggu! Apa artinya itu?" Daeva berlagak tidak tau apa-apa. Meski begitu, hanya Dean yang dapat menyadari gelagat Daeva.
"Masa depan masih menunjukkan kalau kau di samping Ruri dan menghadapi Arthur seperti lusa yang lalu. Aku khawatir hal yang terjadi dengan Arthur saat itu akan terulang lagi. Dan, melihatmu berada di sebelah sosok bersayap hitam yang ku anggap sebagai Ruri, itu membuatku berfikir kalau kau pasti memiliki alasan dan pandangan lain. Apa yang akan kau rencanakan kalau apa yang ku lihat, sungguh akan terjadi?"
Daeva sedikit lega karena dia salah paham dengan apa yang dikatakan Alder sebelumnya.
"Itu artinya, sudah tidak ada harapan lagi untuk mengharapkan bantuan dari Aosora Arthur. Aku berada di pihak Ruri, berarti itu adalah tanda sebagai kehancuran yang akan terjadi. Apabila saat itu terjadi, kalian jangan ragu untuk mengangkat sejata kalian, pada sosok yang kalian anggap sebagai sumber masalah. Entah itu Aku, Ruri, ataupun Aosora Arthur, bahkan siapapun itu. Aku akan menghargai keputusan kalian. Lagipula, sedari awal aku tidak bisa memenuhi ekspetasi kalian sebagai Titisan" Jelas Daeva yang tiba-tiba merasa tak enak kepasa para Titisan
Dean terdiam mendengarnya.
"Kira-kira, tahun berapa masa yang kau lihat itu?" Tanya Ambareesh untuk memperkirakannya.
"Empat atau Enam tahun lagi. Aku tidak bisa memperkirakannya dengan pasti. Sebab, saat aku melihat masa depan Aosora Arthur, aku tidak dapat melihat apapun. Semuanya tertutup oleh kabut" Jawab Alder.
"Ya, ini sama seperti saat aku melihat jiwa Nao. Dia ternyata Ruri yang menyamar bukan dan Tsuha termasuk anak-anak lainnya yang menjaga mansion saat deklarasi Raja Meganstria itu, melihat Nao kembali dan Arthur sempat mengobrol empat mata dengan Nao. Aku mendapatkan laporan ini dari Angel" Tambah Dean.
"Sebenarnya, Aku dan Daeva sudah menemukan lokasi Ruri yang berada di Aokuma. Tapi, kami tidak bisa melaksanakan rencana itu saat ini" Ucap Alder.
Daeva agak terkejut karena dia tidak merencanakan apapun untuk penyerangan Ruri bersama Alder, selain cerita tentang dirinya yang berniat menyusup Aokuma dan berjalan di jalannya sendiri.
"Kenapa tidak bisa di laksanakan?" Tanya Dean karena mereka berdua telah membuang kesempatan emas untuk mencari persembunyian Ruri yang sebenarnya. Dean miliki fikiran kalau Ruri tidak akan menetap lama disana.
Alder meringis dan mengeluarkan surat dengan Stample Shinrin yang berisikan kertas kosong.
Daeva dan Dean mengagakan mulutnya. Begitu pula dengan Ranu yang baru masuk dan mendengar perbincangan serius itu untuk ikut bergabung.
Ambareesh menyeringai dengan lebar.
****SHINRIN MENYATAKAN PERANG KEPADA PARA TITISAN SETELAH DEAN MEMINDAHKAN SEMUA ORANG MEGANSTRIA KE SHINRIN DAN SEBAGIAN SISANYA DI NARAI SERTA AOSORA****.
"Gawat, jangan sampai dua bocah itu (Arthur dan Tsuha) mendengar tentang ini. Haruskah kita menemui Wakil Razel untuk meminta bantuan?" Tanya Dean yang mengubah wujudnya menjadi Luxe dan mengigit jarinya.
"Haha, harusnya kita juga bersekutu dengan Akaiakuma" Lirih Daeva. Tapi sayangnya Lingga muncul diantara mereka dan menunjukkan surat yang memiliki stample Shinrin. Shinrin mengajak Akaiakuma bersekutu untuk mendapatkan kembali Meganstria dengan iming akan mengembalikan De luce Archie karena pewaris sah Aosora telah berada di tangan Shinrin.
"Mantap, Arnold pasti menerimanya" Jawab Ambareesh dengan singkat dan santai.
Ambareesh tertawa setelah mendapatkan kabar itu dari Haraya.
Selain Akaiakuma dan Shinrin, Narai pun, ikut andil dalam peperangan itu.
Dan hal itu, membuat Akaiakuma mengajak Nekoma dan Aokuma dengan imbalan merebut Aosora yang hancur hingga Meganstria. Termasuk merebut Shinrin untuk mengembalikan tahtanan Arden.
"Steve, apa yang terjadi sekarang? Mengapa Akaiakuma memberikan surat resminya berisi tanda tangan Raja De luce Arnold untuk penawaran dalam pergabungan sekutu untuk membantu Shinrin melawan Titisan?" Tanya Devina sambil melamun di ayunan yang di ayunkan ringan oleh Ruri.
"Ah, sepertinya ini terjadi terlalu cepat" Ruri tidak menyadari kalau Butterfly effect atas tindakan yang telah dia lakukan untuk memperpanjang hidup Daeva, akan berefek sebesar ini.
"Harusnya, perang bersekutu ini terjadi di akhir volume ketiga. Kalau begini, artinya... Aku juga harus bergerak sedikit lebih cepat dari alur yang sebenarnya" Batin Ruri dan dia terlihat cukup gelisah. Ruri terlihat mulai mengelombeti kulit di ibu jarinya dengan jari telunjuknya.
Wkwkwk
"Saran saya, Tolak permintaan itu dengan alasan Anda memepersiapkan kenaikan Anda sebagai Ratu Aokuma yang akan berjalan satu setengah bulan lagi. Anda tidak boleh terlibat konflik selama persiapan masa Anda menuju penobatan itu"
Ruri mengingat ada bagian yang akan hilang tentang kesan Devina terhadap Aosora Arthur. Dia menghubungi Daeva untuk rencana berikutnya.
"Buat Arthur menghancurkan pertemuan para pemimpin Empat Kerajaan yang bersekutu dengan Meganstria di Shinrin" Mendengarkan rencana itu dari Ruri, Daeva terpikirkan ide yang bagus untuk menarik perhatian Aosora Bram agar dia mengembalikan Archie ke tubuhnya semula sebelum perang itu terjadi. Sebab, Akaiakuma adalah Kerajaan dengan daya serang yang tinggi dan Para Titisan tidak memiliki bantuan yang banyak.
Daeva menyetujui hal itu dari Ruri.
"Dan bisakah saat perang itu terjadi, kau membuat Arthur tak terlibat dengan perang tersebut?" Tanya Ruri.
"Itu tidak mungkin, tidak dilakukan oleh para Titisan" Jawab Daeva.
Lagi-lagi, Daeva sudah memikirkan kalau para Titisan tidak akan menggunakan sihir Arthur. Mereka akan menyembunyikan Arthur, karena mereka pasti akan sangat mewaspadai kedatangan Ruri untuk merebut Arthur di saat mereka lengah.
Ruri terlihat penat. Dia memijat keningnya yang membuat Daeva terkejut.
"Perkiraanku, perang itu akan terjadi sekitar seminggu lagi. Dan aku sudah mendengar kalau mereka akan mengadakan pertemuan di Shinrin lusa ini. Perang ini cukup membawa dampak besar bagi kalian termasuk Tsuha. Bahkan Archie pun, pasti akan-"
"Ruri, bagaimana kau bisa tau dengan semua itu? Bahkan Alder pun tak dapat memperkirakan perang besar ini akan terjadi termasuk dampak besar yang kau katakan itu. Siapa kau sebenarnya Ruri?" Tanya Daeva kepada Ruri.
Wajah serius Ruri, berubah menjadi ekspresi putus asanya.
"Haruskah aku menjawab pertanyaan bodoh itu? Sudah ku katakan aku hanya ingin mengubah alur kisah ini. Argh, menjengkelkan saja. Aku akan memanggilmu lagi. BWESH!" Ruri meninggalkan Daeva yang masih berada di dimensinya.
Daeva merasa aneh dengan Ruri yang selalu tenang tiba-tiba menjadi sosok yang terburu-buru seperti itu. Meski begitu, dia menjalankan rencana yang telah diberikan oleh Ruri. DENGAN MENGAJAK AOSORA ARTHUR KE KERAJAAN AOSORA YANG TELAH DI HANCURKAN SHINRIN.