
Dikisahkan, dahulu kala sebelum adanya Kerajaan di Negri Arden, terciptalah Negri tanpa aturan. Negri itu adalah negri terbebas.
Tidak ada yang namanya Raja dizaman itu. Meski begitu, Negri itu dikuasai oleh satu orang yang terkenal kejam dan berdarah dingin. Dia membantai semua orang yang memiliki ikatan darah dengannya.
Apa yang diharapkan olehnya setelah membantai seluruh saudara dan kerabatnya?
Tentu saja, orang paling kuat dan berkuasa dinegri ini. Dia ingin menciptakan sistem yang dinamakan Kerajaan yang dipimpin oleh Raja terkuat. Orang yang memiliki segalanya tak terbatas.
Di kisahkan....
Dia yang terlahir dari keluarga yang terpandang dan ayahnya yang rakus akan kuasaaan. Dimana orang lain menengadahkan tangannya untuk meminta bantuan dan setitik air untuk tenggorokan mereka yang dahaga, tidak sedikitpun dilihat oleh pria terpandang itu.
Jeratan benang merah yang terhubung dari nadi ke nadi, sangat mempengaruhi bagaimana dia memandang dunia.
Orang yang berkuasa akan dipatuhi oleh semua orang.
Itu memang benar.
Setelah dia membantai keluarga dan kerabatnya, semua orang tunduk dihadapannya.
Sang Cahaya menurunkan Malaikat Agungnya untuk berbicara dengan sosok itu.
Luciel adalah Malaikat penjaga tanah Arden yang percaya oleh Sang Cahaya. Luciel digambarkan sebagai Malaikat agung yang terkuat diantara yang lain. Dia memiliki enam sayap putih yang membentang besar di punggungnya. Rambutnya yang putih menampakkan betapa cantikknya Luciel.
Luciel tidak pernah membuka matanya sedikitpun.
Hal ini, memicu kesalahpahaman terhadap pria berdarah dingin itu yang mampu menebaskan pedang mananya tanpa pandang bulu.
Pria itu, menanamkan kesetaraan gender di pendiriannya.
Pedang berwarna ungu ditodongkannya pada leher Luciel.
Luciel tersenyum menunjukkan taringnya yang panjang sambil mengangkat kedua tangannya.
"Saya tidak memiliki niat bertarung dengan Anda" Ucap Luciel kala itu sambil mendonggakkan wajahnya sedikit.
Pria berambut gelap dengan iris mata berwarna ice blue itu menatap tajam Luciel.
"Kau terlihat kuat. Aku bisa merasakan bulu kudukku berdiri saat kau berada dihadapanku. Lawan aku disini"
Pria itu, tetap bersikeras untuk memancing emosi Luciel.
Luciel, tidak sedikitpun termakan dengan ucapan pria itu. Luciel tetap berusaha berbicara dengannya.
"Saya kemari untuk menawarkan kerjasama dengan Anda dan bukan untuk bertarung" Luciel mengulurkan tangannya sambil memberikan sekuncup teratai putih, tanda perdamaian.
"TRAAASH!!!!"
Pedang berwarna ungu milik pria itu ditebaskan dengan cepat ke arah tangan kanan Luciel. Naas, lengan kanan Luciel terpotong begitu saja dan kuncup teratai itu, terjatuh di lantai marmer berwarna kuning keemasan.
"Ah,.... Apa Anda tidak menyukai teratai?" Luciel berusaha berkomunikasi dengannya sambil mengambil lengannya yang terpotong.
Tetesan darah Luciel, membuat marmer disana ditumbuhi oleh tanaman hijau.
Pria beriris ice blue itu terlihat terbelalak sejenak saat melihat lantainya ditumbuhi oleh tanaman.
Lengan Luciel dipasangkan kembali dan kembali menyambung. Tentunya, pria itu masih terkejut dan membelalakan matanya lagi.
"Siapa kau ini?" Tanya Pria itu pada Luciel.
Luciel terlihat tersenyum tipis. "Beritahu tentang diri Anda dulu kepada saya. Setelah itu, saya akan memberitahu Anda, siapa saya ini" Ucap Luciel dengan sopan.
Pria itu kembali duduk disinggah sananya.
"Aku-"
"Apa kau menikmatinya Aosora Arthur?" Sosok berambut hitam tiba-tiba muncul di samping singgah sana pria itu.
Mata pria itu terbelalak. Seolah waktu disekitarnya berhenti bergerak.
Sosok itu memiliki tiga pasang sayap yang membentang besar hingga mengeser di lantai marmer yang tiba-tiba berubah menjadi danau.
"Ha? Siapa Aos-"
BYYYUUUUUUURRRR!!!!!
Dia tercebur di danau itu.
"BHAAAAAAAHHH!!!!!!! HAHHH... HAA...."
Arthur membuka matanya lebar-lebar. Napasnya terlihat berat meski dia tidak memiliki tubuh.
Arthur masih menapung di air sungai.
"Apa aku baru saja tertidur? Sialan, mimpi apa tadi itu?" Arthur bingung dengan sekitarnya. Dia terkejut dengan dirinya yang bisa tertidur meski tidak memiliki tubuh.
"UGGGHH, kenapa aku sering sekali bertemu dengan iblis bersayap itu? Apa ini karena aku masih belum bisa melupakan kematian keluargaku? Sialan!!!"
Arthur melihat sekitarnya. Bunga lavender berwarna ungu terlihat tumbuh disekitar bibir sungai. Arthur tidak pernah tau dengan tempat ini.
"Ngomong-ngomong, aku ini sedang dimana?"
...----------------●●●----------------...
"DUAAAGHHH!!!! BYUUURRRR!!!!"
Tsuha melesat dan terjatuh serta tenggelam di danau itu. Setelah menahan dan menerima serangan Ambareesh.
"Ah, sialan!" Tsuha merasa tak asing dengan kejadian ini.
Dia berenang ke permukaan dan melihat Ambareesh tengah menunggunya di bibir danau.
"Kau ternyata masih terlalu lemah. Pantas saja kau tidak tau apa-apa. Oh, atau orang tuamu bermain rahasia dengan mu?" Tanya Ambareesh pada Tsuha.
Tsuha keluar dari danau dan membelakangkan rambutnya yang basah dan menutu wajahnya.
"Katakanlah dengan jelas. Kau berkata seolah aku sudah tau dengan semuanya" Ucap Tsuha sambil mengusap wajahnya.
"Kau tidak tau apa-apa?" Tanyanya.
"Kau bertanya tentang apa? Aku tidak mengerti ucapanmu" Jelas Tsuha.
"Kau, seorang Elf hijau kan? Aku bisa merasakan darah murni Elf hijau dari aura dan pedangmu" Jelas Ambareesh.
"Ha?" Tsuha mengagakan mulutnya dan menatap Ambareesh dengan wajah aneh.
"PFFFT! PUAHAHAHA! AKU? Seorang Elf?" Tsuha tertawa dengan keras.
Semua orang disana yang tengah menyiapkan makanan melihat ke arah Tsuha dan Ambareesh.
"Aduh! Lucu sekali! Kau darimana melihatnya?! Orang tuaku itu, keturunan manusia murni. Kau lihat telingakukan? Lihatlah, apakah ini terlihat seperti telinga Elf?" Tanya Tsuha sambil menunjukkan telinga manusianya.
Ambareesh mengkernyitkan keningnya. "Itu benar, tapi Elf hijau berbeda. Bangsa itu, bisa mengubah wujudnya 100% tapi tidak dengan sihir kekhasan yang mereka miliki" Jelas Ambareesh sambil memberikan kain kering pada Tsuha.
Tsuha mendengarkan ucapan Ambareesh.
"Kau memiliki ciri khas yang sama dengan bangsa Elf hijau. Dari pedang mana, hingga kemampuanmu untuk melesat dengan cepat serta mengendalikan tanaman merambat meski ini dari ingatan Aosora Arthur" Jelas Ambareesh sambil menunjuk keningnya.
"Dan yang ku tau, Elf hijau tidak bisa menggunakan sihir teleport" Lanjut Ambareesh.
"Kurasa dugaanmu itu salah. Aku memiliki seorang adik kembaran. Kami seiras. Dan nyatanya dia bisa menggunakan sihir teleport. Kasus yang terjadi denganku, bisa saja karena ketidakmampuanku dalam mengonsentrasikan mana dan pikiranku terlalu berantakan untuk berpindah tempat" Jelas Tsuha pada Ambareesh.
Ambareesh melihat bayangan wajahnya dari air danau yang berwarna hijau itu.
"Sihir teleport itu, lebih mudah dari gerbang sihir dan lubang teleport. Berusahalah untuk belajar sihir itu, bila kau bisa menguasainya, itu akan mempermudah caramu untuk menyerang dan melarikan diri bila perlu. Kau tidak harus maju bila ada musuh, inti dari pertarungan yang sebenarnya adalah bagaimana caramu bertahan, melindungi dirimu, dan menang. Mundur belum tentu kalah" Jelas Ambareesh.
Arnold merasa tidak nyaman dengan perhatian yang Ambareesh berikan untuk Tsuha. Dia hanya bisa menghela napas sambil sesekali melihat Ha nashi yang tengah membakar ikan tangkapan mereka.
Tsuha terlihat menganggukkan kepalanya beberapa kali.
...----------------●●●----------------...
Malam itu, mereka beristirahat di tengah hutan Terlarang. Mereka beruntung karena hutan itu kini tidak dijaga oleh para pasukan karena kematian Raja Agleer Linus.
Tuduhan atas Nox yang diberikan oleh Agleer Baal membuat Nox dijatuhi hukuman mati.
Penghianatan terhadap Aosora dan Shinrin, ini adalah tuduhan yang diberikan pemerintahan Shinrin.
Senyum lebar diberikan Nox saat dia telah dipaksa berlutut dihadapan Baal yang tengah mengangkat pedang besinya tinggi-tinggi.
Dera menyaksikan proses pemenggalan Nox. Sebenarnya, Dera merasa berat hati atas kematian Nox. Meski Nox tidak bertanggung jawab terhadap dirinya, Dera selalu teringat dengan ucapan ibunya untuk tidak membencinya.
"TIDAAAK!!! GURU!!!!" Teriakan histeris Tsuki membuat seisi ruangan itu melihatnya dari balik pembatas kaca dan sihir.
Rambut Tsuki yang berwarna ungu muda dengan telinganya yang runcing, membuatnya nampak berbeda dengan kulit pucat itu. Iris Tsuki ikutan berubah menjadi warna hijau muda yang pudar.
Mike memeluk dan menutup wajah Tsuki di dekapannya. "Tsuki, kau bisa dalam masalah bila terus seperti ini" Ucap Mike pada Tsuki.
Tsuki berusaha melepas dekapan erat Mike. "MIKE! DIA AYAHKU! SATU-SATUNYA ORANG YANG TERSISA DI HIDUPKU!!! AKU TIDAK INGIN DIA MENINGGALKANKU SEPERTI TSUHA DAN ORANG TUA KANDUNGKU!!!!" Teriakan Tsuki sangat memilukan. Air matanya, tidak henti mengalir. Tenggorakannya mulai terasa kering karena dia berteriak hingga otot lehernya terlihat.
Teriakan Tsuki, memicu perasaan dari dalam hati Dera.
Dia mengepalkan tangannya dengan erat dibelakang Baal. Air mata Dera menetes ke lantai dengan kramik putih. Nox melihatnya.
"Baginda Putra Mahkota Agleer Linus" Dera menanggil nama Baal.
Baal meliriknya tanpa menurunkan pedang besinya.
"Tuan Nox Kylzt adalah satu-satunya sosok yang saat ini tau tentang Aosora. Apa Anda tidak mempertimbangkannya?" Tanya Dera dengan teguh.
Baal memberikan ekspresi dingin pada Dera. "Keputusan sudah jelas dan keputusan ini, telah di setujui oleh tiga Kerajaan sahabat" Jelas singkat Baal.
Nox masih menunjukkan senyuman lebarnya sambil melihat Tsuki memberontak dibalik ruangan pengadilan itu.
Nox menutup matanya dan mengambil napasnya dengan dalam. "Aku tidak pernah menyesali semua yang terjadi. Dengan begini, aku tidak akan terikat dengan sumpah dan janji yang harus ku jaga"
Pedang besi itu, bergerak dengan cepat dan menebas leher Nox.
"A...." Mata Tsuki terbelalak napasnya terasa berat.
"GURUUU!!!!! DUAGHHH!!!" Tsuki menghantam kaca tebal pembatas itu dengan tangan kanannya hingga terluka.
Hati kecil Dera terasa terenyuh. Irisnya bergetar saat melihat tubuh Nox yang tepisah dengan kepalanya mulai mengalirkan darah ke lantai keramik putih itu.
Marsyal hanya melihatnya.
"Ini akan memicu kebencian bagi Aosora Arthur terhadap Shinrin. Apa yang akan kau lakukan setelah ini Arthur?" Tanya Marsyal sambil meninggalkan tempat itu.
"Berikutnya, Bawa sisa Pasukan Pembarantas Iblis untuk dipenjarakan" Perintah Baal sambil melempar pedang besi penuh darah itu ke sisi lain.
Marsyal terlihat terbelalak kemudian dia tersenyum tipis.
"Kau bertindak terlalu jauh Agleer" Ucapnya sambil menatap Baal dari tempat dia berdiri.
Mata Baal dan Marsyal saling bertemu.
"Menyentuh Anggota Pemberantas Iblis, sama seperti mengusik Guild Penyidik. Aku tidak peduli meski kau itu seorang raja hari ini" Ucap Marsyal pada Agleer.
Secara khusus, Guild Penyidik Shinrin adalah Guild yang berdiri sendiri dan satu-satunya Guild yang tidak memihak satu kerajaan. Oleh karenanya, Marsyal sering sekali menerima perintah dari beberapa kerajaan untuk proses penyelidikan.
...----------------●●●----------------...
Ilustrasi Haraya yang kini tengah melakukan perjalanan jauh untuk mengumpulkan dua Titisan.
Ilustrasi untuk penampakan Aosora Arthur saat ini. Wkwkwk, Saya sangat menyukainya:>l
Terakhir, ini adalah Ilustrasi Dera. Ya.... setidaknya, wajah Nox tidak jauh denganny;)
Cukup sampai disini Ilustrasinya. Semangat membacanya ya...