The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 1 [Kelemahannya]



Pikiran Ambareesh terasa penuh saat mengingat ucapan sosok itu. Saat Ambareesh kembali ke tempat para bandit itu berada, sosok itu telah ada disana dan menghabisi para bandit itu hingga tak tersisa.


Ambareesh juga, melihat teman-temannya yang bergelempangan di lantai.


Sosok itu mengangkat kepalanya dan melirik Ambareesh sambil menunjukkan seringaiannya yang bergigi taring runcing.


Ambareesh mengkernyitkan keningnya dan mengambil ancang siaga.


"Jangan terlena dengan hubungan palsu yang kau ciptakan" Ucap pria itu.


PASTTS! WEEESTH!


Bianca tiba-tiba muncul di belakang sosok itu dan melesatkan tendangannya dari udara.


Sosok itu melangkah maju dan menundukkan kepalanya kemudian, dia melompatkan kedua kakinya sedikit dan dia berputar sambil mengangkat kaki kirinya untuk dia lesatkan ke arah Bianca.


Waktu seolah melambat. Ambareesh mengulurkan tangannya dan melesatkan sihir anginnya ke arah Bianca. Dengan bersamaan, BRUAK!! PASTTTS! BAM!.


Bianca melesat ke samping kiri tepat pada tumpukkan jerami kering. Kaki pria itu mengeluarkan sihirnya saat melesatkannya ke arah Bianca. Dan hasilnya, tembok tempat Bianca muncul terbelah menjadi dua karena lesatan sihir pria itu.


Pria itu membelalakan matanya melihat bangunan itu yang terbelah menjadi dua dan pepohonan disana itu terpotong karena serangannya.


Dia menurunkan kakinya dan mengatur pola napasnya.


"Aku paling benci dengan orang yang menyerangku dari belakang" Ucap pria itu sambil melihat Ambareesh.


Ambareesh tidak bergeming sedikitpun. Dia terkejut melihat daya serangan Iblis laki-laki itu. Dia bersyukur karena melesatkan sihirnya pada Bianca.


"Aku akan pergi dan jauhkan kisah romantismu itu dari alurku" Dia meniru ucapan Ambareesh beberapa tahun yang lalu sambil menunjukkan seringaiannya.


Ambareesh mengepalkan tangan kanannya.


"HEI! SIAPA NAMAMU?!" Tanya Ambareesh dengan lantang.


Pria itu melihat ke arah Ambareesh dengan mata sipit karena seringaiannya yang lebar itu. "Kau bertanya nama asliku atau namaku sekarang?" Tanyanya.


"Atau, kau mulai tertarik dengan marga Aosora? Kalau begitu, matilah di tangan teman-temanmu itu dan buat muridmu membencimu agar bisa bertemu dengan Aosora" Lanjut pria itu yang mulai menghilang seperti angin.


Mata Ambareesh terlihat membelalak. "Apa maksud dia? Kenapa dia menyuruhku mati dan menyuruhku untuk membuat Arnold membenciku? Apa yang akan terjadi bila aku tidak melakukannya?" Tanya lirih Ambareesh.


Perut Ambareesh mulai mual. Pandangannya terasa berat dan mengkabur, dadanya mulai terasa sesak.


Dia terjatuh di lantai dan menompangkan beban tubuhnya pada telapak tangannya yang menyentuh lantai marmer itu terlebih dahulu.


"Sial, aku bahkan tidak mengeluarkan sihirku selain Hino...ken... BRUK!" Ambareesh kehilangan kesadarannya karena kehabisan energi sihir.


Semua karena pria itu yang menyerap energi sihir Ambareesh dengan jumlah yang tidak sedikit.


Bianca, melihat tubuh Ambareesh terjatuh ke lantai. Dia segera mendatanginya dengan jalan pincang. Kaki Bianca, keseleo saat Ambareesh melemparinya sihir angin sekencang itu.


Bianca membalik tubuh Ambareesh dan menempelkan telinganya di dada kiri Ambareesh untuk mendengar detak jantungnya.


Detak jantung Ambareesh terdengar normal. "Syukurlah, istirahatlah dulu" Ucap Bianca sambil kembali berdiri untuk memeriksa teman-teman Ambareesh yang lain.


...----------------●●●----------------...


Hari menjelang malam. Luka, Tera, Megi, dan Vera telah sadar dan mulai melakukan perjalanan untuk pulang.


Luka berjalan sambil membopong Ambareesh yang masih pingsan. Kemudian, Megi membopong Vera karena luka Vera terlalu dalam dan tidak bisa di sembuhkan hanya dengan sihir penyembuhan.


"Ayo istirahat. Aku.... lelah" Ucap Luka sambil berjongkok.


Vera melihat sekelilingnya. "Tempat ini tidak aman. Bertahanlah sedikit lagi. 10 meter saja ke utara, disana ada rumah kosong. Itu tempat yang aman" Ucap Vera pada mereka sambil menahan rasa sakit di dadanya.


Tera menyentuh pundak Luka. "Ayo bergantian bila kau tidak kuat" Ucap Tera pada Luka.


Luka melihat wajah Tera yang tengah mengkhawatirkannya. "Kau mana kuat membawa Ambareesh yang lebih berat darimu. Simpan energimu baik-baik. Setelah ini, kau harus pensiun dari keprajuritan dan jadilah adik yang baik" Ucap Luka sambil berdiri dan membawa Ambareesh.


Bianca melihat Tera yang menundukkan pandangannya.


Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Tera. Dia melihat Bianca dengan mimik kesal. "Jangan pedulikan aku" Ucapnya sambil meninggalkan Bianca di belakang.


Bianca mengikuti langkah kaki Tera agar tidak tertinggal.


Sampai di rumah kosong itu, Luka segera meletakkan Ambareesh di lantai kayu rumah yang berdebu itu.


Bianca mendatangi Ambareesh dan memeriksa detak jantungnya.


Napas Ambareesh terdengar lebih berat dari sebelumnya. Wajah Ambareesh juga berkeringat dingin. Bianca melihat ke arah teman-teman Ambareesh untuk meminta pertolongan.


Namun, mereka juga memiliki kebutuhan masing-masing.


"Aku akan menyiapkan api" Ucap Megi sambil keluar dari ruangan itu.


Tera mengangkat lengan Vera. "Aku akan membersihkan luka Vera. Kak Luka, tugasmu sekarang cari ruangan yang bisa digunakan untuk istirahat dan kain untuk penghangat" Ucapnya sambil masuk ke ruang sebelah.


Luka mengangguk. Namun, dia keluar dari tempat itu dan mengikuti Megi yang tengah mencari kayu bakar.


Bianca kembali melihat Ambareesh. Wajahnya lebih pucat dari biasanya.


"Cepatlah sadar Ambareesh. Aku ingin segera membawamu pergi dari tempat yang membuatmu merasa tak nyaman" Biacan mengusap kening Ambareesh ke atas untuk menata rambut Ambareesh yang berantakan.


Tangan yang hangat itu, memberikan rasa kerinduan bagi Ambareesh.


Dia, memengang tangan Bianca yang hangat. "Siapa?" Lirihnya tanpa membuka mata.


Ambareesh menarik tangan Bianca dan menyampingkan posisi tidurnya. Dia meletakkan tangan Bianca di pipinya yang dingin.


"Kenapa kau sangat hangat?" Lirih Ambareesh.


"Biarkan seperti ini. Jangan pergi dulu" Lanjutnya.


Bianca yang satu-satunya orang yang tau kehidupan Ambareesh di penelitian itu, dia merasa iba. Dia mengusap ubun-ubun Ambareesh beberapa kali.


"Aku tidak akan pergi" Lirih Bianca sambil menunjukkan senyuman lebarnya yang memperlihatkan gigi-giginya yang rapi.


BEBERAPA JAM KEMUDIAN


"Ugh..." Kepala Ambareesh serasa berputar. Dia berguling ke kiri sambil memegang kepalanya.


Ujung hidung Ambareesh, menyentuh kulit yang terasa hangat. Dia menempelkan pipinya pada tempat yang hangat itu sambil memeluknya.


Kondisi Ambareesh, masih belum tersadar dari tidurnya. Walau begitu, indra peraba dan otak Ambareesh masih bekerja, serta masih mampu berfikir.


"Bukan guling?" Tanya batin Ambareesh.


Mata Ambareesh langsung terbuka karena dia teringat berada di tempat yang berbahaya.


Ambareesh, menarik pipinya dari kulit berwarna pucat, serta berambut keputihan itu. Kemudian, dia duduk.


"Sialan!" Ternyata, dia tidur sambil memeluk Luka.


Ambareesh menendang paha Luka sangking kesalnya.


"Khooooohk" Luka malah mendengkur dan tambah nyenyak tidur sambil menghadap ke arah Ambareesh.


"Aku sudah bilang jangan pernah membuatku tidur diposisi tengah" Ambareesh memegang kepalanya yang terasa pusing.


Tangan lain, tiba-tiba mengalung pada pinggang Ambareesh.


Ambareesh mengubah cara tatapnya menjadi dingin. Dia memegang tangan itu tanpa melihatnya.


Tangan itu, terasa lebih ringan dan lebih kecil. Ambareesh melihat pemilik tangan itu. Mata Ambareesh terbelalak saat melihat tangan itu adalah milik Bianca. Bianca, tidur disebelah Ambareesh karena sebelumnya, Luka dan Tera bertengkar akibat Luka yang memilih membantu Megi daripada mendengar ucapan Tera untuk mencari ruangan kosong agar bisa istirahat dengan nyaman. Dalam kondisi normal, biasanya Tera dan Luka tidur bersebelahan karena mereka adik kakak untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan.


"Ah, aku hampir lupa dengan keberadaanmu. Kau pasti lelah" Batin Ambareesh sambil melepas tangan Bianca dan mengubah posisi Bianca tidur menjadi menghadap ke arah kanan (ke arah Vera).


Kemudian, Ambareesh beranjak keluar dari ruangan itu.