The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 5 [Kesadaran]



"Kau tidak mengingatku?" Tanya Ruri.


"Tentu saja kau makhluk yang ada di mimpi itu" Jawab Arthur.


Sebenarnya, yang Ruri tanyakan adalah kehidupan pertama Arthur. Tentang pertemuannya dengan Luciel hingga akhir hayat seorang Tiran dengan nama ARTL KYZEN.


...----------------●●●----------------...


"PFTHAHA!" Ruri tertawa sambil duduk di sofa yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


Pergelangan tangan kanan Ruri di putar-putar perlahan, hingga memunculkan sihir berwarna keungguan dari dada kiri Arthur dan sihir itu bergerak menuju telapak tangan Ruri membentuk setangkai Teratai berwarna ungu.


Mata Arthur terbelalak melihat tanda yang selama ini dia fikir tanda kutukan itu bisa keluar dari tubuhnya.


"Terima takdirmu sebagai Titisan. Aku berulang kali mengatakannya, bukan?" Tanya Ruri sambil melepaskan teratai itu dari telapak tangannya kemudian teratai itu berputar pelan mengelilingi Arthur.


Arthur cukup takjub melihatnya. "Tapi, maaf sekali, aku bukan perwakilan dari Bangsa mana pun" Ucap Arthur tanpa sadar sambil berfokus pada teratai yang mengitarinya.


Arthur tidak sadar kalau serabut akar teratai itu, mulai melilitnya.


"Kau adalah satu dari mereka berenam. Aosora Arthur, harusnya kau mengingatku dengan baik. Haruskah aku memisahkan kepalamu itu agar kau teringat kembali?"


"GRRRTTT!!!" Akar-akar itu mulai mencekik Arthur.


Arthur yang tercekik, dia terbelalak sambil berusaha menarik dan melepaskan serabut akar yang melilit di lehernya.


Ruri tidak mengendalikannya. Itu adalah sepihan dari jiwa Arthur yang menginginkan kesadaran Arthur yang sebenarnya.


Arthur melihat wajah Ruri. Dia mengulurkan tangannya pada Ruri untuk meminta bantuan.


"Betapa naifnya dirimu di kehidupan ini. Arlt Kyzen, bukankah kau orang yang menikmati jiwa-jiwa yang menderita?" Senyuman seringai yang terpampang jelas di wajah Ruri, membuat Arthur seolah merasakan waktu di sekitarnya melambat.


Dia melihat sesuatu seperti glitch effect. Itu adalah distoris rupa Luciel di masa lalu dalam penglihatan Arthur di masa lampau. Dia dapat melihat Luciel berambut putih termasuk sayapnya yang bersih dan bercahaya, tanpa tanduk. Yang tengah mengulurkan teratai ungu padanya.


Mata kiri Arthur perlahan berwarna hitam dan irisnya berwarna ungu, seperti warna teratai itu. Napasnya mulai sesak.


Ruri mulai berdiri perlahan karena penglihatan Arthur yang terlalu cepat hingga sekitarnya melambat.


Energi sihir milik Ruri, mulai keluar dengan banyak karena Arthur mulai menyerap energi sihir di sekitarnya. Termasuk, energi sihir beberapa orang yang ada di balik pintu.


DEGH!


Dada Tsuha tiba-tiba terasa sakit seperti teriris sesuatu yang tajam. Dia merasakan energi sihirnya mulai keluar tanpa kendali. Begitu pula dengan Archie.


"Apa? I... inikah sihir yang mematikan dari Arthur? Apa yang terjadi dengannya?" Mata Archie terbelalak saat melihat energi sihirnya berterbangan dan masuk ke dalam ruangan itu.


"BRUK!" Tsuha terjatuh karena energi miliknya keluar lebih cepat daripada Archie.


"Tahan sebentar" Archie memegang bahu Tsuha untuk memindahkan Tsuha di jarak yang cukup aman dari jangkauan penyerapan energi sihir itu.


Tapi, hingga jarak berapa bakat Arthur itu usai?


Semua pasukan di sana, termasuk para Titisan dan Daeva merasakan energi sihir mereka terserap.


Ambareesh dan Alder melihat ke arah energi sihir mereka terserap. Dengan samar, para Titisan melihat sosok bersayap hitam tengah berdiri di hadapan Arthur.


Mata Ambareesh terbelalak. Dia sangat ingat dengan aura sosok ini. "PATSH! BAMMMM!!!" Ledakan terjadi dengan besar saat Ambareesh melesat untuk masuk menyelamatkan Arthur.


"DEAN! JAUHKAN MEREKA SEMUA DARI JANGKAUAN ARTHUR!" Tegas Alder kepada Dean yang cukup jauh dari jaraknya.


Dean mengangguk dan dengan cepat, dia membuat banyak lingkaran sihir untuk memindahkan mereka semua menuju Shinrin karena jangkauan daya serap Arthur saat ini, mencapai jarak hampir 50 KM dengan daya serap yang cukup besar. Tidak sedikit dari mereka yang tidak sadarkan diri karena serapan Arthur.


Perlahan namun jelas, Mereka (yang ada disana) menyaksikan embran tipis yang membuat mereka kesulitan mengatur sihir mereka termasuk para Titisan.


"PRAKKK!!!" Daeva melewati jendela mansion itu yang sedikit pecah.


Kebulan asap hitam yang pekat dan aroma sihir yang menyengat membuat dada Daeva merasa sesak. Ambareesh muncul di sebelah Daeva karena dirinya tidak ingin ketinggalan apapun tentang sosok bersayap itu.


Daeva melihat Ambareesh yang melihatnya.


Andai saja Daeva tau, Ambareesh merasa sangat asing dengan Daeva dan ini pertama kalinya bagi Ambareesh bertemu dengannya (Pikir Ambareesh).


"Alfarellza, jangan keluarkan Hinoken kalau kau tak ingin kehilangan pusakamu" Ucap Daeva sambil mengambarkan lingkaran sihir untuk memindahkan kebulan asap ini.


"Ya, tapi apa yang kau lakukan dengan lingkaran sihir itu?" Tanya Ambareesh sambil menutup hidungnya.


"Memindahkan sihir Arthur di tempat yang aman. WOOOFTH!!" Asap itu menghilang.


Ambareesh terkejut dengan apa yang di lihatnya. Dia tidak menduga kalau asap itu adalah sihir milik Arthur.


Meski begitu, Daeva sendiri terkejut karena dia tidak melihat Ruri di hadapannya. Ruri menghilang begitu saja. Namun, Penampakan rupa dan wujud Arthur, berubah 75%.


"WOOSHHT!" Tubuh Daeva tidak bisa bergerak saat Arthur yang tiba-tiba melesatkan pedang ungu yang lebih panjang dari Hinoken ke arahnya.


Dengan sigap, Ambareesh mengalungkan lengannya pada pinggang Daeva yang lebih ramping darinya untuk berpindah tempat.


"TRASSSH!! PRAK!!!" Tebasan pedang panjang ungu itu, membuat tembok mansion terlihat terbelah dan retak. Namun, tidak hancur.


Mata Daeva terbelalak. Andai saja tak ada Ambareesh, mungkin dia sudah menjadi es kiko. Daeva langsung menyikut perut Ambareesh untuk melepaskan pinggangnya itu.


Ya, Ambareesh langsung melepaskannya karena berada di posisi yang canggung.


Tak lama dari itu, Alder muncul dari ambang jendela dan melihat Arthur yang memunggunginya.


Daeva dan Ambareesh dapat melihat dengan jelas, dua tanduk runcing dan tidak terlalu besar berada di kening Arthur.


Mata kiri Arthur sudah tidak normal. Dan sekujur wajah Arthur sisi kiri telah dipenuhi oleh pola Titisannya. Serta tangan kiri Arthur mengeluarkan cahaya ungu yang sulit di jelaskan oleh nalar darimana asalnya.


"Kalian, serangga kecil yang menjengkelkan" Suara yang dikeluarkan oleh Arthur lebih rendah dari biasanya dan itu adalah suara lebih dari satu.


Arthur mengangkat pandangannya dan menatap Daeva. Dia menunjukkan pedang ungunya pada Daeva. "Bunuh diri atau mati di tanganku?" Pertanyaan itu, Arthur tujukan pada Daeva dan Ambareesh.


"Aku benci makhluk berambut putih seperti kalian. WOSH! BREB!" Arthur memindahkan paksa Ambareesh dan Daeva tanpa sentuhan.


Mata Alder terbelalak karena dia terkejut melihat dan merasakan sihir Arthur yang bahkan lebih mengerikan dari Ruri.


"RANU! DETEKSI DIMANA ALFARELLZA BERADA SEKARANG! DIA DALAM BAHAYA!" Bahkan, Titisan sekelas Alder tidak bisa melawan Arthur sendirian.


"Inikah, alasan mengapa Sang Cahaya memerintahkan kami untuk merebut Aosora Arthur dari Ruri? Sebab, kami pun, para Titisan tidak dapat mengalahkannya meskipun dia tidak menggunakan tubuh aslinya? Dan aku tidak bisa merebut tubuh salinan itu darinya"


Alder tersadar betapa berbahayanya Aosora Arthur apabila berada di tangan Ruri.