
Daeva telah menjalin perjanjian dengan Ruri secara diam-diam tanla sepengetahuan para Titisan.
Ruri dan Daeva kembali keluar dari alam bawah sadar itu dan Lingga berada di bawah mereka. "Dipertemuan yang selanjutnya, aku akan menjelaskan semuanya yang belum ku jawab hari ini. BSSHH" Ruri menghilang setelah mengatakan hal itu.
Daeva merasa ditipu oleh Ruri. Dia bahkan belum menjawab apapun pertanyaan yang diberikan oleh Daeva. "Sialan, ya untuk sekarang aku akan bersikap percaya dengan mu" Daeva berdiri di atas dahan pohon itu dan dia mulai mengambarkan lingkaran sihir untuk berpindah dengan Lingga dibawahnya tanpa menyentuhnya. Sebab, Alder tidak akan datang kemari karena Daeva menyerahkan gadis buta itu padanya.
"BWOSH!" Lingkaran sihir itu jatuh mengenai Lingga yang baru saja mendonggakkan kepalanya ke atas.
"Haha" Daeva terkekeh karena melihat ekspresi wajah Lingga seolah berniat membunuhnya. "Terserah, Aku tidak akan mati di tangan kalian, sebelum tugasku usai" Ucap Daeva. Namun, perlahan kekehan Daeva menghilang dan dia menunduk. "Ya, aku tidak pernah yakin mampu melihat masa depan yanh damai setelah tugas ini usai. Wosh!" Daeva melipat kedua lengannya di depan dada kemudian dia berteleport ditempat Alder.
Daeva mendecih setelah sampai di rumah Alder karena melihat Lingga yang memeluk gadis itu dengan erat. Bibir dan tangan Daeva mengejek Lingga dibelakangnya.
Rasa aneh dirasakan oleh Daeva karena tatapan mata Alder seolah dia mencurigai sesuatu terhadap Daeva.
"Ada apa?" Tanya Daeva kepada Alder karena tatapan dingin itu.
"Katanya kau bertemu dengan Ruri?" Tanya Alder di depan Lingga.
"Itu memang benar. Aku sempat melawannya. Tapi, dia tidak membalas. Dia hanya memainkanku karena ada Iblis itu yang mau masuk hutan. Dan nyatanya, Ruri tau dengan rencanamu" Jawab Daeva sambil menunjuk Lingga yang menoleh ke arahnya.
Hal ini tidak mengejutkan Alder. Sebab, Ruri memiliki sihir yang sama dengan semua Titisan. "Lalu, apa kau ada yang terluka?" Tanya Alder sambil melihat lengan Daeva.
"Aman~. Bagaimana dengan rencana berikutnya? Iblis ini, sudah datangkan?" Tanya Daeva sambil duduk di sofa dekatnya.
Alder menoleh ke arah Lingga yang sangat mewaspadai kehadiran Daeva di dekatnya. Dan Lingga, sengaja memancarkan auranya untuk mendominasi wilayah itu.
"Kenapa Kau bersama dengan hewan terkutuk itu, Alder?" Mata merah Lingga menatap tajam Alder yang melihatnya, setelah dia menyebut Daeva sebagai Hewan terkutuk.
"PFFT! PUAHAHAHA! Kau menyebutku hewan terkutuk?" Daeva segera berdiri dari tempat duduknya dan mendekatkan wajahnya ke arah Lingga.
"Lantas, sebutan apa yang cocok dengan makhluk yang membinasakan keluarga dan bangsanya sendiri?" Tanya Lingga yang membalas tatapan itu kepada Daeva.
"Ha~ha~ Harusnya kau membersihkan matamu dengan benar. Semua itu, ulah Ruri. Goblok!" Daeva mengangkat kedua jari tengahnya pada Lingga.
Alder mendorong wajah mereka agar menghentikan pertikaian itu. "Lingga, singkarkan dulu masalalu kalian dan Daeva, aku sudah memperingatkanmu berulang kali untuk tidak memancing atau terpancing emosi" Jelas Alder pada Daeva.
"Ya~Ya~ Lagi pula, aku sudah tidak memiliki hubungan dengan Iblis yang hanya menggunakan ototnya daripada pikirannya" Daeva menyingkirkan tangan Alder dari wajahnya.
Lingga menyingkirkan tangan Alder sambil berkata "Kau lah yang mengawali putusnya ikatan itu. Membunuh Ibumu sendiri? Kau sungguh lebih rendah dari kotoran binat-/PRUAK!" Daeva melesatkan tinjunya dengan cepat dan keras di wajah Lingga. "SIALAN! ULANGI LAGI APA YANG KAU KATAKAN!" Tegas Daeva sambil menahan leher Lingga dengan kakinya setelah terjatuh di lantai.
"Kau... le..bih.. rendah... dari... koto..ran...he...wan" Jawab Lingga sambil menyeringai di lantai.
"Kak!..." Aria meraba lantai untuk mencari Lingga setelah mendengar suara Lingga yang terbata.
Alder menarik tudung jubah Daeva hingga Daeva tertarik kebelakang dan Lingga terlepas. "Kalian berdua tidak bisakah kalian mendengarkanku?! Kondisi sekarang sedang tidak baik!" Tegas Alder.
"Cih! Jelaskan dulu semuanya kepada Si sialan ini, Ranu, dan Dean! Aku akan pergi dulu setelah semuanya paham dengan apa yang terjadi. Menjengkelkan sekali!!" Daeva menarik tudung jubahnya yang di pegang oleh Alder dengan kasar.
"Tunggu! Daeva!"-"WOSH!" Daeva pergi tanpa mendengarkan ucapan Alder.
"Ck!" Alder menutup matanya kemudian mengosok kepalanya karena dia tidak bisa menahan Daeva yang keberadaannya sangat penting untuk rencana ini.
Dan disini, hanyalah Daeva yang bisa menggunakan lingkaran sihir teleport untuk menjemput yang lain di Laut itu.
Alder melihat ke arah Lingga yang memeluk gadis buta itu yang menangis.
"Lingga, aku akan mengembalikan gadis itu ke Akaiakuma dan kau jangan buat dia terikat dengan para Titisan" lingkaran sihir muncul di kepala gadis itu. Alder menggunakan sihirnya untuk mengembalikan penglihatan gadis itu.
"PATSH!" Tidak butuh waktu yang lama untuk membuat Alder memulihkannya. Gadis itu, tidak sadarkan diri setelah Alder menggunakan energi sihir gadis itu untuk penyembuhannya sendiri.
"Aku beri waktu 24 jam untuk intropeksi terhadap dirimu sendiri dan apa tujuan Sang Cahaya membangkitkanmu" Alder mengangkat gadis itu dengan sihirnya.
Mata Lingga terbelalak. "Tunggu Alder... Dia tidak punya siapapun"
Untuk pertama kalinya, Lingga melihat sosok Alder yang marah terhadapnya. "Lingga, ku tegaskan untukmu. Aku tidak peduli dengan siapa orangnya. Siapapun yang menghalangi tugasku, aku lebih baik membunuh satu penghambat daripada 1000 nyawa yang melayang karena kelalaian. Aku tidak peduli dengan hukuman yang diberikan akibat membunuh 1 jiwa itu" Jelas Alder.
Lingga langsung terdiam di tempat. Pedang mana Alder melenyap dan dia membawa gadis itu pergi untuk dikembalikan di Akaiakuma.
...----------------●●●----------------...
Pagi hari Tsuha terbangun di pagi hari dalam keadaan tubuh yang lelah semua. Punggung Tsuha terasa remuk. Meski begitu, dia tidak memanjakan tubuhnya. Rambut hitam Tsuha yang berantakan, dapat dilihat olehnya dari pantulan kaca lemari.
Dia menengok punggung Archie yang kekar dan disebelah Archie adalah Razel dengan tubuh yang biasa. "Ah, tubuh yang menyeramkan" Gumam Tsuha sambil melihat Zack yang menutup wajahnya dengan handuk.
"Guh, kepalaku pusing sekali...." Kepala Zack terasa seakan mau pecah. Itu efek darinya setelah menghabiskan ronde terakhir bersama Angel dan Archie.
Suara Zack didengar oleh Archie. Dia terkekeh sambil membelakangkan rambutnya dan menunjukkan tanduk merah tua di keningnya.
"Haha... Buat mandi dulu, siapa tau nanti mendingan" Saran Archie kepada Zack.
"Yoi" Jawab Zack sambil menunjukkan ibu jarinya.
"Ah! Segarnya~" Val keluar dari kamar mandi dengan keadaan rambut yang basah dan dia mengosok rambutnya itu. "Tsuha kau dulu mandilah" Ucap Zack sambil menepuk punggung Tsuha.
"Ah, iya" Jawab Tsuha sambil berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi.
Masuknya Tsuha ke kamar mandi memberikan kesempatan bagi mereka untuk melanjutkan obrolan tentang kedepannya bagi mereka dan Tsuha juga.
"Zack, kita percayakan Tsuha kepada Ambareesh untuk sisa Anggota yang lain, ada baiknya kembali ke Shinrin" Ucap Razel kepada Mereka.
"Wakil, aku tetap tidak setuju dengan hal ini. Orang itu berbahaya. Dan dia bukanlah orang biasa seperti kita" Jawab Zack sambil duduk dan melipat lengannya di depan dada.
Archie membuka mulutnya. "Ini saran yang mungkin bisa berguna untuk kalian. Aku memang tidak terlalu mengenal Tsuha. Tapi, setidaknya aku memahaminya sedikit tentang dirinya. Biarkan dia yang memilih sendiri. Ambareesh sudah berkata padaku untuk membiarkan kalian memutuskan semuanya dan kalian diperbolehkan kembali ke tempat kalian di Shinrin" Jelas Archie.
Val yang tidak tau apa-apa, hanya mendengarkan obrolan penting tiga orang itu.
"Sejujurnya, aku tidak bisa meninggalkan tubuh yang pernah digunakan oleh Putra Mahkota Aosora Arthur. Tapi, mengetahui ternyata Putra Mahkota Aosora Arthur telah mati ada baiknya untuk kita mundur dan tidak terlalu terlibat dengan dia. Terutama dengan Luxe yang tiba-tiba menghilang sejak kemarin dan dia berada di kamar yang sama dengan Ambareesh dan Siluman Rubah itu. Tentunya, Luxe pasti memiliki sesuatu dengan mereka" Argumen Razel.
Zack memegang hidungnya saat berfikir.
"Ya, Wakil... aku memiliki firasat tentang hal ini. Firasatku, mengatakan lebih baik kita tetap bersama Ambareesh dan membiarkan yang lainnya memilih keputusan mereka masing-masing. Aku tidak bermaksud untuk menjadikan guild dua kubu. Tapi, posisi kita saat ini sudah tidak bisa di terima oleh Shinrin dan..."
"WOSH!" Haraya tiba-tiba muncul dari jendela dan memotong pembicaraan mereka. "Aku setuju dengan ucapanmu. Bersiaplah dengan yang lain dan tentukan jawaban kalian nanti malam. Mulai besok Tuan Ambareesh dan yang lain akan memulai perjalanan menuju Meganstria" Sela Haraya kepada mereka.
Archie menoleh ke arah Haraya.
"Lah? Tidak petang nanti?" Tanya Archie kepada Haraya.
"Tidak, semuanya diundur"
"Kenapa?"
"Lima Titisan telah berkumpul disini. Dan saranku, kalian akan lebih aman berada di wilayah mereka"
"Eh? Titisan?" Mereka berempat terkejut mendengar hal itu dari mulut Haraya.
"Dan ada kabar bagus untuk Archie" Haraya tersenyum tipis saat melihat Archie.
Sontak Archie menjadi merinding karena tatapan itu. "Apa itu?" Tanya Archie.
"Putra Mahkota Aosora Bram masih hidup dan dia akan segera bertemu denganmu" Ucap Haraya.
Mata mereka berempat terbelalak dan mereka terkejut mendengar kabar baik itu.