
"BAMMM! DRAP!"
"Hosh! Hah... Hah..."
Suara ledakan yang keras bercampur dengan dengungan degupan jantung di telinga.
Suara napas terdengar bergitu keras.
Langit yang merah dan api dimana-mana, menjadi pemandangan yang buruk bagi Aosora Arthur.
Dia berlari dan terus berlari seolah ada seseorang yang mengejarnya. Arthur melompati bongkahan bangunan besar. Dia bersembunyi di sela bongkahan tempat gelap itu.
Dia menutup mulutnya karena suara napasnya yang terdengar keras. Disaat yang bersamaan, dia mengatur pernapasannya yang mulai sesak dan dia kesulitan bernapas dengan posisi berdiri itu.
"Tap! Tap!" Suara langkah kaki yang ringan terdengar jelas di telinga Arthur.
Jantung Arthur berdegup dengan kencang. Leher Arthur terasa tercekik karena mana milik sosok yang mendekat itu mengintimidasinya.
"Aosora Arthur. Kau tidak akan bisa bersembunyi dariku" Sosok itu muncul dari jalan masuk sela bongkahan bangunan tempat Arthur bersembunyi.
Arthur melihat kedua matanya dengan jelas ketika cahaya bulan mengenai wajah itu.
Sosok itu memiliki iris mata yang berbeda. Mata kanan beriris hijau dengan pupil kuning dan mata kirinya beriris biru dengan pupil merah. Di mata kanannya, sosok itu memiliki retak di wajah berwarna hitam hingga di pipi kanannya.
"GREP!"
Sosok itu menarik kera jubah Arthur yang berwarna biru.
"Kau satu-satunya orang yang tidak sadar telah membuat masalah baru untuk dirimu sendiri" Arthur di seret oleh Pria berambut hitam pekat itu.
Arthur tidak bisa mengeluarkan suaranya. Dia membisu. Mata Arthur memandang langit yang merah dengan dua bulan disana. Bulan itu memiliki dua warna, yakni merah dan hitam.
Arthur masih diseret dengan tangan kirinya. Saat itu, Arthur tersadar kalau sosok itu memiliki enam sayap di punggungnya.
"Siapa dia? Kalau ini mimpi, cepatlah bangun"
Arthur tidak bisa membuat dirinya terbangun. Sosok yang menyeret Arthur memiliki mana yang pekat dan sangat mengitimidasi dari orang-orang yang pernah Arthur temui. Orang itu juga, mengenal Arthur.
"Aosora Arthur, kau sendiri yang mendatangiku terlebih dahulu. Apakah ini yang disebut insting Titisan Murni?" Sosok itu tertawa.
Sedikitpun, Arthur tidak mengatahui tentang pria yang menyeretnya itu.
"Aku hanya orang biasa. Dan aku bukan seorang Titisan. Apalagi, Titisan Murni yang kau sebutkan itu. Aku sama sekali tak mengerti" Arthur hanya bisa bergumam dibatinnya.
"Ya, Aosora Arthur,... Menurutmu, apakah kau akan berpihak kepada siapa? Akankah, kau memilihku dan tetap menjadi temanku meski kau tau apabila aku adalah sosok yang mengancam negri ini?"
Arthur merasa tak asing dengan kalimat itu. Dia mendongakkan kepalanya untuk melihat sosok itu. Sosok itu menyeringai lebar dengan wajah Nao.
Sosok itu menyipitkan matanya. "Nah, bagaimana rasanya saat temanmu ternyata memang musuhmu? Apakah kau akan membiarkan ku pergi atau membunuhku saat aku kembali bertemu denganmu, seperti ucapanmu kala itu?" Dia adalah Ruri.
Arthur tanpa sadar menggunakan kemampuannya untuk masuk ke dalam alam bawah sadar Ruri. Tepatnya, ruang alam bawah sadar milik Ruri.
Ruri melepaskan Arthur. Namun, sekujur tubuh Arthur telah di penuhi oleh sihir yang membuat Arthur tidak dapat mengerakkan tubuhnya sendiri.
Arthur masih tergeletak di tanah yang berkumbang dengan air.
Dia mengkernyitkan keningnya saat melihat Ruri.
"Kenapa?"
"Hah? Kenapa kau tanya kenapa? Apa kau memang tidak tau apapun? Meski disekitarmu ada banyak Titisan?"
Ruri heran dengan pertanyaan Arthur.
"Aku tidak paham dengan semua ucapanmu. Nao, aku tidak pernah tau di sekitarku penuh dengan Titisan. Bukankah, kau ingin menemui banyak Titisan seperti yang kau katakan saat di ASJS (Akadem Sihir Jelata Shinrin).
"PFFT! HAHAHA!" Ruri tertawa dengan keras.
"Para Titisan menghindariku. Mereka semua takut denganku. Hanya Kau dan Daeva yang berani mendatangiku seorang diri. Jadi, Aosora Arthur, apakah kau bersedia berjalan denganku untuk mencapai perdamaian yang mutlak?" Ruri mengulurkan tangannya kepada Arthur.
"Kenapa harus aku? Bukankah ada para Titisan yang bisa membantumu? Aku tidak ingin berurusan dengan Titisan. Ibuku, tidak menyukainya" Ucap Arthur sambil melihat wajah Ruri yang masih menggunakan rupa Nao.
Ruri menghela napas. Dia mengalihkan padangannya.
"Kau tidak paham dengan ucapanku Arthur. Aku bisa memberimu tubuh aslimu tanpa menunggu banyak waktu lagi. Aku akan mengajarkanmu semua sihir yang ada di dunia ini kepadamu dan bantu aku mencapai puncak kedamaian sebagai bayaranmu. Para Titisan itu, hanya menghambat tugasnya dan merekalah yang menjadi ujung benang yang memicu persitruan hingga sekarang" Ruri menduduki perut Arthur dan menarik wajah Arthur.
"Aku sudah lelah dengan semua itu. Dunia ini, begitu membosankan dan selalu berada di lingkaran setan yang tak berujung. Kalau kau menyetujuinya, aku akan membawamu jauh dari Negri Arden untuk fokus dengan pelatihan sihirmu. Karena itu adalah takdirmu, sebagai Titisan Kehancuran" Hidung Ruri dengan hidung Arthur saling bersentuhan.
Arthur takut dengan Ruri karena berada di posisi yang tidak aman. Arthur segera memalingkan wajahnya.
"Sudah ku katakan, aku tidak akan berhubungan dengan Titisan. Aku hanya Aosora Arthur" Tegas Arthur kepada Ruri.
Ruri melepaskan kepala Arthur dan kembali membuang napasnya.
"Kau tidak bisa menghindari takdirmu Arthur. Itu adalah anugerah dari Sang Cahaya. Kau sungguh berbeda dengan sosokmu dahulu" Ucap Ruri sambil berdiri.
"Aku akan melepaskanmu kali ini. Sampai aku melihatmu di kemudian hari, jangan berharap kau bisa terlepas dariku meski ada banyak Titisan yang berusaha mendapatkanmu" Ruri pergi meninggalkan Arthur yang masih diselimuti oleh sihirnya.
"TU...TUNGGU! BAGAIMANA CARAKU KEMBALI!?" Arthur mulai panik karena ditinggal oleh Ruri.
"Pikirkan sendiri" Jawab Ruri tanpa menoleh ke Arthur.