The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 3 [Taruhan]



"PATTSH!!!"


Arthur melesat dengan cepat ke arah Ambareesh. Ambareesh masih melihat ke arah sungai namun tiba-tiba dia merasakan aura menyerang dari arah belakangnya, dia langsung menoleh dan menangkap lengan Arthur kemudian,...


"SYUNNGGGG!!!! BYUUURRRRR!!!!"


Jiwa Arthur dipengang oleh Ambareesh dan Ambareesh langsung dilempar ke sungai secara refleks.


Air sungai muncrat kemana-mana.


...----------------●●●----------------...


Menyadari atas apa yang baru saja Ambareesh lakukan, dia langsung termangun di tempat.


"Sial, apa yang sudah ku lakukan?"


Arthur muncul dari air perlahan. Dia meringis lebar saat mengetahui apabila Ambareesh bisa melihat dan menyentuhnya. Meski begitu, senyuman Arthur langsung berubah menjadi raut terkejut saat melihat wajah Ambareesh yang datar melihat ke arahnya.


Nyatanya, itu adalah wajah Ambareesh saat terkejut.


Arthur perlahan masuk kembali ke dalam air sangkin was-was dengan Ambareesh.


"Kau Aosora Arthur bukan?" Tanya Ambareesh.


Jantung Ambareesh masih berdegup dengan kencang sangking kagetnya.


Arthur kembali muncul perlahan dari air. Dia mengangguk perlahan.


"Kemarilah" Ambareesh menggerakkan telunjuk jari kanannya kepada Arthur.


Arthur mengeleng.


"Kemari" Panggil Ambareesh sekali lagi dan Arthur masih saja mengeleng.


"Tsk, kemarilah. Aosora Arthur. Apa kau lupa dengan sosok yang kau temui dialam bawah sadar?"


Sekilas, Arthur teringat dengan Iblis bertanduk satu yang membuatnya terjebak dan berkeliling sebanyak 143.151 kali melewati padang rumput yang sama.


"Oh, jadi kau Iblis itu? Kenapa kau ada ditubuhku?"


Arthur masih beranggapan tubuh Ambareesh adalah tubuhnya.


Ambareesh berjongkok di bibir sungai.


"Ini adalah tubuhku dan kau hanyalah penumpang sama seperti Putra Arnold" Jelas Ambareesh kepada Arthur.


Arthur mengkernyitkan keningnya. Dia fikir, Ambareesh hanya membual saja. Namun, mengingat Ambareesh yang selalu menganggunya di mimpi (padahal Arthur yang mengusik terlebih dahulu) dia sedikit mentoleransinya.


"Bagaimana bisa?"


"Harusnya kau sadar karena wajah ini, berbeda dengan Aosora yang lain" Jelas Ambareesh.


Arthur terdiam karena itu benar.


"Uh, lalu kenapa aku ada di tubuhmu?" Tanya Arthur.


"Karena kau harusnya sudah mati sejak bayi. Tapi, jiwamu berbeda dengan yang lainnya. Jiwamu masih hidup dan hmm, intinya kau aneh" Jelas Ambareesh dengan menggunakan bahasa Arthur.


Mata Arthur terbelalak. "Kenapa aku bisa mati" Rasa penasaran Arthur mulai membuat Ambareesh kesal.


"Apa benar rumor yang beredar tentang ayahku yang menjalin perjanjian gelap dengan Iblis hingga membuatnya mengorbankan jiwanya?".


"Siapa yang mengatakan itu? Aku bukan Iblis" Lirih Ambareesh.


Arthur melihat Ambareesh. "Apa kau seorang Titisan Malaikat?" Tanya Arthur dengan mata yang berbinar.


"Emm, karena kau...haha, mirip sekali dengan karakter Novel Kapten Marsyal. Jadi, kupikir itu pantas apabila novel Kapten Marsyal ditolak dimanapun oleh penerbit" Jawab Arthur setengah tertawa.


Dean yang mendengarnya mulai mengkernyitkan keningnya. "*Novel apa yang Alder buat?"


[Hanya novel untuk membuat Aosora Arthur dan Ambareesh berada di pihak para Titisan. Aku hanya ingin membuat mereka berdua mengingat Ruri adalah musuh utama Negri Arden*]_Telepati Alder.


"Cih! Dasar! Lalu bagaimana dengan Titisan kehancuran itu?" Tanya Dean sambil mengosok kepalanya sendiri.


[*Apa Daeva yang kau maksud? Secara silsilah, Daeva bukanlah-]


"Apa kau membelanya Alder? Jelas-jelas dirinya telah membuat saudara kandungnya menderita dan menghancurkan rasnya sendiri. Dia tidak pantas disebut sebagai Titisan Pertama. Apabila kau tidak menyetujuinya, kau sama saja dengan menentang Titisan yang lain*" Jelas Dean.


Dari Kerajaan Shinrin, Alder dalam wujud Marsyal menghela napas sambil menandatangani surat permintaan kerjasama bisnis yang orangtua Marsyal (Orang tua angkat Alder) wariskan kepada dirinya.


"Dean, pemikiranmu sungguh tidak berubah. Apa yang membuatmu membenci sosok gurumu itu hingga seperti ini?" Tanya Alder sambil mengosok keningnya yang mulai pening.


[Dia menghancurkan desaku dan membunuh semua teman-teman seperjuanganku. Kau kira, aku mudah melupakan kejadian itu? Jangan lupa juga saat dia membuat desa Siluman Rubah putih terbakar. Itu sungguh membuatku kecewa]_Jelas Dean dalam telepati.


Sulit bagi Marsyal untuk menanamkan kepercayaan kembali untuk titisan yang lain. Satu-satunya cara bagi Alder untuk membuat para Titisan percaya kepada Daeva hanyalah Ambareesh dan Arthur yang merupakan sosok yang tidak mengingat masa lalu mereka.


"Di masa depan, aku melihatmu bekerja sama dengan Daeva dan kau menangis karena melihatnya. Cobalah terbuka mulai sekarang sebelum kau kecewa dengan dirimu sendiri" Tegas Marsyal sambil sedikit tersenyum disana.


[Tsk! Sudah kukatakan kepadamu untuk tidak melihat masa depanku. Itu menganggu pikiranku!] Tegas Dean.


"Kau salah. Ini adalah penglihatanku dari Daeva. Disana, aku melihat Aosora Arthur berada bersama Daeva disebuah pesta besar. Mungkin itu adalah pesta bangsawan" Cerita Marsyal.


[Apa?! Itu sangat tidak mungkin apabila aku dan dia ditambah lagi Arthur yang menghadiri pesta kerajaan. Kemungkinan besar apabila dia menyelinap masuk ke pesta itu!]


"PFFTT!!! HUAHAHA, Bagaimana bila kita bertaruh? Di masa depan, Arthur akan berada di tangan Daeva dan dia lebih mempercayai Daeva dari pada para Titisan. Saat itu, para Titisan akan melebarkan pintu rumah mereka untuk Daeva karena Ambareesh yang memiliki hubungan paling erat dengan Arthur. Apabila taruhan ini meleset, aku Alder Ren akan menuruti ucapanmu untuk menutup mulutku tentang kebenaran Daeva Nerezza. Dan apabila taruhan ini benar, Darnette Dean, aku ingin kau membuka matamu kembali untuk Daeva" Ucap Marsyal sambil meletakkan dagunya diatas punggung kedua tanganya.


Dean terdiam karena dia tau dia tidak bisa melawan penglihatan Alder yang 95% selalu tepat.


"Cih! Taruhan ini akan sangat menguntungkanmu karena kau bisa melihat masa depan. Sudahi basa-basinya sampai disini. Sekarang, siapkan tiga Anggota Pemberantas Iblis. Aku akan membawa mereka" Ucap Dean sambil melihat Ambareesh dan Arthur masih mengobrol disana.


Marsyal terkekeh dalam telepatinya. [Kau akan sulit mendapatkan seorang gadis kalau kau selalu bersikap kasar dalam pembicaraan seperti ini] Ejek Alder.


"Tsk, kau juga sama. Kau tidak akan bisa menikah dengan damai kalau masih teringat wanita jadi-jadian itu" Sindir balik Dean.


Mereka berdua saling menyidir hingga akhirnya Dean menjemput tiga Anggota Pemberantas Iblis yang tersisa.


Arthur kini dimana-mana selalu mengikuti Ambareesh.


"Hei guru! Lihatlah! Aku bisa menembus pintu seperti ini! Kurasa aku akan menjadi hantu Detektif yang keren!" Tegas Arthur sambil berteriak dan memunculkan wajahnya dari batu tempat Ambareesh bersadar.


Ambareesh menghela napas panjang karena tindakan Arthur yang tidak sesuai dengan usianya.


"Siapa yang mengizinkanmu memanggilku guru?" Tanya Ambareesh sambil mendorong wajah Arthur ke dalam batu itu.


Arthur muncul di sebelah Ambareesh dengan tiba-tiba. "Aku ingin kau mengajarkanku sihir yang hebat. Seperti Wosh! dan BAM!" Arthur pernah melihat sihir Ambareesh yang hebat di alam bawah sadarnya.


Melihat Arthur dan gaya bicaranya, Ambareesh teringat dengan Arnold. Dia tersenyum tipis.


"Ya, aku akan mengajarimu setelah kau berhasil merebut tubuh ini" Syarat dari Ambareesh.


"Hahaha, sudah ku duga kau tid-HUH?! APA?! Kupikir! Kau akan menolaknya!" Arthur sangat tidak menduganya.


"Kau tidak mau calon muridku?" Tanya Ambareesh.


"HA! HA! Aku akan merebutnya sekarang!!! BWOSH!!!" Jiwa Arthur menembus tubuh Ambareesh saat akan merasukinya.


"Haha, ini tidak akan mudah. Berusahalah~" Ucap Ambareesh sambil meninggalkan Arthur yang terjungkal disana.