
Ambareesh bersama beberapa anggota Markas Pemberantas Iblis mulai melakukan pemeriksaan area sekitar di lokasi yang dikabarkan terdalat gangguan Bangsa Siluman.
Beberapa anggota tersebut terdiri dari; Razel (Wakil Ketua Markas), Val, Liebe, Zack, Tsuha, dan Luxe (anggota baru markas), serta Angel (Ketua Markas Penyidik Aosora yang rela meninggalkan posisinya demi mengikuti Tsuha). Misi ini, tergolong kelas A. Dan Archie harus tetap ikut karena tidak boleh jauh dari Ambareesh. Bila Archie berada di jarak lebih dari 10 km, tubuh duplikat Archie akan melenyap dan jiwa Archie kembali ke dalam tubuh Ambareesh.
Archie menghela napas panjang di sebelah Tsuha.
"Kenapa?" Tanya Tsuha pada Archie karena telah mendengar berulang kali helaan napas dari Archie.
"Dia tidak berbicara denganku sejak aku keluar dari tubuhnya. Apa Arthur marah karena aku tidak bisa membantunya sedikitpun?" Tanya lirih Archie pada Tsuha di sebelahnya.
Luxe yang berada di belakang mereka menguping pembicaraan itu.
"Mungkin, dia hanya senang karena tak akan ada lagi orang yang bisa mendengar batinannya" Jelas Tsuha.
Luxe mendecih kecil karena Tsuha selalu mengeluarkan ucapan positif. "Kau salah. Dilihat dari manapun, dia itu bukan Putra Mahkota Aosora" Jelasnya.
Archie dan Tsuha melihat ke arah Luxe bersamaan.
"Dasar anak baru! Kenapa kau harus ikut pembicaraan kami?" Tanya Tsuha dengan nadanya yang datar.
"PFFT! PUAHAHAHA! Sialan! Kau seperti robot hidup. Kenapa kau harus ikut pembicaraan kami? Ble~" Luxe meniru cara bicara Tsuha yang datar dan tidak memiliki intonasi yang jelas, serta diakhiri dengan juluran lidah untuk mengejeknya.
Angel mencengkram kera pakaian Archie. "Bolehkah aku membunuhmu Archie? Aku mulai kesal" Ucap Angel dengan suara geramnya
"Eh?! Kenapa aku?! Dan kenapa Kau yang kesal?!" Tegas Archie.
"Aku hanya boleh membunuh Bangsa Iblis" Jawab Angel sambil melihat ke arah Archie.
"Bukankah dia lebih terlihat seperti Iblis daripada aku?" Tanya Archie sambil menahan cengkraman kuat dari tangan Angel.
"Kak, hentikan" Lirih Tsuha sambil menarik tangan Angel.
"Tentu~" Jawab Angel dengan nadanya yang sumringah sambil melihat Tsuha.
"Hah...." Tsuha dan Archie menghela bersamaan.
Ambareesh melihat ke arah mereka berempat. "Itu, terlihat menyenangkan" Batinnya sambil kembali memeriksa area sekitar.
Val meletakkan telinganya di atas tanah yang berumput. Dia mengetuk tanah itu beberapa kali.
"Di bawah sini, sepertinya terdapat sesuatu yang sedang bergerak. Wakil, arahkan anak-anak yang bertengkar itu untuk bersiap" Pinta Val agar Razel mulai mengkoordinasi mereka.
Razel mengangguk dan memanggil mereka berempat untuk tidak jauh dari jangkauan Razel. Namun, mereka terlalu lambat untuk menyadarinya.
Tanah bergelombang muncul dari belakang mereka berempat. Ambareesh dan Angel mengeluarkan pedangnya secara bersamaan saat tanah itu terlihat seolah akan melahap mereka berempat.
Ambareesh melesat saat tanah itu memiliki ketinggian 2 meter. Dia menghunuskan pedangnya. Namun,....
BLUB!
Keempatnya tertelan tanah dan ternyata tanah yang terlihat seperti ombak itu, hanya tipuan.
"Tsuha! Luxe!" Razel memanggil nama kedua anggotanya.
Ambareesh melihat sekitarnya kemudian menempelkan telingannya di atas tanah. Telinga Elf Ambareesh berdenyut beberapa kali. Dia tidak mendengar suara tanah yang bergerak. Begitu pula dengan Val.
"Dia berhenti dan masih ada disekitar sini!" Tegas Val.
Ambareesh berusaha mengingat-ingat wilayah Shinrin bagian barat daya ini pernah ditinggali oleh bangsa apa. Namun, ingatan Ambareesh buntu dan ditutupi oleh ingatan Arthur.
"Ck! Apa yang bisa ku lakukan bila kau menganggu seperti ini?" Lirih Ambareesh sambil memegang kepalanya.
Haraya juga tidak segera muncul di waktu Ambareesh membutuhkannya. Haraya pamit pada Ambareesh karena dia ada urusan dengan orang yang sangat penting dan harus datang lebih awal sebelum dirinya.
Ambareesh berkumpul ditempat Razel dan yang lain untuk berunding.
...----------------●●●----------------...
Perlu diketahui:
Pada Novel sebelumnya, Tsuha adalah seorang Anggota baru yang datang bersamaan dengan Arthur 2 bulan yang lalu. Tsuha dan Arthur memiliki hubungan pertemanan yang cukup dekat. Tsuha mengenal Arthur sejak dia berusia 7 tahun dan bertemu kembali diusia 18 tahun setelah berpisah dengan Arthur selama 6 tahun karena sebuah insiden yang menyebabkan Tsuha kesulitan berkomunikasi dengan orang lain dan mengalami trauma.
Tsuha memiliki kelebihan berupa dapat melihat aura seseorang dan Tsuha memiliki sihir yang serupa dengan bangsa Elf dengan wujud manusia penuh.
Sedangkan Luxe dan Angel berasal dari Aosora untuk menjadi anggota baru Guild Pemberantas Iblis dengan tujuan mereka masing-masing.
...----------------●●●----------------...
"Sialan! Ngapain juga si Angel tadi! Bukannya dia orang yang paling peka disini?!" Tegas Val dengan kesal.
"Harusnya dia-"
"Sudah diamlah. Aku tadi melihat perempuan itu sempat menarik tangan Tsuha dan dia mengeluarkan pedang mananya untuk menebas gelombang tanah di belakangnya. Tapi, serangan sebenarnya muncul dari bawah mereka" Sela Ambareesh yang dapat melihat pergerakan Angel yang cepat.
Razel mengangguk karena dia melihatnya juga.
"Berarti, ini sudah dapat dipastikan bila ini adalah serangan dari Bangsa Siluman. Kalau begitu, kita harus menemukan lokasi mereka sebelum sesuatu yang buruk menimpa empat anggota kita. Setelah itu, kita akan mengirim signal pada Marsyal (Kapten Markas Penyidik Shinrin).
Niatnya seperti itu. Namun, musuh mereka bukanlah siluman biasa. Ambareesh dan yang lain, terjebak di tempat itu selama dua minggu. Mereka hanya berputar-putar tanpa menemukan titik kembali yang jelas. Penggunaan sihir teleport maupun gerbang, tidak bisa membawa mereka keluar dari tempat itu.
"Tempat ini, dipenuhi dengan aura siluman. Melelahkan sekali" Ucap Zack sambil tiduran di sebelah kaki Ambareesh.
Ambareesh duduk diatas rumput itu dan menunggu musuh datang dengan sendirinya.
Kabar tentang hilangnya tim yang Razel bawa, sampai dulu ditelinga Kerajaan Shinrin sebelum sampai di telinga Arnold dan Marsyal yang tengah menjalankan misi penyusuran untuk pencarian tubuh Putra Mahkota Aosora Bram (Kakak Arthur).
Arnold dan Marsyal dipanggil untuk menghadap dipertemuan yang diadakan dadakkan itu.
"Marsyal, kau ceroboh akan keputusanmu. Bila sudah begini, apa yang akan Shinrin katakan kepada Kerajaan lain bila Aosora Arthur menghilang karena misi A?! Harusnya! Kau berulang kali memeriksa misi itu!" Tegas Baal (Putra Mahkota Shinrin dan sekaligus Kapten Markas Kesatriaan dan Keprajuritan Shinrin).
"Baal, tenanglah. Kita akan menghentikan penyusuran Bram sementara waktu dan beralih ke pencarian anggota Markas Pemberantas Iblis. Pencarian ini, tidak akan dihentikan sebelum Aosora Arthur ditemukan. Baik dalam keadaan bernyawa ataupun tidak" Ucap Agleer Linus (Raja Shinrin).
"Ha? Aku hilang?" Arthur mengagah mendengarnya. Dia ikut masuk ke dalam ruangan rapat itu setelah bertemu dengan Marsyal di hutan terlarang.
"Apa?! LALU GIMANA CARAKU AGAR BISA KEMBALI DITUBUH ITU?!!!!!" Arthur berteriak dan berguling-guling di lantai marmer.
Marsyal berdiri dan membungkukkan tubuhnya di hadapan semua orang yang ada di ruangan rapat itu.
"Saya bersumpah akan menemukannya" Ucap Marsyal.
"BRUAK!" Arnold langsung keluar dari tempat itu dan mulai mencari semua anggotanya yang hilang.
Semua pandangan orang melihat perginya Arnold. "Tidak sopan sekali"
"Pantas saja mereka terkenal buruk. Bagaimana tidak? Kaptennya sendiri tidak menunjukkan perlakuan yang sopan!"
Petinggi Shinrin tidak menyukai ketidaksopanan Arnold.
Arthur berdiri dan melihat orang sekitarnya.
"Dasar bodoh! Dia seperti itu karena dia memiliki tanggunh jawab yang besar untuk melindungi anggota-anggotanya!" Arthur terbang mengikuti Arnold.
Marsyal melihat ke arah Arnold. Kemudian dia membungkuk sekali lagi untuk minta maaf atas ketidaksopanan Arnold.
Sebenarnya, Marsyal sendiri kehilangan satu anggotanya yang bernama Nao. Dia tidak kembali setelah diutus untuk pengantarannya Aosora Arthur.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak menyangka bila ini akan berubah menjadi misi S. Siluman apa yang tinggal di tanah Shinrin?" Marsyal bertanya pada seekor kucing kecil dengan anting berbandul teratai hijau itu.
Kucing itu mendonggakkan kepalanya.
"Haraya, jawablah" Ucap Marsyal padanya.
"Alba Bianca" Jawab Haraya dalam wujud anakan kucing hitam.
Marsyal mendonggakkan kepalanya ke langit yang ditutupi oleh ranting kering dari pepohonan mati di dalam hutan terlarang.
"Alba yang kau ceritakan itu? Yang hidup sejak Ambareesh dikehidupan keduanya?" Tanya Marsyal.
"Iya Guru" Jawab Haraya.
"Kalau begitu, Alba Ranu pasti sudah terlahir sebelumnya. Dan dia yang membuat Alba Bianca bisa hidup sepanjang ini. Haraya, aku memberi tugas baru untukmu" Ucap Marsyal sambil menurunkan Haraya ke tanah.
"Apa itu Guru?" Tanyanya.
"Cari Alba Ranu dan beri dia iming-iming akan menunjukkan keturunannya padanya yang masih hidup" Marsyal tersenyum dengan lebar.
"Mengenai Aosora Arthur dia sudah ada disekitarku. Jadi, dia akan aman. Aku akan tetap melindunginya dengan diam. Dia terkadang membuatku kesulitan menahan tawa dengan semua tingkahnya dihadapan orang-orang di rapat itu" Marsyal beranjak pergi dari tempat Haraya berada.
"Wosh!" Haraya kembali di wujud Elfnya.
"Saya akan sering mengirim kabar untuk Anda. Dan Anda juga harus segera mengambil anting ini" Ucap Haraya pada Marsyal.
"Tentu. Bila Alfarellza sudah kembali bersama dengan Titisan yang lain, termasuk Daeva. Aku akan mengambil kembali anting itu dan membebaskan kalian semua yang ada di hutan ini" Ucap Marsyal sambil melambaikan tangannya pada serigala sihir yang sedang melihat ke arahnya.