
Pemandangan putih berada di sekeliling Ambareesh. "Apa yang terjadi?" Dia baru saja membuka matanya. Dia tersadar setelah pingsan yang terjadi menimpanya 40 detik yang lalu.
Dua menit yang lalu, Archie terhempas ke arahnya dan Ambareesh melesat ke arah Ular besar itu untuk menyerang balik.
Alih-alih menyerang balik. Sosok Elf hijau yang lain telah menunggu waktu yang tepat untuk membuat Ambareesh kuwalahan. Dia Alder Ren. Sosok titisan Elf yang memiliki tugas untuk melindungi Aosora Arthur dan mendapatkan kepercayaan Ambareesh kembali setelah hilang ingatan.
Alder Ren, menarik senar panahnya sejauh bahunya dan tak nampak sedikitpun anak panah pada senar yang Alder tarik.
"Pastsssh!!!" Alder melepas anak panahnya tepat pada dada Ambareesh. Alder berniat memutuskan aliran mana Ambareesh sebagai percobaan pertamanya dan refleksi tubuh Ambareesh saat menghadapi ancaman jarak jauh.
Ambareesh masih belum terbiasa dengan tubuhnya. Dia sempat melihat percikan yang melesat ke arahnya. Namun, Dia tidak mampu melepaskan sihirnya dengan spontan.
Lantas,angin keras dari tepisan senar panah Alder menghempaskan Ambareesh masuk ke dalam dan "BRUAK!!!!" menembus dinding tempat Tsuha berada.
Bianca membelalakan matanya melihat tubuh Ambareesh yang terhempas di sebelahnya. Dia melihat ke arah Ambareesh yang tak sadarkan diri
"Gabriel. Rantai dia. Jangan dengan sihir dan pastikan tidak akan lepas. Dia akan segera sadar"
Pikir Bianca, Ambareesh terhempas ke arahnya akibat salah satu dari siluman ular itu.
Tsuha menyentuh beberapa kali bahu Ambareesh dengan kakinya agar cepat sadar. Namun, Gabriel menarik bahu Tsuha agar tidak menganggu Ambareesh.
"Sialan!" Maki Tsuha pada Gabriel.
"Jangan mentang-mentang kau Elf hijau yang langka! Aku tidak peduli sebesar apa kapasitas dan kehebatan kekuatanmu! Sedikit saja kau membuat Putra Mahkota Aosora terluka, aku tidak sengan untuk mengeluarkan pedang manaku!" Ancam Tsuha pada Gabriel.
Mata hijau zamrud Gabriel, melihat ke arah Tsuha.
"Sepenting apa dia bagimu?" Tanya Gabriel sambil memasangkan besi melengkung seperti borgol di leher Ambareesh yang tengah tak sadarkan diri.
"Apa pedulimu!" Tegas Tsuha sambil memberontak agar sihir hijau di tubuhnya terlepas.
Tsuha terus mengeluarkan gelombang mananya agar meluap ke atas dan itu, adalah signal yang dia pelajari dari Markas Marsyal dan hal ini, yang membuat Alder dapat menemukan mereka dengan cepat.
Gabriel mendatangi Tsuha setelah selesai merantai Ambareesh.
Gabriel menatap lonjakkan gelombang mana Tsuha yang tidak normal. "Apa ini adalah tubuh utamanya? Berati, lonjakan mana itu, akan berpengaruh pada Tsuki" Batin Gabriel sambil melihat ke sisi Timur tempat dia berada.
BRUK!!
Benar dengan apa yang dikatakan oleh Gabriel, Tsuki (adik kembaran Tsuha) tiba-tiba pingsan saat pelatihan pedang sihir tengah berlangsung.
"Eh! Anj*r!!!" Toru sangat terkejut melihat Tsuki yang terjatuh dihadapannya.
Semua siswa kelas 2-3 dan beberapa siswa yang menonton pelatihan itu, mendatangi Tsuki. Nox menyuruh semua siswanya untuk memberi ruang. Dia melihat warna rambut Tsuki yang memudar dan terlihat berwarna ungu muda.
"Apa yang terjadi?" Tanya Nox sambil membalik tubuh Tsuki.
Mike dan beberapa anak lainnya, melihat perubahan pada telinga Tsuki yang mulai meruncing. "Guru! Telinganya!!" Tegas Mike sambil menunjuknya.
Nox terbelalak. Dia tidak tau apa yang terjadi. Kemudian, sosok Prajurit datang untuk menemui Nox. Prajurit itu adalah utusan Baal bernama Dera.
"Tuan Nox, bisakah kita mengobrol berdua? Saya perlu menyampaikan sesuatu yang penting" Ucap Dera pada Nox.
"Toru, bisakah kau ambil tandu di Uks dan bawa Tsuki ke rumah. Aku akan menunggu disana dan minta surat izin pulang untuk Tsuki pada guru piket" Pinta Nox.
Toru mengangguk. Kemudian, Nox mengantarkan Dera untuk ke rumahnya (Di belakang Akademi).
Berita tentang hilangnya Tsuha dan kelompoknya telah tersampaikan ke telinga Nox. Kenapa Nox harus tau tentang berita ini?
Sebab, Nox adalah wali Tsuha dan Tsuki.
Nox syok mendengarnya.
"Tidak mungkin. Kalian harus menemukan" Ucap Nox dengan mata yang terbelalak.
Dera memberikan segulung kertas tua kepada Nox. "Saya menemukan gulungan tua ini, saat di Aosora. Saya rasa, Anda harus membacanya Guru Nox. Jangan melupakan saya sebagai murid pertama Anda dari Aosora" Jelas Dera.
Nox memperhatikan wajah Dera. "Lupakan saja. Aku tidak memiliki murid bernama Dera. Biar aku membacanya" Nox membaca gulungan itu.
Gulungan itu, adalah surat resmi Raja Ke-IV, Aosora Naver. Surat perjanjian antara orang tua Arthur dengan Ambareesh.
Nox menoleh ke arah Dera. "Kau membacanya?" Tanya Nox.
"Kau, menunjukkan ini kepada siapa saja?"
"Hanya Anda" Jawab Dera.
Nox membakar dokumen itu dengan sihir api miliknya untuk menyembunyikan rahasia besar Aosora.
"Siapa saja yang menghilang bersama Tsuha?" Nox mengambil jubah miliknya di dekat jendela.
"Detailnya saya kurang paham. Tapi, Putra Mahkota Aosora Arthur, Angel, dan anak angkat Kapten Verza juga menghilang" Jawab Dera.
Nox melirik ke arah luar. Setidaknya, Nox sudah tau siapa target utama dari hilangnya mereka. Nox kedatangan surat lainnya dari seekor burung merpati putih. Ini adalah merpati milik Baal.
Dera tidak mengerti mengapa Baal tidak menitipkan surat tersebut padanya. Tentunya, rasa jengkel tidak akan luput dari itu.
Dera menunggu Nox menyelesaikan membaca surat tersebut.
Nox terlihat kesal dan meremukkan surat itu hingga lecek.
Surat itu, berisi tentang ancaman Baal pada Nox yang tidak becus dalam memperhatikan Arthur dan di dalam surat itu terdapat ancaman apabila Baal akan membongkar semua kedok Nox yang merupakan penghianat sesungguhnya bagi Shinrin.
"J*nc*k!" Makian keluar dari mulut Nox.
Kemudian, tawa terdengar ditelinga Dera saat Nox membuang surat itu.
"Bukankah ini lucu? Padahal, dia adalah bocah kemarin. Harusnya, orang seperti dia tidak cocok untuk menjadi penerus Shinrin" Nox menujukkan senyumannya pada Dera.
"Kau tau apa artinya kan, anak muda? Bila ada orang biasa yang mendapatkan surat ancaman dari anggota kerajaan?" Tanyanya pada Dera.
Dera tak mengerti sedikitpun. Dia menghela napas. "Sebelum Anda mati, Anda harus ingat dengan saya yang ditinggalkan sendirian oleh Anda di gubuk tua itu" Jelas Dera sambil memungut surat Baal di lantai.
Nox kembali duduk dikursinya.
"Kalau begitu, beritahu pria tua ini, siapa kau sebenarnya?" Tanya Nox sambil menuangkan teh mawar pada cangkir Dera.
"Naomy Xilea, itu nama ibu saya. Dan Adresht adalah nama ayah saya yang dengan baiknya meninggalkan wanita yang dia tiduri digubuk tua sendiri. Pria itu, tidak pernah kembali lagi dan ada kabar bila pria itu mengangkat anak panti asuhan bernama Nel. Saya rasa, Anda mengenal pria yang kini menyingkat nama ibu saya sebagai nama panggungnya. Perlukah saya perjelas kembali, Tuan Nox?" Tanya Dera sambil mengeluarkan kalung batu mana berwarna Hazel dari sakunya dan meletakkannya di depan Nox.
Nox membelalakan matanya saat melihat mata hazel Dera dan rambut Dera yang sedikit kecokelatan. Dera menundukkan pandangannya dan menunjukkan senyuman tipisnya.
"Saya datang ke Shinrin sejak 9 tahun yang lalu, hanya untuk mengikutinya. Dan sampaikan pada pria yang menggunakan nama singkatan Ibu saya untuk menerima batu mana ini. Ibu saya sudah tidak membutuhkannya lagi. Ibu saya sudah lama mati karena menunggunya tak kunjung tiba. Harapan dan penantiannya adalah suatu hal yang paling saya sesali di dunia ini" Dera berdiri dan membungkukkan tubuhnya untuk pamit pergi.
Nox berdiri dan tidak sengaja menyenggol meja itu hingga membuat teh mawar disana tumpah.
Nox adalah ayah biologis Dera yang berhubungan dengan wanita penari di jalan Aosora. Dia mengambil batu mana berwarna hazel itu dan menahan Dera yang memiliki tinggi lebih 9 cm darinya.
Tatapan Dera berubah 180° saat Nox menarik lengannya.
"Apa yang kau harapkan? Bukankah, kau lebih memilih mengangkat anak lain daripada bertangung jawab atas perbuatanmu? Ibuku mempertahankanku karena Dia percaya akan kedatangan keparat yang memberikan batu mana itu!"
Dera menarik lengannya agar dilepaskan oleh Nox.
Selama ini, Dera sudah cukup menahan atas apa yang telah dia lalui dan hanya memperhatikan Nox dari ke jauhan.
"Tidak. Bukan seperti itu. Aku mendengar kabar bila Naomy sudah lama mati, jauh sebelum aku mengadopsi Nel" Jelas Nox.
"Cih! Haha!" Dera terkekeh sambil mundur kebelakang dan menyilangkan kedua lengannya di dada. "Jelas-jelas kau sangat berat dengan pekerjaanmu. Kau kira, aku tidak mengerti alasanmu mengangkat Nel sebagai Putra angkatmu? Itu semua karena kau mengejar pangkat di Shinrin" Dera mengangkat kedua telapak tangannya setinggi bahunya.
"Aku tidak bisa menyalahkan bila Putra Mahkota Baal akan bertindak demikian. Yang peting, tujuanku sudah usai. Aku kembalikan batu mana itu. Batu itu, hanya membuatku semakin ingin merusak anak-anak angkatmu disini. Termasuk Tsuha dan Tsuki" Dera membelakangi Nox dan menurunkan tangan kirinya dan memasukkannya kedalam saku celana hitamnya.
Dia melambaikan tangan kanannya. "Teruslah bermain rumah-rumahan dengan ikatan palsu yang kau ciptakan" Dera meninggalkan Nox begitu saja.
Nox menghela napas panjang dan menggosok tengkuknya dengan keras. Dia berlari kembali ke arah Dera. Dan kali ini, Nox mengulurkan tangan kanannya yang berisi kalung batu mana berwarna Hazel.
"Dera, maafkan aku karena menjadi orang buruk dimatamu. Kau hanya boleh membenciku dan jangan membenci yang lain karenaku. Aku memiliki alasan lain mengapa aku membiarkan Naomy tinggal sendiri disana. Meski begitu, aku selalu mengirimkan 70% pendapatanku padanya. Namun, itu mesti kembali dan tidak disentuh sedikitpun. Naomy, memahami kondisiku. Dan, dia sadar dengan keberadaanku di sekitar keluarga Aosora hanya akan membahayakan keluargaku yang lain. Mengingat, ibuku dan saudara-saudaraku mati karena ledakan mana yang terserap habis" Jelas Nox pada Dera.
Dera menurunkan lambaian tangannya yang membelakangi Nox.
"Memangnya, ada apa dengan Aosora?" Tanya Dera sambil melirik Nox.
"Aosora adalah keturunan yang diramalkan untuk membawa takdir Negri Arden. Ramalan ini, dipercayai oleh semua kerajaan Iblis. Terutama, Akaiakuma dan Aokuma" Jelas Nox pada Dera.
Dera menatap langit. "Bukankah, Aosora Arthur sudah mati sekarang? Dan keberadaan Aosora Bram tidak diketahui? Ramalan itu, hanyalah omong kosong" Dera meninggalkan Nox.