
"Hari-hari yang membosankan~ Apa aku ini sudah mati? Tapi, kenapa jiwaku tidak kembali? Apakah diriku adalah seorang Titisan seperti yang tertulis di novel Kapten Marsyal?"
Arthur masih mengambang dan mengikuti arus sungai yang terus menariknya tanpa mengetahui arah yang dituju.
"PFFT! PUAHAHAHAHAHA!!!"
Arthur seperti orang gila. Dia terbahak-bahak setelah berfikir sejenak atas ucapan yang telah dia ucapkan.
"Ha~ Sangat tidak mungkin, kalau aku seorang Titisan, harusnya aku ingat dengan masa laluku. Sialan, lalu bagaimana nasibku sekarang? Tanpa memiliki tubuh, aku bisa apa? Lama-lama aku bisa gila karena tidak ada satupun-oh! Benar juga! Masih ada yang bisa berbicara denganku!"
Arthur teringat dengan Elf hijau yang telah dia temui saat dia mengikuti Arnold didalam tubuh Nel.
"Ha~ Tapi, aku gak tau kemana Elf hijau itu sekarang" Lirihnya kembali sambil pasrah dengan arus yang membuatnya menembus batu besar di sungai itu dan menengelamkan dirinya.
...----------------●●●----------------...
Tidak lama dari itu, Ambareesh merendam tubuhnya di sungai belakang goa tempat tinggalnya sementara bersama Anggota Pemberantas Iblis yang lain.
"Semua ini membuatku frustasi. Padahal, aku sudah menyiapkan segalanya dengan matang"
Ambareesh tidak bisa mengontrol terlalu lama perasaan kehilangannya terhadap kematian Ha nashi di tangannya sendiri.
"Semuanya terlalu cepat. Apa yang akan ku lakukan berikutnya?"
Satu-satunya jalan di pikiran Ambareesh adalah dengan mendatangi Bianca. Namun, disisi lain dia sadar apabila Bianca akan terlibat banyak masalah apabila berada di dekatnya.
Ambareesh tiba-tiba merasa geram. "Haruskah, aku menghancurkan Shinrin?" Dia mengigit bibirnya sendiri untuk meredakan rasa kesalnya hingga sedikit memerah dan berdarah. Namun, luka itu langsung menghilang karena bakat Ambareesh.
Ambareesh mulai menengelamkan tubuhnya untuk menenangkan perasaannya. Namun, Ambareesh langsung kembali kepermukaan karena melihat Arthur di air itu. Mata Arthur dan Ambareesh saling bertemu.
Ambareesh berketip beberapa kali sambil membasuh wajahnya dengan air sungai.
Dia mencoba masuk ke dalam air lagi.
Disana, dia melihat Arthur yang berjongkok di dalam air.
Ambareesh kembali ke permukaan. Mata Ambareesh mulai terbelalak karena terkejutnya dirinya melihat sosok berambut gelap disana. Dia yakin, apabila dirinya tak berhalusinasi.
Ambareesh menurunkan pandangan melihat sungai itu.
Air sungai yang jernih, membuat Ambareesh bisa melihat jiwa Arthur disana. Dia berusaha tetap bereskpresi datar disaat jantungnya bermaraton.
"Sialan" Lirih Ambareesh sambil kembali berendam dan pura-pura tidak melihatnya.
Arthur merasa tidak asing dengan tubuh itu. Dia perlahan muncul dari air untuk melihat wajah sosok di depannya dengan jelas.
"NAH!!!! INI TUBUHKU!!!!"
Arthur tiba-tiba berteriak dan keluar dari air. Dia melesat ke arah Ambareesh dan jiwa Arthur melewati wajah Ambareesh begitu saja.
Mata Ambareesh terbelalak karena terkejut. Namun, itu hanya 0,3 detik dan ekspresi Ambareesh kembali normal.
Arthur melangkah dan kembali masuk ke dalam air. Dia memastikan sosok yang ada di tubuh yang biasanya dia tempati.
"Matamu tidak merah, berari kau bukan Archie dan ekspresimu itu, kenapa sama dengan Tsuha. Hah?! Jangan-jangan! Itu tidak mungkin!!!"
Arthur tiba-tiba menjadi dramatis. Dia melangkah kebelakang untuk berfikir sejenak.
"Tidak mungkin Tsuha keluar dari tubuhnya dan tertukar seperti ini!" Tegas Arthur sambil melihat Ambareesh dibelakangnya.
"Anu maaf menganggu, aku harus memanggilmu bagaimana?" Tanya Tsuha sambil meletakkan handuk di sebelah pakaian Ambareesh.
Ambareesh melihat ke arah Tsuha. Dia melihat tingkah Arthur yang hampir membuatnya tertawa namun wajah Ambareesh malah meluarkan ekspresi sinis kepada Tsuha untuk menahannya.
"Ugh! Yah, aku tidak tau kalau ini akan menganggumu sekali. Aku akan pergi" Ucap Tsuha sambil mengaruk keningnya perlahan.
"Tidak, bukan seperti itu. Maklumi wajahku, aku kesulitan untuk mengontrol ekspresiku. Meski begitu, Estelle Tsuha, kau boleh memanggilku kesukamu. Jangan terlalu kaku denganku. Aku juga orang yang kaku, jadi aku agak kesukitan apabila kau bersikap kaku seperti itu?" Ambareesh memasang ekspresi bingung.
Tsuha mengosok tengkuknya yang tidak gatal namun dia merasa aneh karena tengkuknya seperti ada yang meniupnya.
Itu memang benar. Arthur tengah meniup tengkuk Tsuha.
"Ya, katakan saja kau mengizinkanku memanggilmu bagaimana? Aku akan memanggilmu sesuai dengan arahanmu" Ucap Tsuha.
"Bagaimana dengan Kakak? Aku sedikit penasaran rasanya menjadi seorang kakak. Kau mau? Kalau kau mau, aku akan melindungi dirimu selayaknya kau itu jiwaku" Ucap Ambareesh sambi mendonggakkan kepalanya melihat Tsuha.
Mulut Arthur terngangah. "HAH?! SIAPA ORANG SOMBONG INI!!!" Dia berjalan ke arah Ambareesh dan berjongkok menutupi pandangan Ambareesh.
"Apa kau ingin modus untuk memanfaatkan sihir Tsuha?" Tanya Arthur pada Ambareesh.
Ambareesh ingin memalingkan wajahnya, namun dia menahannya dan memilih mundur beberapa langkah kemudian keluar dari air.
Tsuha berfikir sejenak. "Itu artinya, aku tidak akan terbunuh dan aku bisa cepat kembali ke Shinrin" Batin Tsuha sambil terus berfikir disana.
Ambareesh mengambil handuk yang Tsuha letakkan di atas batu. Namun, saat Ambareesh akan mengambil handuk itu, lagi-lagi Arthur muncul tiba-tiba dari dalam batu itu dan wajahnya yang mencuat dari handuk.
Ambareesh termangun selama 1 detik kemudian "PRUAAAAK!!!!" Dia memukul handuknya tepat di wajah Arthur hingga batu itu hancur berantakan.
Ambareesh terkejut, namun respon yang diterima otaknya lambat. Begitu pula dengan Tsuha yang terkejut karena Ambareesh tiba-tiba menghantam batu itu.
"Uh, maaf apa kau terkejut? Baru saja, ada makhluk aneh" Tanya Ambareesh kepada Tsuha.
Jantung Tsuha seolah ingin meledak karena terkejut sekaligus ketakutan.
"Haha, aa...aku menerima tawaranmu... Ka...Kak..." Tsuha Takut dengan Ambareesh.
Begitu pula dengan Arthur. Dia langsung menciut di belakang pohon sangking terkejutnya dengan serangan Ambareesh yang tepat mengenai wajahnya.
"Sial, rasanya jantungku bisa berdebar sangking kagetnya. Apa orang itu bisa melihatku?" Arthur hanya mengintipnya dari kejauhan dan mulai mengikuti Ambareesh kemana-mana.
Sesekali Arthur datang untuk mengejutkan Ambareesh agar mendapatkan respon untuk mendukung dugaannya selama ini. Namun, wajah yang Ambareesh keluarkan lebih parah dari Tsuha. Wajah Ambareesh melah mengeluarkan mimik kesal.
"Sialan! Aku lupa belum pemanasan!" Ambareesh menghindari Arthur.
Namun sampai kapan Ambareesh akan bertahan. Arthur begitu keras kepala. Dia masih gigih akan opininya tentang Ambareesh yang mampu melihatnya.
Dia bersembunyi dari jarak 5 m dari Ambareesh berada. Ambareesh yang berada di bibir sungai untuk mencari ikan tidak menyadari keberadaan Arthur.
Arthur meringis lebar disana. "PATTSH!!!" Dia melesat dengan cepat ke arah Ambareesh. Ambareesh masih melihat ke arah sungai namun tiba-tiba dia merasakan aura menyerang dari arah belakangnya, dia langsung menoleh dan menangkap lengan Arthur kemudian,...
"SYUNNGGGG!!!! BYUUURRRRR!!!!"
Jiwa Arthur di pengang oleh Ambareesh dan Ambareesh langsung melemparnya ke sungai secara refleks.
Air sungai muncrat kemana-mana. Dean yang melihat tingkah keduanya dari atas ranting menahan tawanya. "Astaga~"