
"BAMMMM!!!! PASTSSH!!!!"
Mana Ambareesh meledak. Ledakan itu, membuat sihir Bianca ternetralisir termasuk Arthur yang kembali melesat jauh karena energi sihir Arthur bertolakan dengan Ambareesh.
Dinding es disana, mulai retak dan mencair.
Meski begitu, rantai yang terbuat dari besi itu tidak sedikitpun terlepas dari Ambareesh dan juga sel penjara portable dari mana itu. Bianca, kembali membekukan dinding es itu. Dan mulai mengeluarkan sihirnya untuk menghalangi Tsuha yang melesat ke arah Gabriel dengan lantainya yang licin.
"DUAGH!!"
Tsuha terpeleset dan dagunya menghantam lantai es yang keras itu terlebih dahulu.
Luxe kembali melihat ke arah Ambareesh. "Lihatlah, betapa kacaunya jiwa Alfarellza. Apakah dia butuh bantuan?"
Mana Ambareesh terus bergejolak dan meluap.
Tsuha kembali berdiri dan "CTAAAASH! DAGGH!!!" Dia melesat ke arah Bianca. Dia menghentakkan lututnya dengan keras pada dinding es yang tiba-tiba muncul dihadapan Bianca.
"KRREEEEAAAK.....PRUAAAK!!!"
Es setebal 50 cm itu, retak kemudian pecah dan hancur dihadapan Bianca.
Gabriel, membelalakan matanya melihat ada seseorang yang mampu menghancurkan es Bianca yang kuat dan setebal itu.
"SYUUUT!!" Tsuha berputar di udara dan mengeluarkan sihir yang sama dengan Gabriel. Namun, cambuk milik Tsuha terbuat dari mana yang berwarna hijau.
Cambuk yang lebih panjang dari milik Gabriel, terlihat dibelakang Tsuha yang berada dihadapan Bianca.
Bianca melangkah satu langkah kebelakang, kemudian- "SPLASHHHH!!! WOSH!" Dia berpindah bersamaan dengan tepisan cambuk mana Tsuha.
"Bwwweeeessshh" Cambuk mana itu, mulai melenyap dan Tsuha berdiri membelakangi Ambareesh.
"Cepat lepaskan dirimu dari rantai itu!" Tegas Tsuha sambil melirik Ambareesh yang dia kira sebagai Arthur.
Mata Ambareesh terbelalak melihat Tsuha berdiri dihadapannya.
"Bagaimana caranya?" Ambareesh mengangkat tangan kanannya dan tangan kirinya tertarik kebelakang karena rantai itu.
"Pikirkan sendiri. Jangan membuatku berfikir keras karna ketidaktahuanmu" Ucap Tsuha sambil mengeluarkan Pedang mana hijaunya.
----------------●●●----------------
Disisi lain, Arnold telah berada di atas gua es Bianca dan mengumpulkan mananya untuk menghantam dinding gua itu.
"Sialan!" Umpat Arnold sambil meraba tanah berumput tebal itu.
Dia merasakan aura Ambareesh dari dalam tanah. Pada tangan kanan Arnold yang dikepalkan, mulai terlihat cahaya warna merah karena mananya.
Arnold mulai menarik tangan kanannya setinggi bahu dan "DUAAAAGHHHH!!!! BAMMMM!!!!" Suara hantaman keras terdengar hingga di dalam gua.
Archie sangat mengenal dengan aura itu. "Iblis itu datang. Apa ini adalah rencana barunya?" Tanya Archie sambil melihat ke langit-langit gua itu yang bergetar.
Bianca tidak menduga apabila dia akan mendapatkan serangan dari Arnold.
Tinjuan Arnold membuat langit-langit gua itu hancur. Tanpa banyak bicara, Arnold langsung melesatkan pedang besinya ke arah Bianca.
Lesatan pedang besi Arnold begitu cepat. Sayang sekali, Ha nashi datang dan "TRANKKK!!!!" Dia menangkis pedang besi milik Arnold yang hampir saja menusuk dada kiri Bianca.
Archie mengkernyitkan keningnya. "Kenapa Kapten Nel memiliki aura seperti Iblis itu?" Archie tidak tau apabila Arnold bersemayam pada tubuh Nel.
Ha nashi menekuk lututnya dihadapan Arnold.
"Mohon, maafkan saya. Tapi, bila Anda seperti ini, Anda akan semakin dibenci olehnya" Ucap Ha nashi pada Arnold.
Semua pandangan tertuju pada Ha nashi. Dan besi yang merantai Ambareesh menjadi lapuk karena bantuan dari Alder dari luar. Ha nashi telah bertemu dengan Alder sebelum masuk ke dalam gua itu.
Alder melihat dengan jelas apabila ingatan Ambareesh dikehidupan keduanya, ada yang menyegelnya atau mengunci sebagian besar ingatan itu. Tugas Alder adalah memulihkannya.
Ingatan Ambareesh tentang kehidupan keduanya telah dipulihkan. Sosok lain yang membuat pikiran dikepala Ambareesh bercampur aduk dengan Arthur adalah ulah Ruri. Dia sengaja membuat Ambareesh seperti itu, untuk memperhambat pergerakan para Titisan sebelum kebangkitan Ambareesh di malam kenaikan Arthur sebagai Putra Mahkota Aosora.
Ambareesh mengigat semuannya tentang kehidupan keduannya.
"Bruk!!"
Bianca jatuh lemas karena terkejut dengan serangan dadakan Arnold yang hampir membunuhnya.
Ambareesh berdiri dan melangkah ke arah anggota pemberantas Iblis yang terkurung dalam sel mana itu.
Sel itu, merupakan sihir ciptaan Ambareesh untuk melindungi Bianca. Semua anggota pemberantas Iblis kecuali Luxe terkejut saat sel itu melenyap hanya dengan sentuhan Ambareesh.
Ambareesh terlihat berbeda dimata mereka berlima (Zack, Razel, Val, Liebe, dan Archie).
Tanduk Ambareesh muncul bersamaan dengan wujudnya yang kembali dalam kondisi normal yakni berusia 24 tahun.
"Anjay.... Sihir apa kali ini?" Ucap Luxe dengan nada mengejek.
Ambareesh melihat Luxe. Dia merasa tak asing dengannya. "Kau ini, siapa?" Tanya Ambareesh saat melihat energi sihir milik Luxe yang lebih besar dari energi sihir manusia pada umumnya.
Luxe hanya terkekeh. "Lucu sekali. Apa aku ini terlihat penting hingga membuatmu penasaran?" Tanya Luxe.
"Tidak. Kau terlihat aneh" Jawab Ambareesh sambil meninggalkannya.
"Ha?"
"PFFT!" Archie menahan tawanya hingga punggungnya terlihat bergetar.
Mata Liebe tidak berkedip pun melihat Ambareesh yang tengah mendatangi Angel dan melewati Arnold begitu saja.
Bianca membelalakan matanya saat Ambareesh mengabaikannya dan menghampiri Angel. "Apa?"
Ambareesh melihat luka cambukkan pada punggung Angel yang terbuka. Dia menyembuhkannya. Angel melihat Ambareesh yang tentunya bukan Arthur lagi.
"Kau... Siapa?" Tanya Angel sambil menarik Tsuha disebelah Ambareesh.
"Apa ada tempat lain yang sakit?" Tanya Ambareesh pada Angel.
Untuk pertama kalinya, dia mendengar suara sehangat dan seaneh Ambareesh. Angel sulit sekali mendeskripsikannya. Suara Ambareesh itu, bagai laut yang mengalami musim dingin.
Angel mengulurkan kedua lengannya. Dia menunjukkan pergelangan tangannya yang ruam dan pergelangan kaki kirinya yang keseleo. "Ini tidak terlalu sakit. Tapi, bila dibiarkan aku akan menghambat kalian" Ucap Angel pada Ambareesh dan melepaskan Tsuha.
Tsuha terdiam melihatnya.
Ambareesh menyentuh area ruam itu dan langsung sembuh seketika.
"Gilak!!!!" Batin Angel sambil melihat Ambareesh dengan matanya yang berbinar.
Ambareesh meninggalkan Angel begitu saja dan mendatangi Ha nashi.
"Tuan, apakah Anda sudah siap?" Tanya Ambareesh sambil mengeluarkan Hinokennya.
Arnold memangil nama gurunya. "Guru, maafkan saya. Tolong jangan apa-apakan Tuan Ha nashi" Dia salah paham.
Ha nashi mengangguk pada Ambareesh. "Beri aku waktu"
"Aku tidak suka membuang-buang waktu. Aku akan menunggumu menjelaskan alasanmu. SSHHHHEEEEEZSSSSS" Cincin Ambareesh kembali ditangan kirinya.
Ambareesh pergi melewati Bianca dan Arnold.
"TUNGGU AMBAREESH!!" Bianca menarik jubah Pemberantas Iblis yang Ambareesh kenakan. Dia berhenti dan melirik Bianca.
"Kau mau kemana?"
"Itu bukan urusanmu" Jawab Ambareesh sambil melepaskan jubahnya yang dipegang oleh Bianca.
Para Anggota pemberantas Iblis disana bingung dengan kondisi yang terjadi dihadapan mereka.
Ha nashi berkontak mata dengan Tsuha. Kontak mata itu, mengatakan untuk mengikuti Ambareesh. Hanya Tsuha yang satu-satunya bisa melakukan itu. Tsuha mengangguk paham dan langsung mengikutinya. Archie tidak ingin ketinggalan. Dia mengejar Ambareesh dan diikuti oleh Luxe yang memiliki tujuan terselubung.
Dengan ikutnya mereka, Val dan Liebe otomatis mengikutinya. Mengingat, mereka adalah junior mereka di markas.
Arnold menekuk lututnya dihadapan Ha nashi.
"Tuan Ha nashi, apa yang harus aku lakukan? Dia masih marah padaku meski aku berniat menyelamatkannya" Ucap Arnold pada Ha nashi.
Razel masih berdiri disana. Dia mendengar semua ucapan Arnold yang dia pikir sebagai Nel.
Ha nashi menarik bahu Arnold untuk berdiri. "Baginda, Anda masih memiliki banyak waktu. Jangan menyerah hanya karena ini" Ucap Ha nashi.
Ambareesh melirik mereka berdua dari kejauhan kemudian mematikkan jarinya untuk mengembalikan tubuh Arnold yang asli.
"BWWEEEESSSSH" Cahaya merah mengelilingi tubuh Arnold. Dia membelalakan matanya saat mengetahui apabila Ambareesh masih peduli dengannya.
"BRUK!!!" Jasad Nel terpisah dengan jiwa Arnold yang kembali di tubuh aslinya.
"GURU!" Arnold masih saja memanggil Ambareesh. Rambut pirang keputihan milik Arnold mulai terlihat dan diikuti dengan dua tanduk merah kehitaman Arnold yang melintang dan mengarah ke langit.
Zack dan Razel mendatangi jasad Nel. Zack mengetahui kebenaran itu terlebih dahulu sebelum Razel. Razel merangkul jasad Nel dan memeluknya dalam-dalam.
Nel dimata Razel sudah seperti keluarga bahkan saudaranya sendiri. "Maaf, harusnya aku mengikuti ucapanmu untuk membunuhmu saat itu" Ucap Razel yang tengah menahan air matanya disana.
Zack mengeluarkan pedang mananya dan menunjukkannya ke arah Arnold.
"Sialan. Katakan padaku, Iblis apa yang ada dalam tubuh Liebe" Ucap Zack.
Arnold menoleh ke arah Zack.
"Kami Bangsa Iblis pun, ingin hidup sepertimu" Jawab Arnold sambil memakai jubah pemberian Ha nashi karena kondisi Arnold telanjang.
"PFFT!!! HAHAHA!!!"
Zack tertawa dengan kencang saat mendengar ucapan Arnold.
"Kau berkata Iblis ingin hidup seperti kami?! Bukankah sudah terlihat jelas apabila kalian Bangsa Iblis yang merebut kehidupan kami?!!" Tanya tegas Zack.
Arnold maju ke arah Zack. "Kita semua itu sama. Pikirkan baik-baik, Bangsa Iblis yang kalian takuti hanyalah sugesti yang dibuat-buat oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Sejak lama, kalian itu sudah terbebas dari tangan Bangsa Iblis. Bangsa Iblis juga memiliki kerja sama di sektor keamanan dengan beberapa Kerajaan Non-Iblis. Salah satunya adalah Aosora. Dan Shinrin adalah satu-satunya Kerajaan yang menolak kebenaran itu" Ucap Arnold untuk meyakinkan Zack.
Aosora memang telah dilindungi oleh Akaiakuma karena ikatan persahabatan antara Archie dan Alex, serta Mizel (adik Archie) dibelakang Arnold meski dia sudah mengetahuinya.
Arnold melihat ke arah Ambareesh. "Kalian, jemputlah mereka. Kalian semua akan menjadi buronan Tiga Kerajaan atas hilangnya Aosora Arthur dan kematian Raja Linus yang terjadi hari ini" Ucap Arnold pada mereka berdua.
Razel membelalakan matanya. Mereka berdua melihat ke arah Ha nashi dan Arnold.
"Itu benar. Ambareesh telah mengambil cincin itu yang tentunya akan mencabut nyawa penggunanya juga karena energi sihirnya terserap habis. Kami sudah memperkirakan hal ini akan terjadi dan atas bantuan dari Elf hijau yang tengah pepergian jauh" Ha nashi menjelaskan maksud Arnold yang mangatakannya dengan setengah-setengah.
Razel berusaha mencerna perkataan Ha nashi.
"Kenapa kalian mengatakan Putra mahkota Aosora menghilang. Bukankah jelas-jelas dia bersama kami?" Tanya Razel.
"Dia bukan Arthur" Jawab Arnold.
"Apa maksudmu?" Tanya Zack.
Bianca datang dan menyela.
"Raja dan Ratu Aosora ke-4 telah menjalin perjanjian dengan Ambareesh yang tadi ada bersama kalian itu. Aosora Arthur sendiri harusnya sudah mati 17 tahun yang lalu. Singkatnya, Arthur itu sama dengan De luce yang menggunakan tubuh Kapten kalian. Bedanya, Ambareesh masih hidup dan Kapten kalian mati saat tubuh itu digunakan sebagai wadah" Jelas Bianca sambil duduk di kursinya.
Bianca memainkan rambutnya yang berwarna putih.
"Saran ku, kalian berdua ikuti saja mereka semua. Aku dan para penjaga disini, akan membantu kalian untuk menghilangkan jejak kalian agar tidak tercium oleh anjing-anjing Shinrin" Lanjut Bianca.
Zack menghilangkan pedang mananya. "Kau ini sebenarnya musuh kami atau bukan?" Tanya Zack.
"Aku hanya ingin bermain-main dengan Ambareesh. Dia selalu membuatku menunggu. Dan maaf karena telah melibatkan kalian semua" Ucap Bianca sambil melemparkan empat kantung koin emas kearah mereka berdua.
Arnold menaikkan salah satu alisnya.
"Oh, jadi dia gadis yang diceritakan oleh guru. Kenapa kau masih hidup sampai sekarang? Kasihan sekali harus menunggunya hingga kau jadi nenek-nenek" Arnold tidak ada bedanya dengan Archie.
"HAH?!" Bianca segera berdiri karena tidak terima dengan ejekkan Arnold. "Bersujud dihadapanku sekarang De luce!" Tegas Bianca.
"Untuk apa aku bersujud dihadapan Alba yang hanya tersisa satu di negri ini" Jawab Arnold sambil meninggalkan Bianca.
"Dilihat dari manapun, meski usia kita sama dan sama-sama keturunan rambut putih, aku masih terlihat lebih muda dari mu~" Lanjut Arnold yang semakin membuat Bianca naik pitam.
"Sialan! Dasar Ibliiiisssss!" Ucap Bianca dengan nada penuh geram.
Razel berdiri dan meletakkan jasad Nel disana. "Bisakah aku meminta bantuan pada kalian?" Tanya Razel pada Bianca.
"Apa itu?" Tanyanya.
"Tolong awasi Tiga anggota pemberantas Iblis yang masih di markas. Mereka adalah sasaran empuk bagi mereka. Kami sangat membutuhkan bantuan kalian" Razel membungkukkan tubuhnya dihadapqn Bianca.
"Mohon bantuannya" Zack mengikuti Razel.
Bianca melihat Gabriel. Dan Gabriel mengangguk.
"Kalau begitu, jaga Tsuha untukku. Dia anakku yang paling berharga" Ucap Bianca sambil menunjukkan senyumannya pada mereka.
Arnold berhenti dijalan saat mendengarnya.
"APA?! DIA ANAKMU?!"
"DIAM!!! AKU TIDAK BERBICARA DENGANMU!!! SEMUA PENJAGA DISINI ADALAH ANAK-ANAKKU!!" Tegas Bianca dengan wajahnya yang semerah tomat dan menunjuk Arnold dibawah sana.
Arnold mengkatupkan mulutnya. "Guru~ Wanitamu sudah punya banyak anak~" Ejek lirih Arnold.
Telinga rubah Bianca bergerak. "SIALAN! AKU BISA MENDENGARMU!!!" Tegas Bianca sambil melesatkan sihirnya ke arah Arnold.
Gabriel hanya tersenyum lebar dan lega disana.
"Tolong jaga Tsuha, Wakil Razel. Dia sangat mengagumimu sejak dia kecil dan tolong sampaikan terima kasih serta maaf saya kepada gadis berbangsa Malaikat itu" Gabriel menunjukkan senyuman tulusnya.
Zack mendengus.
"Emangnya kami penjaga bayi?" Lirih Zack sambil menarik jubah bagian belakang Razel untuk meninggalkan jasad Nel.
"Tunggu! Bagaimana dengan jasadnya?" Tanya Razel.
"Biarkan pihak Shinrin yang menemukannya. Dan kita percayakan semua ini pada Nyonya siluman itu" Ucap Zack.