
Arthur kini berada di sebelah Alder Ren yang tengah menunggu saat-saat yang tepat.
Arthur sendiri kagum dengan wujud Elf hijau yang sangat langka dan keberadaannya seperti mitos.
Dia terus menatap Alder. Alder mulai merasa tidak nyaman dengan Arthur apalagi kondisi Arthur yang serba telanjang.
"Brengsek!" Alder tidak bisa berhenti mengutuk dan berusaha fokus pada anak panahnya.
Alder dengan diam-diam membangkitkan sihir dari jiwa Arthur untuk menyelimutinya dengan kabut gelap.
Arthur terkejut melihat kabut hitam yang mulai melebar pada tubuh- maksudnya jiwa dia. Kemudian, Arthur menyadari apabila ini adalah sihir dari Alder.
"Hebat! Bagaimana bisa seperti ini?" Tanya Arthur pada Alder.
Alder bertindak layaknya tidak terjadi apapun.
Dia melihat sekitarnya. "Kurasa, ini memang tak ada campur tangan Ruri. Kalau begitu, urusanku.... selesai disini. CTAAASH!" Alder melarikan diri dari Arthur dengan cepat. Dia sengaja menyebut Nama Ruri untuk memperingati Arthur.
"Ruri? Kenapa namanya mirip sekali dengan buku itu? Dan elf tadi mirip seperti yang dideskripsikan buku itu. Eh!!! Jangan-jangan..... Elf tadi! Itu seorang Titisan?!"
Arthur membelalakan matanya dan melihat ke arah Alder melesat.
Tebakan Arthur memang tidak salah. Semua ini, adalah rencana Alder yang memberikan buku Novel itu kepada Arthur untuk meyakinkan Arthur agar bergabung dengan para Titisan dan musuh mereka adalah Ruri.
...----------------●●●----------------...
KLANGGG!!!
Ambaressh menarik perlahan tangan kanannya yang terantai dan tangan kirinya tertarik karena rantai itu saling bergabung.
Dia melihat ke sisi lain. Semua anggota pemberantas Iblis, termasuk Archie kecuali Tsuha dan Angel yang terpisah, berada di kotak penjara yang berbuat dari mana berukuran 5MX3MX2M.
"DUAGHH!! DUAAAGGGH!!"
Archie dan Zack mencari cara untuk keluar dari penjara portable itu.
Disisi lain, Tsuha diikat dan dikelilingi oleh sihir es yang akan membuatnya terpotong bila menyentuhnya. Ambareesh melihat pandangan mata Tsuha, tertuju pada sisi belakangnya. Ambareesh melihat kebelakang. Disana ada Angel yang bertekuk lutut dihadapan Bianca.
Bianca mendatangi Ambareesh.
Tidak sedikitpun, ingatan Ambareesh yang muncul. Dia memang tau apabila nama perempuan dihadapannya adalah Bianca. Namun, dia tidak ingat siapa wanita ini.
Setiap mengingatnya, ingatan lain muncul di hadapan Ambareesh.
Sosok wanita berbangsa Iblis ras merah yang memeluknya, perutnya yang tertusuk pedang merah, sosok Elf tua yang berubah menjadi muda, dan sosok mengerikan berambut hitam dengan tiga sayap gelap dibelakangnya.
"Bianca, hentikan semua ini" Ucap Ambareesh sambil memegang kepalanya yang berat.
Hati Bianca, merasa senang saat Ambareesh mulai memanggil namanya. Namun, ada yang berbeda darinya.
Ambareesh menatap Bianca seperti seorang musuh.
"Kau bahkan tidak mengingatku dengan benar. Hatiku merasa terluka saat kau tatap seperti itu Ambareesh" Bianca menarik kebelakang poni rambut Ambareesh yang menutup mata Ambareesh.
Bianca berusaha mengeluarkan intonasi datar untuk mengingatkan Ambareesh.
Tatapan kebencian itu, pertama kalinya terlihat dimata Bianca dari wajah Ambareesh.
"Pantas saja kau memiliki banyak musuh. Kau sendiri, yang membuat musuhmu banyak dengan tatapan ini" Ujar Bianca sambil melepaskan rambut putih kebiruan Ambareesh.
"PFFT!" Luxe menahan tawa saat mendengar ucapan Bianca.
Semua pandangan tertuju pada Luxe. Terutama Archie yang langsung menarik kera jubah Luxe.
"Hah? Kenapa kalian melihatku seperti itu? Ucapan wanita itu memang tidak salah" Jelas Luxe.
Archie, menarik kera jubah Luxe.
"Anak baru lebih baik diam saja. Sekali lagi kau mengejek Arthur, musuhmu tidak hanya aku" Ucap Archie sambil mendekatkan wajahnya ke arah Luxe dan ditahan oleh tangan Val serta Razel.
"Kau yang bangsa Iblis, mendingan diam. Kau bisa mati bila melukai Bangsa non Iblis" Jelas Val sambil menutup mulut Archie.
Archie melirik Val kemudian, dia mengigit telapak tangan Archie.
Tentu saja, Val berteriak dengan kencang karena gigitan Archie itu. "Jangan dekat-dekat Val, dia kena rabies" Ucap Liebe sambil menarik Zack disebelah Val.
"ANJ*NK!!!" Maki Val sambil menunjukkan jari tengahnya pada Liebe.
Bianca merasa kasihan kepada Ambareesh. "Kenapa temanmu tidak jelas semua?"
Bianca mengeluarkan sihir esnya dan mengelilingi semua anggota markas pemberantas Iblis yang ada di dalam sel portable itu.
"Kalian, memang tidak bisa diam semua. Gabriel, cambuk wanita itu" Ucap Bianca pada Gabriel disebelah Tsuha.
Tentunya, Gabriel terkejut mendengarkan perintah itu. "Tapi Nyonya! Ini..!"
Bianca mengkernyitkan keningnya dan lingkaran sihir itu, semakin mendekat ke arah Tsuha.
Gabriel, menundukkan pandangannya. "Baik Nyonya" Ucap Gabriel sambil mengeluarkan cambuk dari akar pohon dan sihirnya.
"Eh?!" Tsuha terkejut melihat sihir dan postur tubuh Elf itu saat berjalan membelakangi Tsuha.
Gabriel dengan berat hati, melangkahkan kakinya ke arah Angel. Dia mengangkat cambuk panjang itu.
Tsuha teringat dengan ayahnya saat melihat Gabriel. Mata Tsuha bergetar. Sihir itu, adalah sihir terakhir yang ayahnya ajarkan pada Tsuha.
Tsuha sering sekali terkena cambukan dari sihir itu meski ayahnya tidak sungguh-sungguh mencambuknya.
"HENTIKAN!!" Tegas Tsuha sambil memberontak dikursi itu. Sihir es milik Bianca, semakin dekat ke tubuh Tsuha dan jubah Tsuha mulai terbeset dengan sihir itu.
Arthur datang karena mendengar teriakan itu. Dia berdiri disebelah Ambareesh.
"CPLASSHHHH!!!" Cambukan dengan suara yang plush membuat Arthur merasakan sakit meski dia telah kehilangan indra perabanya.
"HMMMPHHH!!" Angel berteriak tanpa suara.
Ambareesh termangun melihatnya. Mata Ambareesh terlihat bergetar mendengar suara cambukan itu.
"ARTHUR SIALAN!!! CEPAT GUNAKAN SIHIRMU!!!" Tegas Archie pada Ambareesh.
Arthur melongo dan dia mengkernyitkan keningnya sambil menunjuk Archie. "AKU GAK TAU CARANYA! SIALAN!!!" Balas tegas Arthur meski dia tidak tau apabila Archie tidak bisa mendengarnya.
Luxe, melihat Arthur yang berdiri disebelah Ambareesh.
"Apa Alfarellza tidak melihatnya?" Batin Luxe sambil menonton hal-hal yang dia lihat dihadapannya itu.
Ucapan Luxe memang benar. Ambareesh tidak melihat Arthur karena diri Ambareesh mulai dipengaruhi oleh energi negatif dari Hinoken yang kini berada ditangannya.
Energi negatif yang diciptakan oleh Hinoken itu, membuat sebagian wilayah merasakan aura milik Ambareesh. Termasuk Ruri yang berada jauh dari Shinrin.
"PFFFT!" Dia tertawa.
"Apa lagi yang terjadi disana?" Ruri terkekeh dengan wujud Iblis barunya.
"Hmm? Apa maksudmu Steve? Memang ada apa disana?" Tanya gadis berambut biru gelap segelap warna langit di malam hari.
"Tidak ada apa-apa Tuan Putri Mahkota. Apa Anda ingin berkeliling dengan saya?" Ruri menunjukkan senyumannya yang manis pada gadis itu.
Mata Ruri yang merah dengan dua tanduk yang menjulang ke atas dan selaras dengan warna rambut hitamnya, membuat Ruri terlihat seperti sosok yang berbeda.
"Emm, tidak. Aku lelah. Lalu, bagaimana kelanjutan cerita tentang Titisan penghancur?" Tanya gadis itu.
Ruri mengulurkan bunga mawar putih pada gadis itu. Gadis itu, menerima uluran bunga dari Ruri.
"Putri Devina, Anda akan terkejut bila mendengar tentang Aosora Arthur. Apa Anda tertarik dengan nama itu?" Tanya Ruri sambil melihat mata gadis itu yang tidak sedikitpun berani berkontak dengannya.
"Aosora? Oh, Kerajaan yang terkenal akhir-akhir ini karena dirundung duka atas kematian Raja dan Ratunya itu ya?" Tanya gadis itu sambil mencium mawar dari Ruri.
"Iya. Aosora Arthur hampir mirip dengan Anda. Dia yatim piatu dan kini menjadi Putra Mahkota Aosora untuk mengantikan pewaris yang sesungguhnya" Ucap Ruri sambil memberikan bunga lain pada gadis itu.
Mata hitam gadis itu, terlihat membelalak. "Benarkah? Apa aku bisa bertemu dengannya?" Tanya gadis itu yang sedikitpun tidak melihat wajah Ruri. Dia hanya melihat sebatas leher Ruri yang memiliki liontin biru dengan titik bandul merah delima.
Ruri menunjukkan senyumannya. "Dia masih memiliki darah Elf yang tentunya, Dia tidak akan mudah masuk ke Aokuma. Apa Anda sangat ingin bertemu dengan Putra Mahkota Aosora?" Tanya Ruri.
Iris gadis itu terlihat bergetar. "Elf?"
"Iya"
"Tidak. Lebih baik aku tidak akan bertemu dengannya" Jawab gadis itu.
"Dan apa Anda tau? Aosora Arthur itu, adalah anak yang membuat orang tuanya mati. Masihkah Anda ingin bertemu dengan orang seperti itu?" Tanya Ruri.
"Steve.... Sampai kapanpun, Aku tidak ingin bertemu dengan Aosora Arthur. Meski dia yang menyelamatkan Negri ini dari kekacauan" Ucap gadis itu sambil memainkan jarinya.