The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 3 EPILOG [Kesadaran]



"TEP! BATZZH!"


Pundak Arthur di tarik oleh Daeva yang muncul di sisi kirinya dan Daeva membawa Arthur teleport menjauhi Ambareesh.


Daeva melihat wajah Arthur saat mereka berdua telah turun.


Wajah kiri Arthur terdapat pola yang mengalir dari dada kirinya. Pola itu, sama dengan lengan kanan Daeva yang selalu bersarung tangan dan tertutup.


"Apa yang terjadi denganmu?" Mata Daeva tertuju pada iris ungu Arthur yang merupakan permata Titisan yang tidak tertanam pada buku kuno yang di ambil oleh Ruri. Dan permata itu, kini berada di kening siluman ular tersebut.


Arthur dan Daeva memiliki tinggi yang sama.


"Kau siapa?" Arthur mengangkat pedang mana ungunya di hadapan Daeva dan dia tunjukkan pada leher Daeva.


Mana Daeva terhisap semakin kuat oleh Arthur.


Disaat yang tidak tepat, Dean datang dan melihat Daeva telah berdiri disana.


Pikiran buruk, memenuhi kepala Dean. Dia beranggapan bahwa Daeva adalah penyebab masalah yang terjadi terhadap Arthur.


Namun, dia melihat Arthur yang menodongkan pedang mananya itu kepada Daeva dan Daeva mengangkat tangan setinggi bahunya.


Daeva melirik Dean yang berada jauh di belakangnya. Daeva tidak bisa mentelepati Dean untuk mencari kristal mana itu.


Satu-satunya cara adalah menghadapi Aosora Arthur dengan berbicara halus.


"Aku Daeva Nerezza. Kita berada di pihak yang sama. Jangan bilang, kau lupa denganku Aosora Arthur?" Daeva menggunakan sifat Arthur yang mudah dipengaruhi dengan ucapan yang menjebak karena sifat Arthur yang terlalu baik kepada semuanya.


Arthur mengkernyitkan keningnya.


"Ah?! Benarkah!?" Wajah Arthur langsung berubah menjadi sumringah.


"Ahahaha, maaf. Aku tidak ingat apapun" Arthur langsung menghilangkan pedang mananya dan dia terlihat membungkuk beberapa kali.


Dean curiga dengan apa yang terjadi.


"Dan orang yang berdiri disana, juga berada di pihak kita" Daeva menunjuk Luxe di belakang sana yang heran.


Arthur mengintip Luxe di belakang sana dan melambaikan tangan beberapa kali. "Oh, pantas saja tadi dia hanya menghindari seranganku. Siapa namanya?" Tanya Arthur pada Daeva.


"Dean" Jawab Daeva sambil memberi kode tangannya agar Dean datang. Daeva terpaksa melakukan itu. Begitu pula Dean. Dia terpaksa dan datang.


Arthur tiba-tiba menjabat tangannya dengan bersemangat.


"Haha, tolong maafkan aku ya. Ku kira kau adalah musuhku" Arthur menaik-turunkan jabatan tangannya.


"Oh, I..iya..." Dean tidak paham dengan Arthur.


Daeva berdiri di belakang Dean dan membisikkan sesuatu padanya.


"Siluman itu, kaki tangan Ruri. Dan, jangan bertanya apapun padaku tentang Aosora Arthur" Bisik Daeva.


Dean melihat tanda Titisan itu pada Arthur yang masih menjabat tangannya.


"Nah Arthur. Kau tau, kau sudah ditipu oleh perempuan itu" Daeva menunjuk Siluman ular yang masih bertarung dengan Ambareesh.


"Kalian salah. Ratu tidak menipuku sedikitpun. Dia memberiku pakaian ini. Bukankah, ini terlihat sangat cocok denganku?" Tanya Arthur dengan bangga pada pakaian yang dia gunakan.


"Sadarlah Aosora. Kami sedang bertarung untuk menyelamatkanmu dari Siluman Ular itu. Dan kenapa kau tertipu dengan pemberiannya yang tak seberapa dengan usaha Alfarellza disana. Kami bertarung sepenuh nyawa kami untuk menyelamatkanmu" Dean memanfaatkan kondisi tersebut untuk mengambil kepercayaan Arthur kembali.


Daeva merasa ucapan Dean untuk menipu Arthur terlalu berlebihan dan dramatis.


"Ini Nekoma Arthur. Kau berasal dari Aosora. Apa kau lupa dengan itu? Apa kau tak ingin kembali ke Kerajaanmu? Kenapa kau kesini?" Daeva berusaha memojokkan Arthur.


Arthur terdiam dan membelalakan matanya.


"Benar, aku dari Aosora. Aku tidak ingat sedikitpun dengan Ratu. Kapan kami bertemu untuk pertama kalinya? Bukankah, Aku sedang mencari Kakakku?".


Arthur mulai tersadar dengan dirinya sendiri. Daeva merasa senang setelah mendengar suara batinan Arthur. Dia tersenyum tipis.


"Akhir-akhir ini, Shinrin mulai bergerak untuk mencarimu dan masih melindungi Aosora dari campur tangan Paman tirimu. Ayo bantu kami mengalahkan Siluman yang sudah menipumu itu" Daeva mengenal Arthur lebih baik dari siapapun. Termasuk Orang tua Arthur kecuali Ruri.


Daeva mengulurkan tangannya pada Arthur.


"Tunggu, tapi kau bangsa Iblis. Bangsa Iblis tidak ada bedanya dengan Siluman. Iblis yang baik yang ku kenal hanya Archie. Eh,... Archie? Tunggu... Kemana Archie? Kenapa dia tidak berbicara denganku?"


Arthur mulai panik karena dia kehilangan sebagian ingatannya akibat ditutup oleh sihir Ruri. Arthur hanya mengingat hingga dia mengikuti Event saat di Akademi Sihir Shinrin.


Arthur menarik pakaian Dean tiba-tiba.


"Dimana Archie?" Tanya Arthur dengan matanya yang berlinang.


Daeva menarik tangan Arthur.


"Kau adalah seorang Titisan. Ingatanmu di rusak oleh Ruri. Dan siluman itu kaki tangannya" Jelas Daeva.


"Titisan? Tidak mungkin" Elak Arthur.


"Lihat disana" Daeva memegang pipi Arthur dan mengarahkan ke tempat Ambareesh.


"Itu..."/ "Selama ini, kau menumpang di tubuh dia. Dia Alfarellza. Seorang Titisan, sama seperti kami dan kau. Archie aman di dalam tubuh itu" Jelas Daeva kepada Arthur.


"Kami memiliki tanda yang sama dengan yang ada di dada kirimu" Daeva menunjukkan tanda Titisannya kepada Arthur.


Arthur melihat tanda dengan bentuk teratai dan akarnya yang berwarna hitam. Dean menunjukkan lengan kirinya tepat pada bisepnya yang selalu dia tutupi dengan bet lengan.


Tanda Titisan milik Dean berwarna putih tulang.


"Apa kau kira kami berbohong?" Daeva melepaskan pipi Arthur.


Dean termenung mendengar semua ucapan Daeva. Dia percaya kalau Arthur adalah seorang Titisan setelah melihat usaha Daeva. Dan, akan sangat tidak mungkin bagi Daeva berusaha sekeras itu hanya untuk membantu Aosora Arthur.


Arthur mengeleng dan mengusap matanya yang berair.


"Bantu Alfarellza untuk membunuh Siluman ular itu. Jangan biarkan dia lari hidup-hidup.


Daeva sangat berbeda dengan Alder. Bagi Daeva, "Musuh tetaplah musuh. Apalagi sesuatu yang berhubungan den Ruri. Maka, mereka pantas untuk di bunuh" Ucap Daeva kepada Arthur.


"Bagaimana cara membunuhnya?" Arthur bertanya kepada mereka berdua.


Daeva tersenyum.


"Gunakan kepercayaannya untuk mengalahkannya" Jawab Daeva.


"WOSH!" Arthur melesat ke arah Ambareesh dan "TRANKKKK!!!!" Dia menyerang Ambareesh menggunakan pedang ungunya. Sihir Ambareesh diserap oleh Arthur.


"Kau tidak bisa memahami maksudku? Tsk! Sudah ku katakan untuk tidak tanya tentang Arthur padaku" Jawab Daeva sambil pergi memantau Arthur dari jarak aman untuk mengambil kristal ungu di kening Siluman itu.


Dean beberapa saat yang lalu saat Daeva menjawab cara Arthur untuk mengalahkan Siluman itu, menerima telepati dari Alder untuk memindahkan Arthur dengan tubuh itu tanpa luka ke Rumahnya.


"Cih! Merepotkan sekali. Drap!" Dean mengikuti Daeva dan dia berkata "Alder meminta untuk mengirim Aosora padanya, tanpa luka" Dia menyampaikannya kepada Daeva.


"Saranku, lebih baik jangan membawanya. Ruri berusaha menjebak Alder dengan iming tubuh Arthur. Dia sudah memperingatkanku saat dia menyerangku di perbatasan Aokuma" Jawab Daeva.


Dean terbelalak.


"Ruri berada di Aokuma?"


"Cih! Apa aku harus menjelaskannya lebih rinci?!" Daeva menkernyitkan alisnya tanpa melihat Dean di sebelahnya.


"Kenapa Alder tidak mengatakan apapun kepada kami?"


"Itu karena Alder tau kalian tidak akan senang ada aku" Jawab Daeva sambil membuat lingkaran sihir kecil di sebelah kirinya untuk membuat lubang sihir. Daeva memiliki ide untuk mencabut paksa permata itu dari kening Siluman Ular disana.


"Alder bukanlah orang yang terburu-buru. Dia adalah orang yang teratur. Semua sudah dia rencanakan karena dia sudah melihat masa depan tentang Aosora Arthur. Dan tentunya, Ruri sudah melihat apa yang telah di lihat oleh Alder" Jelas Daeva.


"Aku akan merebut Aosora Arthur dengan tanganku sendiri dan aku juga yang akan membimbing Aosora Arthur untuk mengalahkan Ruri. Aku tidak peduli tentang apa yang menjadi milikku dimiliki oleh Aosora Arthur. Sebab, Aosora Arthur adalah kunci kemenangan yang telah dikatakan oleh Sang Cahaya. Dan Aosora Arthur adalah kristal yang memecahkan dirinya sendiri untuk 6 Titisan seperti kau dan aku" Jelas Daeva sambil menunggu Arthur melancarkan aksinya.


Siluman ular itu mulai lengah karena Arthur menyerang Ambareesh. Siluman itu, merasakan lelah pada dirinya.


Arthur melesatkan pedang mananya ke arah Ambareesh namun, dia memutar tubuhnya dan menebaskan pedang mana ungunya pada leher siluman itu.


"CRAT!" Darah muncrat mengenai baju Arthur hingga celana Ambareesh di belakang Arthur.


Ambareesh kaget melihat Arthur yang melesatkan serangannya kepada Siluman Iblis yang lengah itu.


Daeva terkekeh. "Arthur adalah bocah yang mudah di pengaruhi. Dia akan mudah tertarik dengan ucapan Ruri yang manis" Daeva memasukkan tangannya pada lubang sihir itu untuk mengambil kristal pada kening Siluman itu.


Daeva melihat kristal ungu itu dan sihir teleportasinya non-aktif setelah Daeva mengeluarkan krista ungu tersebut.


"Kristal ini adalah milik Arthur. Aku akan menyimpannya dan memberikannya saat sudah saatnya" Daeva menghilang dengan pelahan.


Arthur langsung mendatangi Ambareesh dan menatapnya.


"Tuan! Apakah benar Archie ada di dalam tubuhmu?!" Arthur tidak ingat sedikit pun tentang Ambareesh.


"Eh? Iya. Ctaks!" Ambareesh merasa aneh dengan Arthur. Dia mengembalikan tubuh Archie di sebelah Arthur.


Archie membelalakan matanya saat melihat sosok berambut biru dengan mata yang berbeda itu. Sosok itu mirip dengan Alex.


"Iblis Sialan! Kau membuatku panik! Ayo cepat kembali ke Shinrin! Aku harus mendapatkan buku Kakek buyut! Bukankah, kau ingin cepat bebas?!" Arthur menendang kaki Archie dengan keras.


Archie tersenyum tipis.


"Kau mirip Alex, Arthur" Tubuh Arthur mulai transparan perlahan.


"Tentu saja! Ayo cepat perg-" Arthur kembali ke bentuk jiwanya. Dan Archie tidak bisa mendengar ataupun melihat Arthur kembali.


"Cih! Bocah menyebalkan" Archie menutup kedua matanya dengan lengan kirinya.


Jiwa Arthur tidak sadarkan diri disana. Ambareesh memegang ubun-ubun jiwa Arthur dan meletakkan Arthur ke dalam tubuhnya. Hinoken Ambareesh kembali dan Ambareesh mengambilnya kembali. Dia akan lebih berhati-hati lagi untuk menghadapi Arthur.


Dean menyadarkan punggungnya pada batang pohon yang dia dudukki.


Suara ramai sorakan dari Prajurit Siluman Kucing yang tersadar dari hipnotis Siluman ular itu seperti deja vu bagi Dean.


"Jadi, Aosora Arthur adalah Titisan yang diramalkan oleh Alder? Bisakah aku mempercayai Daeva seperti dulu?"


Shera berlari dan langsung melompati jendela yang terbuka saat melihat Razel di dalam istana itu.


"Wakil!"


"Shera tetap disana. Apa kau baik-baik saja?"


Tangan kiri Razel menghitam dan bergetar. Liebe menggunakan sihirnya untuk menenangkan Razel agar tangan kirinya kembali seperti semula.


Para Siluman yang tersadar disana mendengarkan ucapan Liebe untuk membersihkan udara disekitar mereka agar ternetralisir dari sihir Razel yang berbahaya untuk manusia.


"Ya! Aku baik-baik saja Wakil" Jawab Shera sambil meringis disana.


Tangan kiri Razel kembali normal. "Bagaimana dengan yang lain?" Tanya Razel sambil mendekati ke arah jendela di belakang Shera.


"Ya, aku rasa semuanya baik-baik saja. Ayo kita menuju ke yang lain" Shera mengajak Razel dan Liebe untuk keluar dari Istana.


Liebe mengosok rambut Shera. "Nanti, katakan kepada Val untuk menyimpan baik-baik antingnya" Liebe melambaikan tangan dengan kecil dan ringan kepada Shera.


"Ha? Katakan sendiri. Memangnya, kau tidak pulang?" Tanya Shera.


Razel merangkul bahu Shera untuk berjalan bersama. "Tunggu! Wakil! Apa maksudnya ini?! Kau mau meninggalkan Liebe di tempat penuh siluman ini?!" Suara Shera mengundang pandangan para Prajurit Iblis disana.


"Beliau adalah Raja kami. Beliau tidak boleh meninggalkan Nekoma dan membuat kekosongan" Ucap salah satu dari Prajurit disana.


Ambareesh datang bersama Luxe dan berdiri di balik jendela itu. "Aku mengembalikan tubuhmu. PATSH!" Ucap Ambareesh pada Liebe dari balik jendela.


Cahaya biru berkobar mengelilingi Liebe.


"Bruk!" Tubuh Liebe terjatuh saat Ken mendapatkan kembali tubuhnya yang disimpan oleh Ambareesh.


Shera membelalakan matanya dan Razel melihat dua kejadian yang sama di hadapannya.


"Liebe sudah lama tiada. Dan Iblis itu adalah Raja Nekoma yang menjalin perjanjian dengan Liebe 50:50 untuk bertahan hidup" Ken sempat bercerita demikian kepada Razel setelah mereka berdua membuat semua prajurit Nekoma yang menyerang mereka tak sadarkan diri.


"Tolong jaga rahasia ini ya Shera. Liebe dan Val sudah bersahabat sejak mereka kecil. Dan Aku sudah bersumpah kepada Liebe untuk merahasiakan ini serta kematiannya dari Val. Val dan Liebe adalah anak yang baik" Ken mengangkat jasad Liebe dan memberikannya kepada Luxe yang baru masuk melewati jendela yang telah dilompati oleh Shera.


Shera menangis disana. Dia menangis bukan karena kematian Liebe. Tapi, Val yang selama ini selalu berdua dan bercanda dengan Liebe. Itu adalah sebuah kebohongan besar yang bahkan mampu membunuh senyuman orang yang sangat mempercayainya.


Razel menepuk bahu Shera perlahan.


Tsuha menghela legah saat Haraya berkata telah usai. "Syukurlah. Kita bisa pul- CTASSHHH!!!!"


Sesuat yang cepat tiba-tiba menyambar dan membawa Tsuha dengan cepat.


Haraya dan Ela yang berada di lokasi yang sama dengan Tsuha membelalakkan mata mereka.


"TSUHA!"


...----------------●BAB 3 USAI●----------------...