The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 5 [Artl Kyzen-3_Selesai]



Kuncup teratai putih di tangan Luciel, terjatuh di lantai bersamaan dengan "SWOP! CRAT!" Bulu dari sayap Luciel melesat ke arah kepala Artl hingga menembusnya dan tertancap di singgahsana Artl.


"AKH, BRUK!"


...----------------●●●----------------...


Tubuh Artl Kyzen jatuh kebelakang dan tengkuknya terhantam kursi kayu singgahsananya.


Darah dari kepala Artl mengalir di sepanjang tangga menuruni singgahsananya. Luciel berjalan mendekati tubuh Artl di atas sana.


Luciel memutar kembali waktu di sekitar Artl untuk mengembalikan bentuk tubuh Artl tapi tidak dengan mentalnya. Luciel meniru sihir Artl Kyzen.


"KHAAAHHH!" Artl tersadar dan langsung menarik napas dengan panjang. Dia terengah-engah sambil memegang kepalanya. Artl mulai mengangkat pandangannya melihat sosok di hadapannya dari bawah ke atas.


DEG! DEG! DEGH!


Jantung Artl berdebar dengan kencang dia langsung berdiri di hadapan Luciel yang menatapnya dengan mata kanannya.


Artl Kyzen berusaha tetap tenang dan dia mendorong Luciel. Kening Artl berkenyit dengan jelas.


Luciel kembali menunjukkan senyumannya. "Jadi, Artl Kyzen.... Apakah Anda menerima tawaran yang mulia ini?" Tanya Luciel kembali.


Artl Kyzen turun dari tangga singgahsananya. Dia cukup takut dengan keberadaan Luciel di dekatnya.


"Aku tidak ingin menjad- SRAT! CRAT!"


Luciel kembali menembakkan bulu dari sayapnya yang menembus tenggorokan Artl Kyzen. Mata Artl Kyzen terbuka lebar saat melihat darah berceceran dari lehernya. Dia meraih lehernya sendiri dan menoleh ke Luciel yang ada di belakangnya.


“Aku tidak mendengar apa yang kamu katakan. Katakan lagi.” Luciel menggunakan sihir pengatur waktunya lagi untuk menyembuhkan leher Artl Kyzen.


Luciel adalah Malaikat Agung yang memiliki hati layaknya seorang Iblis. Dia tidak memiliki rasa kasihan. Meski begitu, Luciel memiliki pendirian yang baik dan mampu membuat apapun yang diinginkan oleh Sang Cahaya


Bila bagi Luciel salah, maka hal itu salah. Apabila bagi Luciel benar, itu adalah benar. Luciel adalah satu-satunya yang ternetral di cerita ini.


Apa yang terjadi kepada Artl selalu terulang hingga sebanyak 647 kali. Artl Kyzen menjadi pucat. Dia bersujud di kaki Luciel untuk menghentikan semua ini. "Saya mohon!" Artl Kyzen berbahasa sopan kepada Luciel sambil memegang kaki dengan tangannya yang bergetar.


"SAYA MENERIMA TAWARAN ITU! TOLONG BERHENTI MELAKUKAN INI!" Tegas Artl kepada Luciel.


Ucapan Artl Kyzen tidak dapat di percaya. Luciel menarik rambut gelap Artl hingga kepala Artl mendongak ke atas.


Iris kiri Luciel yang berwarna merah dengan pupil biru membuat Artl Kyzen semakin ketakutan. "Bagaimana kalau kau menipuku?" Wajah Luciel begitu dekat dengan Artl Kyzen.


"Saya bersumpah atas nyawa saya sendiri!" Artl berusaha meyakinkan Luciel.


Luciel melepaskan rambut Artl Kyzen. Dia mengeluarkan kristal ungu yang telah menjadi teratai ungu tempat menyegel jiwa Artl Kyzen untuk menunggu waktunya terlahir kembali.


Luciel berjongkok di depan Artl Kyzen.


"Artl Kyzen, lihatlah. Ini akan menjadi wadah jiwamu agar bisa terlahir kembali di masa depan. Katakan kepadaku, apa yang kau inginkan sebagai ganti nyawamu saat ini?" Tanya Luciel sambil mengulurkan teratai itu.


Mata Artl Kyzen berlinang air mata. Artl Kyzen menyatukan kedua telapak tangannya (memohon) di hadapan Luciel. "Bisakah aku bertemu dengan seseorang yang sudah mati di kehidupanku yang berikutnya?"


"Itu tidak mungkin. Hanya orang-orang terpilih saja yang bisa hidup kembali" Tepis Luciel dengan cepat.


Luciel sudah mengetahui informasi tentang Artl Kyzen. Artl Kyzen tumbuh di lingkungan yang tidak pernah mengharapkannya. Dan Artl Kyzen baru saja kehilangan seseorang yang membutuhkannya.


Luciel tidak peduli dengan itu.


"Aku hanya menginginkan itu, dia satu-satunya orang yang menganggapku ada"


Ucapan Artl Kyzen sebenarnya tak berarti apa-apa terhadap Luciel. Meski begitu, sang Cahaya telah mendengarnya.


[Permintaan itu, akan diterima. Biarkan sosok itu juga mengetahui tentang rencana di masa depan. Beri satu kesempatan lagi]


"Itu akan terkabul" Jawab Luciel.


Sontak, mata Artl Kyzen menatap Luciel dengan raut wajah yang terlihat senang.


"Kau memiliki satu kesempatan lagi. Katakan saja"


Ah, itu adalah sebuah kemewahan yang selama ini di bayangkan oleh Artl Kyzen. Dia tersenyum tipis dan duduk dengan santai di depan Luciel.


"Bisakah aku memiliki keluarga yang menyayangiku? Aku ingin tau rasanya memiliki saudara tua. Kurasa, memiliki keluarga yang menyayangiku sudah cukup. Aku tidak berharap untuk orang-orang di sekitarku menerimaku" Ucap Artl sambil menutup matanya perlahan.


Luciel mendekatkan teratai ungu itu pada dada kiri Artl Kyzen.


DEGH!


Artl Kyzen terbelalak karena terkejut dengan sensasi tersengat listrik di dada kirinya. "Kau pasti akan mendapatkan keluarga yang kau impikan itu. Sekarang tidurlah dengan nyenyak" Luciel menarik jiwa Artl Kyzen keluar dan telah berubah menjadi kristal ungu.


Luciel menatap kristal ungu itu dan menyerahkannya kepada Sang Cahaya. Kristal ungu itu sangat bercahaya saat melayang dan terpecah menjadi tujuh bagian dengan warna hijau, biru, kuning, bening, dua merah dan satu warna ungu itu sendiri.


"Luciel, enam kristal itu akan memilih orang-orang di Negri Arden dengan sendirinya. Mereka yang layaklah yang akan mendapatkannya. Di masa depan sosok yang di cari Artl Kyzen akan terlahir terlebih dahulu disaat dunia terancam. Dia akan menjadi musuh para Titisan. Dan Luciel, tetaplah menjadi Penjaga Arden serta Para Titisan yang setia kepadaku"


Sayangnya, Luciel melakukan kesalahan fatal yang membuatnya diturunkan dari tahtanan langit dan menjadi Ruri.


Ruri yang menggunakan wujud Berly Steve dari Aokuma menyeringai lebar di hadapan Angel dalam medan perang di Meganstria. "TRANKKKK!!" Pedang besi mereka saling beradu.


Ruri merasa bebas karena telah terlepas dari aturan langit.


BAMMM!!


Ledakan mana dari Ruri tak terhindarkan dan menewaskan beberapa orang baik dari kubu Shinrin maupun kubu Para Titisan.


Kehadiran Aosora Bram dalam perang itu di hadapi oleh Agleer Baal yang merupakan sepupunya sendiri dari pihak sang Ibu.


Pedang besi mereka yang di lapisi mana saling beradu dan menahan satu sama lain.


"Ternyata benar, kau sudah di hasut oleh para Titisan. Apa kau juga mempercayai kalau dia adalah Aosora Arthur?" Baal menahan hentakan pedang besi Bram dari atas dan berat.


Bram terus memusatkan beban tubuhnya pada pedang besinya. "Apa kau takut dengan Arthur, hingga kau menganggapnya dia bukan adikku?" Tanya Bram.


Bram salah besar. Sebenarnya, Agleer Baal sangat menyayangi Arthur selayaknya adiknya sendiri.


TRANKKK!!!


BUGH!


Archie menghadapi Arnold, Ayahnya sendiri dan dirinya terhempas karena hentakan dari kaki Arnold saat melesatkan pedang besinya ke arah Archie (ini semacam tipuan yang dilatih oleh Ambareesh).


Archie mengusap bibirnya yang berdarah dan kembali berdiri dengan tatapannya yang tajam kepada Ayahnya sendiri.


Arnold menunjukkan seringaiannya dan menatap Archie dengan dalam, serta cukup lama. Sebenarnya, Arnold merasa kecewa dengan putranya sendiri yang memihak para Titisan.


"Kau sungguh memuja Aosora Alex daripada keluargamu sendiri" Ucap Arnold sambil menangkis dari serangan Elf lain yang berada di dekatnya.


Begitu pula dengan Archie. Dia tidak selembut Arnold yang hanya menangkis dan menendang lawannya. Archie langsung menghunuskan pedangnya kepada siapapun yang mengarahkan pedang padanya.


Darah menyiprat ke rambut Archie yang putih. "Hentikan omong kosongmu. Aosora Alex adalah keluargaku" Ucapnya sambil menodongkan pedang besinya ke arah Arnold yang mengangkat kedua tangannya dan masih memegang pedang pada tangan kanannya.


"Berhenti melawak dan akui saja kalau kau adalah De luce Archie. Ah, haruskah aku memanggilmu putraku?" Balas Arnold sambil menodongkan juga pedang besinya pada dada kiri Archie.


"NAJIS!" Archie kembali melapisi pedang besinya dengan mana miliknya kemudian "TRANKKK!!" dia menangkis pedang besi Arnold.