The Last Incarnation Of The Land Of Arden II

The Last Incarnation Of The Land Of Arden II
BAB 5 [Jangan Meninggalkannya]



Empat jam sebelum menjelang perang dimulai, Arthur kini melihat Dean yang membuka sihir teleport besar sebanyak enam untuk masing-masing pagu penyerang, penyergapan, dan pertahanan.


Semua orang yang turut membantu para Titisan berbondong-bandong masuk ke dalam lubang sihir Dean.


Jantung Arthur berdebar. Tak hanya Elf dan Siluman saja yang membantu para Titisan. Bahkan, orang-orang yang menurut Arthur penting baginya turut andil dalam membantu para Titisan. Termasuk Ela sebagai Healing, Angel yang berada di pagu paling depan, Tsuha yang berada di pagu penyergapan II sebagai Tim serangan jarak jauh, Archie yang berada di pagu pertahanan dan Bram yang maksa untuk berada di belakang Angel dengan menggunakan penutup wajah khusus buatan Alder. Arthur tidak siap kalau ada salah satu dari mereka yang jatuh.


Dia ditemani oleh Bianca di mansion itu. Mereka hanya berdua. Cukup canggung bagi Arthur berada di sebelah orang yang sangat terobsesi dengan Gurunya dan dia merasa tak nyaman dengan orang yang pernah merasa cemburu dengannya karena bisa menghabiskan waktu berhari-hari bersama Ambareesh. Padahal, itu karena suatu hal yang memaksa mereka harus bersama.


Arthur melirik Bianca. Kedua tangan Bianca terlihat di kepalkan di depan dadanya. Dia terlihat seperti berdoa sambil melihat ke arah pagu Ambareesh.


"Uh, tenang saja. Guru Ambareesh pasti selamat dan menurutku, para Titisan akan menang dengan presentase sebesar 98%" Lirih Arthur untuk menenangkan Bianca agar tidak khawatir. Arthur mendengar kalau Bianca kini sedang mengandung. Sebenarnya itu hanya rumor yang dibuat-buat oleh Ranu agar tak ada seorangpun yang menganggu hubungan Ambareesh dan Bianca.


Bianca menoleh ke arah Ambareesh dengan wajah percayanya. Mata Bianca terlihat menyipit saat dia tersenyum. "Tentu saja Ambareesh akan menang. Kau tau, dia tidak pernah menggunakan mananya 25% sedikitpun sejak dia menjemputku" Bianca terlihat sedikit tenang saat mengatakannya.


Arthur terkekeh ringan sambil menatap langit yang penuh bintang tanpa awan sedikitpun. "Ya, aku bisa melihat dia yang selalu menjaga setiap langkahnya saat melepas tanduknya" Jawab Arthur.


Bianca kembali memusatkan pandangannya pada satu orang yang bersinar meski dia berada di jarak yang jauh dari matanya. "Ah, aku ingin membantunya. Tapi, dia selalu melarangku" Bianca ingin berbagi kisahnya dengan Arthur.


Arthur menoleh perlahan melihat wajah Bianca.


"... Dia selalu mengatakan alasan yang sama. Itu selalu berulang. Katanya, dia memiliki musuh yang akan selalu mengejarnya. Dia terlihat ketakutan meski itu samar. Terkadang, itu membuatku kasihan padanya karena dia tidak memiliki kebebasan untuk melakukan hal yang dia inginkan. Dia selalu menahan semuannya" Lanjut Bianca sembari menatap balik Arthur.


Bianca kembali menunjukkan senyuman tipisnya kepada Arthur. "Jadi Arthur, bolehkah aku meminta sesuatu padamu sebagai orang yang lebih dekat dengan Ambareesh?" Tanya Bianca sambil merapikan rambutnya ke belakang telinga kirinya.


"Tentu. Apa itu?" Diposisi ini, Arthur tak akan bisa menolaknya.


Bianca kembali melihat Ambareesh yang masuk ke dalam lubang sihir Dean. "Dia sangat menjagamu. Kalau dia terlihat menyeramkan di suatu waktu, bersabarlah dan jangan pernah meninggalkan dia, ya..." Ucap Bianca sambil mengembangkan senyumannya kepada Arthur.


Semilir angin malam yang membawa udara dingin, menyapu poni rambut Arthur yang berwarna biru gelap. Kedua mata Arthur terlihat melebar secara perlahan. Dia tidak percaya dengan sosok Bianca yang mampu mengatakan hal selembut itu selain kata-kata pedas yang selalu dia dengar dari mulut Bianca.


Arthur segera memalingkan wajahnya dan dia menutup mulutnya yang hampir ternganga. Entah kenapa, Arthur tiba-tiba merasa malu.


Mungkin, ini kesalahpahamannya yang dia rasakan.


"Tentu. Kurasa...." Arthur tidak bisa berkata dengan benar. Dia tiba-tiba teringat dengan Daeva saat Bianca mengatakan untuk tidak meninggalkan Ambareesh.


Bagi Arthur, Daeva itu sama seperti kunci untuk membuka pintu jembatan untuk mempermudahnya mencapai jalan yang dia cari.


...----------------●●●----------------...


Di tempat lain, Ruri mulai frustasi dengan keputusannya. Dia berusaha mengikuti alur yang telah ada. Namun, disisi lain dia tidak ingin alur yang telah ada itu terwujud.


Kematian Angel, akan berdampak besar untuk Aosora Bram dan Estelle Tsuha.


Estelle Tsuha akan membenci Aosora Bram. Kebencian Tsuha terhadap Bram karena janji Bram untuk melindungi Angel dihadapan Alder dan dirinya yang begitu besar, memicu kebangkitan sihir Aosora yang turun temurun (untuk pewaris satu-satunya).


Selain itu, pola sihir di punggung Aosora Bram sebagai simbolis Aosora juga akan mempelebar hingga ke bahu kirinya karena kebencian dari pihak anti-Titisan yang beranggapan kalau Aosora Bram telah menghianati sumpahnya yang suci dihadapan Rakyat Aosora sebagai Putra Mahkota Aosora.


Apabila hal itu terjadi, semuanya akan menjadi penghambat Ruri. Keturunan Aosora adalah musuh alami Ruri atas sumpah janji Aosora Alex sebelum kematiannya.


Lagi-lagi Aosora Alex berada di balik bayangan sesuatu yang berhubungan dengan Ruri. Keberadaan Bram akan menjadi hal tersulit Ruri apabila kebangkitan itu tak dapat dicegah.


Ruri tak bisa tidur selama dua minggu ini. Dia merasakan kepalanya seolah ditekan oleh sesuatu yang keras. Mendapatkan Arthur sebenarnya untuk saat ini sangat mudah baginya. Namun, itu juga akan berimbas pada hubungan Daeva dengan para Titisan.


Sebenarnya Ruri tak memiliki type yang memperdulikan orang lain. Namun, Daeva sudah banyak membantunya setelah sumpah kontrak itu. "Kalau aku meninggalkan Daeva dan menculik Arthur saat perang itu terjadi, Daeva akan bertemu dengan Charael" Charael adalah murid Ruri saat dirinya menjadi Malaikat Agung.


Charael memiliki pemikiran dan pandangan yang hampir sama dengan dirinya. Bedanya, Charael tak dapat melihat masa depan dan masa lalu. Di masa depan, Daeva akan mati dan tubuh Daeva akan digunakan wadah oleh Charael untuk mendapatkan Aosora Arthur kembali. Charael tak bisa menggunakan wadah selain Titisan. Wujud Charael hanya berupa roh yang berbeda dengan Ruri yang memiliki tubuh karena tugasnya.


"Mau bagaimana lagi? Ini adalah takdirnya. Aku harus meninggalkan surat untuk Putri Mahkota. Dia pasti akan mencariku karena tak sempat berpamitan.


Ruri mulai menuliskan suratnya di depan lilin aroma yang masih menyala di kamarnya.


...----------------●●●----------------...


Disisi Shinrin, De luce Arnold menurunkan sebanyak 4500 pasukan gabungan dari Akaiakuma dan Nekoma yang masih berada di bawah perlindungan Akaiakuma karena terjadi kekosongan yang hingga kini keberadaan Putri Nekoma dari keluarga cabang yang satu-satunya pewaris sah Nekoma.


Lalu bagaimana dengan Ken yang awalnya menjadikan wadah Liebe? Apa dirinya tidak mendapatkan tahta itu sebagai pemimpinan sementara?


Akaiakuma telah bertindak. De luce Arnold atas persetujuan banyak petinggi Akaiakuma dan beberapa kubu Nekoma yang terbela menjadi pro-kontra mutuskan untuk menahan sesuatu yang berhubungan dengan Titisan. Mereka takut dengan kekuatan Titisan yang bisa kapan saja memanfaatkan posisi Ken sebagai Raja Nekoma sementara meski dirinya diakui oleh Rakyatnya.


Kemudian, kembalinya Ratu Aviv setelah diculik beberapa menit oleh Arthur saat dirinya memindahkan Bram ke Meganstria membuat Ratu Aviv berasumsi sesuatu tentang hubungan Aosora Arthur dengan Titisan. Karena bantuan Daeva yang membuat Ratu Aviv kehilangan ingatannya tentang obrolan Arthur dan dirinya, Ratu Aviv berfikir kalau Arthur tidak benar-benar menculik Bram. Melainkan, Arthur berusaha melindungi Bram dari Shinrin.


Penciuman Ratu Aviv sebagai Ratu Siluman Serigala dapat merasakan aroma kedengkian dari Baal terhadap Bram.


Apa yang sebenarnya yang dirikan oleh Baal terhadap Bram?


Kekuasaan, ketangkasan dan prestasi Bram terhadap seni pedang dan Ilmu Pengetahuan, cara Bram yang dengan mudah mendapatkan perhatian orang disekitarnya. Itulah jawabannya. Baal iri dengan semua yang dimiliki oleh Bram.


Di masa kecilnya, Baal sering mendapatkan perlakuan buruk dari Ibunya yang selalu membedakan dirinya dengan Bram. Dimata ibunya Baal, Bram selalu terpandang baik dan dapat diandalkan. Bagi ibunya Baal, Bram adalah sosok yang cocok untuk menjadi pemimpin yang bisa membawa sebuah Kerajaan di kejayaan yang bisa bertahan untuk waktu yang lama.


Ruri menunjukkan salam hormatnya kepada Baal saat dirinya baru tiba di Shinrin dengan sihir teleportasinya.


"Salam hormat saya kepada Anda, Yang Mulia Agleer..." Sapa Ruri dengan wujud Steve. Tak lupa, Ruri membungkukkan tubuhnya 45° kepada Baal.


"Kau terlambat 25 menit Tuan Berly. Itu setara dengan penghinaan besar" Baal melihat prajurit-prajurit gabungan mulai memasuki gerbang teleportasi milik De luce Arnold.


Ruri mengangkat pandangannya dan sekilas dia melihat wajah murka Baal. Dengan segera, Ruri menudukkan pandangannya. Ini bukan karena dia takut dengan Baal. Tapi, untuk mendalami perannya sebagai Steve. "Maafkan saya. Saya mendapati halangan saat melakukan perjalanan" Ucap Ruri dengan nada yang penuh penyesalan.


"Aku sengaja melakukan ini. Karena aku malas melihat wajah, bajingan ini" Ruri menahan emosi dan mimik wajahnya.


Baal melangkah pergi begitu saja tanpa memberitahukan posisi Steve yang turun di medan perang untuk bergabung dengan pagu apa.


Ruri menyadarinya. "Ah, jadi ini yang membuatku akan berhadap langsung dengan Angel dari Aosora?" Bibir Ruri tiba-tiba membentuk busur karena kesenangan yang aneh dia rasakan dari dalam dirinya.


"Huh, bukankah ini artinya aku tidak memiliki jalan lain?" Batin Ruri sambil mengatupkan tangan kirinya pada bibirnya.


TEP!


DEGH!


Waktu seolah terasa melambat di sekitar Ruri setelah mendengar suara langkah kaki diantara ribuan langkah kaki yang berbeda.


Aliran mana yang berubah membuat Ruri menengokkan kepalanya ke asal suata itu.


Tak jauh darinya berdiri, diantara banyaknya prajurit yang mengenakan jubah lapis sihir perlindungan mereka, pandangan Ruri tertuju pada satu orang yang sangat mencolok di matanya.


Siapa dia??


"Estelle Tsuki? Atau haruskah ku panggil Ryan?" Batin Ruri sambil melebar bola matanya yang berisi merah. Dia tiba-tiba menjadi semangat untuk sekian lamanya setelah kebosanan melandanya di waktu yang cukup lama.


Sosok Ryan adalah sosok elf muda yang di cari oleh Artl Kyzen.