
Hari demi hari mulai berlalu. Saat ini, Ambareesh masih melatih Arnold tentang serangan sihir jarak jauh miliknya setelah pulang dari Akademi sihir tingkat 1.
Akademi sihir tingkat 1 adalah angkatan tertinggi akademi yang dihanya dapat dimasukki oleh siswa berbangsa Iblis dan mayoritas berasal dari drajat menengah keatas. Sebab, pembiayaan akademi sihir pertahunnya dapat mencapai 200 keping koin emas non-asrama.
*200 koin emas setara dengan pajak 2 desa (Shinrin dan Greendarea) selama satu tahun.
Sihir yang diajarkan Ambareesh mayoritas adalah sihir ciptaannya sendiri selama berada di Penangkaran berkedok penelitian itu. Kini, Ambareesh mulai mengajarkan sihir pengucapan yang tentunya akan sangat menguntungkan bagi Arnold bila dia bisa menggunakannya.
“Targetku adalah 6 bulan. Kau harus bisa menggunakan sihir pengucapan selama waktu yang kuberikan itu. Bila kau tidak bisa, maka aku-“ Ambareesh tiba-tiba terdiam.
Arnold memperhatikan Ambareesh. Ambareesh terlihat mengeleng kecil. “Ah, tidak fokus saja selama enam bulan ini. Aku dengar dari Tuan Ha nashi, enam bulan lagi kau akan ada ujian sertifikasi peringkat sihir. Intinya, kau harus jadi nomor satu dan buktikan itu kepada Ayah dan kakakmu bila kau itu bisa” Ucap Ambareesh.
Arnold yang pintar namun polos mengangguk sambil menunjukkan wajah gembiranya pada Ambareesh.
“Baik guru. Nanti, kalau akau jadi peringkat pertama, Guru harus memperbolehkanku untuk ikut dengan guru seharian” Arnold menunjukkan jari kelingkingnya yang pada Ambareesh.
Ambareesh awalnya terkejut, namun di terlihat tersenyum tipis dan menghela napas lega. “Aku tidak berjanji"Jawab Ambareesh sambil menunjukkan jari kelingking kirinya yang panjang dan lentik.
Mata Arnold tertuju pada jari manis Ambareesh yang bercincin itu. Yang Arnold tau, itu adalah cincin yang terbuat dari mana yang dilepaskan dan dibentuk sesuai dengan keinginan pemakainya. “Guru, ajari aku cara membuat cincin mana ini.” Ucap Arnold pada intinya.
Ambareesh melihat cincin miliknya itu. “Ah, ini? Lain kali saja” Ucap Ambareesh karena dia sendiri tidak tau bagaimana cincin itu tercipta. Yang dia ingat, cincin ini muncul saat Elvry (Asisten ke-2 Wandlle) memegang jarinya.
Arnold memanyukan bibirnya. ‘Sialan” Lirih Arnold.
Ambareesh membelalakan matanya saat mendengar kata itu terucap dari bibir Arnold yang berusia 16 dan menuju 17 tahun.
“Hei! Siapa yang mengajarimu berkata kasar seperti itu?” Tanya Ambareesh sambil memegang kepala Arnold.
Arnold menutup mulutnya dan memalingkan pandangannya. “Tentu saja guru” Jawab Arnold.
“Murid sialan” Batin Ambareesh.
...----------------●●●----------------...
Ucapan Arnold tentang cincinnya mengingatkan Ambareesh dengan kondisi Bianca.
“Tuan Ha nashi....” Dia mendatangi Ha nashi untuk membuatnya bisa keluar dari Akaiakuma selama tiga hari atas dasar tugas diluar kerajaan.
Ha nashi melihat kearah Ambareesh dan menghentikan kegiatannya sejanak. “Ada apa?” Tanyanya.
“Aku seminggu penuh telah membimbing Arnold dan tidak mendapatkan misi sedikitpun sebagai prajurit” Ambareesh belum pernah menceritakan kondisi dirinya yang sebenarnya pada Ha nashi.
Ha nashi mengangguk beberapa kali. “Tenanglah. Kau akan tetap mendapatkan upahmu sebagai Prajurit’ Jawab Ha nashi dengan santai.
‘Hah?” Ambareesh baru menyadari bila Ha nashi adalah tipe manusia yang sulit diajak berkomunikasi dengan bahasa yang tersirat.
‘Beri aku misi yang dijalankan diluar Istana selama tiga hari. Aku ingin beristirahat dari mengajar Arnold. Dan juga, biarkan Arnold beristirahat” Ambareesh mengucapkannya dengan nada dan wajahnya yang datar.
Ha nashi langsung tertawa mendengar dan melihatnya. “Baiklah, sebenarnya ini misi untuk lima orang. Tugasnya akan dimulai nanti dini hari. Jadi, ini laporan tentang bandit dari Aokuma yang sering masuk ke wilayah Akaiakuma tanpa izin dan memajak distributor Akaiakuma ke Aokuma maupun sebaliknya” Ucap Ha nashi sambil mencari data laporan tersebut.
“Apa saja yang dirampas oleh bandit itu? Perlukah kita izin dulu kepada Kerajaan Aokuma?” Tanya Ambaressh Smbil duduk di sofa tunggu.
“Untuk meminta izin kepada pihak Aokuma tidak perlu. Karena mereka menyerahkan masalah itu kepada Akaiakuma karena korbannya adalah rakyat Akaiakuma. Bila kau dan beberapa prajurit yang lain sudah menangkap banditi-bandit itu, serahkan ke Akaiakuma terlebih dahulu. Karena, pihak kita adalah pihak yang paling dirugikan” Jelas Ha nashi.
“Korbannya ada tiga orang yang mati, sebelas orang yang terluka dan tujuh orang yang menghilang. Dilaporan ini, tidak tertulis secara rinci siapa saja dan apa bangsa yang menjadi korbannya. Barang yang bandit itu rampas, rata-rata berupa koin emas, barang dagang, dan hewan ternak. Aku berasumsi bila mereka adalah golongan orang yang menjual organ di pasar gelap sana. Laporan ini, sudah dikirim sebanyak lima kali. Ku harap kau bisa menjalankannya dengan hati-hati. Untuk prajurit yang lain, ajaklah teman-temanmu. Aku serahkan pembagiannya padamu” Jelas Ha nashi dengan panjang.
Ambareesh mengacak rambut bagian belakangnya.
"Tuan, aku tau bila kau malas untuk mencari prajurit yang lain. Kalau begini, kau harus menambah masa istirahatku. Aku akan berangkat sekarang” Ucap Ambareesh sambil mengambil dokumen itu.
Ha nashi terkekeh. "Dengan senang hati" Ucapnya sambil mengulurkan satu kantong emas untuk kebutuhan mereka diluar.
...----------------●●●----------------...
"Aku agak kesal dengan Ambareesh. Kau taukan! Dia itu selalu bersikap sok kuat dan bersikap seolah semua orang itu takut padanya" Suara Tera terdengar cukup keras sebelum Ambareesh berbelok untuk mendatangi mereka.
Ambareesh berhenti sejenak untuk mendengarkan ucapan Tera.
Luka menghela napas dan memberikan potongan buah apel yang telah terkupas pada Tera. "Astaga, kenapa kau mulai lagi membicarakan Ambareesh? Apa salah bocah itu?" Tanya Luka sambil menepuk punggung adiknya perlahan.
"HUH! Kau tau kak! Vera itu! Suka sama Ambareesh! Aku sudah berkata untuk tidak menyukai Makhluk yang tidak jelas seperti Ambareesh itu!" Tegas Tera sambil menunjuk-nunjuk Luka.
Luka mengangguk-angguk dan berusaha menenangkan adiknya ini. "Kau suka Ambareesh juga mangkannya kesal?" Tanya Luka sambil memasukkan apel lain yang dia kupas ke mulut Tera.
"CUIH! Itu tidak benar!" Tera membuang apel itu ke wajah Luka. "Vera itu anak yang baik dan dia sangat polos, serta lugu. Sedangkan Ambareesh itu, orang yang sangat pendiam, misterius, dingin, dan tidak peduli dengan sekitarnya! Coba ya kak! Bayangin kalo mereka berdua itu menikah!-" Tera terus berceloteh. Dia tidak sadar Ambareesh sudah ada di belakangnya.
"... Pasti rumah mereka bakalan kek rumah tanpa penghuni!" Tegas Tera.
Luka melihat Ambareesh di sebelahnya. Dia menepuk pundak Tera agar melihat kebelakang. "APA?!" Tera langsung menaikkan suaranya dan melihat ke belakang. "Eh? Ambareesh...." Tera cengigisan melihat Ambareesh yang kini memegang ubun-ubunnya.
"Kalau begitu, apa kau mau menikah denganku? Biar rumahku nanti berisik dan aku cepat matinya" Ucap Ambareesh sambil membalas Tera yang meringis padanya.
"Ahahaha" Tera melepaskan tangan Ambareesh dari kepalanya. "Apa ada yang bisa Kak Luka bantu untukmu?" Tera berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.
Ambareesh mendekatkan wajahnya ke arah wajah Tera. "Apa aku terlihat seperti pria yang tidak peduli dengan orang lain?" Tanya Ambareesh.
"Ahahaha, tentu saja tidak~" Tera menepuk wajah Ambareesh dan mendorongnya.
Luka melihat gulungan kertas di tangan kiri Ambareesh. "Gulungan apa itu?" Tanya Luka sambil menunjuk kertas itu.
Ambareesh memegang tangan Tera dari wajahnya. "Oh, ini. Aku dapat misi di perbatasan Aokuma. Dan aku butuh beberapa orang untuk membantuku"
"Ajak aku!" Luka tiba-tiba antusias. Dia sangat menyukai tugas di luar penjagaan istana.
"Baiklah, Tera juga akan ikut" Jawab Ambareesh.
"Hah! Dih! Ogah!! Gak mau aku!!"
"Kita juga akan masuk ke pasar gelap. Disana, mungkin kita akan menemukan permata yang langkah" Lirih Ambareesh.
"Nice! Ajak aku!" Tera langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Ajak Vera dan Megi juga. Kita akan berangkat dini dua jam lagi" Ucap Ambareesh sambil memberikan mereka sekantong koin emas dari Ha nashi.
"Tentu~" Jawab Vera dengan nada senang dan dia mulai pergi untuk memanggil Vera dan Megi agar bersiap.
Ambareesh duduk di sebelah Luka dan memakan apel itu.
"Ambareesh jangan biarkan Tera menyukaimu" Ucap Luka.
Ambareesh melihat Luka karena dia tidak paham maksudnya. "Apa maksudmu?" Tanya Ambareesh.
"Ambareesh, aku tidak tau dengan masalalumu. Tapi, aku yakin bila kau bukan orang biasa seperti kami. Bila Tera suatu hari nanti mengungkapkan perasaannya padamu, tolong tolak dia. Aku tidak ingin adikku berada di tempat yang membahayakannya. Kau memiliki banyak musuh Ambareesh. Kau paham dengan ucapanku kan?" Luka ingin memastikannya.
Ambareesh melanjutkan makannya terlebih dahulu sebelum berbicara. "Aku sudah menyukai gadis lain di luar sana. Aku menganggap Tera dan Vera seperti keluargaku sendiri"
Bye-bye, kalian berdua tidak memiliki harapan sedikitpun💅.
"Diluar sana? Siapa?" Tanya Luka.