
Arthur dan Tsuha tiba di Shinrin dengan mudah. Meski begitu, mereka berdua memakai tudung jubah mereka dengan hati-hati sebab,...
Wajah Arthur telah beredar di dinding-dinding Shinrin.
"Apa yang sudah kau lakukan?" Lirih Tsuha sambil melihat Arthur yang mengambil dan meremas skesa wajahnya di lembar-lembar itu.
"Kenapa mereka mengambar wajahku seperti ini? Lihatlah, bukankah alisku tidak setebal dan semenyeramkan ini? Kenapa aku terlihat lebih kekar?!" Arthur malah mendebatkan sketsanya daripada masalah yang dia alami saat ini.
"Astaga...." Tsuha memijat keningnya karena tidak menyangka akan ucapan Arthur yang tidak terima dengan sketsanya tidak sesuai dengan wajahnya.
"Woilah! Lihat ini!" Tegas Arthur sambil menunjukkan lembar sketsa yang baru dia dapatkan di tanah.
Tsuha menolehnya. "Apalag-PFRRTT!" Tsuha langsung menahan tawanya saat melihat betapa lebarnya lubang hidung Arthur di sketsa itu.
"Cih! Ini adalah penghinaan! Aku akan menuntut si pengambar suatu hari nanti" Ucap Arthur sambil memasukkan sketsa itu di dalam tas pinggangnya
Tsuha berjongkok di tempat. Dia tertawa tanpa suara disana.
Mereka kembali melakukan perjalanan menuju Akademi Sihir Jelata Shinrin.
Akademi itu, hancur berantakan.
"Apa yang sebenarnya terjadi disini?" Sebagian bangungan ASJ telah menyatuh dengan tanah. Dan disana terlihat rumput-rumput liar yang hampir setinggi lutut Tsuha dan Arthur.
Mereka berdua melewati pagar ASJ yang sudah roboh. Arthur melihat wajah Tsuha yang berubah menjadi ketakutan. Dia menepuk punggung Tsuha untuk menenangkannya.
"Hei, tenanglah. Kita pasti menemukan Tsuki dan yang lain" Arthur menghibur Tsuha dan mulai menyusuri satu persatu ruangan di bangunan yang tersisa itu. Tak terkecuali Rumah yang di tinggali oleh Nox.
Semua hancur. Figura foto saat Tsuha dan Tsuki baru memasuki ASJ bersama Nox pecah dan patah, serta penuh dengan debu tergeletak di bawah.
Tsuha mengambil foto yang setengah basah itu. Sebagian dari tinta foto, membuat gambar menjadi rusak.
"Dimana Guru Nox dan yang lain?" Hingga saat ini, Tsuha masih belum tau dengan kabar Nox yang telah terbunuh oleh Baal.
"Mari cari dulu di tempat lain" Arthur sengaja menyembunyikan tentang kabar Nox. Dia tidak bisa mengatakannya karena bagi Tsuha, kehadiran Nox lebih dari kehadiran seorang Ayah.
"Ah, kurasa Tsuki ada di makam Ibu" Lirih Tsuha sambil berjalan terlebih dahulu di depan Arthur. Tsuha hanya menggunakan firasatnya saja.
Dan betapa terkejutnya Arthur. Mitos yang mengatakan kalau seseorang yang kembar memiliki firasat yang sama, membuat Arthur yakin dengan hal itu. Sebab, firasat Tsuha benar. Tsuki, berada di makam Ayahnya.
Namun, Mereka berdua terkejut dengan kondisi Tsuki saat ini. Dia telah berwujud seperti Elf dengan warna rambut dan iris yang lebih pudar dari Tsuha.
"Apa dia baik-baik saja?" Tsuha merasa prihatin dengan Tsuki yang memiliki wujud yang hampir sama dengannya. Tsuki terlihat lebih pendiam dari sebelumnya.
Arthur mengikuti Tsuha yang mendatangi Tsuki. Namun, apa yang terjadi?
Tsuki hanya melewati Tsuha yang akan menyapanya. Mata Tsuha terbelalak. Dia menoleh ke belakang dan melihat Tsuki yang bahkan tak menoleh ke arahnya sedikitpun.
Arthur melihat wajah Tsuha yang sangat terkejut. Bibir Tsuha berusaha memanggilnya. Namun, suaranya tidak keluar.
"Tsuki!" Arthur yang menggantikan Tsuha untuk memanggilnya.
Tsuki berhenti dan dia menoleh kebelakang. Dia melihat dua sosok berjubah yang tengah melihatnya.
Tsuki merasa asing dengan aura dua orang di depannya. Dia tau mereka berdua bukan dari Shinrin. Tsuki bersiap mengeluarkan padang mananya.
"Siapa kalian?" Tanya Tsuki yang penuh dengan kewaspadaan.
"Maaf, kami membaca tag nama di jubahmu. Bisakah kau membantu kami?" Tsuha tiba-tiba berkata sesuatu yang berbeda. Ini sangat mengejutkan Arthur. Sontak, ini membuatnya menoleh dengan spontan ke arah Tsuha.
"Ah, begitukah? Sebelumnya siapa kalian? Lepas tudung jubah kalian terlebih dahulu" Tsuki menganggap berbicara dengan orang asing tanpa membuka tudung jubah adalah hal yang sangat tidak sopan.
Tsuha melepaskan tudung jubahnya dan menahan tudung jubah Arthur agar tidak dilepaskan. Tsuha menunjukkan senyumannya. "Maaf, bolehkah temanku ini tidak melepas tudungnya? Kulitnya cukup sensitif dengan matahari" Ucap Tsuha untuk melindungi Arthur.
Tsuki sangat terkejut melihat Elf di depannya. Tsuha adalah elf hijau pertama yang Tsuki temui.
"Ah, wajahmu menakjubkan. Begitu juga dengan matamu. Aku Estelle Tsuki. Senang bisa bertemu denganmu" Tsuki mengulurkan tangannya kepada Tsuha.
Tsuha menerima uluran tangan itu. "Ryan. Aku tidak bermarga" Jawab Tsuha.
Mata Arthur terbelalak mendengar nama itu. Dia melihat Tsuha yang tersenyum melihat Tsuki. Dia merasa deja vu.
"Lalu, dia?" Tanya Tsuki.
"Untuk apa kau tau?" Arthur menjawab Tsuki dengan ketus.
"Ah, maafkan dia..." Ucap Tsuha sambil membungkukkan punggung Arthur.
"Tidak masalah. Apa yang kalian butuhkan?" Tanya Tsuki yang tiba-tiba merasa tak enak kepada dua orang di hadapannya.
"Kami sedang mencari seseorang. Dia namanya Kyzelt Nox. Apa kau mengenalnya dan bisa mengatarkan kami?"
Mendengar nama itu, membuat Tsuki sangat terkejut. Namun, dia tetap memberikan raut tenang pada dua orang di hadapannya.
"Ah, tentu. Dia tidak jauh dari sini. Mari ku antar" Ucap Tsuki sambil berjalan terlebih dahulu di depan Tsuha dan Arthur. Dia membawa Tsuha dan Arthur masuk ke dalam pemakaman.
"Eh? Bukannya hanya ada tiga orang saja disini?" Batin Tsuha sambil melihat sekelilingnya yang sepi.
Tsuha mulai mencurigai apa yang tengah terjadi.
"Beliau orang yang menyelamatkan kami. Kami hanya ingin berkunjung dan ada sesuatu yang ingin ku kat-"
DEGH!
Mata Tsuha terbelalak saat melihat nama sosok yang dia cari ada di nisan itu. Tsuha melihat ke arah Tsuki.
"Tsuki, apa kau berniat menipu kami? Ayolah, jangan bercanda" Ucap Tsuha sambil menarik bahu Tsuki.
Tsuki melihat mata hijau itu. "Aku tau kau adalah Tsuha. Tapi, inilah yang terjadi" Jawab Tsuki sambil mendorong bahu Tsuha.
Tsuha tidak bisa berkata apapun. Perasaan sedih yang bercampur aduk semakin menjadi di hati Tsuha saat melihat Tsuki mulai meninggalkannya.
"Tsuki! Kau tinggal dimana saat ini?" Tanya Arthur tanpa membuka tudungnya.
Tsuki berhenti dia melirik ke arah Arthur. "Aku tidak tau kau itu Alex yang ku kenal atau Putra Mahkota Aosora Arthur yang menghilang. Tidak perlu mengurusi hidupku, kau bahkan bukan siapa-siapaku. Sampaikan saja pada Tsuha, aku tidak butuh kalung mana ini dan percuma saja dia mengubah wujudnya. Pada dasarnya, aku tak pernah ada dan hanya ada Tsuha di dunia ini" Tsuki melempar kalung mana pemberian Tsuha yang dibeli dengan gaji pertamanya.
Kalung mana itu jatuh di depan kaki Tsuha. Sedikitpun, Tsuha tidak mengerti maksud Tsuki.
Arthur mengambil kalung itu dan memberikannya kepada Tsuha. "Urusi dulu urusanmu" Dia menepuk bahu Tsuha beberapa kali untuk mengejar Tsuki.
Tsuha tidak berlama-lama. Dia langsung berlari ke arah Tsuki dan merangkul bahu Tsuki dari belakang.
Tsuki sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Tsuha.
"Sialan! Beginikah kau memperlakukan kakakmu yang baru pulang?!" Tsuha mengacak-acak rambut Tsuki yang lebih pudar darinya hingga membuat Tsuki membungkuk.
Tsuki yang keras kepala mendorong dagu Tsuha hingga mendonggak ke atas. "DAN BEGITULAH CARAMU MEMBUATKU MENANGIS SETIAP AKU MELIHAT KALUNG ITU!" Tegas Tsuki sambil menendang lutut Tsuha hingga Tsuha terjatuh di tanah.
Tsuha melihat wajah Tsuki dari bawah. "Aku tidak menginginkan hal itu. Mau bagaimana lagi? Aku sendiri tidak bisa keluar dari lingkaran itu" Jawab Tsuha sambil kembali berdiri.
Tsuha melirik Arthur yang masih berdiri di depan makam Nox. Kemudian, dia kembali melihat ke arah Tsuki sambil mengulurkan kalung batu mana itu.
"Tsuha, kenapa kau dan aku berwujud seperti Elf?" Tanya Tsuki sambil kembali memakai kalung itu.
"Ayah dan Ibu Kita adalah seorang Elf hijau" Jawab Tsuha sambil berdiri.
"Ku kira, kau melupakanku. Aku hampir mati setiap harinya saat mendengar kabar kau menghilang dan saat Guru Nox mati di eksekusi oleh Shinrin, semua yang ku rasakan di hadapanku semakin hari semakin tak terasa. Tsuha, kurasa... kau seharusnya tidak menemuiku"
Tsuki tiba-tiba menatap Tsuha dengan tatapan kosong. Wajahnya terlihat lebih dingin dari sebelumnya.
"Apa yang terjadi dengan dirimu Tsuki?"
"Ah, benar juga. Aku sudah memutuskannya..." Tsuki sedikitpun tak mendengar suara Tsuha. Dia tiba-tiba tersenyum dengan lebar. "...ini adalah janjiku. Kau akan terbebas dari semuanya setelah perang itu usai" Lanjut Tsuki.
"Ha? Apa maksudmu?" Tanya Tsuha sambil memegang bahu Tsuki.
Tsuki membalas memegang bahu Tsuha. Dia mendekatkan bibirnya pada telinga Tsuha. "Kau harus melanjutkannya" Bisik Tsuki.
"Hah?" Tsuha mengangkat alis kanannya.
"Aku, akan menyerahkan diriku sebagai Ryan di kehidupanmu, saudaraku" Bisik Tsuki.
Tsuha melirik wajah Tsuki. Saat itu, dia untuk pertama kalinya melihat ekspresi wajah Tsuki yang menunjukkan seringaiannya.
Mata Tsuha terbelalak. Dia masih tidak mengerti dengan ucapan Tsuki dan wajah itu.
"Tsuha, sedari awal, Titisan itu tak ada. Hanya ada Artl Kyzen di dunia ini. Dan dia menjadi Aosora Arthur. Dapatkan dia untuk mengubah negeri in-" Tsuha mendorong bahu Tsuki sebelum Tsuki menyelesaikan ucapannya.
Raut Tsuki sangat berbeda dengan Tsuki yang dia kenal.
"Tsuki, kau kerasukan apa?" Tanya Tsuha.
"Tsuha jauhkan mereka dari Aosora Arthur. Mereka hanya akan memanfaatkannya untuk mencapai sesuatu hal yang mustahil di dunia ini. Dunia tanpa tangisan dan penderitaan adalah ilusi yang paling indah. Pahami ucapanku Tsuha. Mari bertemu di perang itu untuk terakhir kalinya. Kekuatanku, sepenuhnya akan menjadi milikmu. Kita akan menjadi satu" Lirih Tsuki sambil mengusap rambut Tsuha.
"Tsuha, ingatlah, saat para Titisan mengatakam sesuatu tentang Artl Kyzen, itu artinya kau harus melarikan diri bersama Aosora Arthur" Lanjut Tsuki.
Tsuha tidak bisa mengabaikan ucapan Tsuki. "Hah? Artl apa? Eh, tunggu! Apa kau sakit?" Tanya Tsuha sambil memegang kening Tsuki.
Suara derapan kaki banyak orang mulai terdengar mendekat.
"Mereka menyadari keberadaanmu dan dia. Cepatlah kembali dan mari bertemu lagi di medan pertempuran" Tsuki mendorong Tsuha.
Sekelompok prajurit terlihat di luar pemakaman.
"Tsuki, sedikitpun aku tidak tau maksud ucapanmu" Ucap Tsuha sambil berlari mundur ke arah Arthur.
Tsuki tersenyum tipis. "Setidaknya, jangan melupakan ucapanku. Lindungi dia dan terima kasih sudah menjadi sosok kakak yang melindungiku seperti nyawamu sendiri" Tsuki melempar batu mana lain ke arah Tsuha.
Tsuha tidak mendengar suara Tsuki. Meski begitu dia menangkap batu mana itu. Batu itu, mengeluarkan energi yang cukup kuat dan pekat.
Arthur melihat ke arah mereka kemudian, "WOSH!" Arthur langsung memindahkan Tsuha ke Meganstria.